Selasa, Maret 26, 2013
33
China Membeli 24 Unit Pesawat Sukhoi SU-35 Dan 4 Unit Kapal Selam Kelas Lada
 
MOSCOW-(IDB) : Hubungan baik antara Cina dan Rusia tak hanya diwujudkan dalam kunjungan luar negeri perdana Presiden Xi Jinping ke Moskow, akhir pekan lalu. Harian Rakyat milik Partai Komunis Cina kemarin menulis laporan mengenai pembelian 24 pesawat jet tempur Su-35 dan empat kapal selam kelas Lada dari Rusia.

“Ini merupakan belanja teknologi militer terbesar Beijing ke Moskow dalam satu dekade terakhir,” tulis harian tersebut. Transaksi yang tidak disebutkan nilainya itu  telah diteken sebelum kunjungan Xi ke Moskow.

Dua kapal selam pesanan Cina akan dibuat di Rusia sedangkan sisanya dibuat di Negeri Tirai Bambu. “Pembelian pesawat tempur itu diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap pertahanan udara Cina,” ujar harian tersebut. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi dari kementerian pertahanan Cina.

Selain transaksi peralatan militer, kedua negara juga dikabarkan tengah mengembangkan kerjasama dalam pengembangan teknologi militer. Harian Rakyat Cina mengungkapkan kedua negara kini tengah mengembangkan rudal anti-pesawat jarak jauh S-400, mesin pelontar berdaya besar 117S, kendaraan pembawa pesawat besar IL-476 serta tank IL-78.

Dalam kunjungannya ke Moskow selama tiga hari, Xi bertemu dengan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu. Ia kemudian mendapat kehormatan menjadi kepala negara asing pertama yang dapat memasuki pusat kendali angkatan bersenjata Rusia.

Awal bulan ini, Cina mengumumkan peningkatan anggaran militer sebanyak 10,7 persen menjadi 720,2 miliar yuan pada 2013. Kerjasama ini juga seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Laut Cina Timur karena perebutan wilayah antara Cina dan Jepang.





Sumber : Tempo

33 komentar:

  1. Andai aja indonesia mau dket sama rusia.
    Ngekor Samaaa amriikk terus,
    Kapan majunya

    BalasHapus
  2. wakakaka beda dengan kita ya????sukhoi ngeteng...pilihan pun ala kadarnya...kapal selam juga sekenanya....tuh cina,punya selera bagus...punya efek gebuk mematikan....kita cuma rencana 16 sukhoi???bisa apa lawan ratusan pesawat negara lain???

    BalasHapus
  3. su-35 masih kalah radarnya, RCS besar, mahal, boros avturnya, ndak usah, sama saja antara ruski dan amrik, dua2nya penipu.......

    BalasHapus
  4. Ngenez bro rasnya Jd warga Indonesia,

    BalasHapus
  5. Cina dan india lg asyik borong alutista,,Indonesia lg borong apa ??

    BalasHapus
  6. Indonesia mempunyai banyak pengalaman dng negara barat yg pernah mengembargo pesanan alutsista shg sering terjadi kanibalisasi,pemimpin indonesia dlm melihat situasi skrg ini dng mindset tdk apa2,kalau berhasil dikuasai musuh,kita rebut kembali,dng canggihnya teknologi skrg ini akn mjadi sulit utk merebut kembali,mindset hrs dirubah dng pandangan mempertahankan habis2an dng persiapan personil didukung dng adanya peningkatan kualitas dan kuantitas alutsista, spt vietnam, singapura,malaysia,thailand,myanmar, dan filipina,jng ada mindset tiap adakan alutsista hrs ada fee dr negara produsen alutsista utk kepentingan pribadi atau skelompok org atau bdn hukum,jasa dan nama baik akn diingat tapi nama dng kepribadian yg buruk akn dihujat org. Ingat,kalau mati akan pergi ke mama itu yg juga penting tuk dipertimbangkan.

    BalasHapus
  7. Radar su-35 bisa mencapai jarak 400 km pada mode air to ground, jauh lebih superior bila dibandingka sama rafale atau eurofighter. Bedanya hanya pada sistem pemindaian,radar su-35 masih harus digerakkan ke arah datangnya ancaman sedangkan rafale telah memakai radar AESA yg memindai secara elektronik. Badan su-35 memang besar, tapi rcsnya nyaris lebih kecil dari gripen. Aftur boros ya ... wajar. Mesinnya paling kuat, tentu output berbanding lurus dengan input. Gak mau ketipu....? Bikin sendiri!!!

    BalasHapus
  8. proyek KFX indonesia dan korea tertunda 1 th 6 bln, indonesia jng tinggal diam slama itu,slama itu apapun dpt terjadi, jadi slama itu indonesia sbaiknya mengadakan pesawat tempur stlah mencermati kondisi dan politik kawasan, saran saya indonesia membeli 4 skuadron sukhoi 30 Mk2i, 3 skuadron sukhoi 35 Bm, kalau itu sdh tersedia,lalu dana utk melanjutkan proyek KFX ada, baru pesan KFX sbnyk 3 skuadron,indonesia perlu sempurnakan desain helikopter gandiwa dan bhn materialnya serta persenjataan yg melekat,misalnya bisa dipasangi masing2 sayap dng 2 senapan mesin otomatis,dn terdpt 2 cantelan peluncur roket dng masing2 cantel menyimpan 6 roket anti tank MBT,kapal selam kelas kilo sbnyak 40 unit, 6000 MBT,8000 pantsyr,20.000 juveline,2000 peluncur lngkp dng baterai dan 200.000 roket atau rudal jarak menengah dan jauh, S400 sbnyk 1000 unit,500 kapal perang dr berbagai jenis dr korvet,fregat,KCR 40,KCR 60,KCR 125,dilengkapi dng RcWS dng senapan kaliber 40-70 mm, Utk kpal angkut personil dan tank perlu diadakan sbnyk 700 unit,FPB sbnyk 200 unit,trimaran sbnyk 60 unit,Kpl BCM sbanyak 500 unit, 1800 panser anoa dng kaliber senapan yg terpasang di RCWS adlh 25-30 mm,pesawat AEWCS sanyak 80 unit, 10 skuadron UAV yg dilengkapi senjata utk msg2 sayap sbnyk 5 biji,pnglihatan malam dan infra merah sbnyk 2 jt unit,alat komunikasi di tiap2 area paling tdk utk menjangkau indonesia diperlukan 30.000.000 unit trsebar,500 radar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuiiihh duit dari bapak Loe apa??

      Hapus
  9. waww.......bagi satu dong pesawatnya buat pajangan di depan rumah....

    BalasHapus
  10. Su-35 punya radar Irbis E yg bisa deteksi sampe 400 km tp untuk RCS 3 m2 itupun kalo dia ndak puny radar AESA, tp bagi pesawat yg punya Radar AESA, malah akan kebalik, justru radar PESA yg akan dijammer, mending kalo beli pesawat kalo mesin satu mending beli JF-17 block 3 pesawatnya irit, radarnya Aesa lumayan buat pake patroli, atau bila pilih mesin dua mending ikuti India beli Rafale, mesin irit, radar AESA, punya rudal jarak jauh, punya kemampuan radar untuk pengawasan laut, cocok dengan negara kita sebagai negara kepulauan..............Sukhoi itu buoros, radar teknologi sudah lewat, RCS besar, bisa jd kecil RCSnya tp lawannya F-4 Phantom................

    BalasHapus
  11. saya lebih setuju bila tni au beli pesawat tempur rafale. alasan nya lo cari aja sndri

    BalasHapus
  12. Semua kok senang berandai-andai

    BalasHapus
  13. kalo gw lebih suka indonesia bikin jet tempur sendiri....
    yang penting bisa manuver extreme dulu, setelah prototipe buat manuver extreme jadi tinggal dikembankan.......

    radar sama mesin boleh pinjem dulu......

    BalasHapus
  14. Sukhoi family memang boros avtur,tp kalo melihat dari sisi pengadaan tni msh tetap percaya sukhoi sbg penempur berat,sdg penempur medium tetap F16,sbg masukan F16 dan sukhoi bisa isi ulang bahan bakar dari hercules jd ga perlu nambah pswt tangker lain jenis lagi. Berikutnya sukhoi memang ga stealth/semi stealth krn RCS kelihatan di radar,tp kemampuan deteksi radarnya paling jauh drpd rafale,typhon,dll walaupun pake aesa,jd apabila tetangga sblh mulai datangkan JSF 35 maka dg kemampuan radar dan rudal jarak jauh BVRnya,sukhoi bisa diandalkan bt unsur penyeimbang. Kmknan TNI AU dapat JSF35 kecil sekali krn bukan sekutu dekat amrik so SUKHOI 35 lah harapan terbaik TNI AU. Sekedar masukan,tp sob2 ano yg lebih baik...thx

    BalasHapus
  15. Pesawat tempur griffen,typhoon,rafale;mig35,F16,F18,JF17,bahkan JSF35 sklpun merupakan jenis pespur kelas medium,sdgkan sukhoi jenis pespur berat dan jarak jangkau jauh,sesuai dg karakter negara kepulauan RI yg punya garis pantai yg jauh.

    BalasHapus
  16. Gausah muluk2 lah,,
    Buat indo ,beli aja 10 unit su 35 + 3 unit kilo .
    Insya Allah udah cukup ..

    BalasHapus
  17. Gw stuju dg ano 05.52, kmampuan keu kita terbatas krn kbutuhan tdk hanya alutsista. Yg pasti NKRI harga mati.

    BalasHapus
  18. Minggu lalu gwa denger TNI butuu tambahan 16 unit Sukhoi....
    Semoga saja yang dibeli SU35BM, jangan SU30 lagi, gimana mau fight dengan F35 Aussie n Singapork nantiiii... semoga otaknya berpikir ke masa mendatanggg (dalam tanda kutip "Panglima TNI")

    BalasHapus
  19. perlu diingat thn 2015 pesawat yg memiliki kemampuan tempur terbaik akan dimiliki oleh Singapura dan Australia yg akan memiliki F-35 salah satu penyaingnya hanyalah membeli PAKFA bukan Su-35, untuk kemampuan Su-35 bisa kita dapatkan dengan meningkatkan radar Su-30 MK2 yang kita miliki dengan radar Su-35 S yg tidak memiliki canard, sehingga kita bisa memiliki 1 skuadron Su-35, jd kemampuan kita dpt meningkat, sedangkan buat patroli perbanyak saja FA-50 Golden Eagle murah, lumayan irit, kemampuan sedang....

    BalasHapus
  20. Bukan masalah boros avtur ataupun rcs yang besar yang kita masalahin.
    Tapi inget kalo kita beli pesawat barat (typhoon, F-16, dll) kita punya resiko Embargo.
    Apa gak inget masa lalu..?
    Mending tetep fokus sama sukhoi aja.

    BalasHapus
  21. dengan kemampuan dog figter sukhoi 35 bm di atas rafale.jangkauan gotong senjata pluss radar sukhoi 35 bm cocok amat buat indo yg maha luass perlu di ketahui avtur sukhoi 35 lebih irit dari rafale atau euro figter yg cilaca patgulupat harga boross brooo pluss intel sekutu mondar mandir loby tuan demang rafale atau euro lebih baikk untuk 1 thn ajaaa tidak kebelakang .

    BalasHapus
  22. Embargo memang perlu diperhatikan tapi ingat juga berdasarkan data operasi yang diadakan hanya 30 % dari 100 % terlaksana karena keterbatasan alokasi bahan bakar. Soooo...... perlu yg irit BBM......... kalo ndak mau embargo ya KFX/IFX di selesaikan, kalo ada keinginan pasti ada jalan keluar.... KFX/IFX yang belum diselesaikan kan tinggal mesin, untuk body kan sudah, lebih baik bila hasil experiment tersebut kita kembangkan sendiri.....body sesuai IFX, radar AESA dan mesin kan bisa kerjasama dgn negara lain macam Rusia, Prancis, China, India, dll

    BalasHapus
  23. Ya emang sih bahan bakar dipertimbangkan.
    Tapi kalo nunggu kfx/ifx kayaknya kelamaan.
    Tar keburu jsf-F35 aussie dateng lhoo....

    BalasHapus
  24. daripada beli Su35 tp ndak mampu hadapi F-35, mending beli PAKFA itu baru 50 : 50, karena sdh pasti Su-35 kalah

    BalasHapus
  25. Sukhoi 35 baru dipakai AU rusia dan msh bln ada pernyataan utk diekspor,sdg pakfa msh dalam proses penyempurnaan. Pakfa heavy fighter stealth sdg F35 medium fighter stealth,jadi butuh waktu berapa lama TNI AU bsa dapatkan Pakfa,lha wong sukhoi 35 aja blm diekspor. Kmknan besar TNI AU mengandalkan KFX/IFX buat ngadepin F35 brpun kalah spec n kemampuan,tp sdh buatan dlm negeri (joinan korea). Yang penting pilot2nya diasah sebaik mkn dlm menguasai pesawat IFX,spt falsafah MEN BEHIND THE GUN.

    BalasHapus
  26. sy rasa masalah heavy fighter, medium fighter, light fighter hanya masalah kemampuan membawa persenjataan....dalam pertempuran, tidak akan ada perbedaan apakah musuh pake heavy, medium atau light (berperang sesuai kelas) yg ada hanyalah pesawat yang memiliki peperangan elektronika yg baik (mampu menjammer pesawat lain), mampu membawa rudal berkualitas jarak jauh, sedang, dekat, terakhir untuk dogfight dia mempunyai kemampuan manuver tinggi.... kalo IFX sy setuju, tapi yang perlu diperhatikan kapal ini dirancang untuk dibawah F-35 namun diatas F-16, kemudian peralatan dan persenjataan (rudal) semua buatan barat, nanti kalo diembargo tetap saja kita tidak akan mampu membuatnya pasti akan dampak ke mesin, rudal, radar.......jd sama saja akhirnya dgn tahun 99 nasib yg menimpa F-16 akan pula terkena pada IFX

    BalasHapus
  27. Satu jalan cuma pada sukhoi..

    BalasHapus
  28. boros........ alut tua

    BalasHapus
  29. yg ada di benak para pejabat yg menangani alutsista adalah 1.selagi masih menjabat lebih baik korupsi...2.anak bini butuh uang untuk masa kelanjutanya...3.biarlah rakyat RI menghujat yg penting uang miliaran sudah ditangan...4.lagian KPK tidak bakalan mengutik jika uang haram yg datang dari kebutuhan alutsista...(takut).

    BalasHapus
  30. Rusia, Cina, Indonesia hrs membentuk kumpulan dagang dunia, utk memfasilitasi perdagangan negara2 Nonblok dan akan dpt memberikan kemakmuran bersama utk dunia. Salam NKRI........................

    BalasHapus