Selasa, Januari 21, 2014
9
Sejak tahun 1956 atau bertepatan dengan berdirinya Penerbangan Angkatan Laut (Penerbal) kiprah para pilot tempur Penerbal telah mewarnai heroisme sejumlah pertempuran di Tanah Air. Tidak hanya misi tempur para pilot Penerbal juga menunjukan semangat kepahlawanan dalam misi non perang.

ANGKASA-(IDB) : Sepak terjang para pilot Penerbal dalam berbagai misi tempur seperti Operasi Trikora, Operasi Dwikora, Opreasi Seroja, dan lainnya juga makin profesional kendati mereka harus kehilangan nyawa. Pesawat-pesawat yang dioperasikan oleh para pilot Penerbal dalam beragam misi tempur antara lain Gannet, CASA 212, Alloute II, Nomad N22/N 24, Bolkow Bo-105, Mi-4, DC-3, IL-28, dan lainnya. 

Menurut salah satu pilot Penerbal yang juga saksi hidup sejumlah misi tempur yang dilaksanakan para pilot Penerbal, Kolonel (Purn) H. Dana Is (70), para sejawatnya memang terkenal pemberani. Dana yang pernah menerbangkan pesawat pengebom torpedo Il-28M dan Dakota telah kehilangan beberapa senior karena keberanian sekaligus kenekatan mereka.

“Penerbal pernah memiliki pesawat Il-28 sebanyak 12 unit. Sepuluh unit Il-28M untuk pengebom torpedo dan dua unit lainnya Il-28U untuk pesawat latih. Saat itu sebagai pilot muda para senior semangat sekali untuk berperang sehingga kadang-kadang sikap berani mengalahkan akal sehat,’’ papar Dana yang juga alumni Akademi Angkatan Laut tahun 1967 itu. “Oleh karena itu meskipun suku cadang makin menipis akibat renggangnya hubungan RI dan Rusia, para pilot IL-28 masih berani terbang sehingga sejumlah kecelakaan pun tidak bisa dihindari,” tambahnya.

Mendarat Darurat

Selama melaksanakan misi penerbangan  baik dalam latihan maupun pertempuran dari 12  Il-28 yang tergabung dalam Skuadron 500, lima di antaranya mengalami kecelakaan (accident). Satu pesawat mendarat darurat di Pantai Banyuwangi, Jawa Timur. Tiga awak Il-28, Letnan Muda (LMU) Wulang Sutekowardi dan seorang navigator, Suyono berhasil mendarat selamat tapi pesawatnya rusak total. Satu pesawat Il-28 lainnya hilang dan tidak kembali ke pangkalan pada waktu latihan terbang navigasi di atas Pulau Masalembo, Madura.

Ironisnya penerbang yang hilang di Masalembo adalah LMU Wulang yang pernah mendarat selamat di pantai. Dua awak Il-28 yang hilang bersama LMU Wulang adalah navigator Gatot Mulyohadi dan operator persenjataan  di pesawat, Kopral Sudjati. Kecelakaan berikutnya ketiga, keempat, dan kelima adalah kecelakaan saat mendarat. Dua kali terjadi di Pangkalan Udara Kemayoran, Jakarta dan satu lagi terjadi di Pangkalan Udara Makassar, Sulawesi Selatan. Beruntung dalam tiga kecelakaan terakhir tidak terjadi korban jiwa. 

“Menjadi pilot Penerbal memang banyak tantangannya karena kehidupan para pilotnya berada dalam situasi high risk. Kondisi itu sangat kami pahami maka latihan dan sikap disiplin dan teliti dalam menerbangkan  menjadi sangat penting. Kami kemudian hanya berani terbang setelah menandatangani dokumen kelaikan terbang. Khsususnya untuk terbang malam,’’ tambah Dana.

Ketika Dana kemudian bergabung dengan Skuadron Udara 600 dan menerbangkan pesawat angkut C-47 Dakota sejumlah kecelakaan yang menjadi tantangan para pilot dan awak pesawat juga terjadi. Satu Dakota kecelakaan sewaktu mendarat di Pangkalan Udara Selaparang, Lombok. Satu Dakota lagi mengalami kecelakaan saat terbang di atas udara Karawang, Jawa Barat (1968).

Dana yang saat itu bergabung bersama rekan satu angkatannya, Kolonel (Purn) Sujarwo (71) dan kenyang makan asam garam dalam misi penerbangan militer ke Timor-Timur,  mengisahkan tentang pendaratan darurat C-47 di Karawang. Peristiwa pendaratan darurat yang menghebohkan itu menurut informasi resmi dari TNI AL akibat kerusakan mesin. Peristiwa berlangsung sekitar tahun 1968. Pesawat C-47  bermuatan penuh logistik itu dipiloti oleh senior mereka Letkol Johan dan berhasil melakukan pendaratan darurat di lokasi persawahan tanpa menimbulkan korban jiwa.

“Yang sebenarnya terjadi pesawat C-47 akan mendarat di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Tapi waktu itu sedang ada Presiden Soeharto yang akan terbang menggunakan pesawat kepresidenan. Dakota akhirnya disuruh menunggu sambil berputar-putar di udara (holding),” jelas Sujarwo. “Tapi sampai bahan bakar hampir habis Dakota masih belum diizinkan turun di Halim karena masih ada acara seremonial untuk presiden. Akibat holding terlalu lama,  akhirnya bahan bakar Dakota benar-benar habis dan pilot memutuskan untuk mendarat darurat di persawahan yang ada di Karawang,’’ tambah Sujarwo sambil menekankan C-47 memang dirancang untuk bisa mendarat secara aman ketika mesin mati.

“Berdasarkan pengalaman saya menerbangkan Dakota memang telah diberi pelatihan untuk mendarat secara darurat. Caranya, waktu melaksanakan pendaratan darurat untuk C-47 tetap dilakukan sesuai prosedur seperti ketika mesin hidup. Pesawat diposisikan stabil, power digenjot untuk menghabiskan bahan bakar, daratkan secara normal, dan dipastikan tak akan ada benturan serta ledakan,’’ jelas Sujarwo. ‘’Itu bisa terjadi karena mendarat darurat di persawahan yang landai dan ledakan tidak muncul karena bahan bakar sudah habis,’’ tambahnya.

Namun, karena Letkol Johan mendaratkan Dakota secara darurat gara-gara menunggu aktivitas Presiden Soeharto di Halim, tak ada penghargaan baginya meskipun semua awak pesawatnya selamat dan dalam kondisi  sehat walafiat.

Misi SAR

Baik Dana maupun Sujarwo memang tidak menerbangkan helikopter tapi keduanya memiliki rekan satu angkatan yang saat itu masih berpangkat perwira remaja, Kapten Antonius Suwarno, yang terkenal mahir menerbangkan helikopter. Pilot yang akrab dipanggil Anton itu  dikenal sebagai pahlawan ketika terjadi musibah jatuhnya pesawat Twin Otter Merpati bulan Maret 1977, di Gunung Tinombala, Palu, Sulawesi Tenggara. Sebagai pilot heli Kapten Anton  mahir menerbangkan heli jenis Mi-4, Allouete II, dan Bo-105. Demikian mahirnya khususnya terbang heli di ketinggian ekstrem, Kapten Anton pun selalu dikirim ke berbagai misi tempur, khususnya di Timor-Timur (Operasi Seroja).

Pesawat Twin Otter yang membawa 18 orang dewasa dan 2 anak-anak bertolak dari landasan udara di Palu pukul 11.56 WIT menuju Toli-Toli. Pesawat kemudian dinyatakan kecelakaan karena kehabisan bakar pada pukul 18.00 WIT dan Badan SAR Nasional (Basarnas) memerintahkan operasi pencarian dengan melibatkan semua unsur terkait. Instansi yang dilibatkan dalam operasi SAR terdiri dari 40 prajurit para komando Paskhas, 18 penerbang, ratusan pasukan TNI AD, sukarelawan dari masyarakat yang jumlahnya ribuan , dan lainnya. Sedangkan pesawat yang dikerahkan terdiri dari  Twin Otter, Fokker-27, SC-7 Skyvan, Allouette III, dan lainnya. Tapi setelah dilakukan operasi pencarian hingga hari ke 9, pesawat Twin Otter yang jatuh belum ditemukan.




Sumber : Angkasa

9 komentar:

  1. Pilot militer Indonesia memang terkenal "jago" alias nekad.
    Kenekadan itu timbul karena situasi dan kondisi yang menyelimuti mereka yg di sebabkan hal - hal yg harus diputuskan sehingga pada akhirnya muncul laporan "Mission acomplish, Sir"!!!
    Sebagai contoh, idealnya helikopter apapun jenisnya, khusus untuk Angkatan Laut harusnya mengikuti requirement teknis baku sebagai helikopter Angkatan Laut, dimana propeler utama dan tail boomnya harus dapat dilipat, disamping harus mempunyai roda castor di empat sudut dab bukan blade saja. Protect pada main rotor untuk menghindari salinasi apabila helikopter tersebut harus lama parkir di kapal perang, atau karena kebanyakan hoovering di atas air laut.
    Memang helikopter Angkatan Laut harganya lebih mahal apalagi jenis heli AKS ( Anti Kapal Selam).
    Begitu pula dengan pesawat sayap tetap memang harus mengikuti requirement pesawat terbang Angkatan Laut walau pemakaiannya sama seperti pesawat biasa.
    Kembali kepada topik, saya pernah menyaksikan pesawat "Faery Gannet" mampu take off dan landing di Dermaga Ujung Surabaya yg sangat pendek dan berhasil dengan baik.
    Begitu pula, dalam menerbangkan pesawat pembom Il - 28 yg sangat sederhana peralatan avionic dan pendukung lainnya, pilot AL mampu menerbangkan dengan sukses dengan terbang rendah dan menyambar.
    Salah satu penerbang AL dan satu2-nya berhasil mendapatkan Sertipikat sebagai pilot pesawat tempur di Kapal Induk AS karena sukses take off dan landing di geladak kapal induk tersebut.
    ( Laksda TNI Pur. Rosian Arsyad ).
    Sebelumnya penerbang AL juga mampu terbang ferry dari Australia membawa pesawat angkut keci Grand Commander walau salah satu pesawat tersebut crash landing di Kupang.( Gugur Lettu Iwan)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleroes 11 ..???...

      Hapus
  2. Tertarik dengan komentar diata ano 08.38.
    Salah satu pilot dan crew yg selamat dari crash landing pesawat "Faery Gannet" adalah Lettu Dibyo Raharjo terakhir beliau adalah Kasum ABRi dg pangkat Laksdya TNI.
    Pesawt yang di kendalikan mengalami gangguan akhirnya gliding dan hampir membabat sebagian pagar kawat yg mengelilingi tugu Pahlawan, yg kemudian terhenti setelah "nyosor" di bawah kawat trem listrik di dekat Gedung Gubernur Jatim dimana pesawat tersebut akhirnya " mendium " dinding " viaduct / jembatan KA.
    Anehnya seluruh crew selamat termasuk Lettu Dibyo Rahardjo.
    Padahal sebelumnya, salah satu pesawat yg sama juga crash landing di daerah Krembangan, seberang Kemayoran, Surabaya dengan tragis karena pesawat terbakar habis termasuk seluruh crew.
    Pesawa t tersebut akhirnya di kenal sebagai pesawat pencetak "Janda" muda.

    BalasHapus
  3. Kenangan waktu ikut salah satu kegiatan terjun payung dengan menggunakan pesawat Dakota TNI - AL.
    Setelah seluruh prajurit KKO dan sebagian kecil anggota Menwa naik pesawat, beberapa menit kemudian terdengar suara jumping master seorang bintara KKO, yg berdiri di ambang pintu belakang pesawat dengan hanya pegangan tali harnes, ; " Ayoo, dondong apa salak" teriaknya.
    Dan satu persatu para peterjun antri untuk memulai terjun static di atas lapangan KKO Karangpilang.
    Setelah mendarat kembali di Juanda, saya bertanya arti "Dondong apa Salak" yg di jelaskan oleh jumping master artinya ; "Dondong apa salak ? = Mau di dorong apa mau di dupak = ditendang?.
    Maksudnya bagi prajurit yg pertama kali mau terjun biasanya ragu atau takut, untuk itu di semangati oleh jumping master agar segera terjun.
    Payungnya pake payung D -1 dari Russia, dan saya dpt instruksi dari crew pesawat kalau mual dan merasa mau muntah di larang keras di hamburkan di dalam kabin pesawat, untuk itu lepas kancing baju anda dan muntahkan isi perut anda ke dalam baju.
    Alhamdulillah tidak terjadi, hanya agak "nggliyeng" karena pesawat agak "gronjalan" karena pengaruh angin dan pesawat terbang rendah.

    BalasHapus
  4. Ini baru komentar...rindu dgn kisah2 patriotisme seperti ini. Indonesia dan segenap komponen bangsanya adalah bangsa berjiwa patriot dan militan, hal ini lah yg tdk banyak dimiliki bangsa lain.
    Orang indonesia kadang cuek satu sama lain, kadang gebuk2an tp kl urat patriot nya disenggol bangsa lain langsung bersatu padu melawan. I'm proud of being indonesian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul gan, kisah-kisahnya mirip ama kisah-kisah kepahlawanan era sovyet. Terbalik dengan kisah film Hollywood Amerika, pada kenyataannya, pilot dan tentara Sovyet dulu justru jauh lebih cowboy dari tentara Amrik. salah satu kisah sejarah yang kemudian difilmkan yaitu kalo gak salah "Enemy of the Gate" diperankan oleh Jude Law, dari kisah nyata penembak eks gembala (ya gembala sapi) yang membunuh sniper terkenal jerman justru menggunakan senapan sitaan dari sniper jerman lain yang tidak biasa digunakan. Juga kisah-kisah penyelamatan pilot AL Rusia terhadap kapal-kapal selamnya yang kandas, dimana helikopter ASW berputar-putar masuk celah es yang sempit untuk memasang alat sonar guna menjejak keberadaan (lihat kasus kapal Kursk) kapal selam mereka yang tidak diketahui posisinya. Makanya, klop sudah kalo Indonesia beli peralatan ke Rusia, karena kultur ketentaraannya sangat dekat. Kalo Amrik, memang cowboy tapi lebih kepada tindakan arogan terhadap warga negara lain, sedang Rusia dan Indonesia, tentaranya cenderung cowboy dalam menggunakan alat perang menghadapi kondisi alam yang tidak bersahabat.

      Hapus
  5. Kalau Pilot legendaris Indonesia yang dikenal dan dikagumi kawan dan lawan seangkatan dengan Rusmin Nuryadin adalah Almarhum Marsda (Pur) Leo Wattimena yang menyandang segudang gelar mulai dari "orang gila", pemberani, good pilot, penerbang yang cerdik, jenius, orang yang sangat memahami pesawat terbang, sampai julukan "G maniac" yang diberikan oleh penerbang-penerbang pesawat tempur India, karena kagumnya kepada Leo. Pilot-pilot Inggris, AS, Rusia terkagum-kagum karena keberanian dan kepiawaiannya diudara. Aksi spektakulernya adalah terbang dibawah Jembatan Ampera Palembang,,, di AS pun ia melakukan hal yang sama.

    Indonesia memang sejak dulu disegani oleh dunia ,,, oleh karena itu kita diintip terus !

    BalasHapus
  6. Ini "Boleroes 11" heh. Opo abamu! He..he..he..

    BalasHapus
  7. Catatan palng unik dan tidak ada duanya di satuan penerbangan Angkatan Laut kita adalah, terjadinya peristiwa mutasi jabatan / serah terima jabatan dari seorang kakak kandung kepada adik kandungnya sendiri dalam hal ini dari Kolonel Bambang Supangkat kepada Kolonel Yayun yg tidak lain adalah adik kandungnya sendiri.
    Kolonel Bambang Supangkat terakhir menjabat Dan Lanal Surabaya dengan pangkat Laksma TNI, sedangkan adiknya Kolonel Yayun menjabat Ka Basarnas dengan pangkat terakhir Laksda TNI.

    BalasHapus