Rabu, September 17, 2014
0
SURABAYA-(IDB) : KRI Halasan-630 yang merupakan kapal terbaru buatan PT PAL dari 3 KCR 60 M pesanan TNI AL serta pesawat CN 235-220 N-62 buatan PT DI, adalah bagian dari upaya pembangunan kekuatan TNI khususnya TNI AL menuju world class navy. Kehadiran KCR-60M ketiga yang telah diserahterimakan saat ini, sesuai dengan Renstra I 2009-2014, akan memenuhi kebutuhan pokok pemukul TNI, dan memperkuat jajaran Satuan Kapal Cepat Komando Armada RI Kawasan Barat.

Hal itu dijelaskan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Rabu (17/9), di PT PAL Surabaya, saat menghadiri acara Peresmian KRI Halasan-630 yang merupakan Kapal jenis KCR 60 M, adalah kapal pesanan ke-3 TNI AL yang dibangun oleh PT PAL.


KCR-60M ini, berdasarkan pada pertimbangan taktis, dan strategis yang cukup mendalam untuk menjaga dan melindungi wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta melaksanakan tugas-tugas pertahanan serta penegakan hukum wilayah NKRI. Kapal jenis KCR-60M ini sangat efektif untuk melaksanakan patroli di daerah laut dangkal dan dapat menyelinap di pulau-pulau walaupun kapal ini relatif kecil tetapi memiliki senjata rudal yang dapat efektif menghancurkan lawan yang lebih besar.


Seperti halnya KRI Sampari-628 yang telah diresmikan pada tanggal 28 Mei 2014 dan KRI Tombak-629 yang telah diresmikan pada tanggal 27 Agustus 2014 yang lalu, pembangunan KRI Halasan-630 ini juga merupakan karya anak bangsa yang pembangunannya dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS), yaitu PT. PAL Indonesia (Persero). Dengan pelaksanaan pembangunan yang dilakukan didalam negeri ini akan memudahkan TNI AL dalam pemeliharaan selanjutnya dan dapat memberikan alternatif solusi untuk mengurangi ketergantungan pada negara lain dalam pengadaan KRI di masa mendatang.

Pemilihan senjata Halasan sebagai nama untuk kapal jenis KCR ini adalah karena senjata tradisional Halasan yang berupa Piso atau Pedang merupakan senjata tradisional yang berasal dari Tapanuli Utara Batak Sumatera Utara. Mengingat senjata Halasan tersebut merupakan senjata tradisional yang ada di Nusantara, maka Halasan pantas dan layak untuk digunakan menjadi nama salah satu KRI milik TNI Angkatan Laut.


Sebelumnya Menhan Purnomo juga menyaksikan first steel cutting PKR-2 di bengkel Fabrikasi DKP PT. PAL. Pembangunan Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) / Frigate ke 2 ini merupakan proyek kerjasama antara PT PAL Indonesia (Persero) dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda. First Steel Cutting PKR-1 sebelumnya dilaksanakan pada bulan Januari 2014. Didalam kontrak pembangunan 2 Kapal PKR/Fregate antara Kementerian Pertahanan dan DSNS yang disertakan didalamnya kesepakatan Transfer Of Technology dengan lama pembangunan direncanakan 48 bulan.

Selama ini PT PAL telah menyelesaikan pesanan kapal TNI AL seperti Fast Patrol Boat (FPB) 57 M, Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 M, dan Landing Platform Dock (LPD) 125 M. PKR/Frigate ini merupakan kapal berteknologi dan berkemampuan tinggi yang merupakan langkah besar bagi PT PAL. Selanjutnya, pada rencana strategis (renstra) kedua pada 2015 - 2018 TNI AL berencana melanjutkan proyek ini dengan kapal ke-3 dan kapal ke-4.

Selanjutnya, Menhan juga melaksanakan acara serah terima 1 (satu) unit pesawat CN 235-220 N-62 Patroli Maritim untuk TNI AL di Lanudal Juanda, Suarabaya. Dengan penyerahan ini maka PT Dirgantara Indonesia (Persero) telah menyelesaikan produksi 3 (tiga)  unit pesawat CN 235-220 Patroli Maritim dengan anggaran kredit ekspor TA. 2009 – 2015.

Pembangunan 3 (tiga) unit pesawat telah selesai dilaksanakan oleh PT Dirgantara Indonesia (Persero) di mana 2 (dua) unit pesawat telah diserahkan terlebih dahulu secara bertahap pada bulan April 2013 dan Juli 2013 serta yang Ke-3 yang penyerahannya dilaksanakan hari Ini.  Dengan penambahan 3 (tiga) pesawat ini diharapkan TNI AL dapat secara maksimal dapat memenuhi kebutuhan operasional TNI AL dalam mengimplementasikan tugas dan tanggungjawabnya.

Dengan keberhasilan pembangunan pesawat di dalam negeri, merupakan langkah yang baik bagi perkembangan dan kemajuan industri dalam negeri. Hal ini sekaligus sebagai bukti bahwa industri dalam negeri kita telah mampu bersaing dengan industri negara-negara lain, selain itu kemampuan industri dalam negeri dalam penyediaan alutsista untuk kepentingan pertahanan akan dapat mengurangi ketergantungan kita kepada industri negara lain serta dapat menciptakan detterence effect.



Sumber : DMC

0 komentar:

Poskan Komentar