C-705 China Cikal Bakal Rudal Nasional
Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali
China Sepakat Transfer Teknologi Rudal Ke Indonesia
Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705
KCR Ke-2 Produksi Palindo Resmi Perkuat TNI AL
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642 di Dermaga Batu Ampar Kota Batam
Marinir Kembali Akan Diperkuat 37 Tank BMP-3F
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut kembali akan mendatangkan tank amfibi BMP-3F untuk marinir dari Rusia
Indonesia Resmi Membeli 9 C-295 Dari Airbus
Generasi terbaru C-295 adalah pesawat yang ideal untuk pertahanan dan misi-misi kemanusiaan
Sukhoi PAK FA T-50 Jauh Mengungguli F22 Raptor
Jumlah pesawat tempur generasi ke-lima Sukhoi T-50 PAK akan ditambah menjadi 14 unit dari sekarang cuma tiga
Rabu, September 21, 2011
KSAU : Hibah F-16 Lebih Baik Dan Efisien
Komisi I DPR RI Tunda Pesawat F16 Hibah, Ada Apa Dengan Mereka (DPR) ???
Update : Menhan Persilahkan BPK Audit Pembelian 7 Heli Dari Rusia
"Ini soal teknis, silakan ditelusuri saja. Buka saja dulu ordernya apa dan yang datang apa. Silakan BPK mengaudit," kata Menhan sebelum rapat dengan Komisi I DPR di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (21/9/2011).
Menhan menjelaskan, pengadaan helikopter itu bukanlah wilayahnya. Sebab, pembelian menggunakan dana spesifikasi teknis sendiri. "Ini bukan level saya, itu dana spetek (spesifikasi teknis-red). Ada barang yang tinggal dicocokkan saja, tidak masalah," ujar Menhan.
Ditanya apakah ada keluhan terkait helikopter 'kosong' itu, Menhan mengatakan belum pernah mendegar. "Kalau memang ada seperti itu dilihat saja dulu ordernya, seperti you mau beli mobil. Ya cek saja betul atau tidak," ujarnya.
Menhan : Tidak Ada Penggelapan APBN Di Kemhan
Menhan: Akan Konfirmasi Malaysia Soal Pembajakan
Malaysia : Diduga Perompak, 6 WNI Ditahan
Sasar Somalia, AS Bikin Pangkalan Militer di Ethiopia
Kursus Penyidik TNI AL untuk Amankan Sumber Daya Kelautan
Hati-Hati Australia Pelajari Sistem Pertahanan Kohanudnas
Pertukaran Taruna AU RI Dan Jepang
Paket Senjata Dari Amerika Untuk Taiwan Bernilai Hampir 6 Miliar Dolar AS
Lockheed Martin Corp membuat pesawat tempur jenis F-16.
"Terus terang saya tidak punya kesan bahwa segala sesuatunya ditahan-tahan," kata pejabat itu yang tak disebutkan namanya merujuk kepada permintaan Taiwan untuk memodernisasi sekitar 145 pesawat jenis F-A/B yang dijual AS pada 1992, lapor Reuters.
Pemerintahan Obama dijadwalkan akan secara resmi memberitahu Kongres pada Rabu ikhwal paket peningkatan kualitas F-16 yang diusulkan itu. Taiwan telah lama menunggu jawaban dari AS atas permintaan 66 jet tempur model terbaru F-16 C/D untuk mengganti armada F-5 yang sudah berusia lebih 30 tahun.
Pejabat itu, yang erat terlibat dalam kebijakan soal Taiwan, berbicara kepada Reuters di luar konferensi industri pertahanan di Virginia yang menitikberatkan pada kebutuhan keamanan Taiwan dan kekuatan militer China yang sedang tumbuh.
Menurut dia, jet model A/B yang ssudah diupgrade pada dasarnya memiliki kemampuan sama dengan versi C/D yang diminta Taiwan dengan harga lebih murah.
"Jadi Anda mendapatkan 145 pesawat yang sudah diupgrade sama dengan model C dan D senilai 5,8 miliar dolar dibandingkan 66 pesawat baru yang harganya 8,3 miliar dolar," kata pejabat itu.
Kredit Ekspor untuk Pengadaan Alutsista Harus Dibarengi Alih Teknologi
"Kredit ekspor tersebut harusnya disertai dengan transfer teknologi. Maksudnya abal-abal yaitu kredit ekspor tanpa alih teknologi yang jelas dan mumpuni. Kita jangan sampai mengalami komitmen tak jelas dengan pihak pemberi kredit ekspor tersebut," kata Susaningtyas atau Nuning di Gedung DPR RI.
Ia juga mengingatkan pemerintah untuk tidak mudah menggunakan pinjaman luar negeri tersebut.
"Seyogyanya pemerintah mulai berhati-hati dengan pinjaman luar negeri itu. Kredit export abal-abal harusnya jangan ada lagi," kata politisi Hanura itu.
Ia menyebutkan, semestinya dana besar yang didapat dari APBN untuk pembangunan pertahanan negara harusnya digunakan secara imbang antara property dan prosperity bagi prajurit.
"Karena pemenuhan kesejahteraan prajurit adalah tanggung jawab moral pemerintah. Jangan sampai pembelian alutsista itu lebih besar daripada untuk kesejahteraan dan harus sesuai dengan rencana jangka pendek, menengah," kata dia.
F-22 Fighters Allowed Back In The Air : US Air Force
The F-22 Raptors, the most advanced combat aircraft in the world, were barred from flying for four months, a highly unusual move that reflected serious worries over safety.
"We now have enough insight from recent studies and investigations that a return to flight is prudent and appropriate," Air Force chief of staff General Norton Schwartz said in a statement.
"We're managing the risks with our aircrews, and we're continuing to study the F-22's oxygen systems and collect data to improve its performance," said.
Commanders ordered a "stand-down" of the Raptor fleet on May 3 after 12 separate incidents over a three-year period in which pilots reported "hypoxia-like symptoms," the Air Force release said.
In one case, an F-22 reportedly scraped tree tops before landing and the pilot could not remember the incident, indicating a possible lack of oxygen.
Analysts say the Air Force has struggled to pin down the source of the problem with the Raptors despite elaborate safety investigations.
The fleet will undergo "an extensive inspection of the life support systems before returning to flight, with follow-on daily inspections," the Air Force said.
In addition, pilots will use additional protective equipment and undergo physiological tests, it said.
Under the decision, pilots will be allowed to fly at 50,000 feet (15,200 meters). Between January and April, the Raptors were not permitted to venture beyond 25,000 feet.
The Air Force has more than 160 F-22 Raptors in its fleet and plans to build a total of 187.
The radar-evading aircraft, designed primarily for dogfights against rival fighter jets, have not been used in the NATO-led air campaign in Libya or the wars in Afghanistan and Iraq

















