C-705 China Cikal Bakal Rudal Nasional
Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali
China Sepakat Transfer Teknologi Rudal Ke Indonesia
Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705
KCR Ke-2 Produksi Palindo Resmi Perkuat TNI AL
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642 di Dermaga Batu Ampar Kota Batam
Marinir Kembali Akan Diperkuat 37 Tank BMP-3F
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut kembali akan mendatangkan tank amfibi BMP-3F untuk marinir dari Rusia
Indonesia Resmi Membeli 9 C-295 Dari Airbus
Generasi terbaru C-295 adalah pesawat yang ideal untuk pertahanan dan misi-misi kemanusiaan
Sukhoi PAK FA T-50 Jauh Mengungguli F22 Raptor
Jumlah pesawat tempur generasi ke-lima Sukhoi T-50 PAK akan ditambah menjadi 14 unit dari sekarang cuma tiga
Senin, Oktober 03, 2011
TNI Persiapkan Armada Baru Untuk Ketiga Matra
Kolinlamil MInim Dukungan Anggaran Maupun ALutsista
Kapal Selam TNI AL Joint Production Korsel Menggunakan System Senjata Mutakhir
Kapal selam ini merupakan buatan Korea Selatan yang dilakukan dalam bentuk joint production Indonesia-Korsel. "Kapal selam yang paling canggih saat ini tipe 214. TNI AL akan memadukannya dengan mengambil bodi kapal tipe 209 1.500 ton, tapi dengan sistem persenjataan 214," kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno kepada wartawan usai menghadiri gladi bersih upacara peringatan HUT TNI di Markas Besar (Mabes) TNI di Cilangkap Jakarta, Senin (3/10). KSAL menambahkan, Indonesia telah memiliki kapal selam jenis 209 berbobot 1.300 ton.
KSAL menuturkan, saat ini kemampuan industri pertahanan dalam negeri belum mampu untuk membangun kapal selam. Karenanya pengadaan kapal selam ini dilakukan dalam bentuk joint production dengan Korsel. Kerja sama yang akan menghasilkan tiga unit kapal selam ini akan dilakukan di kedua negara.
Pembangunan kapal selam pertama dilakukan di Korea disertai pengiriman ahli dari Indonesia untuk mempelajari teknologinya. "Yang kedua separuh-separuh oleh kedua negara, dan yang ketiga baru di bangun di Indonesia," jelas KSAL.
Dijelaskan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono di tempat yang sama, pengadaan alat utama sistem senjata (Alutsista) harus dibeli dari produksi dalam negeri. "Kalau belum bisa, kita lakukan joint production. Kalau joint production pun tidak bisa, boleh membeli, seperti kapal selam ini," kata Panglima. Namun demikian, kata Panglima, pembelian kapal selam buatan Korsel ini menguntungkan Indonesia karena dapat dilanjutkan dengan joint production sehingga terjadi transfer teknologi.
Pada Jumat (30/9) lalu KSAL mengatakan, biaya pembangunan tiga kapal selam ini menghabiskan dana Rp9,5 triliun. Pengadaan kapal selam untuk TNI AL ini menjadi prioritas setelah pengadaannya terlambat 2-3 tahun. Untuk menyusul keterlambatan ini, pengadaan kapal Selam tersebut akan dipercepat dari 30 bulan menjadi hanya 1,5 tahun.
Meriam Kaliber 155 MM Korsel Segera Perkuat TNI AD
Kontingan Garuda XXXII - A / Minustah Diberangkatkan Ke Haiti
Misi di Haiti ini (Mission Nations de Unites pour la rehabilitation de Haiti - Minusfah merupakan misi kemanusiaan yang dijalankan unsur militer negara-negara anggota PBB. Batalion Zeni Komposit akan bergabung dengan beberapa kompi serupa dari negara-negara yang telah lebih dulu mengirimkan kontingennya.
Kali ini, Batalion dari Indonesia itu dipimpin Letnan Kolonel Zeni Winarno. Mereka akan berada di Haiti selama 12 bulan dengan arahan misi dan supervisi dari PBB. Panglima TNI, Laksamana TNI Agus Suhartono, melepas secara resmi keberangkatan mereka di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.
Perwira penerarangan kontingen Indonesia, Letnan Satu Zeni Rofki, menyatakan, "Misi utama kami adalah membantu rehabilitasi sarana fisik yang hancur di Haiti akibat kerusakan yang ditimbulkan bencana alam. Itu tugas pokok kami."
Sebelum berangkat, batalion itu mendapat pelatihan dalam berbagai hal, mulai dari kursus bahasa Inggris dan tambahan bahasa Perancis hingga teknis khusus terkait bangunan. "Kami juga membantu pendirian kembali landasan bandar udara yang sempat hancur di sana," katanya.
167 Prajurit TNI Dikirim Ke Haiti
Ke-167 personel TNI itu tergabung dalam Satuan Tugas KIZI TNI Kontingen Garuda XXXII-A/MINUSTAH 2011 dan dilepas keberangkatannya oleh Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono di Mabes TNI CIlangkap, Senin.
"Ini merupakan kontingen TNI yang pertama kali ditugaskan ke Haiti dan merupakan bukti penguatan kepercayaan PBB terhadap kemampuan pasukan TNI," katanya menegaskan.
Panglima menegaskan pula agar para prajurit dapat menjaga nama baik TNI dan bangsa serta negara Indonesia. "Para prajurit juga agar selalu menjaga prilaku dan sikapnya, menjaga diri dari penyakit dan lakukan pemeliharaan peralatan dan persenjataan yang digunakan agar maksimal mendukung tugas-tugas TNI selama di Haiti," tuturnya.
Satuan tugas ke Haiti dipimpin oleh Letnan Kolonel (Czi) Winarno dan berjumlah 167 orang terdiri atas 143 personel TNI Angkatan Darat, 21 personel TNI Angkatan Laut dan tiga personel TNI Angkatan Udara. Sebanyak 16 orang di antaranya perwira, 36 bintara, dan 115 tamtama.
Satgas KIZI TNI Konga XXXII-A/MINUSTAH akan bertugas di Haiti selama satu tahun. Satgas ini memiliki kemampuan melaksanakan tugas-tugas "vertical constructions" dan "horizontal constructions" dalam rangka mendukung tugas PBB di Haiti.
MINUSTAH atau Mission des Nations Unies por la Stabilisation en Haiti adalah misi perdamaian yang dibentuk PBB pada 2004 dengan misi, antara lain, memberikan bantuan kemanusiaan, pemulihan keamanan dan stabilitas serta rekonstruksi ekonomi pascagempa di Haiti pada 12 Januari tahun lalu.
Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi 1908 tahun 2010 dan Resolusi 1927 tahun yang sama mengirimkan komponen personel yang akan terus ditambah sampai mencapai 8.940 orang serta komponen polisi sampai 4.391 orang.
Pengiriman satuan tugas dilakukan dalam tiga gelombang. Pertama pada 11 Agustus 2011 dikirim seluruh alat perlengkapan satgas dengan menggunakan kapal bersama tiga personel. Berikutnya pada 18 September dikirim "advance party team" dengan kekuatan 16 personel untuk menyiapkan basecamp dan akomodasi.
Terakhir, personel dikirimkan pada hari ini dengan penerbangan PBB dari Bandara Halim Perdanakusuma.
Tidak Semua Data Intelegen Bais TNI Berbagi Dengan BIN
Kasad Mencoba Kehandalan Pesawat Tempur Sukhoi
Sebelum menjajal kehandalan pesawat tempur buatan Rusia itu, Kasad Pramono Edhie mendapat pengarahan serta menjalani uji kesehatan dan tekanan darah oleh tim Kedokteran Penerbangan TNI Angkatan Udara.
Usai beristirahat beberapa saat putra mantan Komandan Resimen Pasukan Khusus Angkatan Darat (RPKAD, kini Kopassus), Sarwo Edhie Wibowo (almarhum), yang juga adik Ibu Negara Hj. Ani Susilo Susilo Bambang Yudhoyono itu langsung menuju pesawat Sukhoi SU-30MK2 yang akan membawanya terbang.
Dalam penerbangan sekitar 45 menit itu, Kasad didampingi penerbang Letkol Pnb Untung Suropati yang sehari-hari menjabat Komandan Skuadron Udara 11 Pangkalan Udara Sultan Hasanuddin, Makassar. Turut mendampingi di pesawat sejenis lainnya Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat yang terbang didampingi Mayor Pnb Vincent.
Usai merasakan kehandalan Sukhoi, Kasau Marsekal Imam Sufaat menyematkan Wing Kehormatan Penerbang kepada Kasad Pramono Edhie, karena yang bersangkutan telah memberikan kontribusi berarti bagi kemajuan TNI Angkatan Udara.
Sementara Kasad Pramono Edhie kepada ANTARA menyatakan sangat bangga mendapat Wing Kehormatan Penerbang tersebut. Penghargaan Wing Kehormatan Penerbang sebelumnya telah diberikan kepada beberapa petinggi militer dan polri lainnya seperti Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno dan Kepala Polri Jenderal Pol Timur Pradopo.
KRI Sultan Iskandar Muda-367 tiba di Lebanon
Perwira Penerangan (Papen) Satgas Yonmek Konga XXIII-E/UNIFIL atau INDOBATT (Indonesian Battalion), Mayor Pasukan Banu Kusworo, kepada ANTARA News melalui surat elektronik dari Lebanon, Minggu, melaporkan bahwa KRI Sultan Iskandar Muda itu tiba di Lebanon pada 1 Oktober 2011.
"Kapal yang kedatangannya diterima oleh Wakil Komandan INDOBATT Letkol Mar Harnoko itu akan melaksanakan misi seperti yang sudah dilaksanakan dua KRI yakni KRI Diponegoro-365 dan KRI Frans Kaisiepo-368," katanya.
Sementara itu, upacara penyambutan kedatangan kapal Perang Indonesia di Dermaga Beirut itu dipimpin oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Lebanon, Dhimas Samodra Roem.
Acaranya juga dihadiri oleh Atase Pertahanan RI untuk wilayah Mesir dan Lebanon, Kolonel Laut (P) R. Teguh Isgunarto, Komandan Kontingen Indonesia, Kolonel Pnb Yulianta, dan Wadan Sektor Timur UNIFIL, Kolonel Laut (E) Joko Edy Supriyanto.
Selain itu, Dansatgas SEMPU, Letkol Cpm Dwi Prasetyo Wiranto, Dansatgas MCOU, Letkol Caj G.T Sirumorang, Dansatgas Indo FPC, Mayor Inf Henri Mahyudi dan beberapa staf kedutaan serta perwira TNI.
"Wadan Satgas Indobatt sendiri saat menerima kapal itu didampingi oleh Pasiplan, Mayor Mar Profs Degratmen, Kapten Mar Eko Budi Prasetyo dan Kapten Laut (KH) Iwan Riswanto," katanya.Dalam pelayaran dari Indonesia ke Lebanon, KRI Sultan Iskandar Muda-367, menempuh jarak 6.555 mil laut, ditempuh dalam waktu satu bulan dengan singgah di beberapa negara di kawasan Asia.
Di Lebanon, kapal perang jenis Sigma ini tergabung dalam Satuan Tugas Maritim Konga XXII-C/UNIFIL dan akan bergabung dengan Maritime Task Force UNIFIL, bersama kapal dari negara lain.
"Untuk wilayah operasinya, KRI Sultan Iskandar Muda-367 akan melaksanakan tugasnya di salah satu zona laut dari beberapa zona yang menjadi tanggung jawab UNIFIL," katanya.
Untuk bergabung dalam satuan tugas Maritim, setiap kapal perang harus memenuhi beberapa persyaratan minimal, antara lain mampu mengoperasikan/mengendalikan Helly, melakukan operasi SAR laut, mampu melakukan pengisian BBM di laut, memiliki fasilitas kesehatan kelas satu dan memiliki "combat management system" secara "real time".
Persyaratan lain yang harus dimiliki oleh satuan kapal perang ini yaitu mampu melaksanakan "self protection", mampu mengidentifikasi kapal kawan/lawan, memiliki berbagai jenis persenjataan, memberikan bantuan kepada satuan Angkatan Laut Lebanon/Lebanese Navy dan kapal tersebut harus dilengkapi dengan helikopter.
Sementara itu, Duta Besar RI untuk Lebanon, Dhimas Samodra Roem, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang di Lebanon dan bergabung dengan prajurit TNI lainnya dalam melaksanakan misi perdamaian.
Dalam waktu yang sama (1/10), Satgas Indobatt juga memperingati Hati Kesaktian Pancasila di Lapangan Parade Soekarno, Markas Batalyon, UN Position 7-1, Adshit Al Qusayr, Lebanon Selatan.
"Bertindak selaku Inspektur Upacara (Irup), Komandan INDOBATT, Letkol Inf Hendy Antariksa, dengan Komandan Upacara Perwira Food, Kapten Caj Supriyatna. Upacara yang digelar pukul 08.00 waktu setempat tersebut ditandai dengan pembacaan cuplikan `Tragedi Nasional` yang menyertai Hari Kesaktian Pancasila," katanya.
Sumber : Antara
Berita Foto : Gladi Resik TNI Ke - 66
Sumber Antara
Aktor Dan Model Muda Hyun Bin, Jadi Duta Pertahanan Korsel





















