C-705 China Cikal Bakal Rudal Nasional
Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali
China Sepakat Transfer Teknologi Rudal Ke Indonesia
Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705
KCR Ke-2 Produksi Palindo Resmi Perkuat TNI AL
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642 di Dermaga Batu Ampar Kota Batam
Marinir Kembali Akan Diperkuat 37 Tank BMP-3F
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut kembali akan mendatangkan tank amfibi BMP-3F untuk marinir dari Rusia
Indonesia Resmi Membeli 9 C-295 Dari Airbus
Generasi terbaru C-295 adalah pesawat yang ideal untuk pertahanan dan misi-misi kemanusiaan
Sukhoi PAK FA T-50 Jauh Mengungguli F22 Raptor
Jumlah pesawat tempur generasi ke-lima Sukhoi T-50 PAK akan ditambah menjadi 14 unit dari sekarang cuma tiga
Sabtu, November 10, 2012
Rantis 4x4 “Komodo” Pindad Masuki Lini Produksi
KAS Kormar Tinjau Pameran Indodefence 2012
Pameran Indo Defence, Aerospace & Marine 2012 yang digelar Kementerian Pertahanan merupakan pameran berskala international teknologi pertahanan tiga matra, kedirgantaraan dan maritim yang telah berlangsung lima kali. kali ini akan berlangsung mulai dari tanggal 7 sampai 10 November 2012.
Pada kegiatan tersebut Kaskormar beserta rombongan berkesempatan melihat teknologi terkini di bidang pertahanan dan keamanan, militer, logistik, senjata api, peluru, pesawat tempur, sistem komunikasi, sistem keamanan, radar, helm, ransel, tenda, teknologi penerbangan dan marithm, fasilitas bandara & pelabuhan kapal selam, di samping itu untuk kendaraan tempur, dihadirkan BMP-3F yang juga dioperasikan Korp Marinir TNI AL.
Australia Terkesan Perkembangan Alutsista Indonesia
"Merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa bagi saya untuk datang ke pameran ini. Karena selain untuk menambah wawasan tentang perlengkapan militer terbaru, juga khususnya untuk melihat langsung produk-produk teknologi terbaru dari industri pertahanan Indonesia," kata Jason, di Jakarta, Jumat (9/11).
Kunjungan Jason ke Indo Defence merupakan permintaan dari rekannya di Sesko AD untuk melihat perkembangan teknologi militer terbaru. Tugas sebagai utusan ini diperolehnya berkat pengetahuan Jason yang lebih di bidang arhanud, infanteri, dan kavaleri.
Sejumlah produk alutsista yang menarik perhatian Jason antara lain senjata laras panjang dan peluru PT Pindad yang kini telah digunakan oleh militer AS sebagai produk unggulan. Dia juga senang saat melihat kendaraan taktis Panser 6x6 Anoa yang sukses menggaet minat Malaysia untuk membeli sebanyak 32 buah.
Jason juga menyatakan apresiasinya terhadap perkembangan alutsista TNI yang dinilainya pascareformasi kian membaik. Ini terlihat dari upaya TNI untuk terus memodernisasi peralatan militernya sesuai dengan tugas pokok TNI untuk mengamankan dan menjaga kedaulatan Indonesia.
Pameran yang sudah masuk hari ketiga ini tak hanya menyedot perhatian para pengunjung lokal, pengunjung mancanegara juga bersemangat untuk berkunjung. Sebanyak 600 peserta pameran dari 42 negara dengan beragam produk mulai dari persenjataan hingga produk-produk pendukung industri pertahanan ini memang dipersiapkan untuk menjamu tamu-tamu baik dari kalangan militer, profesional, bahkan umum.
Beberapa industri pertahanan nasional utama di Indonesia ikut ambil bagian memamerkan produk-produknya dalam pameran ini, seperti PT Pindad, PT PAL, dan PT Dirgantara Indonesia.
Konten Lokal
Sementara itu, PT Pindad bakal memperkaya tank berat buatan Jerman, Leopard Revolution, dengan sejumlah konten lokal. Kepastian itu diperoleh setelah adanya penandatanganan kesepakatan bersama antara Kementerian Pertahanan dengan produsen Leopard asal Jerman, Rheinmetall Landsysteme.
"Ini sebagai komitmen kita untuk melakukan alih teknologi bagi setiap alutsista yang dibeli dari luar negeri," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, kemarin.
Pada kesempatan itu, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Mayjen Ediwan Prabowo, menandatangani dua kesepakatan bersama dengan Managing Director Rheinmetall Landsysteme Harald Westermann dan Presiden Avirbrus Industria Aerospacial Brazil, Sammi Youssef Hassuani.
Dengan Rheinmetall, Kemhan menyepakati pembelian Leopard, Marder, dan sejumlah tank pendukungnya. "Selama ini kita belum punya tank berat dan tank medium. Kita baru punya tank ringan," kata Purnomo.
Nama "KOMODO" Resmi Disandang Kendaraan Taktis Intai Pindad
Tiba di lokasi pameran, SBY langsung meninjau kendaraan perang karya putera-puteri Indonesia, PT Pindad. Sambil meninjau Presiden dan rombongan diantaranya Menteri Perindustrian, Menteri Pertahanan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki (Ahok) menerima penjelasan mengenai alutsista yang dipamerkan.
Dalam kesempatan ini pula, Presiden SBY memberikan nama untuk kendaraan taktis perang yang baru diproduksi. Kendaraan Taktis Intai itu diberi nama Komodo oleh Presiden.
Harapannya, menurut SBY, kendaraan taktis ini bisa seperti hewan komodo yang perkasa, kendaraan ini pun menjadi kendaraan perang yang berdaya tempur tinggi untuk menjaga NKRI.
"Komodo binatang perkasa. Semoga kendaraan taktis ini bisa bertempur dan membuat daya bagi Indonesia," pesan SBY.
Indonesia Persiapkan "Indomarintec", Ajang Pamer Kekuatan Laut
ARC-(IDB) : Indonesia merupakan Negara kepulauan yang
terdiri dari sekitar 17.000 pulau dan memiliki luas perairan dua kali
lipat daripada luas daratannya. Dengan melimpahnya sumber daya alam
Indonesia yang dapat diekspor seperti batu bara dan
gas, Indonesia tentunya juga bergantung dengan kedua
transportasi laut domestic maupun internasional.Sementara itu, industri pembuatan kapal di Indonesia dianggap masih dalam tahap pertumbuhan dan berada di peringkat ke-15 dunia dalam hal pengiriman. Namun hal ini menunjukkan pertumbuhan dua kali lipat dalam output dan diharapkan menjadi focus dalam kapasitas ekspansi, dengan negara-negara pembuat kapal dari Singapura, Belanda, dan Korea yang telah menginvestasikan fasilitas-fasilitas pembuatan kapal di Indonesia.
Hal inilah yang melatarbelakangi UBM Asia (penyelenggara pameran terbesar Asia di bidang maritime seperti: Marintec China, Sea Japan, Imabari Maritime Fair danNavalshore)dan PT Napindo Media Ashatama (salah satu penyelenggara pameran industri terkemuka di Indonesia, seperti: Indo Defence, Indo M`rine, Indo Livestock dan Indo Water Expo & Forum) mengumumkan untuk bersama-sama menyelenggarakan Indo Marintec Expo & Forum di Jakarta International Expo, Kemayoran, pada bulan November 2014. Pameran ini antara lain akan diikuti oleh industri pembuatan kapal, perlengkapan kapal, servis dan perbaikan kapal, industri teknologi pelabuhan dan industri logistik.
Pameran ini juga akan didukung oleh Kementerian Transportasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Perdagangan, serta didukung penuh oleh JIMC (Jakarta International Maritime Consulting), dan asosiasi seperti IPERINDO (Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia), dan INSA (Indonesian National Shipowners’ Association).
Mr.Christopher Eve, selaku Senior Vice President UBM Asia Ltd menyatakan, “Saya sangat senang berada di peresmian Indo Marintec ini. Para industry bidang maritim Indonesia memiliki potensi dan peluang yang sangat besar, dimana perusahaan-perusahaan local dan internasional dapat memperluas bisnis mereka di sektor pembuatan pembuatan kapal dan pengiriman. UBM memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai industry martime melalui beberapa pameran kami di Cina, Jepang, Singapura, Amerika Serikatdan Brazil. Kami berharap dapat mengadakan pameran yang sangat bergengsi dan sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan bisnis dari para pembeli dan penjual dalam industri ini.”
Bapak Herman Wiriadipoera, Direktur Utama PT Napindo Media Ashatama menyatakan, “Indo Marintec 2014 Expo & Forum akan memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan industri maritim Indonesia, dimana Indonesia mempunyai luas perairan yang lebih besar daripada daratannya yang terdiri dari kepulauan. Dimana akan banyak digunakan transportasi laut dalam rangka menunjang perekonomian dan industri dalam negeri. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkembang sangat baik dan menjadikan Indonesia sebagai barometer pertumbuhan perekonomian di Asia. Pameran ini juga dijadikan satu ajang bertemunya pengusaha-pengusaha terkait di bidang industry maritim, termasuk juga memberikan kesempatan kepada industri-industri maritime dunia untuk memperkenalkan teknologi- teknologi bidang maritime dan member kesempatan dalam kerjasama (baik investasi maupun tukar- menukar teknologi).
Forum di bidang industri maritim Indonesia akan diselenggarakan bersamaan dengan pameran tersebut di atas, dihadiri oleh para pembuat keputusan baik dari sektor pemerintahan maupun komersial. Target pengunjung untuk pameran dan forum meliputi: pembuat kapal, pemilik kapal, operator dan pengelola kapal, pemilik cargo, surveyor kapal, para ahli pelabuhan, badan pemerintahan diantaranya regulator, TNI Angkatan Laut Republik Indonesia dan penjaga lepas pantai. Indo Marintec 2014 Expo & Forum akan diselenggarakan di Jakarta International Expo (JIExpo Kemayoran), 26-28 November 2014.
Pindad Produksi Dan Kembangkan Senjata Penembus Baja Dan Anti Karat Untuk TNI AL
Staf Desain Produk PT Pindad, Windu Paramata menjelaskan, ada tiga versi SPR. Yakni SPR-1 (produksi 2007), SPR-2 dan SPR-3 (produksi 2010). Ketiga senapan itu sudah didesain menggunakan peluru yang bisa menembus lapis baja pada kendaraan tempur, seperti tank.
"SPR-1 menggunakan peluru kaliber 7,62 mm, peluru SPR-2 dan SPR-3 berkaliber 12,7 milimeter x 108," kata Windu saat berbincang dengan VIVAnews di Indo Defence 2012 Expo & Forum, Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Jumat 9 November 2012.
Untuk SPR-1, kata Windu, dengan peluru kaliber 7,62 mm dapat menembak efektif sampai jarak 700-900 meter. Namun, pada jarak tembak 400-500 meter, SPR-1 ini bisa menembus baja dengan ketebalan 5 mm. "Dengan jarak tembaknya cuma 400-500 meter, baru baja itu bisa bolong," kata Windu.
Sementara, SPR-2 dan SPR-3 bisa menembak dengan jarak hingga 1,5 km. Secara keseluruhan SPR-2 dan SPR-3 bisa menembak efektif meski musuh berada pada jarak 2 km. Namun karena keterbatasan teropong pada senapan ini, sehingga hanya efektif menjangkau sampai 1,5 km.
"Dengan peluru 12,7 mm x 108 ini, SPR-2 bisa bikin bolong lapis baja tank dengan ketebalan 1 cm. Kalau SPR-3 bisa merobek ketebalan baja sampai 3 cm. Itu semua dengan jarak tank ada di 1 sampai 1,5 km," Windu menjelaskan.
Ketiga senapan penembak jitu itu sudah dilengkapi dengan peredam suara. Meski tidak secara signifikan menurunkan suara letusan senapan. "Tapi area aman si penembak jitu itu kan di bawah radius 1 km. Karena biasanya penembak jitu selalu ambil posisi tembak dengan jarak 1-2 km, jadi tidak kedengaran suara tembakannya kalau jaraknya segitu," kata dia.
Senapan ini terilhami produk-produk senapan tembus baja tank yang sudah ada. Namun untuk SPR ini PT Pindad sudah mendesain sendiri bentuknya dengan harga yang relatif murah. Walaupun pada sebagian sosok masih mengambil desain dari Black Arrow M93 dan NTW-20 produksi Afrika Selatan yang harganya berada di atas Rp1 miliar.
Produk senjata sejenis sudah ada. Misalnya Gepard M1/M2 (Hongaria, kaliber .50), Barret M82, M90 dan M95, M99, serta M-107 (Amerika, kaliber .50), SVN-98 (Rusia, kaliber 12,7 mm x 108), Steyr IWS-2000 (Austria, kaliber .50 dan 12,7 mm x 108), PGR UM-Hecate (Prancis, kaliber .50), AI AS (Inggris, kaliber .50), dan NTW-20 (Afrika Selatan, kaliber 20 mm).
Penggunaan senapan penembak jitu antimaterial tembus lapis baja tank ini sudah digunakan sejak Perang Dunia II pada tahun 1939-1945 oleh pasukan Nazi Jerman yang menggunakan Mauser Tank-Gewehr Model 1918 kaliber .51, Jepang dengan Tipe 97 kaliber 20 mm, dan Inggris dengan Boys Antitank Rifle kaliber .55.
Ketiga pasukan tersebut menggunakannya untuk menghantam masing-masing musuhnya, yang berlindung di balik tembok atau berada dalam kendaraan lapis baja.
Usai perang, berbagai negara terutama Amerika, Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa Timur kemudian mengembangkan dengan menggunakan peluru kaliber .50 atau biasa disebut dengan kaliber 12,7 mm x 99 dan kaliber 12,7 mm x 108, yang menjadi standar senapan mesin berat mereka. Dari berbagai negara yang ikut memproduksi senapan antimaterial ini, Jerman, Amerika, dan Rusia yang paling banyak membuat aneka produk sejenis.
Namun, staf Penjualan dan Pemasaran PT Pindad, Mutiara Erning, menjelaskan varian ini masih dalam tahap pengembangan, sehingga belum diketahui kapan resmi diproduksi. "Belum diproduksi, masih dalam pengembangan antara PT Pindad dengan Angkatan Laut," kata Mutiara kepada VIVAnews di Indo Defence 2012 Expo & Forum, Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Jumat 9 November 2012.
PT Pindad, kata Mutiara, memang sengaja terus mengembangkan beberapa varian lainnya. Salah satunya adalah varian yang anti karat. "Pindad nanti bikin varian yang anti oksidasi. Caranya dengan menggunakan marinisme atau pelapisan yang tahan karat dan air laut. Pelapisan ini tentu beda dengan pelapisan SS-2 varian sebelumnya," ucap dia.
Senapa Serbu produksi PT Pindad sendiri sudah memiliki dua versi, SS-1 dan SS-2. Khusus untuk SS2, sudah memiliki sejumlah varian, yakni SS2-V1, SS2-V2, SS2-V4HB, dan SS2-V5.
Staf Desain Produk PT Pindad, Windu Paramata menambahkan, dengan menggunakan SS2-V4HB, TNI sudah lima kali menjuarai lomba tembak tingkat internasional. "SS2-V4HB menggunakan peluru kaliber 5,56 mm dengan jarak tembak efektif 600 meter," kata dia.
Di ajang Indo Defence ini, PT Pindad memamerkan beberapa senjata produksinya, di antaranya SS versi 2 (SS2), Hand Gun G-2 versi elite dan Combat, serta Senapan Penembak Runduk (SPR) yang digunakan untuk para penembak jitu.
SS Pindad Penggabungan Teknologi M-16 Amerika Dan AK 47 Rusia
JAKARTA-(IDB) : Senapan Serbu (SS) PT Pindad Persero telah
menyabet penghargaan dalam sejumlah lomba tingkat internasional.
Kualitas senapan yang memiliki dua versi, SS1 dan SS2, ini diklaim lebih
baik dari M16 buatan Amerika Serikat.
Staf Desain Produk PT Pindad, Windu Paramata, mengatakan SS dibuat dengan menggabungkan
sejumlah keunggulan M16 dan senjata asal Rusia, AK47. "Jadi senapan
serbu ini dibuat berdasarkan gabungan teknologi di M16 dan daya tahan di
AK47," ujar Windu saat berbincang dengan VIVAnews di Indo Defence 2012 Expo & Forum, Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Jumat 9 November 2012.
SS,
kata Windu, memiliki fleksibilitas teknologi seperti M16, sementara
daya tahannya seperti AK47. Teknologi yang diadopsi dari AK47 itu adalah
sistem gas buang. Sistem inilah yang tidak dimiliki oleh M16. Dengan
sistem itu, SS memiliki daya tahan di segala medan. SS tahan terhadap
air atau lumpur. Artinya, SS masih bisa digunakan untuk menembak meski
baru saja masuk ke air maupun lumpur.
"Jadi, kalau habis keluar
dari sungai atau lumpur, senapan serbu ini tidak macet seperti M16.
Paling tembakan pertamanya untuk membersihkan lumpur yang masuk ke
moncong senjata," ujar Windu.
Khusus untuk SS2, sudah memiliki
sejumlah varian, yakni SS2-V1, SS2-V2, SS2-V4HB, dan SS2-V5. Windu
menambahkan, dengan menggunakan SS2-V4HB, TNI sudah lima kali menjuarai
lomba tembak tingkat internasional. "SS2-V4HB menggunakan peluru kaliber
5,56 mm dengan jarak tembak efektif 600 meter," kata dia.
Dalam
ajang Indo Defence ini, PT Pindad memamerkan beberapa senjata
produksinya, di antaranya SS versi 2 (SS2), Hand Gun G-2 versi elite dan
Combat, serta Senapan Penembak Runduk (SPR) yang digunakan untuk para
penembak jitu.
Sumber : Vivanews
Irak Dan Iran Siap-Siap Borong Senjata Produksi Pindad
Kepada itoday, Jum'at (9/11) Legal & Public Relation Manager, Tuning Rudyati mengatakan, Irak sudah menyatakan minatnya membeli produk Pindad, walau belum disebutkan jenis produk dan jumlahnya.
"Irak sudah datang ke Bandung (PT.Pindad-red) dan menyatakan minatnya kepada produk kami, namun belum ada kesepakatan," jelas Tuning.
Iran pun tak mau kalah dengan tetangganya yang pernah berseteru itu. Negara yang dipimpin Ahmadinejad ini langsung mengirimkan wakil menteri pertahanannya (Wamenhan) ke stand BUMN Strategis asal Bandung ini, Jum'at (9/11) di pameran Indo Defense 2012.
"Wamenhan Iran datang ke stand kami (Pindad), untuk melihat produk-produk yang dibuat Pindad, dan kami memberikan beberapa presentasi produk kepadanya, " ujarnya.
Sekedar informasi, kunjungan Iran ke Pindad ini ternyata bukan yang pertama kalinya dilakukan. Pihak Pindad mengungkapkan, ketika Indo Defense 2008 di Lanud Halim Perdanakusumah, Iran sudah datang menandatangani kontrak pembelian magazin senjata dengan Pindad, namun kontrak itu dibatalkan Pemerintah Indonesia karena masalah politis.
Melihat situasi politik Indonesia-Iran yang saat ini terus membaik, Pindad berharap kesempatan kali ini dapat memberikan keuntungan bagi pihaknya.
Lockheed Martin Looks To Upgrade Indonesian F-16 Radars
Indonesia Purchased 37 Self Propelled Guns Caesar
The contract was signed in the framework of Indo Defence 2012 exhibition.
According to a representative of the manufacturer Nexter Systems contract value to $ 240 million, the delivery will be carried out in the period 2013-2014.
Earlier, the Indonesian Ministry of Defense has announced its intention to purchase 37 self-propelled 155mm Caesar from September / 2012, two guns of this type has been moved to Indonesia and join the parade on 5/10/2012 at this country.
Under the terms of the contract, Nexter Systems will provide technology related to PT Pindad of Indonesia to produce the components of this gun in the future.
With this contract, Indonesia became the 4th customer of the self-propelled gun Caesar.
Earlier, the Thai buying 6 exporter team in 2009, Saudi Arabia purchased 32 team gate value of $ 210 million, Denmark has bought 18 gates teams in 9/2012.
Caear 155mm caliber self-propelled gun, was developed in the 1990s as a test of France's own technology. Four prototypes were delivered to the French Army at the end of the 1990 assessment.
The Caesar series production work began in 2006, and widely delivered to the French Army in 2007.
Pindad Produksi Panser Tarantula Dan Anoa RCWS Versi
Kepastian tersebut diperoleh itoday, Jum'at (9/11) ketika berkunjung ke stand BUMN di Indo Defence 2012 yang diadakan di Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kemayoran, Jakarta Pusat.
Legal & Public Relation Manager PT.Pindad, Tuning Rudyati mengatakan, memang betul bahwa Pindad akan memproduksi panser canon asal Korea Selatan, sebagai bagian dari perjanjian transfer of technology (ToT) yang dibuat Pemerintah Indonesia dengan Korea Selatan.
"Pemerintah membeli 22 panser canon Tarantula dari Korea Selatan, dimana 11 di antaranya langsung didatangkan dari Korea Selatan, dan sisanya akan diproduksi di Pindad, " ungkapnya.
Penjelasan Tuning juga menjelaskan mengapa pihak CMI Defense Belgia, mengklaim bahwa pihaknya akan memasok turret dan laras kaliber 90 mm untuk Tarantula Pindad. Padahal sebelumnya, turret dan laras ini digunakan Pindad dalam pengembangan panser canon yang didesain dari basis panser Anoa, namun pada akhirnya gagal dikembangkan karena pemerintah lebih memilih membeli barang dari Korea Selatan.
Kepada itoday di Pameran Indo Defense 2012, Jum'at (9/11), Legal & Public Relation Manager PT. Pindad, Tuning Rudyati mengatakan bahwa versi terbaru panser Anoa versi 2, yang sudah menambahkan armoured dan RCWS sudah siap diproduksi.
"Kami sudah bekerjasama dengan ST Kinetics dan Selex untuk pengadaan RCWS Anoa 2," ungkapnya.
ST Kinetics sendiri mengiyakan informasi dari Pindad sendiri, namun tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai apa-apa saja detil kerjasama dua perusahaan ini dan menyerahkan semuanya ke pihak Pindad.
Namun hal sedikit berbeda disampaikan oleh Selex Galileo, yang mengatakan bahwa belum ada kesepakatan antara Selex dengan Pindad. Namun Selex tetap menyatakan bahwa mereka saat ini sedang melakukan penawaran berbagai produknya ke Pindad, dan berharap bisa bekerjasama dengan BUMNIS asal Bandung ini.
"Saat ini kami sedang menawarkan produk Selex Galileo kepada Pindad, " ungkap Product Marketing Manager International, Lucarini Massimo.
Pindad sendiri mengakui sudah siap untuk memproduksi panser Anoa versi terbarunya jika pemerintah memesannya.
Kepada itoday di Pameran Indo Defense 2012, Jum'at (9/11), Legal & Public Relation Manager PT. Pindad, Tuning Rudyati mengatakan bahwa versi terbaru panser Anoa versi 2, yang sudah menambahkan armoured dan RCWS sudah siap diproduksi.
"Kami sudah bekerjasama dengan ST Kinetics dan Selex untuk pengadaan RCWS Anoa 2," ungkapnya.
ST Kinetics sendiri mengiyakan informasi dari Pindad sendiri, namun tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai apa-apa saja detil kerjasama dua perusahaan ini dan menyerahkan semuanya ke pihak Pindad.
Namun hal sedikit berbeda disampaikan oleh Selex Galileo, yang mengatakan bahwa belum ada kesepakatan antara Selex dengan Pindad. Namun Selex tetap menyatakan bahwa mereka saat ini sedang melakukan penawaran berbagai produknya ke Pindad, dan berharap bisa bekerjasama dengan BUMNIS asal Bandung ini.
"Saat ini kami sedang menawarkan produk Selex Galileo kepada Pindad, " ungkap Product Marketing Manager International, Lucarini Massimo.
Pindad sendiri mengakui sudah siap untuk memproduksi panser Anoa versi terbarunya jika pemerintah memesannya.
Read more about Baik by www.itoday.co.id
Pindad Persiapkan Diri Tangani Tank Leopard
Poin itu masuk dalam nota kesepakatan yang ditandatangani Kementerian Pertahanan (Kemhan) yangdiwakiliKepalaBadan Sarana Pertahanan Mayjen TNI Ediwan Prabowo dengan produsen Leopard asal Jerman,Rheinmetall Landsysteme yang diwakili Managing Director Harald Westermann, di sela-sela Indo Defence 2012 Expoand Forum di Jakarta kemarin.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan, pemerintah sepakat untuk membeli tank jenis Leopard, Marder, dan sejumlah tank pendukung dari Rheinmetall. Pengadaan Leopard dan Marder tersebut lantaran selama ini Indonesia tidak memiliki tank tempur utama dan tank medium. “Kita baru punya tank ringan,”sebut dia. Dia menyebut, nota kesepakatan pembelian itu memasukan klausul mengenai alih teknologi.
Alih teknologi yang dimaksud adalah rencana perbaikan dan pemeliharaan Leopard yang dipercayakan ke PT Pindad, Bengkel Pusat TNI AD, dan Balitbang TNI AD. “Ini sebagai komitmen kita untuk melakukan alih teknologi bagi setiap alutsista yang dibeli dari luar negeri,” kata dia.
Sementara itu, Ediwan Prabowo mengatakan, ke depan PT Pindad akan mendapatkan workshop tentang bagaimana memperbaiki Leopard yang mengalami kerusakan ringan hingga paling berat. “Rheinmetall juga akan mempercayakan PT Pindad untuk improvisasi menggunakan konten lokal,” paparnya.
Beberapa konten lokal yang bisa dibuat di Indonesia, kata dia,memang masih sebatas untuk yang ringanringan. Di antaranya plat baja dan sepatu atau rantai tank.Namun, ini awal yang bagus bagi upaya penguasaan teknologi.
Korea Selatan Tawarkan Kerjasama produksi Medium Tank
"Baru penawaran saja dari pihak Korea, di pertemuan ini kami kasih rambu-rambunya dulu jika ingin melakukan kerjasama," kata Kasubdit Pendayagunaan Industri Direktorat Teknologi dan Industri Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, Kolonel Gita Amperiawan pada Indodefence, Jumat.
Menurut dia, kerjasama dengan negara tetangga sangat penting dilakukan agar Indonesia bisa belajar teknologi pertahanan yang lebih baik. Transfer ilmu menjadi salah satu sarat utama yang harus diberikan pihak penawar.
"Mulai dari transfer ilmu tentang mesin-mesin, teknologi senjatanya itu penting," kata Gita "Semua itu nantinya agar Indonesia bisa mandiri, untuk kemajuan industri kita juga."
Dia mengunkapkan, sampai saat ini bukan hanya Korea yang sudah mengajak bekerjasam membuat tank ukuran sedang karena Turki sudah lebih dulu mengajukan proposal.
"Untuk medium tank tawaran Turki bahkan sudah dikaji kearah yang lebih teknis," kata Gita.



















