Rabu, Maret 19, 2014
26
Pesawat Tempur Rafale Prancis
JKGR-(IDB) : Siapa yang tidak kenal dengan Rafale? Pemerhati dunia militer, khususnya dunia aviasi militer pastilah mengenal sosok pesawat tempur andalan Armee de l’Air atau AU negeri Pakdhe Sarkozy ini.

Sosok pesawat tempur, yang dijuluki Bill Gunston “the most beautiful fighter aircraft ever” , kini sedang menjadi buah bibir di bebagai media publikasi militer, bukan karena segudang prestasi tempur, tapi karena kegagalannya memenangkan kontrak pesanan dari bebeberapa negara sepanjang 3 tahun terakhir. Sebegitu burukkah nasib si Badai ini? Tak adakah keberuntungan yang menaungi si Badai yang baru diproduksi 160 unit ini?.

Ternyata dewi fortuna berpihak pada Rafale, durian runtuh buat Dassault, Thales, dan SNECMA sebagai system vendor utama Rafale. Siapakah yang jadi dewa penolong Rafale?

Sebelum mengungkap tabir misteri pemberi napas baru program Rafale, kita bedah dulu si Badai ini.

Jin Rafa a.k.a Rafale, Selayang Pandang

Rafale, adalah pesawat tempur generasi 4+ yang menjadi andalan Armee de l’Air (AU Prancis) yang digadang-gadang sebagai ujung tombak armada untuk menggantikan Mirage 2000 dan Mirage F1 sebagai frontline fighter. Uniknya, desain pertama Rafale adalah mengacu pada “carrier based fighter” atau pesawat tempur yang berpangkalan di kapal induk yang kemudian konsep desain berkembang dan diaplikasikan untuk versi AL dan AU. Peran utama yang diemban Rafale adalah superioritas udara, interdiksi, pengintaian, dan platform strategis peluncur rudal nuklir.

Meskipun memiliki dimensi fisik relatif kecil, Rafale mampu bawa persenjataan dalam volume yang sanggup membuat mata terbelalak. 9,5 ton persenjataan pada 14 cantelan di bawah perut, pastilah suatu angka yang impresif, bukan?  14 cantelan itu bisa diisi berbagai “aksesoris” mulai dari rudal AAM MICA dan Meteor. Khusus untuk baseline F3 dan F3R, berbagai macam senjata anti permukaan baik itu itu rudal macam Exocet AM39, Hammer AASM, atau rudal jelajah gress SCALP EG, serta berbagai jenis bom pintar dapat dibawa oleh Rafale.

Itu soal tentengan, bagaimana dengan jeroan? Bicara jeroan, Rafale memiliki sederet sensor yang menjadi mata dan telinga yang diakui oleh industri adalah salah satu yang terbaik di dunia. “Mata” sang Badai, bertumpu pada radar  Thales RBE2  PESA (passive electronically scanned array)/AESA pada varian F3R. Selain radar, sistem pengindera pasif dengan sensor optik/infra merah OSF racikan Thales, yang merupakan sistem penjejak optik/infra merah pertama yang muncul di pespur Barat (sebelumnya hanya dimiliki oleh Flanker family dan MiG-29M milik Rusia).

Selain kedua sensor tersebut, Rafale memiliki suatu piranti yang tak kalah eksotis dan sudah teruji dalam medan tempur, dan berbagai ajang latihan taktis bersama negara NATO. Piranti tersebut adalah SPECTRA, bikinan Thales dan MBDA, yang berfungsi sebagai perangkat perang elektronika (pernika)/electronic warfare. Perangkat ini yang membuat Rafale satu-satunya pesawat tempur NATO yang mampu lolos dari sergapan S-300V dalam suatu simulasi latihan.

Rafale Sebagai Pendamping Su-35 First Line Fighter TNI AU
 
Saat TNI AU mulai mempublikasikan wacana pengadaan pespur sebagai pengganti F-5, sederet nama kandidat mulai bermunculan. Dan Rafale, muncul sebagai salah satu kandidat utama. Apa alasan akhirnya Rafale jadi kandidat kuat. Simak saja fakta dibawah ini:

-Red Flag exercises: Rafale C sukses membukukan skor kill total  26-3 dalam skenario CAP-WVR dan kill 20-2 dalam CAP-BVR. Rafale menjadi bagian dari blue force, melawan red force yang terdiri dari F-15, F-16, dan EF Typhoon.

-Red Flag exercises: Rafale C sukses menghindari lock on dari sistem SAM yang disimulasikan S-300V. Menjadi satu-satunya pemegang rekor “no kills by SAM” dalam sejarah Red Flag!

Dassault sudah mengendus peluang ini dan pernah mengirimkan proposal acquisition offering. Sayang, proposal pertama ini gagal, meskipun dari sisi user sendiri sudah menunjukkan minat tinggi. Kegagalan ini disebabkan karena dassault tidak bersedia memenuhi permintaan ToT kita untuk program IFX dengan skema harga dan volume pembelian yang kita mau. Bayangkan saja mereka menuntut kita untuk beli 64 Rafale B/C baseline F3 dan F3R dengan harga fantastis yang tidak mungkin kita jangkau. Sebagai informasi, item ToT mencakup engine Snecma M88, radar Thales RBE2, dan avionics system integration.

Namun, ternyata kebutuhan financing mereka untuk program baseline F3R memaksa Dassault cs kembali datang dengan menawarkan skema baru yang lebih atraktif.  Selain ada price per unit yang 22% lebih rendah dari initial offering, juga ada ToT penuh untuk spare parts, dan teknologi sensitif yang melekat pada Rafale. Mereka juga setuju untuk memberikan teknologi mesin SNECMA M-88B-4, radar RBE2 AESA, dan……seluruh perangkat perang elektronika SPECTRA, serta source code data link yang memungkinkan Rafale bisa “ngobrol” dengan armada Sukhoi kita! Selain itu mereka juga siap mendukung program pengembangan “network centric battle management system” yang sedang dirintis oleh Dephan.

Gayung bersambut, proposal terbaru tersebut sudah mendapat clearance berlapis, hingga ke tingkat decision maker tertinggi. 

Skema yang disetujui adalah sebagai berikut :
 
I. Initial Acquisition Programme (Delivery Q4 2014 – Q2 2015)
  1. 16 units of Rafale C singe seater F3 variant.
  2. 8 units of Rafale B twin seater F3 variant.
  3. Provision of latest upgrade of Damocles IRST (baseband 3.00A2).
  4. Provision of SPECTRA jamming pod (undisclosed quantity).
  5. Provision of MICA AAM (IR/active radar homing) undisclosed quantity.
  6. Provision of complete package of spare parts, logistic and technical support, and operational management support.
  7. Provision of comprehensive air and ground crew training program (both on Dassault and local sites).
        
II. Phase 2 Acquisition Programme (Delivery Q3 2015 – Q4 2016)
  1. 24 units of Rafale C single seater F3 variant.6 units of Rafale B single seater F3 variant.
  2. Provision of SPECTRA jamming pod (batch 2).
  3. Provision of MICA AAM.
  4. Provision of MBDA Meteor (undisclosed quantity).
  5. Initial transfer of technology programme.

III. Phase 3 Acquisition Programme (Delivery Q1 2017-Q4 2017)
  1. 18 units of Rafale C single seater F3R variant.
  2. Upgrade 24  units of batch 1 into F3R variant
  3. Full scheme ToT execution
  4. Provision of MBDA Meteor AAM
  5. Provision of Hammer AASM, SCALP air to ground missile (undisclosed quantity).

IV. Phase 4/Final Acquisition Programme (2018)
  1. Upgrade 30 units of batch 2 into F3R variant.
  2. Final programme delivery to user.

Selamat datang…Rafale, kami rakyat Indonesia menyambut hangat kedatanganmu. Semoga angkasa nusantara akan semakin aman dengan kehadiranmu. 




Sumber : JKGR

26 komentar:

  1. ah berita hoax nih... secara nih pesawat mahal banget.
    tp klopun bener, saya sangat bersyukur!!

    BalasHapus
  2. Hoax .. nasib pespur hibah 24 unit f16. kemudian KFX dari Korsel. dan SU35 gimana?

    BalasHapus
  3. moga2 kena embargo lg biar mikir itu pemerintah kita, gak ernah belajar dr pengalaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Resiko embargo selalu ada untuk produk barat, tapi lebih kecil kemungkinannya daripada produk UK/EU (Typhoon) apalagi produk US. Perancis lebih ‘mandiri’ dalam politik luar negeri daripada UK. Lebih dari itu adalah faktor ekonomi, Dassault sangat butuh pembeli.
      ,
      Sebelum mengerjakan pesawat tempur sendiri (Rafale), Perancis adalah anggota negara EU dalam program Euro Fighter Typhoon, hanya saja dikarenakan perbedaan prinsip design Perancis keluar dan mengerjakan produk sendiri yaitu Rafale. Sampai saat ini Typhoon unggul dalam penjualan karena faktor lobby politik dari negara2 Eu anggora EF Typhoon, dengan persaingan sengit kecil kemungkinan Perancis akan mengembargo konsumen Rafale.
      Contohnya sangsi pada Russia pada kasus Crimea Perancis juga enggan ikut2an karena ada program kerjasama/pesanan kapal perang dari Russia.
      Rafale ini pernah menembak jatuh F-22 dalam simulasi tempur WVR
      (copy paste coment jkgr)

      Rafale C sukses menghindari lock on dari sistem SAM yang disimulasikan S-300V. Menjadi satu-satunya pemegang rekor “no kills by SAM” dalam sejarah Red Flag!

      harga lebih murah 22%. dgn TOT jg,
      bisa conek ke su 35/ su 30 dll.
      Rafale Sebagai Pendamping Su-35 First Line Fighter TNI AU..
      Rafale utk bagian barat dan su 35 utk bagian timur.
      soo su 35 tetap beli,

      soo jgn pesimis dulu.

      Hapus
    2. Mudahan bener jadi makin bangga gue, sekala pertumbuhan ekonomi yg stabil, Politik luar negri yg bebas berhaha hihi , no campur tangan urusan dlam negri negara lain, semakin Membuat kepercayaan negara luar meningkat luar biasa, apalagi secra tersirat pengakuan internasional akan kedaulatan indonesia terhadap Irian Jaya Meluas, Cinapun mengakui kedaulatan ZEE batas kep Natuna,.... Jayalah NKRI

      Hapus
  4. su35s doong 32 itu masih minim

    BalasHapus
  5. biasa pengalihan isu ..Su35BM...
    ujung-ujung nya gak ada yg jadi alasan anggaran..
    sepertinya 24 unit 16 second juga gaka molor dari rencana .masalah kurs rupiah yg melemah...
    ya..terpaksa dalam 10 tahun kedepan mainan TNI AU baby falcon ame sukhoi makasar....
    yang sabar aje...hihihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. su 35 tetap beli bung, rapael ini pengganti f35
      sementara su 35 utk tambahan sukhoi family.
      rupiah melemah karena faktor pemilu yg akan di lakukan indonesia, yg di takutkan terjadi kerusuhan lagi seperti thn '98.

      klo setelah pemilu, Insya Allah rupiah akan membaik lagi, semua tergatung dari kondisi bangsa ini,,
      bahkan utk ukuran negara berkembang, rupiah termasuk paling kuat, dibanding negara berkembang lain nya yg mengalami penurunan yg tajam, seperti india, malaysia, brazil dll,

      Hapus
  6. Yah hubungan indonesia dgn russian makin jauh dah.su 35 bm hanya mimpi

    BalasHapus
  7. biasa pengalihan isu ..Su35BM...
    ujung-ujung nya gak ada yg jadi alasan anggaran..
    sepertinya 24 unit F16 second juga agak molor dari rencana .masalah kurs rupiah yg melemah...
    ya..terpaksa dalam 15 tahun kedepan mainan TNI AU T-50i korsel alias baby falcon ame sukhoi makasar ,yang sabar aje...hihihi.

    BalasHapus
  8. Pie kie...tenanan po????????

    BalasHapus
  9. Bagus pemerintah berkaca ketimur tegah thn 1967 perang arap israil , catatan emas israil parang 6 day war unggul di udara , jet tempur mirage israil buatan paris merajai di udara hanya beberapa bulan sjaa...setelah perang usai mirage israil di kandangkan karna kenak imbas sangsi embargo perancis mirage tidak boleh di pakai meyerang negara tetangganya di kawasan arap .

    BalasHapus
  10. sepertinya ada yang aneh. pengganti f-5 bukanlah sukhoi 35. medium-heavy fighter..?? sukhoi 35 adalah jajaran skuadron baru spt sukhoi 27 dan 30. jadi jangan berasumsi dlu klo f5 diganti su-35. sedangkan rafale dan grippen adalah pesaing untuk berebut pasar indonesia dgn ToT yang ditawarkan. bisa saja rafale mejadi pengganti f5 jika saja dassault mau membantu mengembangkan IFX. jika kerjasma dgn korea mentok..

    BalasHapus
  11. Sangat menarik tapi tahu dirilah kita jangan seperti pepatah ''Pungguk merindukan bulan." Kita tau sendiri berapa anggaran alutsiusta kita.Mau bikin mesin pesawat saja China menganggarkan hampir rp 200 trilyun.Kita mau tot dan beli sejumlah pesawat. .Mimpi.Kalo negara ini mau maju ambil aja tot mesin pesawat SNECMA sekalian dengan komposisi materialnya.Nantinya kan bisa dipakai buat IFX.Mengenai bahan baku sangat penting ,percuma bisa bikin tapi tak bisa dipakai karna belum apa apa sudah rusak seperti mesin buatan china yang belum operasional sampai sekarang karna tak menguasai materialnya.

    BalasHapus
  12. Jin rafa.....sy tunggu kedatangannya,....terimakasih bung nara atas infonya,....salam kenal.

    BalasHapus
  13. usaha tawar menawar yg dilakukan pihak Indonesia mantabz penuh ketelatenan dan kesabaran, tidak ada hasil memuaskan dari tindakan instant tho? semoga memperoleh hasil yg di ridhoi Nya...

    Amin...

    BalasHapus
  14. Kalo emg d twrnny bnr adny, ga ush pke mkir beli rafaleny tp sistem pembayaranny 50% saat semua sdh terealisasi temasuk slruh Tot ny dan sistem pembayaranny bersifat flat utk kurs saat pembelian..kira2 bs ga ya?? :-?

    BalasHapus
  15. Sumbernya mana nih ! jd kurang srek nih hati. haha :d

    BalasHapus
  16. Kok masih tetap dengan tulisan - tulisan absurd dan "nggampangke" = "easy as all" alias hoax di munculkan oleh analisator yang kowor-kowor.yang realitis saja lah.
    Preet ach!!!! .

    BalasHapus
  17. Partai Demokrat menang , maka kekuatan Ekonomi dan Militer akan semakin meningkat

    BalasHapus
  18. lebih bagus Mig-35 sebagai pendamping Su-35 first line fighter TNI-AU

    BalasHapus
  19. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  20. jika agreement itu benar dan sudah di approve dan telah sampai katanya ke "high decission maker" ya berarti sampai MEF tahap 2 selesai 2014-2019 tidak akan ada lagi penambahan pembelian pesawat tempur (disebutkan diatas saya hitung total 72 pespur kurun waktu 2014-2018). so..su35bm akan menjadi wacana pembelian untuk MEF 3 2019-2024 hopefully. namun jangan khawatir dulu para fans Big Papa Rusia..walaupun tidak jadi mendapatkan Su35..namun KS Kilo Class "or higher" kemungkinan sudah pasti kita dapatkan. karena itulah keputusan beli Rafale karena KS sudah kita "reserved" dari Big Papa Rusia.
    sekarang yang menjadi pertanyaan berapakah anggaran Pembelian alutista kita di periode 2014-2019 ? jika masih sama seperti tahun anggaran periode kemarin, hmm lebih baik kita melobby komisi 1 terlebih dahulu daripada melobby negara lain untuk minta discount alutista. saya rasa min. 1.8 % s/d max. 2 % dari PDB adalah angka yang wajar dan pantas untuk anggaran alutista, mengingat NKRI adalah sebuah negara Maritim yang cukup luas, serta potensial ancaman dari dalam dan luar yang juga sangat besar. maka bijaksanalah wahai para decission makers di DPR dan pemerintah..(membuat keputusan yang baik dari yang tersulit tidaklah susah..yang susah adalah membuat keputusan yang paling bijaksana dari yang tersulit). wassalam,

    BalasHapus