C-705 China Cikal Bakal Rudal Nasional
Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali
China Sepakat Transfer Teknologi Rudal Ke Indonesia
Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705
KCR Ke-2 Produksi Palindo Resmi Perkuat TNI AL
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642 di Dermaga Batu Ampar Kota Batam
Marinir Kembali Akan Diperkuat 37 Tank BMP-3F
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut kembali akan mendatangkan tank amfibi BMP-3F untuk marinir dari Rusia
Indonesia Resmi Membeli 9 C-295 Dari Airbus
Generasi terbaru C-295 adalah pesawat yang ideal untuk pertahanan dan misi-misi kemanusiaan
Sukhoi PAK FA T-50 Jauh Mengungguli F22 Raptor
Jumlah pesawat tempur generasi ke-lima Sukhoi T-50 PAK akan ditambah menjadi 14 unit dari sekarang cuma tiga
Rabu, Januari 18, 2012
Generasi Terbaru Su-35S Mulai Uji Terbang
Di 2020 Indonesia Akan Miliki Puluhan Bahkan Ratusan Pesawat tempur Canggih
"Proses pembuatan bersama jet tempur mirip pesawat siluman Amerika Serikat tersebut sudah dimulai dan sembilan tahun mendatang ditargetkan mampu diproduksi hingga 200 unit," katanya.
Sebagai kompensasi pengiriman tenaga ahli dalam yang terlibat perakitan dan pembuatan teknologi terbaru dalam dunia penerbangan, imbuh Purnomo, Indonesia mendapat kompensasi 20 persen dari total pengerjaan jet tempur.
"Pesawat jenis ini kelasnya di atas Sukhoi dan F-16. Indonesia nanti bakal mendapat alokasi 50 unit," ujar Purnomo di Jakarta. Menurut Purnomo, jet tempur jenis KF-X/IF-X merupakan tipe baru yang dikembangkan anak pribumi dan dirakit di Negeri Ginseng tersebut. Pihaknya menyatakan, kerjasama dengan Korea Selatan sangat menguntungkan sebab diikuti dengan transfer teknologi antar kedua negara.
Pesawat AWACS A-50U Mulai Dioperasikan AU Rusia
Ada Aroma Politik Jegal KSAD Dibalik Penolakan Leopard
"Saya menduga ada upaya menjegal KSAD Jenderal Pramono Edhie. Ini bukan sekadar teknis masalah Alutsista saja, ada kepentingan politik dari oposisi," ujar pengamat militer Aris Santoso kepada detikcom, Selasa (17/1/2011).
Aris menjelaskan sudah tradisi setiap Kepala Staf TNI AD ingin meninggalkan jejak saat kepemimpinannya. Mantan KSAD Jenderal Ryamirard Ryacudu misalnya meninggalkan jejak setelah membangun Batalyon Raider di setiap Kodam. Sementara Djoko Santoso menghidupkan kembali brigade infanteri di beberapa Kodam.
"Nah, Pramono sepertinya ingin menjadikan tank ini sebagai jejaknya kelak," tutur Aris.
Aris menduga serangan dari oposisi wajar terjadi, apalagi Pramono disebut-sebut akan diusung Partai Demokrat sebagai Capres di 2014.
"Ada upaya politik untuk mengagalkan jejak fenomenal Pramono Edhie. Padahal kan proyek ini dananya sudah ada," jelas dia.
Sumber : Detik
Pengamat : Indonesia Butuh Tank Kelas Berat Sekelas Leopard 2A6
"Ini penting untuk TNI. Untuk mengejar ketinggalan Korps Kavaleri dari negara lain. Sekarang ini kan Kavaleri kita mandek hanya mengandalkan tank-tank ringan. Tidak ada pengembangan untuk mempelajari MBT," ujar pengamat militer Aris Santoso kepada detikcom, Selasa (17/1/2011).
Aris menambahkan Singapura saja yang negara metropolitan sudah punya tank kelas berat sejak tahun 1980an. Tank itu ditaruh di Taiwan, sehingga mereka berlatih di sana. Hal itu menunjukkan keseriusan Singapura untuk membangun angkatan perangnya. Demikian juga negara-negara ASEAN lain.
"Masa Indonesia tidak punya MBT," kata dia.
Mengenai kondisi geografi Indonesia yang dinilai tidak cocok bagi MBT, Aris menilai hanya bagaimana masalah taktik penggunaannya. Misalnya apakah nanti monster lapis baja ini dipakai untuk menyerang, atau bertahan, tentunya sesuai taktik. Jadi bukan sama sekali tank ini tidak bisa dipakai.
"Tank ini juga penting untuk daya getar Indonesia," katanya.
Indonesia saat ini memang hanya mengandalkan tank ringan sekelas Scorpion dan AMX 13. Tentu saja tank-tank ringan yang hanya berbobot 15-25 ton ini bukan tandingan tank kelas berat yang berbobot 50 ton keatas. Dari segi persenjataan pun jelas berbeda. Scorpion misalnya, hanya mengandalkan kanon 76 mm. Bandingkan dengan MBT yang memiliki kanon 120 mm. Demikian pula daya perusak dan proteksi lapis baja, tank ringan tentu bukan tandingan tank kelas berat.
Analisis : Ada “Demokrasi” Dalam Pengadaan Alutsista
![]() |
| Tank Leopard 2 yang digadang-gadang itu |
![]() |
| Konvoy Tank AMX 13 Milik Batalyon Kav Tank Ambarawa |
Menhan : Modernisasi Alutsista Indonesia Menggetarkan Negara Jiran
M270 MLRS yang akan diakuisisi TNI AD |
Menurutnya, pembangunan kekuatan militer yang dilakukan Indonesia disebabkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan teknologi yang semakin membaik. Dia mencontohkan hal ini terjadi juga pada Cina. "Pembangunan kesejahteraan selalu diikuti dengan pembangunan keamanan," ujarnya.
Purnomo juga menegaskan pengadaan alutsista ini tidak bertujuan untuk untuk menyerang negara lain. "Bukan untuk offense, tapi defense. Menjaga kedaulatan negara," jelasnya.
Ditambahkan Menhan, kekuatan militer Indonesia saat ini memang sudah diperhitungkan oleh negara-negara tentangga. Dia mencontohkan kekuatan militer TNI AD yang memiliki batalyon infantri terbesar se-ASEAN, yakni 100 batalyon lebih.
Untuk penguatan alutsista Indonesia, Kemhan mendapatkan alokasi dana sebesar Rp150 Triliun selama tahun 2009-2014. Dana ini dibagi menjadi Rp50 triliun untuk pengadaan, Rp45 triliun untuk perawatan, dan Rp.50 triliun untuk produksi dalam negeri.
Wamenhan : Kemhan Menerapkan 3 Tahap Pengawasan Ketat Dalam Modernisasi Alutsista
"Sebenarnya pil pahit, beban bagi Kemhan dengan anggaran Rp150 triliun ini. Tapi gula bagi bisnis militer," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafries Sjamsoeddin dalam acara silaturahmi Menhan denga pimpinan redaksi media massa di Jakarta, Selasa (17/1) malam.
Dalam pelaksanaannya, tambah Sjafrie, Kemhan melakukan tiga tahap pengawasan. "Kami lakukan pengawasan, yaitu pre audit, currrent audit, dan post audit," ujarnya.
Penguatan militer dengan melakukan modernisasi alutsista ini, jelasnya Sjafrie, merupakan kewajiban yang harus dilakukan untuk mencapai keunggulan negara. Penguatan militer ini juga dia nilai sebagai syarat negara yang berdaulat.
Beruntung, lanjut Sjafrie, modernisasi alutsista ini sejalan dengan anggaran yang dialokasikan pemerintah. "Pengadaan ini tak hanya dilihat dari kuantitas, tapi perlu memperhitungkan hal-hal lainnya," imbuhnya. Pertimbangan tersebut, tuturnya, adalah pembangunan strategi militer yang menjadi strategi pertahanan, pertimbangan teknologi dan kemoderenan peralatan militer, serta pertimbangan wilayah teritorial sebagai perhitungan strategi.
Daftar Belanja Militer Kemenhan Tahun 2012
| Helikopter Cougar masuk dalam daftar belanja alutsista TNI 2012 |
"Yang harus dipahami, anggaran dalam pembelian alutsista itu multi years dengan melalui proses yang panjang dan bertahap," ujar Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro di Gedung Kemhan, Jakarta, Senin 16 Januari 2012.
Anggaran tersebut digunakan untuk tiga hal, antara lain Rp50 triliun dana on top untuk percepatan Minimum Essential Force (MEF), Rp55 triliun untuk alutsista, dan Rp45 triliun untuk pemeliharaan dan perawatan. Sebagian dana itu, akan digunakan berbelanja pada tahun 2012 ini.
1. TNI Angkatan Darat (TNI AD): Main Battle Tank, senjata anti altileri berupa roket, multiple launcher rocket system, dan meriam armed dengan fokus meriam kaliber 150 mm.
TNI AD juga berencana membeli senjata artileri pertahanan udara yang difokuskan pada peluru kendali dan helikopter yang difokuskan pada helikopter serbu dan serang, serta Panser yang akan dibuat oleh PT Pindad.
2. TNI Angkatan Udara (TNI AU): Senjata anti pesawat udara, pesawat tempur F16, helikopter Cougar 735 sejenis Super Puma, dan Hercules sebanyak empat unit dari Australia.
3. TNI Angkatan Laut (TNI AL): Sea Rider, Fastboat Patrol, Kapal Perusak, Hidro Oceanic, Kapal Latih untuk pengganti KRI dewarutji. Selain itu, ada juga kapal-kapal administrasi, seperti kapal angkutan tank dan minyak, serta kapal selam.
"Kami berharap pada semester pertama 2012 ini bisa menyelesaikan beberapa kontrak khususnya terkait alat utama sistem persenjataan," ungkap Dirjen Sarana dan Prasarana Kementerian Pertahanan, Marsekal Muda Bogas Silaen.
Menhan Bantah Lobi DPR Demi Tank Leopard
"Saya dari sejak reses sampai sekarang belum bertemu dengan DPR. Jadi saya nggak tahu itu berita dari mana kalau Menhan menyiapkan dana dan biaya untuk ke Belanda," tegasnya di Gedung Kemenhan, Jakarta, Senin, 16 Januari 2012.
Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan alasan pembelian tank Leopard karena Indonesia sampai saat ini hanya mempunyai tank ringan.
"Kalau kita melihat kawan-kawan di sekitar lingkungan kita, Vietnam punya, Malaysia punya, Singapura punya, Kamboja punya, Myanmar punya, sementara Indonesia medium saja nggak punya," ungkapnya.
Tank Leopard, kata dia, adalah produk Jerman dan dipakai di 15 negara, mayoritas Eropa, Singapura, dan Kanada. Kebetulan Belanda akan mengurangi kekuatan tank-nya.
"Prinsip teknik, tank itu perangnya lawan tank. Tank-nya masih bagus ya kita lihat. Insya Allah kalau kita memiliki ini kita lebih unggul dan lebih hebat," tuturnya.
Pramono Edhie mengaku ada beberapa duta besar yang sudah menemuinya untuk melakukan negosiasi dan menawarkan alutsista jenis main battle tank kepada Indonesia.
"Ini yang sedang kami pelajari. Pada prinsipnya alutsista itu memang betul-betul kita butuhkan main battle tank dan harganya sesuai dengan daya beli kita," ungkapnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Tubagus Hasanuddin mengatakan, pemerintah mencoba membujuk Komisi I DPR RI soal rencana pembelian tank Leopard bekas milik Belanda. Caranya, dengan mengundang anggota Dewan untuk bersama-sama melawat dan meninjau ke Belanda.
"Seminggu yang lalu Kemenhan telah mengundang Komisi I bergabung meninjau ke Belanda, tapi kami sepakat tidak ikut bergabung dengan rombongan Kemenhan," kata Tubagus dalam pesan singkat kepada VIVAnews.com, Jumat 13 Januari 2012.
Tubagus menambahkan, jika memang harus berkunjung ke Belanda, Komisi I lebih tertarik menemui pimpinan partai di parlemen Belanda yang menolak rencana Indonesia membeli tank Leopard tersebut.
"Andaikan harus meninjau, kami sepakat akan meninjau dengan biaya sendiri dan titik berat kami adalah mempelajari aspek-aspek politisnya dan bukan aspek teknis, karena itu bukan ranah kami," kata Tubagus.
Menhan: Militer Indonesia Terkuat Di ASEAN
"Kalau dari sisi darat, batalyon infantri kita jauh lebih besar dibanding negara lain. Kalau negara lain punya 70 batalion, kita ratusan. Angkatan laut ada free guard, angkatan udara ada Sukhoi, ada F16," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat Silaturahmi Menteri Pertahanan RI dengan Pemred Media Massa, di Gedung M, Jusuf, 17 Januari 2012.
Jika itu datang semua, lanjut Purnomo, banyak negara yang khawatir. "Kita bangun kekuatan seperti Tiongkok, membangun militer seiring membangun ekonomi. Ekonomi yang membaik mendukung untuk reformasi alutsista. Bukan berarti kita ofensif, tapi kita defensif," ujarnya.
Sementara itu, menyinggung soal perbatasan wilayah Indonesia, Purnomo menyebutkan bahwa pihaknya selalu waspada.
Purnomo juga menyebutkan bahwa saat ini pihaknya sedang mengembangkan industri pertahanan dalam negeri dengan membangun Kapal Cepat Rudal 40. "Panjangnya 60 meter. Menggendong 120 rudal dengan radius yang cukup luas. Saya kira itu cukup kuat," katanya.
Soal Tank Leopard, Menhan Sebut Penolakan Parlemen Belanda Terlambat
"Karena lucu, AS sendiri sudah mendeklarasikan TNI tidak ada masalah dengan HAM, parlemen Belanda dan Jerman bilang ada masalah, mereka terlambat," kata Menhan sambil tersenyum.
Hal itu dikatakan Menhan dalam silaturahmi dengan pemimpin redaksi media massa di Gedung Jenderal TNI M Yusuf, Menteng, Jakpus, Selasa (17/1/2012).
Menhan mengatakan sejak taruna, prajurit TNI saat ini sudah dibekali dengan pemahaman soal HAM. Kalau pun masih ada pelanggaran HAM, kata Menhan, itu bersifat personal anggota.
"Sama juga di AS ada yang ngencingin tentara Afghanistan kok," kata Menhan.
Soal kendala dari Parlemen Belanda, Menhan mengatakan, masih menunggu proses dari negara tersebut. "Kita tunggu, kita tidak mau memaksakan kalau meraka tidak mau menjual," ujar Menhan.
Wakil Menhan Letjen Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, timnya sudah mensurvei spesifikasi teknis dari Leopard. Hasilnya, Leopard cocok dengan geografis Indonesia khususnya pulau Jawa.
Sjafrie menjelaskan dengan USD 280 juta, pemerintah bisa mendapatkan 100 unit tank Leopard dari Belanda. Konsep rencana pembelian yang G to G dilakukan untuk meminimalisir praktik percaloan.
Sedangkan Radio Nederland pada 14 Desember 2011 melaporkan, parlemen Belanda menyetujui mosi penolakan rencana penjualan tank ke Indonesia. Rencana penjualan sejumlah tank Leopard oleh Kementerian Pertahanan ditolak Parlemen Belanda karena Belanda tidak ingin terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia.
Mayoritas anggota parlemen menyetujui mosi yang diajukan partai Kiri Hijau (GroenLinks). Hanya partai memerintah CDA (Kristen Demokrat) dan VVD (Liberal Konservatif) yang menentang penolakan ini. Pengaju mosi, Arjan El Fassed, mengatakan track record Indonesia berperan kuat dalam pengambilan keputusan ini.
Menhan: Pelaksanaan Pertahanan Negara Tetap Hormati HAM
"Seluruh prajurit kita mulai dari taruna hingga perwira tinggi, sudah kita bekali dengan pemahaman mengenai HAM," katanya dalam ramah tamah dengan para pimpinan media massa di Jakarta, Selasa malam.
Meski begitu, Purnomo tidak menampik jika ada pelanggaran HAM oleh aparat di beberapa waktu silam.
"Namanya pelanggaran oleh oknum, kan bisa saja terjadi. Tetapi secara umum kita sangat komitmen dengan penegakan HAM," katanya, terkait dugaan penolakan parlemen Belanda terkait rencana pembelian 100 unit Main Battle Tank "Leopard" oleh Indonesia.
Parlemen Belanda menolak rencana pembelian itu karena menilai Indonesia sebagai pelanggar HAM.
Sementara itu, Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan baik Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Belanda telah sepakat untuk memproses pembelian Main Battle Tank Leopard.
"Bahkan tim teknis Kementerian Pertahanan akan berangkat ke Belanda akhir Januari untuk melihat langsung kondisi tank dimaksud, termasuk kemungkinan harga yang akan disepakati apakah layak atau tidak, " ujarnya.
TNI AD akan melengkapi sistem pertahanan dengan memborong arsenal dari lima pabrik di Eropa dan Amerika. Peralatan yang akan dibeli dengan dana APBN 2011 sebesar Rp14 triliun itu dipastikan produk baru.
Alutsista yang akan dibeli tersebut, antara lain, Leopard 2A6 yang berbobot 62 ton yang juga dipakai Angkatan Darat Kerajaan Belanda.
Indonesia akan membeli 100 unit tank yang sudah dipakai di 15 negara itu dengan harga per unit 280 juta dollar AS; namun dengan serangkaian negosiasi berkurang jauh menjadi 100 juta dolar Amerika Serikat per unit.
"Ini semua proses G to G, tidak melalui agen atau perantara," tegasnya.
Menhan Persilahkan KPK Pantau Pengadaan 100 Tank Leopard
"Kita sudah ada kerja sama dengan KPK dan sistem pengadaan barang dan jasa di lingkungan Kementerian Pertahanan sudah berjalan baik," katanya, usai beramah tamah dengan para pimpinan media massa di Jakarta, Selasa malam.
Purnomo menjelaskan dalam pengadaan barang dan jasa di Kementerian Pertahanan ada sistem pengawasan yang dilakukan oleh Komisi Tertinggi Kemhan yang dipimpin Wakil Menteri Pertahanan dan Tim Konsultasi Pencegahan Penyimpangan Pengadaan Barang dan Jasa yang dipimpin Irjen.
"Khusus proses pengadaan barang dan jasa dilakukan oleh Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, jadi sistem pengawasan, pencegahan, penyimpangan pengadaan barang dan jasa sudah berjalan baik," katanya.
Hal senada dilontarkan Irjen Kementerian Pertahanan Laksamana Madya Gunadi yang mengatakan pihaknya ingin BPK dan KPK masuk dalam Tim Konsultasi Pencegahan Penyimpangan Pengadaan Barang dan Jasa.
"Namun aturannya kan tidak memperbolehkan seperti itu, namun kita sudah ada kerja sama dengan kedua instansi tersebut. Kerja sama itulah yang menjadi saluran positif antara Kemhan, BPK dan KPK," ungkapnya.
Jadi, tambah Gunadi, silakan saja jika KPK atau BPK ingin bertanya segala sesuatu tentang proses pengadaan barang dan jasa di Kementerian Pertahanan termasuk dalam pengadaan 100 unit Main Battle Tank "Leopard".
TNI AD akan melengkapi sistem pertahanan dengan memborong arsenal dari lima pabrik di Eropa dan Amerika. Peralatan yang akan dibeli dengan dana APBN 2011 sebesar Rp 14 triliun itu dipastikan produk baru.
Alutsista yang akan dibeli tersebut, antara lain, Leopard 2A6 yang berbobot 62 ton yang juga dipakai Angkatan Darat Kerajaan Belanda.
Indonesia akan membeli 100 unit tank yang sudah dipakai di 15 negara itu dengan harga per unit 280 juta dollar AS; namun dengan serangkaian negosiasi berkurang jauh menjadi 100 juta dolar Amerika Serikat per unit. TNI AD juga akan membeli multiple launch rocket system untuk kekuatan 2,5 batalyon.
Untuk meriam 155 buatan Perancis dan helikopter serang darat AH-64 Apache buatan Boeing, Amerika Serikat, TNI-AD juga mendapatkan harga khusus yang relatif murah. Khusus untuk delapan helikopter, Amerika Serikat memberikan diskon lima juta dollar AS sehingga harganya turun menjadi 25 juta dollar AS.
Terkait pengadaan sejumlah alutsista tersebut, sebelumnya Indonesia Police Watch mengingatkan agar dilakukan pengawasan ketat agar dalam proses pengadaannya tidak terjadi "permainan", korupsi, atau gratifikasi antarpihak terkait atau dengan perusahaan produsen.
Pemerintah Anggarkan Rp. 57T Khusus Pengadaan Alutsista TNI



















