C-705 China Cikal Bakal Rudal Nasional
Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali
China Sepakat Transfer Teknologi Rudal Ke Indonesia
Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705
KCR Ke-2 Produksi Palindo Resmi Perkuat TNI AL
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642 di Dermaga Batu Ampar Kota Batam
Marinir Kembali Akan Diperkuat 37 Tank BMP-3F
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut kembali akan mendatangkan tank amfibi BMP-3F untuk marinir dari Rusia
Indonesia Resmi Membeli 9 C-295 Dari Airbus
Generasi terbaru C-295 adalah pesawat yang ideal untuk pertahanan dan misi-misi kemanusiaan
Sukhoi PAK FA T-50 Jauh Mengungguli F22 Raptor
Jumlah pesawat tempur generasi ke-lima Sukhoi T-50 PAK akan ditambah menjadi 14 unit dari sekarang cuma tiga
Sabtu, Desember 17, 2011
Pesawat RQ-170, Bukti Kemenangan Intelijen dan Militer Iran atas Amerika
Iran Telah Buktikan Keseriusannya Melawan Agresi
Update : Kemlu Perlu Klarifikasi Penempatan Kapal Perang AS di Singapura
"Kementerian Luar Negeri RI harus segera memanggil Duta Besar AS di Jakarta untuk segera mengklarifikasi kebenaran informasi ini," ujar Teguh di sela-sela menghadiri sidang paripurna DPR, Jumat (16/12).
Teguh mengatakan, jika benar AS akan menempatkan kapal perangnya di Singapura, maka pemerintah Indonesia perlu mengajukan keberatan dan protes keras. Sebab, kondisi ini akan menyeret posisi Asia menjadi sulit terkait ketegangan soal tapal batas antara China dengan sejumlah negara ASEAN, seperti Filipina dan Taiwan. Di mana AS tampaknya akan mengambil peran dengan atas nama menjaga stabilitas kawasan Asia, menempatkan kapal perangnya tersebut.
"Ini semakin menunjukkan bahwa sesungguhnya AS tengah dalam kondisi panik menghadapi China. Dengan berusaha mengambil peran menjaga stabiltas kawasan Asia. Kita khawatir kalau sampai terjadi gesekan, jelas hal ini akan menempatkan kondisi ASEAN menjadi sulit dan terancam," tegas sekretaris Fraksi PAN DPR ini.
Menurut Teguh, pemerintah Indonesia perlu membahas persoalan ini di tingkat ASEAN. Negara-negara ASEAN sejak lama telah terjalin kerjasama dan komitmen bersama untuk melakukan pengamanan bersama di wilayah ASEAN dengan tidak melibatkan kekuatan militer negara lain.
"Kehadiran kapal perang AS di Singapura itu jelas hanya akan berusak hubungan kerjasama yang sudah terjalin dengan baik di tinggkat sesama negara ASEAN. Untuk itu pihak Singapura perlu juga mengklarifikasi hal ini," tegasnya.
Seperti diketahu, dalam kumpulan makalah ilmiah yang diterbitkan US Naval Institute terbaru menyebutkan bahwa Panglima Operasi Angkatan Laut AS Laksamana Jonathan Greenert mengatakan rencana itu merupakan bagian dari pemfokusan strategi militer AS di kawasan 'persimpangan jalur maritim' Asia Pasifik.
AS berencana menempatkan beberapa kapal tempur pantai (littoral combat ships/LCS) di fasilitas AL Singapura. LCS adalah jenis kapal perang terbaru yang dikembangkan US Navy yang dirancang khusus untuk beroperasi di kawasan perairan dangkal dekat pantai. Kapal ini mampu menghadapi berbagai ancaman, seperti ranjau laut, kapal selam diesel, dan perahu cepat bersenjata.
Selain menempatkan kapal-kapal LCS di Singapura, AS juga akan menempatkan pesawat patroli P-8A Poseidon atau pesawat pengintai tak berawak pada 2025. Pesawat-pesawat itu secara rutin akan diterbangkan di atas wilayah Filipina dan Thailand untuk membantu negara-negara itu meningkatkan kewaspadaan wilayah maritim.
Update : Cina Marah Dengan Rencana Penempatan Kapal Perang AS DI Singapura
Analis pertahanan regional berkata, walaupun kapal itu kecil tetapi tindakan itu, yang dibuat setelah Washington mengumumkan akan menambahkan kehadirannya di Asia, akan mengecewakan dan membuat kemarahan Cina.
Bulan lalu, Amerika dan Australia mengumumkan rencana meningkatkan kehadiran militer Amerika di kawasan Asia Pasifik, dengan menempatkan 2.500 personil angkatan laut Amerika yang beroperasi di Darwin di utara Australia.
Dalam beberapa tahun ini, Angkatan Laut Amerika semakin fokus pada wilayah maritim strategis di kawasan Asia Pasifik, kata Kepala Operasi Angkatan Laut, Laksamana Jonathan Greenert, dalam tulisan beliau majalah Proceedings, yang diterbitkan oleh Institut Angkatan Laut Amerika.
Beliau berkata, tentara angkatan laut berencana menempatkan beberapa kapal perang terbarunya bersama dengan tentara laut Singapura, sebagai tambahan pada rencana yang diumumkan Presiden Barack Obama agar pasukan AL ditempatkan di Darwin mulai tahun depan.
Waspada Indonesai : AS Akan Tempatkan Kapal Perang di Singapura
Rencana itu terungkap dalam makalah yang ditulis Panglima Operasi Angkatan Laut AS Laksamana Jonathan Greenert dalam kumpulan makalah ilmiah yang diterbitkan US Naval Institute edisi Desember dan dirilis Reuters, Kamis (15/12/2011) waktu AS.
Menurut Greenert, rencana itu merupakan bagian dari pemfokusan strategi militer AS di kawasan "persimpangan jalur maritim" Asia Pasifik. "Kami berencana menempatkan beberapa kapal tempur pantai (littoral combat ships/LCS) kami di fasilitas AL Singapura. Ini akan membantu AL (AS) mempertahankan postur kekuatan garis depan global kami dengan jumlah kapal dan pesawat yang lebih kecil daripada saat ini," tulis Greenert.
LCS adalah jenis kapal perang terbaru yang dikembangkan AL AS yang dirancang khusus untuk beroperasi di kawasan perairan dangkal dekat pantai. Kapal ini mampu menghadapi berbagai ancaman, seperti ranjau laut, kapal selam diesel, dan perahu cepat bersenjata.
Pengembangan kapal perang yang cocok untuk operasi di kawasan kepulauan ini sedang digarap Lockheed Martin, General Dynamics Corp, dan Austal dari Australia. Salah satu kapal buatan Lockheed Martin yang sudah jadi, USS Freedom, sedang menjalani uji coba di pangkalan US Navy di San Diego, AS.
Menurut Greenert, kapal-kapal yang akan ditempatkan di Singapura akan menjalankan operasi militer bersama untuk menghadapi bajak laut dan perdagangan ilegal di kawasan Laut China Selatan. Dengan menyebut Laut China Selatan, Greenert secara tidak langsung menyentuh isu sensitif di kawasan ini, terutama terkait klaim teritorial China yang meliputi hampir seluruh wilayah laut tersebut.
Rencana penempatan pasukan marinir AS di Darwin tahun depan pun sempat diduga berkaitan dengan usaha menandingi pertumbuhan pesat militer China meski para pejabat Departemen Pertahanan AS membantah hal itu.
Selain menempatkan kapal-kapal LCS di Singapura, AS juga akan menempatkan pesawat patroli P-8A Poseidon atau pesawat pengintai tak berawak pada 2025. Pesawat-pesawat itu secara rutin akan diterbangkan di atas wilayah Filipina dan Thailand untuk "membantu negara-negara itu meningkatkan kewaspadaan wilayah maritim".
Sumber lain yang diminta tanggapannya tentang rencana Greenert ini juga menambahkan, ada rencana untuk menempatkan kapal-kapal perang AS di Filipina.
Menurut Greenert, langkah penempatan perlengkapan militer di negara-negara sekutu itu karena untuk sementara AS kemungkinan tidak akan sanggup menanggung ongkos finansial dan diplomatik untuk membuka pangkalan utama baru di negara lain, seperti yang ada di Jepang atau Korea Selatan.
"Armada tahun 2025 akan mengandalkan pelabuhan-pelabuhan dan fasilitas lain di negara-negara penerima, tempat kapal-kapal, pesawat, dan para kru kami bisa mengisi ulang bahan bakar, beristirahat, mengambil suplai, dan menjalani reparasi saat ditugaskan," tandas Greenert.
Rencana ini tampaknya bakal memicu kekhawatiran China yang merasa dikepung dan ditekan atas perselisihan di Laut China Selatan.Analis pertahanan regional menyebut, kapal-kapal itu kecil,tapi mereka menyepakati simbolisme langkah itu. Pengumuman penempatan kapal muncul setelah Washington memaparkan menambah kekuatan militer mereka di Asia.
Bulan lalu AS dan Australia mengumumkan rencana memperdalam kehadiran AS di kawasan Asia-Pasifik.Washington bakal menempatkan 2.500 marinir AS yang beroperasi di basis de facto mereka di Darwin, kawasan utara Australia. Dalam tulisannya di Proceedings yang dipublikasikan di US Naval Institute bulan ini, Kepala Operasi AL AS Laksamana Jonathan Greenert memaparkan, dalam beberapa tahun ke depan AL AS bakal meningkatkan fokus mereka di “persimpangan maritim” strategis di kawasan Asia-Pasifik.
Dia menuturkan,AL berencana menempatkan beberapa kapal pesisir terbaru mereka di fasilitas AL Singapura sebagai tambahan rencana penempatan marinir di Darwin tahun depan yang diumumkan Presiden AS Barack Obama.“Ini akan membantu AL mempertahankan posisi global dengan sekelompok kapal dan pesawat yang lebihkecildibandingsekarang,” tulis Greenert dikutip Reuters.
Kapal perang pesisir adalah kapal tipis yang beroperasi di perairan pesisir pantai dan bisa melawan ranjau pantai, kapal selam diesel,dan kapal bersenjata yang kecil dan cepat. “Kalau kita membawanya ke konteks,ini adalah skala pasukan yang relatif kecil dan kapal perang itu adalah kapal yang relatif kecil,” ujar Euan Graham, mahasiswa senior S-3 di Maritime Security Program di S Rajaratnam School of International Studies, di Singapura.
“Pengepungan adalah frase yang muncul dalam debat China mengenai strategi AS. Mereka tidak akan suka, tapi mereka tak bisa apa-apa untuk menghentikannya.” Greenert menulis, kapal itu bakal berfokus di Laut China Selatan, melakukan operasi untuk melawan pembajak dan penyelundupan yang merupakan dua hal endemik di area itu.
“Pada 2025 pesawat P-8A Poseidon atau kendaraan udara pengintai maritim area luas tak berawak secara periodik ditempatkan di Filipina atau Thailand untuk membantu negara- negara itu dalam meningkatkan kesadaran maritim,” tulis Greenert. Sebuah sumber yang mengikuti briefing mengenai rencana AL itu memaparkan, ada juga pembahasan mengenai penempatan kapal di Filipina.
Kapal perang pesisir (LCS) yang bakal ditempatkan itu sedang dikembangkan dengan pengawasan Lockheed Martin Corp,Austal dari Australia,General Dynamics Corp,dan pembuat senjata yang sedang mengembangkan dua model baru kapal perang untuk AL AS yang juga berharap bisa menjualnya ke negara lain.
“Karena kami mungkin tidak akan mampu menanggung biaya finansial dan diplomatik untuk membuat markas operasi utama baru di luar negeri, armada 2025 akan lebih bergantung pada dermaga dan fasilitas lain di negara itu di mana kapal, pesawat, dan kru kami bisa mengisi bahan bakar, istirahat,mendapatkan suplai, dan melakukan perbaikan saat ditempatkan,”ujar Greenert.
Ernie Bower dari Center for Strategic and International Studies menuturkan, strategi yang muncul untuk Asia Tenggara itu jauh berbeda dari basis AS yang dibangun di Jepang dan Korea Selatan. “Kami mengeksplorasi rencana baru dengan jejak lebih kecil, itu misi spesifik, dan secara budaya dan politik lebih menyenangkan bagi negara lain,” ujarnya.
Dia menambahkan, akan sulit bagi Washington untuk mendapatkan dukungan politik untuk membangun markas besar di kawasan itu. Greenert tidak membeberkan kapan tepatnya LCS itu ditempatkan di Singapura. Di Filipina, sekutu AS yang sudah beberapa kali bersengketa dengan China atas Laut China Selatan, langkah itu disambut baik.
“Kami bersama di Asia-Pasifik dan menghadapi tantangan keamanan yang sama,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Filipina Peter Paul Galvez.“Kami melihat beberapa tantangan keamanan, di mana kami benar-benar harus saling bisa beroperasi dan melakukan latihan termasuk penanganan bencana, ancaman terorisme, kebebasan navigasi, pembajakan dan perdagangan manusia.
Kami tak bisa membantah bahwa kami butuh bantuan mereka (AS) dalam aspek itu.” Sengketa kepemilikan karang kaya minyak dan pulau di Laut China Selatan adalah salah satu ancaman terbesar di Asia. Laut itu diklaim seutuhnya atau sebagian oleh China, Taiwan, Filipina, Malaysia, Vietnam,dan Brunei.
Pada KTT Asia Timur November lalu, Obama memaparkan kepada Perdana Menteri China Wen Jiabao bahwa AS ingin memastikan bahwa jalur laut itu tetap terbuka dan damai. AS menyebut Wen “menggerutu” ketika negara lain di Asia bersekutu dengan Washington. Menurut Wen,“pasukan asing” tak punya hak terlibat dalam sengketa maritim itu.
The Christian Science Monitor: Iran Berhasil Menyusup ke Sistem GPS RQ-170
Malaysia Berencana Beli 18 Jet Tempur Rusia
Rusia Setuju Pasok 42 Unit Su-30 ke India
Panglima TNI lepas Kontingen Garuda XX-I/MONUSCO
Satgas Kizi TNI Konga XX-I/Monusco sendiri dikomandani oleh Letnan Kolonel Czi Sapto Widhi Nugroho dan terdiri atas TNI AD 142 orang dari Yon Zipur-4/TK, TNI AL 20 orang, TNI AU lima orang dan Mabes TNI delapan orang.
Satgas ini telah mengikuti latihan penyiapan tugas selama satu bulan dari tanggal 15 November hingga 15 Desember 2011 di kantor PMPP TNI Mabes TNI Cilangkap dan Sentul.
Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, mengatakan, penugasan yang akan diemban nanti merupakan tugas yang bersifat khusus di bidang konstruksi, logistik dan "mine clearance" (jihandak) di wilayah yang serba kekurangan akibat konflik bersenjata yang berkepanjangan.
Oleh karena itu, para prajurit TNI yang akan bertugas diharapkan dapat menjunjung tinggi kehormatan dan kepercayaan dunia internasional dengan menunjukkan prestasi, kinerja dan dedikasi yang tinggi dengan senantiasa memperhatikan aturan yang berlaku sebagaimana telah ditunjukkan oleh satgas-satgas Kompi Zeni TNI sebelumnya.
Keberhasilan TNI dalam membangun dan merehabilitasi jalan di Kongo sangat membanggakan, karena jalan antara Dungu- Faradje sepanjang kurang lebih 147 km dibangun dengan menembus banyak rintangan dan hutan belantara. Dibukanya jalan tersebut dapat menggerakkan roda perekonomian yang bermuara kepada kesejahteraan masyarakat setempat.
Keberhasilan lain prajurit TNI yang patut mendapatkan pujian adalah tugas dalam mengatasi ancaman kelompok bersenjata yang akan merampok masyarakat di jalan lintas Dungu- Faradje pada tanggal 25 dan 26 April 2011. Hal ini berkaitan bahwa sesungguhnya kesejahteraan serta rasa aman dan adil merupakan salah satu alternatif penyelesaian konflik yang utama.
TNI maupun Bangsa Indonesia berharap bahwa prestasi, kinerja dan dedikasi yang akan ditunjukkan oleh para prajurit itu dapat memperbesar posisi tawar Indonesia di forum internasional dan akan meningkatkan peran dan kapasitas TNI yang tidak hanya pada lingkup operasional.
Keikutsertaan Satgas Zeni TNI di Kongo pertama kali dimulai pada tahun 2003, saat itu misi di Kongo masih bernama MONUC (Mission de I?Organisation des Nations Unies en Republique Democratique du Congo) dan kemudian pada tahun 2010 berubah menjadi MONUSCO sampai dengan saat ini.
Satgas Kizi TNI Konga XX-I/Monusco ini akan menggantikan Satgas Konga XX-H/Monusco yang masa tugasnya berakhir pada bulan Desember 2011.
Direncanakan Satgas akan berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta pada tanggal 19 Desember 2011.
TNI AL Bersama US Navy Bahas "CARAT 2012"
"Rencana (skenario) latma (latihan bersama) CARAT-2012 itu telah dibahas secara intensif oleh kedua pihak selama tiga hari di Surabaya pada 13-15 Desember 2011 melalui rapat Initial Planning Conference (IPC)," kata Paban III Sopsal Mabesal Kolonel Laut (P) Jan Rahir Simamora di Surabaya, Jumat.
Didampingi ketua kontingen US Navy Lieutenant Commander Robert A. Hochstedler, ia menjelaskan, hasil rapat tersebut akan dibahas kembali dalam rapat keputusan Final Planning Conference (FPC) pada Februari 2012.
"Beberapa poin kesepakatan secara garis besar antara lain bentuk latihan Sea Phase berupa manuvra dan peperangan laut oleh unsur-unsur Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dan kapal perang milik US Navy," katanya.
Tahap "Sea Phase" meliputi beberapa latihan di antaranya penanggulangan aksi kejahatan dan terorisme di laut "Visit Boarding Search And Seizure" (VBSS), droping pasukan dengan cepat melalui heli "Fast Ropping", dan pencarian korban kecelakaan di laut dengan "Search and Rescue" (SAR).
Selanjutnya, pembekalan di laut Replanisment at Sea (RAS), menembak artileri menggunakan meriam kapal "Gunnery Exercise" (GUNEX) dan peperangan antikapal selam ("Anti-Submarine Warfare"), latihan pertempuran bahaya udara serta pendaratan heli di atas geladak kapal perang (Cross Deck).
Untuk kegiatan di darat yaitu latihan pendaratan Marinir (Amphibious Operations) di Pantai Banongan, Tanjung Jangkar Situbondo, Jawa Timur dan latihan pertempuran kota (Urban Warfare) serta pertempuran di hutan (Jungle Warfare) oleh Marinir kedua negara.
"Selain menggelar latihan tempur, Latma CARAT-2012 juga akan melaksanakan kegiatan sosial berupa renovasi sarana umum oleh prajurit Zeni Marinir TNI AL dan US Marine Corp (US MC)," katanya.
Mereka juga akan melakukan pertunjukan seni dan kebudayaan dengan menampilkan grup musik dari (AL) kedua negara serta simposium ke beberapa sekolah di sekitar kota Surabaya.
IPC Latma CARAT-2012 ditutup dengan penandatanganan kesepahaman hasil pelaksanaan IPC oleh ketua kontingen dari TNI AL yaitu Paban III Lat Sopsal Mabesal Kolonel Laut (P) Jan Rahir Simamora, didampingi Komandan Task Group Latma CARAT-2012 Kolonel Laut (P) Rahmat Eko Rahardjo.
Dalam IPC yang juga diwarnai dengan penyerahan cendera mata dari Paban III Sopsal kepada ketua kontingen dari US Navy Lieutenant Commander Robert A. Hochstedler itu, kedua pihak juga berencana melakukan survei lokasi bersama.















