Kamis, Maret 31, 2011
0

WASHINGTON-(IDB):Pengeluaran biaya serangan udara militer Amerika Serikat yang sedang berlangsung di Libya telah melebihi 550 juta dolar, di tengah peringatan bahwa konflik berkepanjangan bisa muncul di negara itu. Demikian dinyatakan Pentagon seperti dilansir AFP pada hari Selasa (29/3).

Menurut Departemen Pertahanan AS, 60 persen dari dana tersebut dikeluarkan untuk amunisi dan kebanyakan untuk rudal Raytheon dan Tomahawk serta bom, sedangkan sisanya dihabiskan untuk mengerahkan pasukan dan menutupi biaya tempur, termasuk bahan bakar tambahan, yang dibutuhkan pesawat tempur dan kapal.

Antara tanggal 19-28 Maret, militer Amerika telah menembakkan sedikitnya 192 dari 199 rudal jelajah Tomahawk, yang masing-masing menelan biaya 1.5 juta dolar. Angka terbaru Pentagon menunjukkan bahwa total biaya perang mungkin akan mencapai 800 juta dolar hingga akhir September, jika Amerika tetap melanjutkan operasi.

Sementar itu, Jurubicara Pentagon, Komandan Angkatan Laut Kathleen Kesler menyatakan pada hari Selasa bahwa Pentagon akan mengeluarkan dana 40 juta dolar selama tiga pekan mendatang setelah 28 negara anggota NATO mengambil alih semua operasi militer di Libya pada hari Kamis.

"Setelah itu, jika pasukan Amerika tetap tinggal sesuai perencanaan dan operasi terus berlanjut, maka kita akan mengeluarkan biaya tambahan sekitar 40 juta dolar per bulan," tambahnya.

Biaya operasi militer di Libya, yang sementara masih lebih kecil dibanding dengan perang Irak dan Afganistan, juga dikhawatirkan akan memperburuk tingkat belanja pertahanan Amerika secara keseluruhan.

Menurut pejabat militer Amerika, lebih dari 350 pesawat yang berpartisipasi dalam serangan udara pimpinan AS terhadap Libya bertujuan "melindungi" warga sipil dari gempuran pasukan yang setia kepada Muammar Gaddafi.

Selain Amerika, 12 negara Uni Eropa juga telah mengambil bagian dalam Operasi Fajar Odyssey, yang dimulai pada tanggal 19 Maret. Para ahli di Pusat Kajian Strategis dan Anggaran mengatakan, negara-negara Barat yang berpartisipasi dalam operasi militer di Libya harus membayar 30 hingga 100 juta dolar per minggu.

Analis pertahanan Byron Callan mengharapkan operasi militer Amerika di Libya tidak berdampak pada perdagangan saham pertahanan di AS. Sebab, saat ini pesawat-pesawat tempur negara itu telah ditempatkan di pangkalan Italia, sehingga mengurangi penerbangan untuk mengisi bahan bakar.

Dalam 24 jam terakhir, sekutu setidaknya telah menembakkan kembali 22 misil Tomahawk ke pasukan pendukung Gaddafi. Pasukan koalisi juga melakukan 115 kali serangan untuk melumpuhkan lawan.

Sumber: Global

0 komentar:

Posting Komentar