C-705 China Cikal Bakal Rudal Nasional
Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali
China Sepakat Transfer Teknologi Rudal Ke Indonesia
Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705
KCR Ke-2 Produksi Palindo Resmi Perkuat TNI AL
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642 di Dermaga Batu Ampar Kota Batam
Marinir Kembali Akan Diperkuat 37 Tank BMP-3F
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut kembali akan mendatangkan tank amfibi BMP-3F untuk marinir dari Rusia
Indonesia Resmi Membeli 9 C-295 Dari Airbus
Generasi terbaru C-295 adalah pesawat yang ideal untuk pertahanan dan misi-misi kemanusiaan
Sukhoi PAK FA T-50 Jauh Mengungguli F22 Raptor
Jumlah pesawat tempur generasi ke-lima Sukhoi T-50 PAK akan ditambah menjadi 14 unit dari sekarang cuma tiga
Jumat, Februari 17, 2012
Kapal Mistral Rusia Dilengkapi Persenjataan Dalam Negeri
TNI AL Kembali Akan Diperkuat 37 Tank BMP-3F
Tank-tank tersebut ditargetkan sudah bisa dikirim ke Tanah Air secara bertahap mulai tahun ini.Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI Untung Suropati mengungkapkan, pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) tank amfibi tersebut merupakan bagian dari strategi TNI Angkatan Laut berkaitan dengan konsep kekuatan pokok minimum.“Juga berkaitan dengan pengembangan divisi marinir kita di Sorong,” ungkap Untung di Jakarta kemarin.
Penambahan divisi marinir menjadi tiga divisi (dua divisi sekarang di Surabaya dan Jakarta) tersebut harus diikuti dengan penambahan alutsista. Sejauh ini marinir telah memakai tank BMP-3F sejak Desember 2010 sejumlah 17 unit.Tank ini merupakan tank terberat yang dimiliki militer Indonesia, bahkan mengalahkan milik TNI Angkatan Darat. Terkait nilai kontrak 37 unit BMP-3F, Untung mengaku belum bisa menyampaikan ke publik.
“Sejauh ini baru jumlah yang bisa disampaikan,” ucapnya. Saat ini, TNI AL sudah dilengkapi sejumlah alutsista andalan. Di antaranya BTR (Bronetransporter) - 50 P panser amfibi buatan Rusia, PT – 76, dan BVP-2 yang didatangkan dari Slovakia, serta LVT (landing vehicle track) - 7A1 buatan Amerika Serikat tahun 1985 yang merupakan hibah dari Korps Marinir Korea Selatan pada 2009.
Menurut dia, tank-tank tersebut kemungkinan sudah bisa mulai diboyong ke Tanah Air tahun ini. “Untuk datangnya bertahap, saya kira tahun ini sudah mulai karena untuk tank tidak serumit kalau kita pesan kapal selam maupun kapal perang permukaan,”ungkapnya. Menurut Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno, jumlah tank BMP-3F nanti diharapkan bisa menjadi 54 unit.
Tanktank tersebut akan ditempatkan di wilayah barat dan timur Indonesia. Anggota Komisi I DPR Helmy Fauzi mengatakan,rencana tersebut masih sebatas penjajakan dan belum sampai pada penandatanganan kontrak. “Tapi, penjajakan ini perlu. Kondisi geografis kita yang berupa kepulauan memang memerlukan ada penguatan angkatan laut, termasuk marinir,” ucapnya.
Menurut politikus PDIP ini, marinir membutuhkan tank amfibi karena yang dimiliki sekarang sudah uzur.“Jika TNI Angkatan Darat saja butuh 100 MBT, harusnya marinir lebih dari itu sehingga bisa mendukung operasi yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk nanti di Sorong,”paparnya. Meski memerlukan tank amfibi, Helmy mewanti-wanti agar dalam pembeliannya tidak tergesa-gesa,tapi harus tetap memperhatikan beberapa aspek penting.
Di antaranya diversifikasi alutsista.“Jangan sampai kita terpaku pada negara tertentu sehingga bisa membatasi penggunaan alutsista itu,”kata dia. Selain itu, keterlibatan industri pertahanan dalam negeri juga penting untuk dipertimbangkan. Apalagi, selama ini industri dalam negeri seperti PT PAL memiliki kemampuan dalam pengembangan alutsista TNI Angkatan Laut, termasuk dalam meretrofit tank amfibi milik marinir.
Untuk pembayaran,Helmy menekankan agar pemerintah sebisa mungkin menghindari kredit ekspor karena jatuhnya biaya yang harus dibayar menjadi membengkak akibat bunga kredit. Menurut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, hingga saat ini pemerintah masih memiliki sisa kredit negara (state credit) sebesar USD800 juta dari total USD1 miliar yang ditawarkan pemerintah Rusia. Sisa yang cukup besar itu disebabkan pemerintah tidak jadi membeli kapal selam dari negara tersebut.
ABK KRI SIM -367 Menerima United Nations Medal Parade
Koarmatim Jalin Kerjasama Patroli Laut Dengan RAN
Wamenhan Indonesia Terima Kunjungan Dubes Slovakia
Bank Mandiri Berkomitmen Biayai KCR Project
Senior Vice President Regional Commercial Sales 1 Group Bank Mandiri, Aquarius Rudianto di Batam, Kamis, mengatakan sejauh ini Bank Mandiri Tbk sudah memberi pinjaman untuk sumber pembiayaan dua kapal yang sudah dibuat oleh PT Palindo.
"Kapal tersebut yakni KRI Clurit dan KRI Kujang dan juga satu kapal lagi yang tengah dibangun di Kawasan Industri Tanjunguncang yang akan selesai pada November 2012,"ujarnya.
Menurutnya Bank Mandiri berkomitmen mendukung pembiayaan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI termasuk ketiga kapal yang dibuat di Batam.
Ia mengatakan, dalam pembangunan KCR-40 ketiga tersebut, Bank Mandiri menanggung pembiayaan sekitar 60 persen dari total biaya proyek.
"Selain pembangunan yang di Batam, kami juga siap mendukung pembiayaan untuk alutsista yang lain," kata dia.
![]() |
| KCR pertama KRI Clurit 641 |
Tujuannya, untuk meningkatkan efisiensi dan kecepatan dalam pembiayaan pengadaan alutsista TNI.
Sebelumnya, Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini mengatakan Bank Mandiri ingin terus meningkatkan peran aktif dalam pengembangan teknologi alutsista untuk menciptakan kemandirian bangsa dalam memperkuat kedaulatan nasional.
"Kami bangga dapat turut serta dalam membangun kapal cepat rudal berteknologi tinggi yang murni dibuat oleh Bangsa Indonesia. Bank Mandiri berharap dapat terus memberikan kontribusi positif dalam pengembangan alutsista nasional," kata Zulkifli Zaini.
Bank Mandiri telah berkomitmen untuk mendukung pembiayaan alutsista sejak 2007 namun menunggu ketentuan prinsip di regulasi perbankan, karena pembiayaan alutsista bersifat peminjaman dalam negeri sehingga memiliki sifat yang berbeda dengan kredit lainnya.
Dua KCR masing-masing KRI Clurit 641 dan Kujang 642 telah diresmikan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Batuampar, Batam pada 25 April 2011 dan pagi ini (Kamis).
Dua kapal yang dibangun oleh PT Palindo Marine Industry, Tanjunguncang tersebut memiliki panjang 44 meter ini mampu melaju hingga kecepatan 30 knot yang sepenuhnya dikerjakan putra-putri Indonesia.
Sebagian besar material kapal perang tersebut pun di produksi di dalam negeri sehingga peluncuran kapal KCR-40 berbahan baja-alumunium ini ikut menandai sejarah baru industri perkapalan di Indonesia .
KRI tersebut dilengkapi sistem persenjataan modern (Sewaco/Sensor Weapon Control), diantaranya meriam kaliber 30mm enam laras sebagai sistem pertempuran jarak dekat (CIWS) dan peluru kendali 2 set Rudal C-705.
Bagian lambung KCR 40 terbuat dari baja khusus yang bernama High Tensile Steel. Baja ini diperoleh dari PT.Krakatau Steel. Kapal dengan sistem pendorong fixed propeller lima daun itu juga dilengkapi dua unit senapan mesin caliber 20mm di anjungan kapal.
Akan Dibangun Sebanyak 14 KCR 40-60m Sampai Renstra 2014
"Hingga 2014 kami merencanakan pembangunan 14 Kapal Cepat Rudal (KCR) ukuran 40-60 meter untuk penunjang pengamanan perairan Indonesia," kata Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Purnomo Yusgiantoro setelah meresmikan KRC Kujang di Batam, Kamis.
Menteri mengatakan upaya tersebut sebagai langkah pembangunan strategis yang nantinya tidak terbatas pada pengembangan KCR saja, namun juga pada industri strategis lainnya.
"Pembangunan kapal merupakan langkah awal, nanti pembangunan strategis di daerah juga akan mengembangkan industri untuk kekuatan udara dan darat," kata dia.
Pada dasarnya, kata Menteri, selain membangun industri dalam negeri hal tersebut juga membangun kekuatan TNI.
"Pembangunan 14 kapal tersebut baru tahap awal. Kami telah menyiapkan rencana strategis pertahanan hingga tahun 2024 dengan target 44 kapal cepat," kata Menteri.
Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan Indonesia setidaknya membutuhkan 44 KCR hingga 2024 untuk mengamankan seluruh wilayah laut NKRI dari gangguan-gangguan.
"Setidaknya dibutuhkan 44 kapal hingga tahun 2024 mendatang untuk keperluan penegakan hukum di laut, termasuk pengamanan terhadap pencurian terhadap kekayaan alam Indonesia, dan mencegah penyelundupan," kata dia.
Secara umum, kata dia, seluruh satuan TNI telah memiliki rencana pengembangan pertahanan masing-masing sebagai upaya peningkatan kekuatan.
"Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara telah memiliki blueprint pertahanan untuk membangun kekuatan. Pembangunan akan dilakukan bertahap," kata dia.
Ia mengatakan, salah satu rencana tersebut ialah penggantian utama sistem persenjataan (alustsista) yang sudah uzur dengan alat-alat baru yang akan dibangun, sementara alutsista yang masih bisa digunakan akan terus ditingkatkan kemampuannya.
PT. DI Bangun 2 Hanggar Untuk Perawatan Airbus
Direktur Utama PTDI, Budi Santoso melihat di bidang penerbangan, bisnis perawatan dan perbaikan pesawat menjadi salah satu fokus perusahaan saat ini. "Kami akan fokus pada perawatan pesawat Airbus A320," papar Budi, Kamis (16/2).
Pembangunan hanggar akan berlokasi di Bandung secara bertahap. Satu unit hanggar akan dibangun pada tahun ini, sedangkan satu unit lagi pada tahun 2013. Kapasitas satu unit hanggar disiapkan agar bisa menampung 2 unit Airbus A320. Dana investasi yang dibutuhkan satu unit hanggar menurutnya mencapai Rp 8 miliar.
Hanggar yang akan dibangun akan menyatu dengan perawatan engineering dan mesin pesawat yang dimiliki PTDI. Saat ini, PTDI baru memiliki satu unit hanggar di Bandung dengan kapasitas 2 unit Airbus A320.
Selain fokus pada bisnis perawatan pesawat, Budi mengatakan PTDI juga akan memproduksi komponen pesawat untuk produsen besar seperti Airbus.
Di sisi lain, PTDI juga terus memproduksi dan mengembangkan pesawat sendiri. Menurutnya perusahaan memfokuskan pada pembuatan pesawat dengan kapasitas penumpang di bawah 100 orang. Produksi juga bisa dilakukan dengan menggandeng produsen lain seperti Airbus Military untuk memproduksi C212, CN235 dan CN295.
PTDI baru saja mendapatkan pesanan sebanyak 29 unit pesawat yang penanda tangannya dilakukan di ajang Singapore Airshow 2012. Pesanan pesawat itu terdiri dari 20 unit pesawat N219 dan 9 unit pesawat C295.
Pesanan pesawat N219 yang mampu menampung 19 penumpang itu dilakukan oleh maskapai nasional PT Nusantara Buana Air. Sedangkan pesanan C295 dengan kapasitas 70 penumpang dilakukan oleh Kementerian Pertahanan RI. Harga satu unit pesawat N219 mencapai US$ 4,5 juta dan harga C295 lebih dari US$ 30 juta.
Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi (IUBT) Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi mengatakan pesanan pesawat dari PTDI yang dilakukan di Singapore Airshow 2012 sangat tepat karena disaksikan pelaku industri penerbangan dari seluruh dunia. Acara penandatanganan kontrak juga disaksikan oleh Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan dan Menteri BUMN.
Ekspor Senjata Rusia Capai Rekor 13,2 Miliar Dolar
Seperempat penjualan senjata Rusia mengalir ke India dan 15 persen ke Aljazair, dengan Vietnam mencapai 10 persen dari pembelian, kata Kepala Layanan Federal untuk Kerja sama Teknik Militer Mikhail Dmitriyev seperti dikutip oleh Vedomosti.
"Rencana kerja sama teknik militer Rusia untuk tahun 2012 berada pada nilai 13,5 miliar dolar AS," kata harian Gazeta Nezavisimaya mengutip pernyataan Dmitriyev seperti dilansir AFP.
Rusia mengekspor senjata senilai 10,4 milyar dolar AS pada 2010, di tempat kedua di belakang Amerika Serikat.
Para pejabat pertahanan sebelumnya mengatakan, mereka diperkirakan akan kehilangan sekitar empat miliar dolar AS pada pendapatan dari kontrak senjata yang ditinggalkan Libya setelah jatuhnya rezim Muamar Gaddafi dan dukungan ragu Moskow untuk oposisi.
Dmitriyev mengatakan, Rusia mengompensasi kerugian dari dunia Arabnya dengan melanjutkan penjualan ke negara-negara Eropa seperti Jerman dan Republik Ceko, dan mencomot pelanggan di Amerika Latin dan Asia Tenggara.
Australia Berencana Bantu Perlengkapan Laboratorium Kobangdikal
Rencana pemberian bantuan itu disampaikan Atase Angkatan Laut Australia, Kolonel Katja Bizilj CSC, saat bertemu Komandan Kobangdikal Laksamana Muda TNI Sadiman di lobi Gedung Ki Hadjar Dewantara, Bumimoro, Surabaya, Kamis.
Mengutip siaran pers dari Bagian Penerangan Kobangdikal, Kolonel Katja Bizilj, mengatakan bahwa bantuan fasilitas itu merupakan berupa peralatan standar untuk menunjang kegiatan belajar di laboratorium bahasa.
"Kobangdikal tinggal menyiapkan ruang untuk laboratorium bahasa, dan kami akan mengisi laboratoriun tersebut dengan peralatan dan fasilitas sebuah laboratorium bahasa modern," katanya.
Ia mengungkapkan bahwa Angkatan Laut Australia sedang menjalankan program "The New Australian Navy" ini bertujuan meningkatkan profesionalisme personel dan modernisasi peralatan.
Usai melakukan pertemuan, Katja yang didampingi stafnya Kapten Couper meninjau langsung tempat yang rencananya dijadikan laboratorium bahasa di Pusat Pendidikan Bantuan Administrasi.
























