C-705 China Cikal Bakal Rudal Nasional
Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali
China Sepakat Transfer Teknologi Rudal Ke Indonesia
Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705
KCR Ke-2 Produksi Palindo Resmi Perkuat TNI AL
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642 di Dermaga Batu Ampar Kota Batam
Marinir Kembali Akan Diperkuat 37 Tank BMP-3F
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut kembali akan mendatangkan tank amfibi BMP-3F untuk marinir dari Rusia
Indonesia Resmi Membeli 9 C-295 Dari Airbus
Generasi terbaru C-295 adalah pesawat yang ideal untuk pertahanan dan misi-misi kemanusiaan
Sukhoi PAK FA T-50 Jauh Mengungguli F22 Raptor
Jumlah pesawat tempur generasi ke-lima Sukhoi T-50 PAK akan ditambah menjadi 14 unit dari sekarang cuma tiga
Senin, Juli 23, 2012
Menunggu Kolaborasi TNI AL dan LAPAN
TNI AL Manfaatkan Teknologi UAV Lapan
Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh itu ditandai dengan penandatanganan Piagam Kesepakatan Bersama yang dilakukan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno dan Kepala LAPAN Bambang S Tejasukmana, di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kedirgantaraan, di Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.
KSAL Laksamana TNI Soeparno, mengatakan, kerja sama yang dilakukannya itu, ada jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendeknya, meningkatkan kapasitas atau kualitas SDM dengan cara pelatihan bersama, saling memberi, saling tukar informasi.
Sementara, jangka panjang memanfaatkan teknologi penginderaan jauh, seperti penggunaan satelit dan pesawat intai tanpa awak (UAV).
"Kerja sama ini dapat membantu tugas TNI AL dalam menjaga kedaulatan negara, seperti pengawasan kapal-kapal yang melintas di perairan Indonesia. Pulau-pulau terluar juga akan diawasi," kata KSAL.
Menurut dia, kerja sama itu dapat menghemat anggaran yang ada karena bisa memadukan dua instansi yang memiliki keterkaitan.
"Untuk pertama ini, kita akan coba lima tahun. Mungkin nanti ditambah lagi lima tahun. Mungkin setelah 10 tahun sudah tercapai apa yang kita inginkan," katanya seraya berharap melalui kerja sama ini pengamanan laut bisa lebih optimal.
Kepala LAPAN Bambang S Tejasukmana, mengatakan, teknis bantuan yang diberikan LAPAN kepada TNI AL, yakni pesawat intai tanpa awak (UAV) dan satelit sebagai penginderaan jauh untuk melakukan pengamatan di daerah laut.
"Kita akan membangun satelit yang bisa dipakai angkatan laut, umumnya TNI. Kami mencoba membangun kemampuan LAPAN ini yang bisa mendukung kegiatan di TNI AL. Satelit yang akan dibangun membawa sensor sistem identifikasi otomatis," katanya Menurut dia, tidak ada target pencapaian karena antariksa itu infrastruktur penting untuk pertahanan.
"Jadi tidak terbatas. Proyeksi ini akan terus diulang lima tahun dan diulang lagi sampai jelas bentuknya. Lima tahun ini kita lebih fokus ke penginderaan jauh, pemantauan pulau kecil, pemanfaatan satelit untuk kegiatan TNI AL," kata Bambang.
Ruang lingkup kerja sama itu, meliputi bidang penelitian, pengkajian, pengembangan, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kedirgantaraan. Iptek kedirgantaraan itu sendiri mencakup, penginderaan jauh, sains dirgantara dan teknologi kedirgantaraan.
Selain itu, kedua instansi juga bekerja sama dalam bidang pertukaran ilmu pengetahuan, data, informasi, dan tenaga ahli serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Dalam acara itu, juga ditandatangani dua perjanjian kerja sama antara LAPAN-Dinas Pengamanan AL (Dispamal) tentang pendidikan, pelatihan, dan pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan LAPAN-Dinas Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Dishidros).
Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh menjadi fokus utama dalam kerja sama itu karena teknologi ini sangat membantu dalam pemantauan dan pengamatan laut. Penginderaan jauh juga dapat memberikan data yang akurat, komprehensif dan dapat diterima setiap saat, sehingga membantu tugas TNI AL.
Analisis : Diplomasi Tingkat Tinggi Phnom Penh dan Darwin
![]() |
| Jet tempur kelas berat TNI AU, Sukhoi |
![]() |
| Latihan gabungan TNI AL dan AL Australia, Kupang-Darwin |
AS Korsel Gelar Latihan Gabungan Bulan Depan
Pelatihan tersebut akan berlangsung di tengah tingginya ketegangan lintas perbatasan.
Negara-negara sekutu akan menggelar Ulchi Freedom Guardian, satu latihan simulasi komputer terbesar, pada 20-31 Agustus, kata Komando Pasukan Gabungan dalam satu pernyataan.
Korea Utara telah diberitahu tentang tanggal dan sifat pelatihan yang non-provokatif itu, katanya.
Pelatihan ini akan melibatkan sebanyak 28.500 tentara Amerika Serikat yang ditempatkan di Korea Selatan serta sekitar 3.000 tentara dari luar negeri, tetapi tidak akan ada pelatihan lapangan, demikian kata juru bicara militer AS.
Sementara itu Kementerian Pertahanan Korsel mengatakan setiap unit yang terlibat akan menguji kesiapannya untuk kontinjensi berdasarkan skenario perang, dengan pos-pos komando terkait satu sama lain melalui komputer.
Kementerian itu menolak untuk mengkonfirmasi laporan kantor berita Yonhap bahwa 56.000 tentara Korea Selatan akan terlibat dalam pelatihan besar tersebut.
Negara-negara sekutu menggambarkan pelatihan tahunan mereka sebagai defensif dan rutin, tetapi Korea Utara biasa menyebut mereka latihan untuk invasi dan meluncurkan kontra-latihan sendiri.
Selain pelatihan rutin tahunan, Korea Selatan telah mengadakan serangkaian pelatihan sendiri atau dengan pasukan AS sejak menuduh Korea Utara menorpedo salah satu kapal perangnya, Cheonan, yang menyebabkan hilangnya 46 nyawa pada Maret 2010.
Korea Utara membantah tuduhan itu, namun kemudian menyerang satu pulau perbatasan pada November 2010, yang menewaskan empat warga Korea Selatan.
Ketegangan memuncak setelah peluncuran roket Korea Utara gagal pada April, yang dipandang oleh Amerika Serikat dan sekutunya sebagai uji coba peluru kendali balistik.
Pyongyang juga mengancam serangan terhadap pemerintah dan media konservatif Korea Selatan karena dianggap menghina rezim tersebut.
PT. DI Terus Kembangkan Pasar Komersial
PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tak hanya membuat pesawat versi militer. Tapi, terus berupaya mendorong pasar pesawat sipil dan komersial.
"Dalam beberapa tahun terakhir ini pesanan ke PT DI kebanyakan pesawat militer. Tapi bukan berarti hanya membuat pesawat versi itu, pasar sipil terus dikembangkan, baik untuk CN-235 maupun N-295," kata Kepala Divisi Kepatuhan dan Komunikasi PTDI Sonny Saleh Ibrahim di Bandung, hari ini.
Dia mengakui, bila pesawat CN-235 yang diproduksi dalam satu dekade terakhir adalah versi Maritime Patrol Aircraft atau patroli maritim pesanan Korea Selatan. Juga pesanan sejumlah N-295 dari TNI-AL dan TNI-AU juga untuk versi militer.
Namun demikian, kedua pesawat andalan PT DI tersebut memiliki keunggulan untuk versi sipil terutama untuk penerbangan perintis.
"N-295 contohnya, langsung dipesan oleh TNI-AU sehingga ada image versi militernya. Padahal juga sangat cocok untuk pesawat sipil karena bisa melakukan pendaratan di landasan yang pendek," kata Sonny Saleh.
PT DI memiliki lisensi untuk pemasaran pesawat itu di kawasan Asia Fasific. Bahkan tidak menutup kemungkinan dengan kerjasama bersama perusahaan pesawat terbang Eropa dan AS pengembangan pasarnya bisa lebih luas, termasuk ke Amerika Selatan.
Sonny menyebutkan, saat ini PT DI terjalin kerjasama dengan sejumlah pabrikan pesawat terbang dunia seperti Boeing, Eurocopter, Sukhoi, Airbus dan lainnya.
"Dalam memproduksi N-295 PT DI bekerjasama dengan Airbus Military, pemasaran ke Amerika Selatan cukup terbuka," kata Sonny.
Sementara itu. program revitalisasi PT DI yang ditandai dengan penanaman modal negara (PMN) diprediksi akan mengembalikan performance perusahaan dirgantara Indonesia itu terutama dalam memproduksi pesawat-pesawat terbang.
Menurut Sonny, CN-235 dan N-295 merupakan pesawat yang memiliki klasifikasi yang sangat bersaing. Bahkan Korea beberapa tahun lalu telah membeli empat pesawat CN-235 bersi VIP dan VVIP.
"Korea Selatan saat ini menjadi pengguna CN-235 paling banyak yakni 12 unit, termasuk untuk versi patroli maritim," katanya.
Terkait pasar N-295 yang akan dikembangkan PT DI, kata Sonny peminatnya cukup bagus. PT DI telah melakukan promosi dan mengikuti pameran untuk memperkenalkan produk terbaru produk perusahaan kedirgantaraan nasional itu.
"TNI-AU sudah jelas memesan untuk mengganti pesawat Fokker yang sudah di grounded, TNI-AL juga. Juga sudah melakukan penawaran ke sejumlah negara di Asia Fasific," kata Sonny Saleh menambahkan.
TNI AU Kembangkan Komunikasi Tertutup
Sistem komunikasi modern jaringan tertutup TNI AU ini dibangun dengan dukungan PT Telkom Indonesia sebagai penyedia jasa telekomunikasi terbesar di Indonesia sehingga menjadi jaminan akan kehandalannya. Dukungan ICT jadi penting dalam mendukung operasi dan latihan, baik dimasa damai atau masa krisis. "Khusus untuk TNI AU sebagai organisasi militer penegak kedaulatan Negara di udara diperlukan untuk mendukung pelaksanaan OMP dan OMSP," ujar dia.
Peran TNI AL Di Samudera PAsifik Harus Ditingkatkan
















