C-705 China Cikal Bakal Rudal Nasional
Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali
China Sepakat Transfer Teknologi Rudal Ke Indonesia
Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705
KCR Ke-2 Produksi Palindo Resmi Perkuat TNI AL
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642 di Dermaga Batu Ampar Kota Batam
Marinir Kembali Akan Diperkuat 37 Tank BMP-3F
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut kembali akan mendatangkan tank amfibi BMP-3F untuk marinir dari Rusia
Indonesia Resmi Membeli 9 C-295 Dari Airbus
Generasi terbaru C-295 adalah pesawat yang ideal untuk pertahanan dan misi-misi kemanusiaan
Sukhoi PAK FA T-50 Jauh Mengungguli F22 Raptor
Jumlah pesawat tempur generasi ke-lima Sukhoi T-50 PAK akan ditambah menjadi 14 unit dari sekarang cuma tiga
Kamis, November 17, 2011
Australia Memperkenalkan Teknologi Terbaru Sistem Informasi Intelejen
Dalam Hal TOT Segala Macam Cara Harus Dilakukan Termasuk " Mencuri "
Sebab,transfer of technology (ToT) lewat pembelian alutsista bekas sangat sulit diharapkan. Saat ini pemerintah sedang mengkaji rencana pembelian alutsista bekas negara-negara Eropa,di antaranya helikopter Apache.Padahal,dalam waktu bersamaan PT Dirgantara Indonesia juga sedang melakukan riset pembuatan helikopter, pengembangan dari jenis helikopter terdahulu.
Direktur Teknologi PT Dirgantara Indonesia Dita Ardoni Jafri mengungkapkan, pembelian helikopter baru saja sulit untuk mendapatkan ToT secara utuh, apalagi bekas.“ToT tidak bisa kita minta,tapi harus direbut.Saya tidak pernah percaya ada ToT. Mungkin memang ada, tapi itu sifatnya ke personel yang ikut pembuatan,” ujarnya kemarin.
Saat ini,PT DI sedang dalam proses riset pembuatan helikopter dengan mengembangkan helikopter jenis lama. Proyek rekayasa helikopter ini bekerja sama dengan Lapan. Namun, kendalanya tidak ada beberapa komponen helikopter yang dibutuhkan, yakni mesin,girboks, dan komponen dinamik.
Ketiga jenis komponen itu belum dapat diproduksi di dalam negeri sehingga harus mencari dari helikopter bekas jenis BO untuk selanjutnya dikembangkan ke dalam pembuatan helikopter jenis baru. Pengembangan itu memang bukan untuk helikopter serbu sebagaimana Apache karena PT DI belum memiliki chip-nya.
Namun proyek ini bisa menjadi rintisan karena komponen semua jenis helikopter relatif sama, kecuali kemampuan manuver dan avioniknya. “Sebenarnya asal ada pesanan yang tinggi,kita bisa karena pesanan yang tinggi itu otomatis mendorong kreativitas terus berkembang,”sebut Dita.
Dia melanjutkan, di beberapa negara seperti China, untuk membangun industri pertahanan dalam negerinya mereka rela “merusak” alutsista yang dibeli guna dipelajari di dalam negeri.Hal ini didukung dengan kebijakan pemerintahnya yang bersedia memesan dalam jumlah banyak meski itu baru proses belajar.
Rencana pembelian helikopter bekas oleh pemerintah ini di satu sisi bisa menguntungkan industri dirgantara.“Sebagai produsen, kita senang karena beli bekas itu artinya usia pakai lebih cepat rusak,”sebut dia. Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menuturkan, pembelian alutsista bekas juga tidak sesuai dengan rencana awal pemerintah untuk membangun industri pertahanan dalam negeri.
“PT DI kan sekarang juga sedang mengembangkan pembuatan helikopter, tapi malah akan membeli bekas dari luar negeri,” ungkapnya. Alutsista bekas juga merugikan karena memiliki usia pakai yang lebih pendek dan kesulitan mendapatkan suku cadang serta amunisi. Selain itu, alutsista bekas juga belum tentu cocok dengan kondisi geografis Indonesia, kecuali helikopter.
“Kita lihat F-16 yang katanya hibah, tapi ternyata harus keluar duit USD700 juta. Jadi, dihitung-hitung tetap mahal juga,”imbuhnya. Sebelumnya,Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan,pemerintah mendorong agar setiap pembelian alutsista impor dilakukan dengan sistem government to government (G to G) sehingga akan didapat garansi yang lebih banyak untuk dapat memanfaatkan senjata itu dengan baik.
Pemerintah juga menolak membeli jika disertai persyaratan tertentu yang bakal menyulitkan di kemudian hari, misalnya membuka peluang ancaman embargo.Belajar dari pengalaman masa lalu, pemerintah pernah membeli alutsita yang ternyata barang itu tidak bisa digunakan.
“Belajar dari situ, kita sekarang tidak mau lagi melakukan pembelian, misalkan ada persyaratanpersyaratan yang menyulitkan kita.Itu clear,”ujarnya.
AS Datangkan Satu Kapal Induk Dan Kapal Perusak Ke Bali
Sejauh ini, kontak dilakukan sangat terbatas antara pihak Kapal Induk AS dengan aparat keamanan di daerah. Yang pasti, kata Handoyo, kehadiran dua kapal perang canggih itu terkait pengamanan Obama yang akan mengikuti serangkaian kegiatan KTT Asean dan KTT Asia Timur.
Kapal perusak USS Stethem merupakan kapal perang canggih jenis perusak rudal. Sedangkan kapal induk USS Essex diketahui pernah menjadi kapal pendukung operasi bantuan militer AS di Nangroe Aceh Darussalam.
TNI AL Latih Cara Merawat Alutsista
Acara penyegaran SPT tersebut dianggap sangat penting dilaksanakan, mengingat alutsista yang dimiliki oleh Kolinlamil saat ini sebagian besar sudah sangat tua. Oleh karena itu, diperlukan perawatan dan pemeliharaan secara sistematis dan terus-menerus oleh personel KRI selaku pengawak guna mencapai usia pakai yang optimal.
Seperti dilansir dalam siaran pers Dispen Kolinlamil, Rabu, Kadisharkap Kolinlamil menekankan kepada para ABK KRI terutama Kadepsin dan ABK yang mengikuti kegiatan tersebut untuk menyimak materi yang disampaikan oleh Tim penyegaran SPT dari Satharmatbar. Dengan demikian, kata dia, diharapkan kegiatan ini mencapai tujuan menghindari terjadinya kerusakan yang lebih berat dan material tetap siap pakai untuk mendukung tugas operasi yang akan dilaksanakan oleh Kolinlamil.
Tim Penyegaran SPT dipimpin oleh Kabag SPT Satharmatbar Letkol Laut (T) Singgih Adi Susanto. Materi yang akan disampaikan selama dua hari meliputi Ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang pemeliharaan kapal, Pengantar SPT, SPT Kapal bidang Platform, Panduan Verifikasi dan Pengawasan Materiel Kapal bidang Platform.
Hadir pada acara pembukaan penyegaran SPT tersebut para perwira korps Teknik dari Staf Logistik, Dismatbek, Disharkap, para Kepala Departemen Mesin (Kadepsin) KRI jajaran Satlinlamil Jakarta serta anggota KRI Departemen Mesin.














