C-705 China Cikal Bakal Rudal Nasional
Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali
China Sepakat Transfer Teknologi Rudal Ke Indonesia
Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705
KCR Ke-2 Produksi Palindo Resmi Perkuat TNI AL
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642 di Dermaga Batu Ampar Kota Batam
Marinir Kembali Akan Diperkuat 37 Tank BMP-3F
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut kembali akan mendatangkan tank amfibi BMP-3F untuk marinir dari Rusia
Indonesia Resmi Membeli 9 C-295 Dari Airbus
Generasi terbaru C-295 adalah pesawat yang ideal untuk pertahanan dan misi-misi kemanusiaan
Sukhoi PAK FA T-50 Jauh Mengungguli F22 Raptor
Jumlah pesawat tempur generasi ke-lima Sukhoi T-50 PAK akan ditambah menjadi 14 unit dari sekarang cuma tiga
Senin, Oktober 08, 2012
Gelar Pasukan Latihan Armada Jaya XXXI/2012 di Koarmatim
Klewang Next Generation Type Dan Spesifikasi Berbeda
"Yang jelas, kontrak pengadaan kapal dengan pihak produsen kita evaluasi lagi dan tidak dibatalkan. Namun, secara garis besar kita tidak akan memesan kapal dengan tipe dan bahan yang sama," katanya tsai memimpin gelar pasukan kesiapan latihan perang Armada Jaya 2012 di Surabaya, Jawa Timur, Senin (8/10).
Seperti diberitakan, KRI Klewang-625 yang dipesan TNI AL dari galangan kapal PT Lundin Industry Invest, Banyuwangi, Jatim, terbakar di Pangkalan Angkatan Laut Banyuwangi pada 28 September silam. Saat musibah terjadi, kapal yang diluncurkan dan diperkenalkan pada 31 Agustus 2012 itu statusnya masih dalam tahap uji coba dan belum diserahterimakan kepada TNI AL.
Kapal perang dengan harga sekitar Rp 114 miliar dan dilengkapi senjata rudal itu memiliki keunggulan tidak terdeteksi oleh radar musuh dan cocok digunakan untuk kegiatan patroli di wilayah perairan Indonesia.
Sesuai perjanjian dengan PT Lundin, lanjut KSAL, TNI AL telah memesan sebanyak empat unit kapal jenis tersebut yang pembayarannya dilakukan secara bertahap setelah kapal selesai dan diserahterimakan.
"Saat terjadi peristiwa kebakaran, status kapal itu belum diserahterimakan kepada TNI AL sehingga masih menjadi tanggung jawab pembuatnya. Karena masyarakat sudah tahu soal kebakaran kapal itu, kalau harus pesan lagi tipe yang sama, apa kata dunia," kata Laksamana Soeparno.
11 Super Seasprite Segera Perkuat TNI AL
Korps Marinir Gelar Pasukan Latihan Armada Jaya XXXI/2012
Gelar Pasukan tersebut dilaksanakan di Lapangan Kesatrian Marinir Supraptono Semarung Surabaya.
Adapun personel pasrat dalam Latihan AJ XXXI/2012 berjumlah 1837 personel , dengan ranpur tank amfibi 12 tank, BTR 50 berjumlah 27 buah, KAPPA berjumlah 8 buah, BVP 2 berjumlah 2 buah,Roket Multi Laras RM 70 Grad berjumlah 2 buah, Roket Howitzer 105 mm berjumlah 6 buah.
Gelar kesiapan prajurit Korps Marinir yang juga dihadiri Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) A. Faridz Washington tersebut telah diinspeksi secara langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno di dermaga Koarmatim, Ujung, Surabaya, Senin, (8/10).
Selain melibatkan 1.837 personel Korps Marinir, juga melibatkan 105 material tempur Korps Marinir yaitu Tank Amfibi PT 76, BMP-3F, LVT-7, BTR-50, BVP-2, KAPA, Roket Multi Laras RM 70 Grad, Meriam Howitzer 105 mm, perahu karet, ambulan, Komob, dan truck Liaz.
Dalam amanatnya, orang nomor satu di Angkatan Laut itu mengatakan, gelar pasukan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk pengecekan akhir kesiapan dan kebutuhan operasi baik personel maupun material.
Keberhasilan pelaksanaan latihan ini, lanjutnya, sangat tergantung pada kesiapan operasi yang sudah direncanakan, namun tentunya tuntutan untuk tetap menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi sebagai dampak perkembangan situasi dan kondisi di lapangan tetap harus dapat diantisipasi dan diwaspadai khususnya yang berkaitan dengan penembakan senjata strategis dihadapkan dengan perubahan kondisi alam.
Selain itu, fungsi komando dan pengendalian harus tegas serta melalui proses pengambilan keputusan yang cermat, cepat dan akurat dalam menyelesaikan permasalahan yang berkembang dilapangan, yang tidak kalah pentingnya yaitu acuan keselamatan dan keamanan baik personel maupun material tetap menjadi yang utama untuk dilakukan.
“Mari kita laksanakan latihan Armada Jaya XXXI tahun 2012 ini dengan sungguh-sungguh, kita jawab dan kita tampilkan secara profesional segala kepercayaan yang telah diberikan oleh pemerintah serta seluruh rakyat Indonesia kepada TNI AL,” tegasnya.
Pada tahap gladi lapangan latihan Armada Jaya XXXI ini, kekuatan yang dikerahkan secara kwantitas melibatkan sebagian besar kekuatan yang dimiliki TNI AL, sedangkan secara kwalitas bahwa kekuatan yang dilibatkan merupakan kekuatan yang telah dipersiapkan untuk melaksanakan operasi, sehingga diharapkan pelaksanaan latihan Armada Jaya tahun 2012 ini akan lebih baik dari latihan-latihan Armada Jaya sebelumnya.
Sebelum mengakhiri amanatnya, Kepala Staf Angkatan Laut menyampaikan beberapa penekanan untuk dipedomani dalam melaksanakan gladi lapangan :
Danpasmar-1 Lepas Keberangkatan Satgasmar Ambalat XV
Dalam amanatnya didepan 130 prajurit, Komandan Pasmar-1 mengatakan tugas negara yang sangat mulia bagi prajurit Korps Marinir adalah merupakan suatu kehormatan dan kepercayaan pimpinan yang harus kita emban dengan penuh semangat dan kebangaan.
Kehadiran prajurit Korps Marinir di perairan Ambalat, lanjutnya, mempunyai nilai yang strategis dan berdampak politis, yaitu dalam rangka mempertahankan dan menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga prajurit Korps Marinir yang tergabung dalam Satuan Tugas Ambalat XV dituntut untuk bekerja keras, profesional, disiplin dan bertindak sesuai prosedur yang berlaku.
“Tugas pengamanan blok Ambalat ini penuh dengan tantangan dan resiko yang tinggi, selain tantangan alam juga ancaman dari pihak lawan yang berkeinginan menguasai blok Ambalat, sehingga kewaspadaan dan kesiapsiagaan merupakan hal yang paling utama,” tegas orang nomor satu dijajaran Pasmar-1 itu.
Untuk itu tugas ini perlu disiapkan serius, mulai dari personel dan materialnya, selain itu seluruh anggota satgas dituntut untuk memiliki mental, fisik, loyalitas dan pengabdian yang tinggi dengan didukung pengetahuan teknik, taktik, intelijen lawan, geografi dan demografi lokal sehingga setiap anggota satgas dapat mengerti dan memahami tugas pokok yang akan dilaksanakan di daerah penugasan.
Selain itu, Komandan Pasmar-1 juga mengharapkan agar seluruh anggota Satgasmar Ambalat XV selalu menjaga stamina, mental kejuangan dan loyalitas agar kehormatan dan kepercayaan yang diberikan oleh negara dapat dilaksanakan dengan baik demi mengharumkan Korps Marinir, TNI AL, TNI, bangsa dan negara.
Yang tidak kalah pentingnya yaitu agar Satuan Tugas Ambalat XV ini dapat bekerja sama dengan jajaran Satuan Tugas yang lain, seperti Polri, TNI dan masyarakat.
Sebelum berangkat ke daerah penugasan, Satgasmar Ambalat XV dengan Komandan Satgas Kapten Marinir Hendro Paat ini telah menerima pembekalan-pembekalan tentang kondisi geografi dan demografi, pengetahuan keimigrasian, pengetahuan hukum HAM dan Humaniter, pengetahuan hukum laut internasional, situasi keamanan saat ini di daerah perbatasan dan pengetahuan agama, adat istiadat serta bahasa yang dipakai masyarakat pulau Sebatik, selain itu juga telah melaksanakan latihan Pra Tugas di Pusat Latihan Tempur TNI AL Grati Pasuruan.
Turut hadir dalam kesempatan itu Kepala Staf Pasmar-1 Kolonel Marinir Dedi Suhendar, Danbrigif-1 Mar Kolonel Marinir Wurjanto, Danmenart-1 Mar Kolonel Marinir Markos, Danmenkav-1 Mar Kolonel Marinir Sarjito, Danmenbanpur-1 Mar Kolonel Marinir Nurri A. Jatmika, para Asisten Kaspasmar-1 dan pejabat teras dijajaran Pasmar-1.
Komandan Flotila 1 AL Singapura Berkunjung Ke Mako Kermar
Dalam kunjungan tersebut Komandan Flotila 1 Republic of Singapure Navy (RSN) Kolonel Giam Hock Koon mempunyai kesan yang sangat bangga atas sambutannya di jajaran Korps marinir, karena sebelum tiba di Mako Kormar rombongan sempat berkunjung di Pasmar 1 Surabaya untuk melihat kiprah Marinir di Wilayah Timur.
Kolonel Hock sekaligus mewakili Kasal Singapura menyampaikan penghargaan dan salam persahabatan dan sangat menghargai kerja sama Militer kedua Negara.
Lebih lanjut Kolonel Hock sampaikan akan lebih bangga lagi bila Komandan Korps Marinir dapat berkunjung ke Singapura guna mempererat hubungan kedua Negara terutama Angkatan Laut lebih khusus lagi Korps Marinir.
Kunjungan diakhiri dengan tukar menukar cinderamata dan foto bersama di depan Gedung Putih Mako Kormar.
Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iraq Kunjungi Marinir
Setibanya di ruang serba-guna Denjaka tersebut tamu Negara dari wilayahTimur Tengah itu di sajikan film Profil Denjaka, kemudian dilakukan foto bersama didepan gedung serba-guna Denjaka dengan background tulisan “Welcome to Letgen Abdukareem Abdurahman Yousif And The Iraq Delegation To Maritim Counter Terorism Unit Jalamangkara Detachment”
Selesai foto bersama Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iraq beserta delegasi disuguhkan demonstrsi kemampuan para pasukan elit Denjaka dalam mengatasi aksi teroris baik dari laut disimulasikan dalam perjalanan sebuah kapal pesiar yang di bajak maupun didarat dengan simulasi saat para teroris menyandra warga sipil di gedung-gedung bertingkat di lokasi perkotaan.
Setelah itu Letgen Abdukareem beserta Delegasi menyempatkan diri berdialog dan foto bersama dengan para Pasukan Khusus Denjaka yang baru selesai melaksanakan demontrasi di depan Tower Refling Denjaka. Pada kesempatan tersebut delegasi dan para pejabat Korps Marinir melaksanakan sholat Dzuhur berjama’ah di Musholah An-Nur.
Sebelum para tamu-tamu dari Iraq meninggalkan Mako Denjaka Korps Marinir , Dankormar berkesempatan menyerahkan kenang-kenangan sebuah foto yang menunjukan bahwa Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iraq pernah berkunjung ke Detasemen Jalamangkara.
Selain mengunjungi Detasemen Jalamangkara sebelumnya Wakil Kepala Staf Iraq telah mengunjungi Den 81 Gultor Kopasus TNI AD dan setelah dari Denjaka rombongan berkunjung ke Denbravo Kopaskas TNI AU dengan tujuan ingin melihat lebih dekat Pasukan-pasukan Elit TNI untuk menjadikan bahan masukan dalam pembentukan Pasukan Khusus di Iraq.
TNI AL Akan Bangun Pangkalan Laut Di Pantai Selatan Jabar
katanya.
Kalau AU Lemah, Diplomasi Juga Lemah
Meski bukan pesawat milik TNI AU yang jatuh di Bandung itu, tapi musibah yang menimpa peswat latih TNI AU juga terjadi. Pada Juni 2012 misalnya, pesawat latih TNI AU, Fokker 27, juga jatuh di kawasan Halim Perdanakusuma. Pesawat latihan rutin itu, mendadak kehilangan daya dan jatuh di kompleks perumahan TNI AU. Dalam insiden ini, pilot, kopilot, dan seorang instruktur tewas di tempat.
Jatuhnya sejumlah pesawat itu membuat publik menyorot kondisi peralatan tempur TNI AU. Apakah kekuatan udara Indonesia lagi kritis? Di tengah situasi itu, TNI AU menerima hibah pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat. Juga ada rencana pengadaan pesawat tempur di dalam negeri, produksi bersama dengan Korea Selatan. Tapi bagaimanakah sebetulnya postur kekuatan pertahanan udara Indonesia?
Untuk itu, VIVAnews mewawancarai Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Imam Sufaat. Berikut petikan wawancara dengan pria kelahiran Wates, Yogyakarta, 21 Januari 1955 ini.
Soal postur kekuatan udara kita, apakah benar kekuatan udara kita sekarang kritis, dalam arti banyak skuadron pesawatnya sudah tua, begitu juga persenjataannya?
Pesawat ini kan tidak ada yang tua. Kita lakukan maintenance sesuai dengan kelaikan terbang. Memang teknologi yang perlu kita kejar. Kita akan ada pesawat Shukoi generasi keempat, F-16 juga generasi keempat. Kita memang masih perlu penambahan-penambahan pesawat yang canggih.
Ada hibah F-16 dari Amerika Serikat, berapa sebetulnya jumlah yang disetujui dan akan ditempatkan di mana?
Jumlahnya 24 buah. Nanti sebagian ditempatkan di Lanud Iswahyudi Madiun, sebagian lagi di Pekanbaru. Jadi, 24 ditambah 7 cadangannya, ada 31 unit.
Banyak pesawat latih TNI AU mengalami kecelakaan, terakhir yang di Air Show Bandung pekan lalu itu. Apakah sudah dibuat semacam audit, berapa banyak pesawat latih yang tak laik terbang?
Itu bukan AU. Ini kan pesawat air sport. Yang sudah kami grounded itu Foker 27 tapi sudah diganti dengan C-295. Kemudian ada juga yang sudah diganti dengan Super Tucano. Untuk helikopter, kita akan dapat heli baru EC 725 Cougar. Jadi sudah oke mulai ke depan.
Lalu, dalam soal peningkatan alutsista, apa alasan membeli heli Apache?
Apache bukan untuk AU, tapi Angkatan Darat. Itu kan Apache serang yah, jadi memang infrantri butuh untuk bantuan itu.
Apa ancaman terbesar kita saat ini dari sudut pertahanan udara?
Negara ini kan butuh bargaining power. Kalau Angkatan Adara kita lemah maka diplomasi kita akan lemah karena angkatan udara itu bisa menyerang ke negara lain. Sehingga kalau kita beli pesawat yang canggih mereka pasti sudah bingung mau apa Indonesia ini, karena memang kita bisa menyerang tapi angkatan lain kan tidak. Hanya air power yang sangat diperhitungkan oleh lawan.
Apakah Indonesia sering dimasuki pesawat pengintai tanpa kita sadari?
Negara kita itu kawasan damai. Cuma kalau wilayah kita diinjak-injak negara lain, ini masalah kehormatan kita. Kita tidak mau diintai seperti itu. Jadi kalau ada pesawat yang masuk harus kita intercept.
Berapa sering TNI AU memergoki kekuatan asing menelusup ke wilayah udara kita?
Ada, kan radar kita menangkap. Namun kita protesnya dengan cara diplomatik saja.
Bagaimana soal pesawat Asing Cessna 208 milik Michael A Boyd, Warga Negara Amerika Serikat yang diberhentikan di Bandar Internasional Sipil-militer Sepinggan Balikpapan karena memasuki wilayah Indonesia?
Kemarin kami tahan. Karena untuk ijinnya mereka harus mengurus dulu. Ini tidak ada security clearance. Mungkin mereka menganggapnya legal, namun masuk wilayah kita itu tidak boleh.
Mengapa alat radar kita tidak berfungsi 24 jam?
Kita operasinya memang tidak full karena dukungan anggarannya memang terbatas. Karena, kalau dioperasikan 24 jam itu maka akan memerlukan BBM. Lalu harus lembur, sehingga waktunya tidak pagi hingga siang tetapi giliran. Jadi orang memang tidak bisa memprediksi radar kita on atau off.
Apa saja yang dibutuhkan oleh Angkatan Udara?
Ya kita maunya mission based on capability. Kami harus mampu melaksanakan counter air. Kita harus bisa melaksanakan ground attack, dan air mobility. Sehingga kita perlu beli pesawat Super Tucano untuk patroli. Kemudian high end-nya kita butuh Sukhoi atau mungkin kerjasama dengan Korea yang pesawatnya canggih yang kita mampu untuk air support. Para penerbang kita kan luar biasa.
Ada kabar, artileri pertahanan udara kita juga kritis. Ada rudal yang expired, dan presisinya sudah tak bisa diandalkan. Berapa banyak?
Itu rahasia dan tidak bisa diungkapkan.
Apakah ada produksi dalam negeri yang bisa diandalkan dalam soal alutsista untuk TNI AU?
Kebutuhan helikopter kita itu diambil dalam negeri, kemudian CN 235 itu juga dalam negeri. Untuk pesawat tempur dengan Korea itu bisa. Untuk membuat pesawat itu kan bukan masalah mampu atau tidak, tapi ekonomisnya bagaimana. Kalau kita bisa membuat pesawat kemudian dijual ke negara lain tidak laku atau pesannya cuma sedikit. Berapa biaya untuk development itu kan sangat luar biasa karena break event point satu pesawat itu untuk membuat 200 pesawat. Kalau kita pakai untuk 10 kan tidak ekonomis.
Asia Kini Pasar Atraktif Bagi Bisnis Alutsista
Menurut kantor berita Reuters, Asia kini menjadi pasar yang bagus bagi pembuat senjata, peralatan komunikasi, dan sistem pemantauan. Dua perusahaan senjata asal Amerika, Lockheed Martin dan Boeing Defence, telah membuat proyeksi bahwa kawasan Asia Pasifik bakal menyumbang 40 persen dari pendapatan internasional.
Ini terkait dengan ketegangan di perairan Asia, yang melibatkan sejumlah negara. "Situasi maritim di Pasifik tengah mendapat perhatian banyak pihak," kata Jeff Kohler, wakil presiden Boeing Defence, saat berbicara di sela pameran Singapore Airshow beberapa waktu lalu.
Tidak hanya perusahaan-perusahaan Amerika yang bersiap menangguk untung dari bisnis alutsista di Asia. Para pebisnis dari Eropa pun membidik pasar serupa. Sejumlah negara di Asia Tenggara merupakan pasar andalan.
Vietnam, misalnya. Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), sebanyak 97 persen dari persenjataan utamanya --termasuk fregat, pesawat tempur, dan sistem rudal maritim Bastion-- berasal dari Rusia selama 2007-2011. Bahkan, menurut lembaga itu, Vietnam kini bakal mendiversifikasi sumber alutsista dari Belanda dan AS.
Filipina diketahui mengandalkan alutsista dari AS. Sebanyak 90 persen persenjataannya buatan Negeri Paman Sam. Negara itu kini berencana memutakhirkan alutsistanya dalam kurun lima tahun untuk mengantisipasi ancaman dari China, saat kedua negara itu tengah memperebutkan wilayah di Laut China Selatan.
Tetangga Filipina, Thailand, juga memperkuat armada kapal patroli yang didesain perusahaan BAE Systems dari Inggris. Thailand juga berencana memodernisasi kapal fregat dan dalam lima tahun, akan membeli dua kapal.
Singapura, selama ini membeli sebagian besar alutsistanya dari AS, Prancis, dan Jerman. Singapura telah memesan jet tempur F-15SG dari Boeing Co di AS dan dua kapal selam kelas Archer dari Swedia untuk menambah armada mereka. Sebelumnya, negara-kota itu sudah mempunyai empat unit kapal selam Challenger. Indonesia dan Malaysia pun tengah memodernisasi alutsista masing-masing.
Perlombaan Alutsista Di Negara-Negara Asia Tenggara
Kapal selam Malaysia, KD Tunku Abdul Rahman |
Menurut kantor berita Reuters, dengan bersumber dari sejumlah lembaga pengamat, setidaknya ada tiga negara ASEAN yang tengah memperkuat Alutsista. Indonesia sedang membeli sejumlah unit kapal selam dari Korea Selatan dan sistem radar maritim dari China dan AS. Vietnam pun menambah kapal selam dan jet tempur Rusia.
Singapura tak ketinggalan. Negeri mungil itu berstatus importir senjata terbesar kelima di dunia dan terus menambah persenjataan yang canggih. Mengantisipasi pengembangan kekuatan militer China dan juga didukung pertumbuhan ekonomi yang sedang pesat, negara-negara Asia Tenggara lagi jor-joran membelanjakan anggaran militer demi memperkuat jalur pelayaran, pelabuhan, dan batas-batas maritim yang vital bagi aliran ekspor dan energi.
Menurut kalangan pengamat, sengketa wilayah di Laut China Selatan - yang mengandung sumber minyak dan gas alam melimpah - membtat Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Brunei harus antisipasi atas pengembangan kapabilitas militer China, yang turut berkepentingan atas perairan itu.
Bahkan negara-negara yang jauh dari pertikaian itu, seperti Indonesia, Thailand, dan Singapura, turut merasa perlu memperkuat keamanan maritim masing-masing dengan menambah kemampuan alutsista.
"Pembangunan ekonomi telah mendorong mereka menyisihkan sebagian anggaran untuk pertahanan demi melindungi investasi, jalur laut, dan zona ekonomi eksklusif," kata James Hardy, editor IHS Jane's Defence Weekly untuk kawasan Asia Pasifik. "Tren terbesar adalah penguatan di kawasan pantai dan pemantauan serta patroli maritim," lanjut Hardy.
Data dari lembaga Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa, saat ekonomi mereka meningkat pesat, belanja pertahanan negara-negara Asia Tenggara rata-rata naik 42 persen dari 2002 hingga 2011.
Singapura Terkaya
Selama berpuluh-puluh tahun, terutama selama Perang Dingin, banyak negara di Asia Tenggara sedikit yang berbelanja alutsista, dan rata-rata hanya membeli meriam dan tank kecil. Sebagian besar ancaman mereka saat itu bersifat internal, lagipula AS bertindak sebagai payung keamanan dari ancaman pihak luar.
Namun, seiring perkembangan situasi, orientasi belanja militer di kawasan ini pun berubah. Mereka kini membeli persenjataan canggih. Mengingat mereka adalah negara pesisir, pembelian lebih ditekankan pada pertahanan laut dan udara.
Itulah sebabnya Malaysia belakangan ini punya dua kapal selam canggih Scorpene dan Vietnam membeli enam kapal selam kelas Kilo dari Rusia. Thailand pun berencana membeli sejumlah kapal selam dan pesawat militer Gripen dari perusahaan Swedia, Saab AB. Pesawat tempur ini akan dipersenjatai rudal anti kapal RBS-15F buatan Saab, ungkap lembaga International Institute for Strategic Studies (IISS).
Singapura telah memesan jet tempur F-15SG dari Boeing Co. di AS dan dua kapal selam kelas Archer dari Swedia untuk menambah armada mereka. Sebelumnya, negara-kota itu sudah punya empat unit kapal selam Challenger.
Walau negerinya kecil, Singapura punya kocek melimpah untuk membeli alutsista canggih. Menurut IISS, Singapura pada 2011 memiliki anggaran pertahanan sebesar US$9,66 miliar. Jumlahnya hampir dua kali lipat dari tetangga-tetangganya, yaitu Thailand (US$5,52 miliar), Indonesia (US$5,42 miliar), Malaysia (US$4,54 miliar), dan Vietnam (US$2,66 miliar), ungkap IISS.
Sebagai negara kepulauan yang bergaris pantai sepanjang 54.700 km, Indonesia baru punya dua kapal selam. Kini Indonesia sudah pesan tiga unit baru dari Korea Selatan. Negara ini juga bekerjasama dengan China untuk memproduksi rudal anti kapal C-705 dan C-802 setelah menggelar ujicoba penembakan rudal Yakhont buatan Rusia pada 2011.
Korea Selatan Perpanjang Jangkauan Rudalnya
Menjangkau Korea Utara
Pengembangan Industri Pertahanan Perlu Menyesuaikan Geopolitik
“Pengembangan industri alusista (alat utama sistem persenjataan), harus disesuaikan dengan kondisi geopolitik sebagai negara kepulauan. Jadi fokusnya seperti membuat kapal patroli cepat, kapal perang siluman. Dan jika sumberdaya manusianya cukup memadai, sekalian membuat kapal selam. Itu kalau berani visioner,” cetus pengamat pertahanan dari Universitas Indonesia, Aditya Batara, di Jakarta, Minggu (7/10).
Menurutnya, langkah ini sangat diperlukan. Pasalnya, hampir semua negara-negara maju juga menempatkan spesialisasi alutsista tertentu untuk dikembangkan. Terlebih lagi, tidak pernah ada satu negara pun yang mampu memroduksi berbagai alutsista dengan kualitas mumpuni yang merata.
“Misalnya Amerika mereka terkenal dengan pesawat tempurnya, Jerman dengan tanknya dan Israel dengan pesawat tanpa awaknya. Karena itu Indonesia juga jangan memroduksi semuanya. Karena sudah pasti mahal dan butuh riset yang lebih lama,” ulasnya.
Hanya saja, katanya, diperlukan beberapa langkah yang mendesak untuk segera dilakukan dalam rangka mengembangkan industri strategis. Di antaranya, Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang diamanatkan UU Industri Pertahanan harus berperan aktif mendorong pengembangan industri strategis sesuai kebutuhan yang ada.
Selain itu pemerintah juga harus pro-aktif mengajak para ilmuwan Indoensia yang banyak bekerja pada perusahaan-perusahaan besar di luar negeri untuk berperan serta. “Kalau hal-hal ini tidak segera dilakukan, maka revitalisasi industri strategis yang diimpikan Presiden, masih sebatas wacana saja, terlepas sudah ada UU Industri Pertahanannya,” ujarnya.




























