Ajakan Korea Selatan untuk terlibat dalam program pesawat tempur KFX /
IFX, adalah anugerah yang besar bagi Indonesia, sekaligus tantangan
kecerdasan bagi Indonesia untuk bisa masuk ke industri penerbangan
advance, jet super sonic. Korea Selatan telah merintis jet tempur itu
jauh-jauh hari sebelumnya sejak tahun 1990-an dengan nama jet supersonic
T-50. Dan kini mereka berada di persimpangan jalan, apakah akan
melanjutkan jet tempur KFX yang telah lama mereka rintis, atau hanya
memodifikasi F-15 yang ditawarkan Amerika Serikat menjadi F-15 SE
(silent eagle).
T-50 Golden Eagle trainer version
Setelah bergelut dengan konsep, disain, prototype dan ujicoba yang melelahkan selama 10 tahun lebih, jet T 50 akhirnya diterbangkan pada tahun 2002 dan bergabung dengan Republik Korea Air Force (RoKAF) pada tahun 2005. T-50 dirancang sebagai pesawat latih tingkat lanjut (supersonic) pengganti pesawat latih T-38 dan A-37, bagi calon pilot pesawat KF-16 (F-16 versi Korea Selatan) dan F-15 SE.
Disain dasar T-50 Golden Eagle berasal dari F-16 Fighting Falcon.
Keduanya memiliki banyak kesamaan, antara lain: penggunaan mesin
tunggal, kecepatan, ukuran, serta berbagai senjata dan elektronik. Korea
Selatan menggarap T-50 setelah KAI memiliki pengalaman memproduksi
lisensi KF-16. Pesawat lisensi KF-16 merupakan titik awal pengembangan
T-50. Sebelumnya Korea juga telah membuat pesawat baling-baling
turboprop KT-1 (Korean Trainer 1) Wongbee, sebagai pesawat latih dasar
yang dihasilkan Daewoo Aerospace (sekarang bagian dari KAI).
Program pesawat latih supersonic T-50 pertama kali dimunculkan tahun
1992 dengan nama KTX-2. Departemen Keuangan dan Ekonomi Korsel sempat
menangguhkannya hingga tahun 1995 dengan alasan kendala keuangan. Dengan
berbagai kendala yang dialami, rancangan dasar pesawat T-50 akhirnya
terwujud 4 tahun kemudian, pada tahun 1999. Proyek ini didanai
Pemerintah Korea Selatan 70 persen, Korea Aerospace Industries (KAI) 17
persen dan Lockheed Martin 13 persen. Pada bulan Desember tahun 2003
Angkatan Udara Korea Selatan melakukan kontrak produksi sebanyak 25
pesawat T-50, dengan jadwal pengiriman antara 2005 dan 2009. Pesawat
T-50 dilengkapi dengan radar AN/PG-67 dari Lockheed Martin.
Pesawat TA-50 light attack version
Program pesawat jet latih T-50 terus dikembangkan menjadi pesawat tempur ringan TA-50. Pesawat TA-50 adalah versi bersenjata dari pesawat latih T-50 yang ditujukan untuk memimpin pelatihan tempur serta serangan kilat. TA-50 memiliki platform: tempur penuh untuk bom presisi, rudal udara ke udara, serta rudal udara ke darat. TA-50 juga ditingkatkan kemampuannya dengan peralatan tambahan untuk: pengintaian, penargetan serta peperangan elektronik. Pada tahun 2011, skuadron pertama TA-50 varian serang ringan mulai operasional.
Pesawat FA-50 multi-role fighter version
Varian lain dari T-50 adalah FA-50 yang memiliki kemampuan pengintaian dan peperangan elektronik. Varian FA-50 terbang perdana tahun 2011 dengan kemampuan multiperan yang disejajarkan dengan KF-16 (F-16 versi Korea). Korea Selatan memproduksi 60 pesawat FA-50 pada tahun 2013 hingga tahun 2016. Angkatan Udara Republik Korea (RoKAF) berencana memiliki total 150 Fighter FA-50 untuk menggantikan F-4 Phantom II dan F-5.
F-50 Cooming Soon
Setelah berhasil membuat multi-role fighter, hendak mengembangkannya lagi menjadi lebih canggih yakni F-50 dengan sayap yang diperkuat, radar AESA, bahan bakar internal lebih banyak, peningkatan kemampuan peperangan elektronik, serta mesin yang lebih kuat. Sayap yang diperkuat diperlukan untuk mendukung tiga launcher senjata di bagian bawah sayap. Radar AESA diharapkan memiliki kesamaan 90% dengan radar AESA program upgrade radar AESA KF-16. Pesawat T-50 diubah ke konfigurasi kursi tunggal agar ada ruang menampung bahan bakar internal yang lebih banyak. Selain meningkatkan peralatan perang elektronik, daya dorong mesin juga ditingkatkan, 12-25% lebih tinggi dari daya dorong mesin FA-50.
Dengan demikian, evolusi dari pesawat supersonic Korea Sealtan
adalah: T-50 Golden Eagle trainer version, TA-50 light attack version,
serta yang terbaru FA-50 light multi-role fighter version. Adapun
program terbaru mereka adalah F-50, yang kemudian disebut KAI KF-X dan
menjadi KFX / IFX setelah Indonesia menyertakan siap mengucurkan modal
20 persen dari biaya produksi pesawat.
Indonesia – Korea Selatan
Sebelum mengajak Indonesia bekerjasama membuat KFX/IFX, jalinan Indonesia dan Korea Selatan telah dibangun dengan
pembelian 16 pesawat TA-50 varian serang dengan nilai kontrak 400 juta USD, pada bulan Mei 2011. Pesawat TA 50 ini akan dikirim ke Indonesia pada tahun 2013, untuk menggantikan pesawat BAE Hawk dan A-4 Skyhawk yang telah usang. Pada tahun 2008, TNI AU juga memiliki 17 pesawat latih baling-baling turboprop KT-1Bs Korea Selatan. Hal yang sama dilakukan Korea Selatan dengan membeli sejumlah CN 235 dari PT DI.
Angin Perubahan
Terpilihnya Presiden Korea Selatan yang baru Park Geun-hye, pada 25
Februari 2013 tiba- tiba saja membawa perubahan. Korea Selatan
memutuskan untuk menunda pembangunan pesawat jet tempur generasi 4,5
KFX/IFX, dengan alasan belum menguasai beberapa modul KFX. Di saat yang
sama Korea Selatan akhirnya memutuskan untuk membeli F-15 SE dari
Amerika Serikat, sebagai armada tempur yang baru. Alasan yang
disampaikan, Korea Selatan tidak bisa bergantung dengan proyek KFX/IFX
di tengah ketegangan yang terus meningkat dengan Korea Utara.
Apakah Korea menunda pembangunan KFX/ IFX karena alasan belum
menguasai beberapa teknologi atau akibat tekanan politik ?. Ketika Korea
Selatan membangun jet latih T-50 tidak terlihat ada rintangan. Namun
saat mereka memutuskan masuk kepembuatan pesawat tempur sesungguhnya
KFX/IFX, rintangan itu datang dan Korea Selatan menunda proyek KFX.
Hal yang mirip terjadi dengan Indonesia. Ketika Indonesia membangun
pesawat kecil CN 235 dengan CASA Spanyol, tidak ada rintangan dan
berjalan mulus. Akan tetapi ketika Indonesia masuk ke pesawat dengan
kapasita lebih besar N-250, rintangan datang dan hingga kini N-250 tidak
pernah diproduksi massal. Konon katanya akibat tekanan asing.
Apakah yang terjadi dengan Korea Selatan dan Indonesia, hanya
kebetulan, alasan teknis atau betul akibat tekanan asing ?. Tidak tahu.
Tapi mari kita coba apa yang terjadi dengan Jepang.
Pesawat Tempur Jepang
Pada tahun 1985, ketika ekonomi Jepang sedang berkembang pesat, negara itu berencana membuat jet tempur kelas satu, untuk menggantikan Jet Tempur Mitsubishi F-1 generasi 3 yang akan pensiun di pertengahan tahun 1990-an. Para insinyur Jepang pun telah melakukan riset dan jet tempur baru itu akan diberinama Fighter FS-X.
Atas tekanan Amerika Serikat, Jepang diminta membatalkan niatnya
membangun Jet Tempur FS-X, dengan alasan teknologi Jepang belum mampu
membuat pesawat tempur generasi 4. AS berupaya mengecilkan hati Jepang
serta membujuknya untuk bergabung mengembangkan dan memodifikasi pesawat
tempur yang telah dimiliki Amerika Serikat.
Setelah melakukan negosiasi yang sulit bertahun-tahun, Jepang
akhirnya setuju mengembangkan modifikasi pesawat F-16 Lockheed Martin
dan dimulai tahun 1989. Pesawat itu disebut F-2.
Tiba-tiba saja di tengah jalan. pembangunan F 2 ini mendapatkan
kritikan dari Kongres Amerika Serikat. Pembangunan jet tempur itu
dianggap gerbang bagi Jepang untuk mendapatkan teknologi mutakhir, yang
merupakan rival AS dalam hal ekonomi. Tekanan dari dalam negeri membuat
Presiden George Bush terpaksa menunda kesepakatan. Lima tahun sejak
kerjasama ditandatangani, proyek itu tidak juga terlaksana. Jepang pun
marah dan frustasi: membuat pesawat sendiri tidak boleh, mengembangkan
F-16 dihalang-halangi.
AS akhirnya mengirim tim ke Jepang untuk mengetahui sejauh apa
kemampuan teknologi dirgantara dari negara Jepang, sehingga kerjasama
nanti tidak satu arah, dalam artian hanya AS yang melakukan transfer
teknologi bagi Jepang. Setelah melakukan inspeksi, tim ini menyimpulkan,
teknologi Jepang masih tertinggal jauh dan tidak ada keuntungan
teknologi yang bisa diterapkan AS untuk pesawat tempur modern mereka.
Amerika Serikat akhirnya menekan pemerintah Jepang untuk menerima
bentuk kerjasama pembangunan pesawat F-16C dengan modifikasi minimal
yang sebenarnya ditolak oleh R & D militer Jepang. AS memutuskan
untuk membatasi transfer teknologi kepada Jepang. AS pun mulai bergeser
dan memanfaatkan kerjasama ini untuk komersialisasi keuntungan mereka
dengan memasok teknologi kelas dua.
Jepang menganggap transfer teknologi yang diberikan AS, masih kalah
jauh dengan konsep konsep fighter FS-X yang akan mereka bangun. Di
tengah rasa frustasinya Jepang terus melanjutkan program pesawat tempur
F-2 dengan berbagai perubahan yang mereka inginkan. Jepang membuat
sendiri software komputer untuk flight control F-2. Jepang juga membuat
disain unik untuk sayap pesawat tempur tersebut. Disain sayap yang unik
ini mencuri perhatian AS dan memintanya, namun Jepang tidak memberikan
teknologinya. Hal ini akibat AS juga tidak memberikan data dari pesawat
F-16 C.
Jepang akhirnya bisa mengontrol seluruh pembangunan F-2 disaat AS
melangkah setengah hati. Tekanan tekanan politik yang diberikan AS
justru membuat insinur Jepang melakukan berbagai modifikasi pada pesawat
FS-X dan menemukan aplikasi teknologi baru. Antara lain teknologi
pembuatan sayap pesawat tempur dari material komposite, menggantikan
aluminium. Dengan teknologi ini sayap pesawat F-2 lebih ringan, namun
kokoh dan kuat. Jepang juga menemukan teknologi fire control radar dan
sejumlah sistem avionik modern.
Setelah berpolemik dan bergulat dengan teknologi selama 11 tahun, F-2
akhirnya diproduksi pada tahun 1996 dan terbang pertama kali tahun
2000. Pesawat ini dibuat oleh Mitsubishi Heavy Industries sebagai
kontraktor utama bekerjasama dengan sub-kontraktor: Lockheed Martin
Tactical Aircraft Systems, Kawasaki Heavy Industries dan Fuji Heavy
Industries.
Pada awalnya Jepang memesan 130 pesawat F-2. Pesawat itu akan dibuat
hingga tahun 2011. Namun pada tahun 2004 Jepang memutuskan untuk tidak
melanjutkan pembelian peswat F-2 karena dinilai terlalu mahal. Produksi
F-2 akhirnya terhenti pada pembuatan airframe ke 76. Amerika Serikat
akhirnya ikut merugi, karena pesawat F-2 tidak jadi dibuat sebanyak 130
unit. Sementara fighter FS-X yang didisain Jepang akhirnya tidak
terwujud.
Jepang memiliki pengalaman pahit dengan Amerika Serikat, namun proyek
itu mengantarkan Jepang untuk menguasai teknologi baru pesawat tempur,
antara lain dengan meng-upgrade teknologi ketinggalan jaman yang
dikomersilkan oleh AS. Proyek F-2 yang memakan biaya sangat besar
mengantarkan Jepang ke teknologi pesawat tempur advance.
Pesawat Counterstealth Jepang
Kini. di saat negara-negara maju masih dalam tahap awal produksi pesawat tempur generasi kelima, Jepang justru telah mempersiapkan konsep dan desain pesawat tempur generasi keenam dengan kemampuan anti pesawat siluman / counterstealth.
Menurut Jane’s Defence, pesawat tempur generasi ke-6 ini akan dibangun berdasarkan pesawat konsep ATD-X (Advanced Technology Demonstrator-X) generasi ke lima Jepang. Pesawat ATD-X sendiri dijadwalkan terbang perdana tahun 2014 -2016 nanti dan telah dikerjakan sejak tahun 2007. Jepang tidak akan memproduksi banyak pesawat generasi kelima ATD-X, melainkan hanya hanya akan digunakan untuk meriset berbagai teknologi yang lebih maju dan integrasi sistem, sebagai dasar untuk memproduksi pesawat tempur generasi keenam.
Rencana penggelaran pesawat tempur generasi kelima berteknologi
stealth Chengdu J-20 oleh China dan Sukhoi PAK-FA T-50 oleh Rusia
membuat Jepang memandang proyek pengembangan pesawat tempur masa depan
ini sangat mendesak. ”China dan Rusia masing-masing akan menggelar
Chengdu J-20 dan Sukhoi PAK-FA T-50 dalam waktu dekat. Kami tahu 28
radar kami efektif mendeteksi pesawat generasi ketiga dan keempat dari
jarak jauh, tetapi dengan munculnya pesawat-pesawat generasi kelima ini,
kami tak yakin bagaimana kinerja radar-radar itu nantinya,” ujar Letnan
Jenderal Hideyuki Yoshioka, Direktur Pengembangan Sistem Udara Institut
Pengembangan dan Riset Teknis Kemhan Jepang.
Dalam konsep Jepang, pesawat tempur generasi keenam akan memiliki
kemampuan i3 (informed, intelligent, instantaneous) dan memiliki
karakteristik counterstealth. Pesawat generasi keenam inilah yang
digadang-gadang akan menggantikan armada F-2, pesawat tempur yang
diproduksi berdasar platform F-16 buatan AS.
Meski tidak mengalami hambatan teknologi, Jepang diperkirakan
menghadapi rintangan politik dari AS yang selama ini keberatan jika
Jepang mengembangkan pesawat tempur sendiri. Salah satu alternatif yang
akan ditempuh Jepang adalah mengajak AS mengembangkan bersama pesawat
tempur generasi keenam ini. Sebuah situasi yang menjadi berbalik, ketika
dulu tahun 1985, AS mengajak Jepang memodifikasi F-16.
Dengan kasus Jet Tempur Korea Selatan dan Jepang tersebut, kira-kira
seperti apa cerita pembangunan jet tempur KFX/IFX Indonesia nanti ?.
Indonesia harus cerdik dan bermental baja.
Sumber : JKGR
Dari artikel ini kesimpulannya adalah ;
BalasHapus1. Pengaruh amerika masih sangat besar di dunia, termasuk di Indonesia. Ini dibuktikan dengan dibatalkannya pengembangan roket R-Han 300 yang di gadang2 memiliki jangkauan hingga 100 km.
2. Kita harus cerdik mencermati ini semua, jika Korsel dan Jepang saja berhasil kenapa Indonesia tidak.
3. Maka seperti ulasan di atas, Indonesia wajib mempelajari pesawat tempur yg berteknologi tinggi (siluman) tetapi membuat yg berteknologi standar (G4) sekelas F-16. Dari sini ketika politik memutuskan untuk membuat pesawat siluman atau semi siluman Indonesia sudah sanggup. Hal ini untuk menghindari tekanan AS. (Kita pelajari A - Z, tapi kita membuatnya hingga F saja)
4. Harus ada rood map yg jelas mengenai pengembangan pesawat tempur, karena akam memakan waktu lebih dari 10 tahun.
5. Semua ini membutuhkan kerja keras dan dana. Maka tanpa dukungan dari pemerintah tidak akan berhasil. Sama seperti Korsel dan Jepang diatas, pemerintah mendukung penuh.
6. Karena proyeknya memakan dana hingga puluhan triliun maka harus diawasi secara ketat anggarannya.
Setuju mas bro..
HapusBelajar dari pengalaman pembangunan pesawat N - 250 yg nota bene 100% adalah karya anak bangsa, merupakan titik awal keberhasilan SDM kita dlm hal penguasaan "highteh" yg selama ini di dominasi pihak asing.
BalasHapusDi pihak lain, ada yg terusik dg kebangkitan penguasaan "hightech" oleh negara yg baru tumbuh dan berkembang yakni negara Barat yang telah sejak lama menguasai technology tinggi.
Intinya mereka tidak "rela" hegemoni secara "multi aspect" thd negara - negara yg sedang tumbuh kembang dapat mempengaruhi dan bahkan membahayakan mereka di masa yad.
Contoh konkrit, walau Hindustan Aircraft Industries milik India itu demikian besar dan telah mampu menguasai technology rancang bangun pesawat dan helikopter berbagai variant dan type, toch sampai sekarang HAI tetap tidak mendapatkan ijin untuk membuat mesin turbin gas / jet dari pihak manapun. Itu merupakan suatu bukti betapa technology tinggi pembuatan pesawat tidak dengan mudah di transfer ke pihak lain.
Seiring dg rencana pembuatan pesawat KFx / IFx antara Korea Selatan dan Indonesia, ternyata tidak hanya modal semangat, SDM dan uang semata bisa mewujudkan "impian" tsb ada " x factor" yg harus dilewati dan di tembus untuk menuju keberhasilan "impian" secara riil nanti.
Kapan?......... Hanya waktu yg menentukan nanti.
Untuk itu, sambil menunggu "Godot" sebaiknya kita berpikir positip dg memanfaatkan penawaran penjualan pesawat tempur dari mana saja asal nya yg telah melewati pertimbangan " renstrat " Han kita yg di sertai dg jaminan "ILS" yg merupakan kesatuan yg tidak dipisahkan dlm kontrak pembelian / pengadaan dan merupakan nilai "++" yg tak terhingga apabila pihak penjual juga memberikan fasilitas "MRO" di negeri kita.
Namun kalau hanya program jual - beli yg " assually " no comment.!!!!
Untuk manusia yg slalu mencela dan menggoblokkan pemerintahnya bacalah dan fahami artikel di atas!!! Untuk buat alutsista itu walaupun kita mampu belum tentu bisa di aplikasikan!!! Banyak hal yg yg mempengaruhi!!!
BalasHapuskalau tidak salah, diantara hibah F-16 terdapat 2 pesawat yang bisa di oprek".. jika boleh usul, pergunakan saja pesawat yng udh usang buat di teliti dan dipelajari. bukannya Indonesia ini jago'nya modifikasi ?
BalasHapusBro Ersato@ seluruh material yg bersifat strategis jgn harap kita mendapatkan ToT-nya dg mudah.
BalasHapusApalagi yg namanya roket.!!!
Walau kita tidak meratifikasi MTCR, yg terdiri dari 43 negara, kiranya kita tetap saja akan di persulit untuk mendapatkan bahan baku ;
1. Propelan sebagai bahan baku motor roket.
2. Pipa khusus untuk " body " roket / rudal.
3. Material khusus lain yg berkaitan dg keperluan pembuatan roket / rudal.
Apabila selama ini LAPAN berhasil dan mampu melesatkan roket dg berbagai ukuran yg telah berjalan hampir 50 tahun lebih sejak kelahirannya karena bahan - bahan tersebut diatas berkaitan dengan program " Research " belaka.
Akan lain halnya kalau LAPAN berubah menjadi produsen Roket untuk keperluan bisnis apalagi rudal saya yakin "MTCR" akan berulah.!!!!
Percayalah, karena anggota MTCR ini adalah raksasa -raksasa MNC.
Nggak percaya, simak kejadian di Sudan dimana pabrik ammo kecil milik pemerintah Sudan di hancur leburkan oleh UAV karena mampu membuat "phyroteknik" alias membuat serbuk amunisi sendiri yg dikawatirkan kemampuan membuat bahan phyroteknik ini di masa yad dpt membahayakan pihak " sekutu " MNC.
Sedang Indonesia bahan phyroteknik yg dibuat khusus hanya untuk keperluan produksi " dynamit " bagi kepentingan usaha pertambangan.
Pabrik tsb ada di Bontang, Kaltim kerjasama PT DAHANA dg PT Armindo yg telah lama menjadi supplier bahan peledak pertambangan.
Pabrik barunya di bangun di Subang menggantikan pabrik lama di Tasikmalaya. ( nama bahan phyrotekniknya adalah " Ammonium Nitrat ")
dan tanpa di ramu dg senyawa kimia lain, tdk akan menghasilkan "Propelan" dan roket / rudal tanpa motor roket "Propelan" bukan roket / rudal. Mercon sreng made in Parung, Bogor.
intinya lbh menguntungkan bli jd drpd buat sndiri.....
BalasHapuskomisi....komisi.....komisi...........
Saya setuju dg ano 09.39, bahwa SDM kita memang jago " ngoprek " atau "othak - athik gathuk" sdh banyak yg terbukti dari mulai senjata serbu FNC menjadi SS dg berbagai varian terbaru karena sang pemimpin memang " Jago dan seneng Ngoprek "
BalasHapusNamun kalau pesawat terbang tempur sekelas F -16, masih sangsi " Boleroes11" karena aspek strategisnya, mungkin secara disassemble dan assemble tidak menjadi masalah kan ada gambar rencananya, tapi yg jadi problem dan jadi masalah dari mana kita mendapatkan sumber material yg kita inginkan? Contoh dari avionik "darto" = radar moto kita rubah menjadi sistim computerized digital yg sdh advanced, ok, tidak mudah sumber yg kita inginkan untuk membeli mudah untuk mengeluarkan material tersebut karena dari aspek ekonomi sangat menguntungkan namun dari aspek politik akan terganjal dg " export license " dari Country of Origin, kecuali dg model " smuggling" yg belum tentu mulus, bahkan ke mungkinan akan di tangkap dan di penjarakan. ( Ingat kasus " Hawaii dan Guam ".).
Kita bangga dg adanya perusahaan anak bangsa yg telah berhasil membuat peralatan "Avionik" pesawat seperti yang ada di Surabaya, yg jadi pertanyaan mampukan mereka mendapatkan sertifikasi produk yg lulus dari audit kelayakan international?
Kecuali kalau kita " meureum " nggak perlu sertifikasi " ntutndang" seperti yg diceritakan mas Budi Santoso ke saya, kalau jualan pesawat ke Afrika tidak perlu ada jaminan sertifikasi apa2, toh kalau mal function ya sdh nasib...he....he.....he...... masih banyak yang lain, he....he....he.....
Ini, "Bolereoes11" heh, opo abamu. He....he....he.....
Kalo berita dari JAKARTA GREATER memang bagus dan berbobot materi pembahasannya
BalasHapusGood Good....!!!
Kali ini saya setuju dengan Ano 09.39 dan Om Boler hahahahaha....
Pesawat F 16 Hibah dari Amerika kalo ga salah totalnya 26, yang 2 pesawat bisa laaah diotak atik saya yakin Indonesia mampu.
Crane diPelabuhan yang bekas aza bisa dimodif dengan canggihnya, sampe Pelaut luar negri sampe geleng2 kepala wkwkwkwkwkwkwkwkw.......
Technology Crane pelabuhan ya jauh banget dengan technology pespur sekelas F-16, ndoro bei, yg satu penuh dg technology mekanik dan dg disiplin ilmu setingkat "SMK" di banding dg technology pespur yg multi disiplin ilmu setingkat S.3.
BalasHapusTapi ya terserah wong namanya komen...........siapa yg nglarang, namun mohon pertimbangan seperlunya sebelum nulis komen, mundak di geguyu ......he.....he.....he.....
Ini"Boleroes11" heh, opo abamu. He....he.....he..........
Drpada tdk jelas,buang2 waktu+duit.mending berfikir buat cari alternatif lain.doyan banget borosin duit sama yg belum jelas.haha
BalasHapusAno 11,57.. Otak loe cetek bro... Typikal anak alay mau'y serba instan serba cepet mau enak doang ga pake kerja keras dan cerdas... Kalo ada 1000000 orang indonsia ky loe ga bakal maju ini negeri.. Typikal banged lo broer...
BalasHapusmantap emng ulasan bung boleroes11,jelas dan terarah....ngmng2 Bung Boleroes11 dulu tamatan dr hansip RT mana Bung bs ahli gt soal militer?by: Anthon Kei
BalasHapusNamanya juga usaha ya gak boleh takut gagal , rasa khawatir dan curiga yang berlebihan adalah penghambat utama untuk menjadi lebih maju, yang penting tetap waspada
BalasHapus@ bung boler ; mohon pencerahannya, apakah setiap perangkat avionic buatan negara sendiri harus ada lisensi audit kelayakan internasional ? khan pesawat yg kita bikin bukan untuk di jual, tapi di pakai sendiri..
BalasHapusAno2 yg terhormat!... uang/kekayaan ato ilmu yg kita ( bangsa Indonesia) pilih?...
BalasHapusTerlepas dr hitung2an strategi menghadapi negara2 G8, bangsa ini tentu harus terus berjuang mewujudkan cita2nya dg motivasi dan cara pandang yg kita yakini benar...
Ano 15.49 yg baik, masalah perangkat avionic apakah diperlukan sertifikasi atau tidak itu tergantung pada standard yg dipakai.
BalasHapusContoh untuk menentukan apakah timbangan kita betul, persis, dan standard ya harus di kalibrasi oleh badan metrologi dept perdagangan yg tunduk pada induk metrologi international di Paris.
Perlu atau tidak menurut saya ya sangat perlu karena menyangkut keselamatan jgn sampai terjadi kecelakaan yg merenggut nyawa manusia gara - gara "Altimeter" yg dipakai tidak standard, di penunjuk tertera angka 10 padahal harusnya 08 lha ini akan nabrak obyek yg berkaitan dg peta navigasi yg standard.
Kecuali untuk kendaraan darat, "Kph" menunjuk angka 60 padahal menurut standar kecepatan harusnya 30. Tapi ada untungnya ada alasan /alibi " Nih kecepatannya sdh 60 km padahal baru 30 km, sehingga lebih lama waktu perjalanannya dg kekasih sampean" he.....he.....he......
Ini, "Boleroes11" heh, opo abamu. He....he....he............
@ bung boler : 86..terima kasih atas pencerahannya..
BalasHapusSeluruh kegiatan "Iptek" di negara kita tidak akan terlepas dari pengaruh negara-negara yg telah terlebih dahulu maju "Iptek"- nya.
BalasHapusKarena yg akan di praktekan disini sebenarnya mengacu pada "Iptek" yg telah di "Patenkan" di negara-negara maju tsb.
Jadi jgn " chauvinistis" spt Jerman dg slogan " Deutsland Uber Alles " kita sebagai anggota masyarakat dunia tidak dpt berdiri sendiri, suka tidak suka harus menerima kenyataan ini.
Masalahnya bagaimana dg berbekal ilmu " humaniora " dpt ikut aktief berperan serta sebagai bagian masyarakat dunia yg "equal" saling asah, asuh dan asih.
Apabila kita dpt menempatkan diri sebagai bangsa yg beradab, dan punya jati diri yg teguh pasti bermatabat dan di segani oleh pihak manapun, dan jalan untuk berbagi "Iptek" akan mudah kita peroleh.
( Maaf kok kebanyakan komen, sudah ya." Boleroes11" isin dengan anggota PP2A yg lebih segalanya dibanding "Boleroes11").
Ini, "Boleroes11" heh, opo abamu. He....he.....he......
segala hal kalau tidak mengandalkan ALLAH akan terasa sulit,kalau ALLAH kita jadikan tempat kita meminta maka saudara saudara akan merasakan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin,sesuatu yang mustahil menurut fikiran kita maka tidak akan menjadi mustahil ketika AllAH berkehendak.rasakan keajaibannya.KHUSUS MUSLIM
BalasHapusSetuju dg ano 20.48 dg catatan ; Kalau urusan dunia ayo kita selesaikan dg ilmu dunia dimana setelah kita kerahkan daya upaya dg ulet dan tanpa lelah kita serahkan hasilnya kepada Allah untuk mendapatkan ridhlo dan berkahnya. Masalah berhasil atau tidak, kesemuanya kita kembalikan kehadiratNya, karena Dialah pemutus yg paling baik, penentu dan pemutus segala yg paling bijak, kita hanya di wajibkan berusaha.
BalasHapuscoba liat jepang tuh diatas, atau iran dan china... mereka bisa buat pesawat walau tanpa persetujuan barat dan amerika. tidak perlu licensi mereka. toh buat di pake sendiri. sukur2 kalau ada yang mau beli. kita juga boleh buat standar sendiri berikut pengujianya. masak nguji timbangan saja musti pergi ke amerika.
BalasHapusdari pada beli ke amerika dan sekutu baratnya, diembargo sedikit lansung deh mati armada kita. kita jangan berkecil hati. Tuhan menciptakan umat manusia dengan potensi yang sama. sama2 bisa belajar dan berakal. jangan hanya beranggapan kalau ras2 tertentu saja yang mampu..
Ano20.50, Alhamdulillah dg "spirit" ano yg tetap terjaga untuk mandiri dlm masalah produk pespur dlm negeri.
BalasHapusYg harus di ingat dan perlu diamati, Iran membuat pespur itu kebanyakan adalah dg cara ; Refurbishment, Refitt pespur ex Amerika Serikat.
Sedang China : Melakukan "Plagiat Teknik" dari Russia.
Jepang : melakukan hal yg sama seperti China
Kesimpulannya, Iran, China, Jepang semua melakukan "Copy Paste".
Bahkan pada perang Pasifik tahun 1940. - 1945, Jepang berhasil membuat pesawat tempur " Zero " dan pembom " Mitsubhisi " full hasil karya ilmuwan Jepang, namun ilmu Aerodinamika, dan lainnya tetap saja ilmu dasar di adopsi dari ilmu yg sdh terlebih dahulu di kembangkan oleh dunia penrbangan Barat.
Nggak usah jauh2 kalau ano punya hitungan = 2x2 adalah 4, dari mana asal hitungan itu? Muncul dari kita kemudian di akui secara universal?
Tentu tidak. Jadi semangat it's Okey, Sir, tapt masalah technology penerbangan ya kita harus berkiblat pada technology penerbangan Barat, nggak usah gusar, karena untuk mencapai ilmu yg universal tsb harus melalui kegiatan riset ratusan tahun.
Apa ano mau memulai riset baru sekarang agar hasilnya nanti dpt sejajar dg hasil riset Barat? Ya, monggo semoga berhasil, tapi kalau hanya sekedar komen, sih.........sama saja ngajak suloyo dan ombyokan.....alias kata orang Suroboyo, pokoke kalah menang nyirik...........
Pokoke wani omong, ........Pokoke komen......kate opo koen..........???
Pokoke............!!!!
Ini, "Boleroes11" heh, opo abamu. He.....he......he............
PT.PAL menyatakan proses tot kapal selam dgn korsel merugikan kepentingan nasional.sikap mencla-mencle korsel seharusnya RI waspada dan jeli.kita butuh ketegasan.
BalasHapusAno 18.38 protes saja ke mereka yg membuat kebijakan, ato ano 18.38 yg mau membuat ketegasan dalam masalah ini, "Boleroes11" dukung deh!!
BalasHapusGimana, dan kapan ano 18.38 akan mengeluarkan penegasan?
Ini, "Boleroes11" heh, opo abamu. He...he....he.....
tulisan ini adalah motivasi agar kita terus maju walaupun dalam tekanan. AS memang tak ingin ada pesaing dalam teknologi militer untuk itu mendekati lawannya atau berdikari adalah jalan terbaik, daripada berharap dari sekutunya yang rentan di tekan oleh kepentigan negara adidaya rersebut,
BalasHapus