Jumat, Februari 21, 2014
9
BATAM-(IDB) : Singapura batal mengikuti Patroli Terkoordinasi (Patkor) Indonesia-Singapura (Indosin) ke-87 di Selat Malaka. Gugus Keamanan Laut Armada Kawasan Barat (Guskamlabar) telah menggelar operasi itu sesuai jadwal, 17 Februari 2014, tanpa unsur Angkatan Laut Singapura.

Biasanya kegiatan tahunan ini bekerja sama dengan Singapura. Jalinan kerja sama ini sudah dilakukan bertahun-tahun. Setiap tahun kegiatan patroli terkoordinasi itu digelar dua kali atau selama dua periode.

Target operasi Indosin ini terkait kejadian kejahatan atau pun kecelakaan di Selat Malaka atau perbatasan perairan Indonesia-Singapura, seperti Selat Philips, Selat Singapura, dan Selat Malaka.

Komandan Gugus Keamanan Laut Kawasan Barat, Laksamana Pertama Harjo Susmoro, menepis kabar batalnya Singapura bergabung, karena alasan hangatnya polemik penamaan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Usman Harun, yang membuat pemerintah Singapura meradang.

"Terkait Usman Harun sangat kecil kaitan" ujar Harjo kepada Tribun Batam di Kantor Guskamlabar Batam Centre, Batam, Kamis (20/2/2014).

"Dan hanya Tuhan yang tahu," imbuh jenderal kelahiran Tegal, Jawa Tengah tahun 1965 itu.

Ia menambahkan, Singapura beralasan tidak bisa mengikuti operasi itu, dengan alasannya tengah banyak kegiatan dan minta diundur pada Maret 2014.

Namun pihak Guskamlabar tak menyanggupi karena memiliki agenda di bulan itu. Padahal kesepakatan sudah terjadi pada 17, 18, 19 Februari 2014 untuk dilakukan evaluasi terkait Indosin tahun sebelumnya.

"Jadi bukan batal, tapi Singapura minta undur dan kita tidak bisa. Artinya ada tidaknya Singapura kita tetap jalan. Namanya operasi rutin. Dan tidak ada pengaruh.

Lagi pula operasi ini bisa digelar sepanjang waktu karena waktunya 360 hari," ujar jenderal bintang satu yang bertugas menggantikan Laksamana Pertama TNI Arusukmono Indra Sucahyo.

Harjo menceritakan, ketidakikutsertaan Singapura itu disampaikan Komandan Maritime Security Task Force (MSTF) Singapore kepadanya melalui aplikasi WhatsApp.

Harjo kemudian membacakan isi pesan perwira berpangkat kolonel itu, bahwa Singapura meminta mundur jadwal Indosin dari 17 Februari ke tanggal 28 Maret 2014 karena banyak kegiatan.

Namun Harjo menyebutkan pada bulan Maret mempersiapkan kegiatan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2014 yang akan berlangsung di Batam, mulai Maret-April 2014 di Kota Batam, Kepulauan Riau.

"Jadi kita tidak bisa memenuhi permintaannya karena Maret itu kita persiapan Multilateral Naval Exercise Komodo," ujar Harjo usai membacakan pesan dari Komandan MSTF Singapura dalam Bahasa Inggris.

Kegiatan MNEK ini akan dilaksanakan di perairan Anambas dan Natuna, Kepri, yang memiliki laut yang luas. Peserta dari mancanegara. Para peserta dipastikan ke Indonesia melalui transit Bandara International Changi, Singapura.

Harjo mengakui selama ini kegiatan tersebut digelar antara dua negara bertetangga, Singapura dan Indonesia. Tujuan operasi, selain menjalin kerja sama dalam penanganan keamanan di Selat Malaka.

Dalam operasi itu, rencananya Guskamlabar mengerahkan empat Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) serta sekitar 270 personel.

Sejauh ini antara Indonesia dan Singapura memang saling memiliki kepentingan dan ketergantungan, terutama dalam soal pengamanan Selat Malaka.

Bagi Harjo, Indonesia tidak merugi dengan tidak ikutnya Singapura. "Yang rugi itu Singapura. Kepentingan mereka untuk keamanan perairan selat Malaka itu lebih besar dampaknya kepada Singapura," kata dia.

Kendati demikian, Indonesia, menurut Harjo, juga memiliki kepentingan manakala dalam menindak pelaku kejahatan di laut yang kabur ke wilayah perairan Singapura.

Apalagi Harjo mengakui, peralatan dan kecanggihan Singapura memang lebih baik dari Indonesia. Singapura memiliki peralatan canggih untuk menyebarkan semua kejadian yang berada di laut.

"Mereka punya pusat informasi. Kita belum miliki lembaga yang fokus mengurus itu," kata dia. Sehingga, lanjutnya, dengan peralatan yang canggih tersebut, Singapura dengan mudah mengirim informasi ke kapal-kapal internasional yang berlayar di Selat Malaka.

"Jadi kapal-kapal pun sering ngasih info soal kejadian di laut ke mereka (Singapura)," ucap Harjo.

Harjo pun meminta tidak dikait-kaitkan tidak bergabungnya Singapura dalam operasi tersebut. Pasalnya, selama ini kerja sama TNI AL dengan angkatan laut Singapura, tidak itu saja, namun ada sekitar 30 kegiatan.

"Kalau Guskamlabar ada satu lagi biasanya ISBS (Indonesia-Singapura Bakti Sosial) yang biasanya digelar pertengahan tahun," ucap Harjo yang didampingi sejumlah stafnya. 




Sumber : Tribunnews

9 komentar:

  1. Kalo kita lembek negara laen pasti jd berani dan lbh galak....

    BalasHapus
  2. Sudah saatnya Indonesia memperlihatkan sikap yang lebih keras dan sebanding dengan besarnya negara kita !!!
    Ingat siapa pemegang saham TELKOMSEL,,, INDOSAT,,, ingat siapa yang memberi jalur PENYADAPAN !
    Ingat dari mana asal PENYELUNDUPAN barang-barang elektronik dan NARKOBA ,,, ingat siapa yang MEMODALI pembajak selat malaka untuk mengontrol fluktuasi harga minyak sehingga Indonesia namanya terpuruk tapi uang masuk kenegara pulau itu !!
    Ingat siapa pemodal dan penadah penyelundupan timah penyelundupan BBM dan pembalakan kayu liar selama ini ???
    Ingat siapa yang menampung dan melindungi RIBUAN KORUPTOR dengan uangnya ???
    Ingat siapa yang memborong tanah pesisir dan menempatkan industri tidak bernilai dan bermasalah dengan amdal di Batam, Karimun agar tidak dijadikan pelabuhan yang akan menyaingi singapura ???
    Ingat siapa yang melalui tangan-tangan lokalnya memodali penentuan pejabat-pejabat instansi pemerintah yang lebih ramah ke Singapura di Batam Karimun ???
    Australia adalah bandit kecil berbadan besar,,, banyak bandit besar berbadan kecil yang harus di waspadai !!!
    Kita harus tetap tenang,,, perkuat alutsista secepatnya ,,, tangkap semua agen asing maupun orang lokal yang bekerja untuk asing ,,, bersihkan MAFIA-MAFIA Ekonomi yang berpusat di SINGAPURA ,,, mafia Migas mafia elektronik sampai mafia Narkoba ,,, Perkuat Intelijen kita,,, jangan dikebiri karena pengkebirian itu adalah usulan AS saat reformasi dahulu ,,, POLISI jangan mau diadu dengan BIN ,,, karena itu permainan Australia dan AS yang dulu seolah-olah membantu Polisi kita ,,, Ayo yang cerdas bangsaku,,, jangan cuma bisa emosi saja !!!

    Kalau perlu aktifkan kembali Undang-undang subversi ekonomi untuk memberantas permainan di daerah perbatasan kita yang ditukangi oleh tetangga dan orang-orang lokal yang tidak bermoral !!
    Ayo intelijen kita jangan diam aja,,, bongkar dan suarakan itu secara terbukaa !

    Hidup NKRI !!!

    BalasHapus
  3. biar aja mereka mau bicara apa??mereka negara kecil&merdekanya pun karena pemberian,beda dengan kemerdekaan Indonesia,yang penuh dengan perjuangan&pengorbanan.ngapain harus tunduk&patuh kepada singaporn??harusnya pemimpin negara ini,TEGAS!jangan mau diledek terus oleh negara tetangga yang tidak bersahabat.ini malah diem aja kaya beberuk!!! :-)

    BalasHapus
  4. Anda butuh pengacara perceraian, pidana dan perdata lainnya? Hub : 081384844047 Ferdinand Hutapea, SH. salam sukses utk anda..

    BalasHapus
  5. Laksamana,,gelar yg ADA d pundak anda bkan skedar ajang gengsi,,anda harus punya politik yg cerdik,jgn hanya secuil nasi anda menutupi yg sharusnya anda merespon sec srius,,jika anda sebagai laksamana ke amanan Dan harga dri bangsa d pundak anda,,apa yg sbenarnya terjadi anda jgn kepura2 an...singapura tlah banyak meremehkn bangsa ini,krna mreka tau bokbroknya dlaman pejabat negri ini,,negara yg bru berdri sj dgn mudah mremehkn dan mnekan negri yg besar sepert ibdonesia,,para ptinggi TNI berbuat lah seprt pahlawan negri ini,anda jgn mengotori dgn pangkat yg kau Sandar kau jual hrga dri bangsa,,celakalah engkau Dan keturuban mu d kmudian hari jka enggakau mejual harga dr bangsa ini,,jika suatu bangsa ingin jaya dan d sgani skalipun hrus perang itu lbih berharga dr pda hanya jd kutu yg penuh malu d kaki bangsa lain,,arahkn bangsa ini lbih jlas jgn hanya spert bayang2 yg d pegang org2 mental kandang,Indonesia bkn bangsa pecundang.

    BalasHapus
  6. Singgapore negara kutu berani kurang ajar karna sudah tahu peminpin sekarang gampang di ke labui ...gqmpqng di tipu ...karna beye...kroni masih mementingkan harta gona gini bertaburan di singapore , respon petinggi negara pun terliat seperti babu nunduk
    Nunduk di bentak singapore ini kan gak masuk akal singapore kaya makmur karna ada indonesia malah kurang ajar ....aturannya beyee ...alaaa peminpin kamboja hunsen , thailand kurang ajar di perbatasan langsung di respon perang bersekala ketcill , thailand pun biar dari segi meliter lebih kuat keteteran menghadapi peminpin kamboja rada nekat ..." kalau indonesia malah sebaliknya jangka pendek lebih di utamakan dari pada jangka paniang buat anak cucu , ,,, kalau negeri tetangga kuarang ajar di biarkan sajaa...tentu secara economi multi efekk ke depan bahaya besar , tidak ada kebanggaan hidup dalam naungan nkri semangat rakyat melemah akibat ulah sang peminpin bodoh ...lamban beryali budak dan rakus sennang foya foyaa...hasilnya sudah keliatan hutang negara melambung entah buat apa dan kemana larinya duwit dari hasil gutang ?....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komen budak!

      Hapus
    2. Piyee ngomong opo sih ndro mumett baca comment sampeyan..gilee lunch ndro..

      Hapus
  7. wah, informasinya bisa diintip siapa saja tuh kalo pake WA
    gak secure banget [-(

    BalasHapus