C-705 China Cikal Bakal Rudal Nasional
Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali
China Sepakat Transfer Teknologi Rudal Ke Indonesia
Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705
KCR Ke-2 Produksi Palindo Resmi Perkuat TNI AL
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642 di Dermaga Batu Ampar Kota Batam
Marinir Kembali Akan Diperkuat 37 Tank BMP-3F
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut kembali akan mendatangkan tank amfibi BMP-3F untuk marinir dari Rusia
Indonesia Resmi Membeli 9 C-295 Dari Airbus
Generasi terbaru C-295 adalah pesawat yang ideal untuk pertahanan dan misi-misi kemanusiaan
Sukhoi PAK FA T-50 Jauh Mengungguli F22 Raptor
Jumlah pesawat tempur generasi ke-lima Sukhoi T-50 PAK akan ditambah menjadi 14 unit dari sekarang cuma tiga
Sabtu, Oktober 08, 2011
Berita Foto : Peringatan HUT TNI Ke-66 Di Libanon
Kapal Selam Baru Segera Bergabung Dengan Armada AL Iran
![]() |
| Kapal Selam Ghadir |
Proyek KFX Cikal Bakalnya Pesawat F-33 Indonesia Korsel
RINDAM-(IDB) : Indonesia sempat menjadi negara pertama yang mampu membuat pesawat turboprop dengan sistem fly-by-wire N250. sebuah tehnologi yang hanya digunakan oleh pesawat tempur F-16. Dunia saat itu tercengang, karena Indonesia tidak dikenal maju industri dirgantaranya. Sayang, krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 ikut memupus program industri strategis tersebut, termasuk pengembangan pesawat jet nasional N2130. Harapan untuk mampu mengembangkan pesawat non sipil untuk kebutuhan TNI AU juga terhapus.
Setelah hampir 15 tahun mati suri, industri dirgantara Indonesia kembali dilirik pihak asing. Korea Selatan menawarkan kerjasama program pengembangan pesawat tempur Korean Fighter X (KFX). Dan, Juli 2010 lalu kesepakatan kerjasama kedua negara telah disepakati.
Proyek senilai US$ 6 miliar itu tadinya ditanggung sendiri oleh Pemerintah Korsel. Namun kesulitan finansial memaksa negeri ginseng itu mencari mitra pendanaan. Pilihan jatuh kepada Indonesia.
Indonesia sendiri akan mengambil bagian sebanyak 20 persen total biaya. Sisanya, 60 persen oleh Pemerintah Korsel dan 20 persen lagi oleh Korea Aerospace Industries Ltd. Dari pembagian ini, imbalan yang akan diterima Indonesia berupa pelibatan PT DI dalam pembuatan KFX, mendapatkan 50 unit KFX dan menjadi mitra pemasaran pesawat tempur tersebut.
Pemerintah Korsel sangat optimis dengan proyek ini. KFX direncanakan dapat terbang perdana pada 2020 dan pensiun 2050. Pesawat tempur ini dirancang sebagai pesawat tempur kelas menengah dengan kemampuan stealth (siluman). KFX dikabarkan akan lebih baik dibandingkan F-16 Block 52.
Setelah Indonesia bergabung dalam proyek KFX, Turki juga menyatakan ketertarikannya. Negara bekas kesultanan Islam ini menyatakan minatnya untuk bergabung dalam proyek pengembangan KFX.
Dengan bergabungnya Indonesia dan adanya minat Turki, menjadikan proyek KFX mirip pengembangan JSF-35 AS. Saat itu, AS menarik negara sekutunya untuk bergabung dalam pengembangan pesawat tempur tersebut. Ada kemungkinan Korea Selatan ingin membangun aliansi baru pertahanan di Asia?
Keterlibatan Indonesia dalam proyek ini, bisa jadi menguntungkan. Khususnya dalam rangka mengembangkan kemampuan merancang pesawat tempur untuk memenuhi kebutuhan pertahanan udara Indonesia.
Pesawat tempur KFX ini sejatinya akan dirancang untuk masuk dalam kelompok pesawat tempur generasi 4,5 yang berarti melebihi F-16 Block 52 dan harus mempunyai 6 kemampuan yaitu :
-
kemampuan pesawat tempur untuk melakukan manuver ekstrim agar mendapat posisi serang paling menguntungkan (Air Combat Manuverability).
-
Pesawat tempur harus bisa terbang lincah sehingga harus menggunakan teknologi fly by wire untuk kontrol penerbangannya.
-
Penggunaan teknologi trust vectoring nozzles yang mampu mengubah-ubah arah semburan gas buang mesin jet agar pesawat tempur mempunyai kemampuan terbang dalam kecepatan rendah dan mampu melakukan belokan tajam.
-
Kemampuan untuk terbang jelajah pada kecepatan supersonik dalam waktu yang lama.
-
Radar pesawat tempur berkemampuan menjejak target diluar batas cakrawala atau beyond visual range
-
Kemampuan menyerap dan membiaskan pancaran radar atau teknologi stealth.
Pesawat tempur KFX nantinya akan berkursi tunggal dan di sokong oleh mesin kembar setara dengan kelas General Electric F414 atau SNECMA M88 yang digunakan pada F/A-18E/F Boeing dan Dassault Rafale. Bila kerjasama Indonesia – Korsel berhasil maka pesawat tempur yang awalnya berkode KFX tersebut akan berganti nama menjadi F-33 dan di harapkan mampu mendongkrak kekuatan TNI AU serta meningkatkan daya tawar Indonesia dalam pergaulan internasional.
Sumber : RindamVBrawijaya
Pemerintah Alokasikan USD 325 Juta Untuk Pembelian Alutsista Baru
Lanal Morotai Diresmikan Oleh Pangarmatim
MOROTAI-(IDB) : Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Ade Supandi, S.E meresmikan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Morotai di Kabupaten Pulau Morotai Propinsi Maluku Utara, Rabu (5/10).Dalam peresmian tersebut dihadiri oleh Bupati Pulau Morotai Drs. Rusli Sibua, Komandan Lantamal IX Laksamana Pertama TNI Rahardjo Dwi Prihanggono, S.H, Danlanal Ternate Kolonel Laut (P) Untung Sukoco, Kabinda Maluku Utara Laksamana Pertama TNI Joko Hariyanto, Komandan KRI Slamet Riyadi Kolonel Laut (P) Eko Wahyono, Asintel Pangarmatim Kolonel Laut (P) Bambang Udoyo, Asrena Pangarmatim Kolonel Laut (P) Firman M, Asintel Danlantamal IX Kolonel Laut (P) Arif Sumartono, Aslog Danlantamal IX Kolonel Laut (T) Didik Joko Sukmono, Komandan Lanud Morotai Mayor Lek Damar Hari Sadewo, Dandim Tobelo serta pasukan upacara Perwira, Bintara, Tamtama, Polri, Pegawai Dinas Perhubungan serta siswa-siswi SMK dan SUPM Pulau Morotai.
Letkol Laut (P) Purwadi merupakan Komandan Lanal Morotai pertama yang mengemban tugas untuk memimpin Lanal Morotai. Lanal Morotai yang memiliki pintu masuk lalu lintas internasional melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) III tentunya akan memicu munculnya kerawanan terhadap kemungkinan terjadinya tindak pelanggaran oleh kapal-kapal asing.
Dalam amanatnya Pangarmatim mengatakan, bahwa pembentukan Lanal Morotai merupakan salah satu realisasi kebijakan pemimpin tentang gelar pangkalan dalam rangka mewujudkan TNI AL yang dapat diandalkan dan dibanggakan oleh bangsa Indonesia. Pengembangan dan pembangunan TNI AL merupakan suatu tuntutan kebutuhan sebagai salah satu faktor pendukung dalam meningkatkan peran TNI AL sebagai alat negara di bidang pertahanan laut.
Pembentukan Lanal Morotai juga menandai semakin meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap negara kepulauan, tergugahnya jiwa dan semangat bahari nasional, serta orientasi pemerintah yang menyangkut pembangunan nasional pada aspek kelautan yang telah mendorong kesadaran untuk memelihara kekuatan pertahanan laut yang kuat untuk menjalin kepentingan nasional di laut.
Pesatnya perkembangan dinamika global pada aspek maritim, lanjut Pangarmatim, khususnya peningkatan kuantitas kapal-kapal asing pengguna laut di ALKI serta perairan-perairan perbatasan, memerlukan kehadiran satuan operasi TNI AL secara terus menerus dalam rangka penegakan hukum dan menjaga keamanan di wilayah yuridiksi nasional. Oleh karena itu, kehadiran satuan operasional TNI AL harus didukung dengan gelar pangkalan yang efektif, agar mampu mendukung kesiapsiagaan dan ketahanlamaan operasi.
Laut Maluku bagian Utara merupakan pintu masuk lalu lintas internasional lewat ALKI III, hal ini tentunya menjadi kerawanan dan kemungkinan terjadinya tindak pelanggaran oleh kapal-kapal asing, baik dalam pelanggaran hukum di laut ataupun gangguan keamanan seperti perompakan, pembajakan serta penangkapan ikan secara ilegal ataupun kejahatan lintas negara (transnational crime). Untuk mengantisipasi potensi kerawanan yang timbul maka perlu adanya monitoring, pengawasan serta pengendalian yang intensif oleh unsur-unsur TNI AL guna melindungi kepentingan nasional.
Secara historis, pulau Morotai memiliki catatan bersejarah dalam perang dunia ke II, bahkan oleh Jendral Dauglas Mc Arthur, Morotai disulap menjadi Pusat Komando Tentara Sekutu dengan membangun 7 lapangan terbang dan pelabuhan militer yang besar di Tanjung Dahegila sehingga kapal-kapal besar dapat merapat di pelabuhan tersebut. Berangkat dari catatan sejarah tersebut serta hasil analisis dan studi kelayakan suatu pangkalan militer, posisi Pulau Morotai sebagai titik awal dukungan operasi dipandang sangatlah strategis, guna memberikan dukungan logistik kepada unsur-unsur operasional TNI AL dan melakukan Monitoring, Surveilance and Controlling di kawasan Laut Maluku sebagai pintu masuk Utara ALKI III. Sehubungan dengan pertimbangan tersebut, maka pembentukan dan peresmian Lanal Morotai menjadi suatu kebutuhan yang sangat kita harapkan bersama.
Keberadaan Lanal Morotai juga akan mampu mengamankan hasil-hasil pembangunan yang dilakukan oleh Provinsi, maupun daerah setempat khususnya aspek kelautan. Dalam konteks semangat otonomi daerah, peran Lanal Morotai dalam melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan laut, hendaknya bersinergis serta menjadi pendorong bagi pelaksanaan pembangunan daerah sehingga mampu meningkatkan kemandirian daerah dan kesejahteraan rakyat. Terrealisasinya pembentukan Lanal Morotai tentu tidak terlepas dari dorongan, dukungan dan bantuan Gubernur Maluku Utara, Bupati Morotai, satuan TNI, instansi terkait serta segenap lapisan masyarakat.
Selain meresmikan Lanal Morotai, Pangarmatim juga melaksanakan peletakan batu pertama dilahan yang akan dipakai untuk pembangunan Mako Lanal Morotai. Selanjutnya dilaksanakan pembukaan selubung papan nama di gedung sementara Lanal Morotai dan pelaksanaan penanaman pohon Trembesi oleh Ibu Endah Ade Supandi di halaman Mako sementara Lanal Morotai.
Kopaska Dan Navy Seals Latihan Demolisi
SURABAYA-(IDB) : Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL dan US Navy Seal melaksanakan latihan penghancuran sasaran menggunkan bahan peledak (Demolisi) bertempat di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir Karang Tekok Situbondo, Selasa (04/10). Kegiatan itu merupakan rangkaian Latihan Bersama (Latma) Flash Iron 11-02 JCET antara Kopaska TNI AL dan US Navy Seal.Pasukan khusus negeri Paman Sam itu memaparkan tentang sistim, cara kerja dan prosedur pengamanan dan penggunaan bahan peledak yang mereka miliki kepada personel Pasukan Katak yang mengikuti kegiatan Latma tersebut. Mereka membawa peralatan demolisi yang tergolong canggih dan belum dimiliki oleh militer Indonesia yaitu bahan peledak berbentuk padat jenis C4.


Mesikipun sudah tidak asing dengan peralatan demolisi namun pasukan khusus TNI AL itu tetap memperhatikan setiap instruksi yang disampaikan oleh personel Navy Seal dengan seksama. Satu persatu personel Kopaska mendapat kesempatan untuk merakit bahan peledak jenis C4 secara langsung. Selanjutnya mereka memasang peledak itu di sebuah lembah yang berada di area perbukitan Puslatpur Marinir Karang Tekok kemudian meledakkanya dari jarak yang aman.
Gladi demolisi itu disaksikan langsung oleh Komandan Satuan (Dansat) Kopaska Koarmatim Kolonel Laut (P) Yeheskiel Katiandago yang terus memantau jalannya latihan bersama Flash iron 11-02. Hasil yang didapat dari materi latihan demolisi itu bagi prajurit yang baru masuk jajaran Kopaska adalah mendapat pengetahuan baru tentang perakitan bahan menggunakan C4.
Iran Kembangkan Pesawat Tempur Canggih Baru
Sistem Perisai Rudal AS Mulai Isolasi Rusia
Kasal menerima Kunjungan Kehormatan Panglima Armada 7 Amerika
Menhan Menerima Kunjungan Panglima Angkatan Tentera Laut Diraja Brunei Darussalam
2013, Antonov 158 Garapan Iran-Ukraina Akan Beroperasi
AL Iran Mempunyai Hak Gelar Patroli di Perairan Internasional






















