Selasa, April 08, 2014
0
ANALISIS-(IDB) : Kecepatan respon tentara Rusia menganeksasi semenanjung Crimea kepunyaan Ukraina membuat AS “terpaku terpana” dan tak mampu berbuat banyak kecuali mengadu kepada PBB dan menjatuhkan sanksi kepada Papa Bear. Dengan belajar dari kasus kecepatan respon tadi AS lalu memperingatkan Tiongkok untuk tidak bermain api terhadap keinginan mencaplok Taiwan atau teritori lain yang diklaimnya. Soalnya bisa saja Tiongkok tersulut “birahi” militernya melihat kesuksesan jiran utaranya menduduki Crimea, lalu ingin pula “memeluk” Taiwan.

Kecepatan respon Indonesia ditunjukkan ketika sebuah pesawat asing melintas dari Malaysia menuju PNG tanggal 29 Nopember 2011 yang lalu.  Pesawat yang ternyata berisi PM Papua Nugini dan rombongan itu tertangkap radar militer di Banjarmasin lalu diintersep oleh 2 jet tempur Sukhoi dari Makassar untuk melakukan identifikasi visual.  Meski diprotes oleh PNG namun penyergapan itu membuktikan adanya kecepatan respon militer Indonesia terhadap adanya gangguan dan ancaman teritori.
Kesiapsiagaan Pasukan Marinir TNI AL
Ketidakcepatan respon militer ditunjukkan negara jiran Malaysia ketika pesawat MH370 rute KL-Beijing berbalik arah dan terpantau di radar militer Kota Bahru dan Butterworth. Dalam kondisi apa pun di setiap negara ada sejumlah jet tempur yang disiagakan untuk melakukan penyergapan terhadap pesawat tak beridentitas atau yang berperilaku nyeleneh di teritori udaranya.  Malaysia sebenarnya menyiagakan 3 F-18 Hornet di pangkalan Butterworth namun ketidakcepatan respon militernya mengakibatkan pesawat sipil dengan 239 penumpang dan awak hilang di telan laut dalam.

Meski didukung oleh keunggulan teknologi militer, namun nilai keunggulan tentara sesungguhnya terletak pada kecepatan respon personelnya. Teknologi militer adalah alat bantu untuk mempermudah dan memperindah tugas atau amanah. Teknologi militer adalah instrumen untuk mengabarkan dan memberitahu, kecepatan memutuskan adalah nilai keunggulan personelnya.  Dalam kasus MH370 ternyata ada pembohongan informasi yang menyebabkan Vietnam sempat marah dan menarik kapal perangnya dari lokasi yang diduga jatuhnya pesawat Malaysia itu. Selama 3 hari pertama negara-negara tetangga disibukkan pencarian di Laut Cina Selatan, baru kemudian diumumkan ternyata pesawat itu berbalik arah berdasarkan pantauan radar militer Malaysia.  Begitu lambatnya respon mereka dalam manajemen krisis.

Indonesia sudah lama memiliki satuan tempur berkualifikasi pemukul reaksi cepat untuk merespon setiap gangguan dan ancaman terhadap pertahanan dan keamanan teritori NKRI. Satuan ini dikenal dengan istilah PPRC yang selalu siaga sepanjang penugasan.  Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) adalah gabungan satuan tempur light infantry dari Kostrad, Marinir dan Paskhas bersama sejumlah alutsista yang disiagakan untuk merespon cepat.  Meskipun begitu tetap saja pemusatan kekuatan ada di pulau Jawa.
Skuadron Hercules TNI AU, bagian dari respon cepat
Implementasi pembentukan Kogabwilhan (Komando Gabungan Wilayah Pertahanan) tahun ini adalah bagian dari respon cepat situasi kawasan yang dinamis untuk merubah formula “masuk dulu baru digebuk” menjadi “berani masuk digebuk”. Kogabwilhan juga ingin menghapus paradigma pemusatan kekuatan militer di pulau Jawa.  Lihat saja penempatan skuadron baru F16 blok 52 di Pekanbaru, perluasan skuadron intai di Medan, penempatan skuadron heli tempur di Berau Kaltim, Papua dan Sumsel.  Kemudian pembangunan 1 divisi Marinir di Papua dan 1 batalyon di Batam.  Rencana penempatan skuadron jet tempur di Biak dan Natuna.  Juga pembentukan batalyon-batalyon baru di Kalimantan, NTT dan Papua adalah bagian dari upaya untuk respon cepat karakter militer.

Tentu saja gelar kekuatan militer dan alutsista ini kita dukung sebagai bagian dari hakekat bernegara dan gengsi bernegara.  Sebagaimana disampaikan oleh Panglima TNI Jendral Moeldoko dalam acara Dialog Kebangsaan di Metro TV Minggu malam 06 April 2014, bahwa Kopassus TNI AD adalah pasukan elite yang berada di urutan ketiga pasukan elite dunia. Tentu ini membangkitkan semangat dan gengsi bernegara. 

AS juga mengakui bahwa soal performansi, daya tahan dan daya juang, prajurit TNI sangat tegar. Sebagaimana dibuktikan ketika latihan bersama pasukan Marinir kedua negara di hutan Banyuwangi beberapa tahun lalu, Marinir AS harus mengakui keunggulan Marinir Indonesia dalam latihan daya tahan survival di hutan.  Demikian juga dalam setiap lomba ketangkasan prajurit di kawasan regional tradisi juara umum selalu dipegang oleh TNI. Performasi, ketegasan, daya tahan dan daya juang sangat menentukan kualitas respon atau reaksi cepat.

Keunggulan yang dimiliki prajurit TNI akan semakin bernilai bangga manakala dilengkapi dengan sejumlah alutsista berteknologi tinggi.  Itu sebabnya ruang modernisasi persenjataan TNI yang saat ini sedang diperhebat diniscayakan akan memberikan efek multiflier yang bergema ke segala arah.  Salah satu efek multiflier itu adalah respon reaksi cepat dengan dukungan alutsista pemukul dan pembanting.  Pembagian ruang Kogabwilhan dengan dukungan  alutsista gahar merupakan payung respon cepat dan tegas penjunjung kedaulatan. Kogabwilhan mengintegrasikan kekuatan darat, laut dan udara dengan dukungan alutsista segala matra di wilayah pertahanan masing-masing.

Jangan diabaikan, bahwa kesejahteraan prajurit merupakan bagian integral dari semua komponen pencipta respon reaksi cepat dan profesional. Oleh sebab itu penghebatan kekuatan alutsista dan performansi prajurit akan semakin sempurna jika diselaraskan dengan peningkatan kesejahteraan prajurit.  Kita meyakini bahwa pengucuran anggaran militer membawa pesan dan nilai untuk peningkatan kesejahteraan prajurit.  Maka bisa dibayangkan di depan mata kehebatan performansi prajurit TNI digabung dengan dukungan alutsista berteknologi dan kesejahteraan yang setara, betapa sempurnanya keunggulan tentara kita.
Sumber : Analisis

0 komentar:

Posting Komentar