Sabtu, September 20, 2014
0
Anggota Pasmar-1 Surabaya, Satuan Tugas Marinir Pengamanan Pulau Terluar menjaga Kepulauan Fani. (Pasmar-1 Surabaya/ Jawa Pos)

TNI AL-(IDB) : Konflik perbatasan dengan Malaysia di Tanjung Datu, Sambas, Kalimantan Barat, mengusik Praka Mar Roby Eka Sanjaya. Langkah Malaysia membangun mercusuar di perairan Indonesia, membuat staf intelijen Pasmar 1 Surabaya itu prihatin. Menurutnya, luas wilayah laut Indonesia memang belum sebanding dengan jumlah personel TNI.


Kondisi tersebut mengingatkan Roby ketika bergabung dalam Satuan Tugas Marinir Pengamanan Pulau Terluar, tiga tahun lalu. Kala itu dia bersama 29 prajurit baret ungu lainnya diterjunkan menjaga Kepulauan Fani.


Pulau Fani adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Samudra Pasifik dan berbatasan dengan negara Palau. Pulau Fani ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Sorong, Papua Barat.


Kepulauan itu terdiri atas tiga pulau. Yang terluas adalah Pulau Fani. Lalu ada Pulau Igi dan Pulau Miarin. Secara administratif, pulau itu masuk Kabupaten Raja Ampat.


Saat air laut surut, tiga pulau itu terlihat dihubungkan sebuah jembatan panjang dari kayu. Begitu laut pasang, jembatan tersebut bisa tidak terlihat dan jarak antar-pulau menjadi lebih jauh.


Kepulauan Fani terdiri dari 3 pulau di Papua Barat

“Sekitar enam bulan bertugas di pulau terluar menjadi tantangan tersendiri”, tutur Roby. Sebanyak 30 anggota satgas didominasi Yonif 5 Marinir yang bermarkas di Ujung – Pabean Cantikan dikirim ke sana. Yonif ini berada di bawah Brigade Infanteri 1 Marinir Gedangan, Pasmar 1 Surabaya.


Satgas di Pulau Fani dikomandani Kapten Mar Wachit. Lalu, ada dua prajurit dari Pasmar 1, Roby dan Praka Mar Fani Andri Santoso. Personel Batalyon Komunikasi dan Elektronika 1 Marinir adalah Serma Mar Abuwono dan Kopda Mar Bejo Susanto.


Dari Batalyon Kesehatan 1 Marinir ada Koptu Mar Gandi dan KLS Agus Kelik. Dua batalyon itu di bawah Resimen Bantuan Tempur 1 Karangpilang, Pasmar 1 Surabaya.


“Sebulan sebelum berangkat, anggota satgas wajib mengikuti pratugas,” ujar Kapten Mar Wachit. Sebab, mereka harus ”perang” di medan yang berbeda. Terbiasa berdinas di kota dapat membuat anggota kaget kalau tidak ada persiapan. Pratugas itu dilaksanakan di Pusat Latihan Pasukan Pendarat Komando Latih Marinir (Kolatmar) Gunungsari dan Pusat Latihan Pendaratan Khusus Kolatmar Grati, Pasuruan.


Sebagian besar pulau terluar punya garis pantai dan karang yang agak jauh dari daratan. Selain itu, belum semua punya fasilitas dermaga, baik yang paten maupun yang apung. Cuaca di kawasan bibir Samudra Pasifik tersebut juga dikenal kurang bersahabat dan cenderung ekstrem. Perlu kecakapan pendaratan dari kapal pengantar atau perahu yang berukuran tidak terlalu besar. Banyaknya barang bawaan, baik satuan maupun pribadi, mengharuskan setiap pendaratan punya teknik keseimbangan.


Kecakapan pendaratan juga diperlukan saat menurunkan perbekalan logistik. Setengah tahun bertugas, mereka dipasok beras belasan kuintal dari pos komando taktis Sorong. Waktunya tiga bulan sekali, bahkan bisa molor. Itu bergantung pada cuaca dan keberanian nelayan mengirim sembako. Ketinggian gelombang air laut banyak membuat kapal perintis berpikir ulang. “Biasanya, hanya nelayan pemburu hiu bernyali tinggi yang nekat membantu,” timpal Praka Mar Roby.


Saat pendaratan, material maupun beras tidak boleh sampai terjatuh ke air. Selama pratugas di Gunungsari maupun Grati, mereka dituntut menguasai teknik pendaratan. Salah satunya melintasi titian keseimbangan papan kayu memanjang yang digantung dengan tambang di kiri dan kanannya. Pratugas semakin berat saat diuji bertahan hidup. Dalam simulasi, mereka dipaksa survive tanpa bekal. Prajurit dituntut memaksimalkan potensi alam Gunungsari dan Grati.


satgas-pulau-fani

Keterbatasan air tawar mengharuskan mereka menandon air tatlaka hujan. Jika hujan tidak turun, solusi lain adalah menampung air laut dalam galian atau dengan wadah penyaringan.


Kondisi alam memang ekstrem. Saat air pasang, jarak pos hanya sekitar 4 meter dari laut. Saat badai dan angin puting beliung tiba, para anggota tawakal sembari mengamankan diri dari berbagai kemungkinan. Hawa dingin ketika tengah malam-dini hari serta panas saat siang terik menjadi hal biasa yang dihadapi.


Meski dibekali beras untuk keperluan tiga bulan sekali, beras bisa lebih cepat habis. Penyebabnya bukan konsumsi yang melebihi takaran. Tetapi, serangan hewan pengerat berupa tikus pulau membuat jatah beras prajurit berkurang. Pantangan adat yang melarang membunuh tikus membuat anggota berusaha mematuhi kearifan lokal tersebut.


Pulau-Fani“Pernah suatu waktu karena sudah jengkel, kami berondongi tikus itu dengan tembakan. Tidak lama setelah siang itu, terasa ada gempa dan badai lumayan besar,” kenang prajurit yang 3 Oktober nanti genap 28 tahun tersebut. 

Kebetulan pada saat bersamaan, beberapa rekannya memanjat pohon kelapa. Akibat gempa sesaat itu, personel yang hendak mengambil buah kelapa terjatuh. Untungnya, mereka tidak cedera parah. Sebuah pohon besar dengan diameter sepanjang keliling enam orang yang melingkari pohon tersebut juga tumbang.


Pantangan lain yang berlaku di pulau terluar itu adalah membakar seafood jenis kepiting seperti rajungan maupun lobster. Ikan jenis lain diperbolehkan. Belum ada alasan rasional yang menjelaskan larangan tersebut.


Kepulauan Fani yang dikenal sebagai habitat ikan karang dan berbagai biota laut membuat prajurit sejatinya tidak sampai kehabisan pengisi atau pengganjal perut dari rasa lapar. Hanya, masalah selera makan acap menghinggapi mereka.


Penyakit yang dapat muncul kemudian biasanya rasa jenuh dan bosan. Beruntung, mereka memiliki berbagai objek untuk melawan perasaan yang kadang menggelayut di pikiran itu. Untuk membunuh kejenuhan dan rasa bosan, olahraga menjadi salah satu aktivitas yang dapat mengusir dan menyalurkan waktu. “Di pos jaga tersedia beberapa perkakas sederhana untuk membuat badan lebih fit,” kenang suami Nurul Chasanah yang berputra Alfatif Dirga Sanjaya itu.


Kapten Wachit menambahkan, ada kebanggaan sebagai prajurit penjaga pulau terluar. Sebab, mereka termasuk berada di garda terdepan dalam mengamankan tanah air. Enam bulan jauh dari peradaban menjadi momentum lebih untuk mengenali jati diri dan Tuhan. Semangat yang membara menjadi komitmen tidak akan ada lagi kisah tragis seperti dialami Sipadan dan Ligitan yang jatuh ke pelukan negeri jiran Malaysia. “NKRI adalah harga mati,” tegasnya. 


Kunjungan KRI Sultan Hasanuddin-366


KRI Sultan Hasanuddin-366Pulau Fani yang merupakan pulau terluar wilayah NKRI di tepi Samudra Pasifik  dihuni oleh sekitar ± 150 orang dewasa dan anak-anak yang merupakan penduduk musiman pada waktu tertentu saja selebihnya pulau ini dihuni oleh anggota Satgas Pam pulau terluar dari anggota Posal P. Fani. Sulitnya transportasi menyebabkan kelangkaan bahan pokok sehingga penduduk enggan mendiami pulau ini secara permanen.


Dalam rangkaian Operasi Cakra Hiu-14 pada hari Rabu tanggal 25 Juni 2014 Pejabat Guspurlatim Asops Kolonel Laut (P) Retiono Kunto dan Asintel Kolonel Laut (P) Joni Sudianto didampingi Perwira KRI SHN-366 Kapten Lengkong mengunjungi pulau Fani menggunakan RHIB KRI Sultan Hasanuddin (SHN)-366 kunjungan disambut oleh Sertu Muhtadi anggota tertua yang mewakili Danton Pamtas Lettu Mar Dedi Elyadi Putra yang saat itu berada di Sorong dalam rangka persiapan pergantian personel. Pada kesempatan tersebut kapal markas Ops Cakra Hiu-14 KRI SHN-366 memberikan sumbangan kepada personel yang bertugas di pulau Fani berupa Beras 1 karung, supermi, makanan ringan dan BBM.


pulau-fani-papua-indonesia

Dalam kesempatan tersebut Asops Guspurlatim menyampaikan bahwa dalam operasi seperti ini kita perlu mengunjungi Pulau terluar sebagai bentuk komitmen TNI AL dalam menjaga keutuhan NKRI dan sekaligus dapat memberikan semangat kepada petugas perbatasan. 

Dalam keterangannya Sertu Muhtadi menyampaikan bahwa jumlah personel yang ada sebanyak 13 orang gabungan (Marinir dan TNI AD) disampaikan juga bahwa situasi di pulau ini aman dan penduduk yang ada adalah penduduk musiman jika sedang banyak ikan warga dari Papua datang ke pulau ini untuk mencari ikan. Untuk komunikasi setiap hari hanya satu kali yaitu pada pukul 07.00 WIT menggunakan radio sedangkan untuk penerangan menggunakan Solar Sel karena  PLN belum ada.

 Mengingat pentingnya menjaga wilayah perbatasan maka kepada instansi terkait diharapkan segera mengusahakan pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan sehingga petugas perbatasan dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan keberadaan Pulau Fani tidak dimanfaatkan pihak asing. 




Sumber : TNI AL

0 komentar:

Poskan Komentar