Kamis, Agustus 07, 2014
0
Inggris : Blokade Gaza, Israel Terlalu Berlebihan 

GAZA-(IDB) : Kebijakan pembatasan berlebihan melalui blokade-blokade dari Israel di wilayah Palestina dengan alasan keamanan adalah hal yang tidak dapat dibenarkan. Demikian pernyataan Komite Pembangunan Internasional, Parlemen Inggris, pada Rabu.

"Kami keberatan dengan pernyataan bahwa kebijakan blokade-blokade yang menghalangi pertumbuhan ekonomi di OPT (wilayah Palestina yang terokupasi) adalah hal yang dibutuhkan untuk keamanan Israel," tulis laporan dari komite itu.

Laporan Komite Pembangunan Internasional secara khusus menyatakan prihatin atas situasi di Hebron, sebuah kota yang terletak di selatan Tepi Barat.

"Kami terkejut saat menyaksikan Hebron. Meskipun kami menghormati kebutuhan Israel soal keamanan, alasan itu tidak dapat digunakan untuk membenarkan sejumlah kebijakan yang membatasi pergerakan warga Palestina di Hebron karena berdampak buruk bagi kehidupan dan kesejahteraan ekonomi," tulis laporan itu.

Komite yang bertugas mengawasi kementerian-kementerian Inggris bidang internasional itu juga mendesak London dan Eropa untuk berperan menghapus kebijakan pembatasan yang menghambat perkembangan ekonomi warga Palestina.

Penerbitan laporan dari parlemen muncul satu hari setelah salah seorang menteri Inggris, Baron Sayida Warsi, mengundurkan diri karena kegagalan pemerintah Inggris untuk mengecam pembunuhan warga sipil di Gaza oleh Israel. 


Obama : Blokade di Gaza Harus Dihentikan 
 Sebuah pernyataan yang terbilang langka kembali diutarakan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama. Dirinya mendesak agar Israel segera membuka blokade terhadap Gaza.

Melansir VOA, Kamis (7/8/2014), Obama menegaskan, sudah cukup bagi warga Palestina di Gaza kehilangan akses kepada dunia. “Palestina khususnya, Gaza tidak bisa selamanya tertutup dari dunia,” ungkap Obama.

Obama menegaskan penghentian blokade itu semata-mata harus dilakukan demi warga sipil di Gaza. Menurutnya, blokade yang selama ini dilakukan oleh Israel menghambat kemajuan ekonomi Gaza, yang membuat warga sipil di Gaza menderita.

“Gaza tidak akan bisa berdiri sendiri, mereka tidak akan mampu menyediakan lapangan kerja yang berakibat pada pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut,” Obama menambahkan. Pemimpin AS itu sendiri menyatakan masih tidak memiliki rasa simpati kepada para pemimpin Hamas yang saat ini memerintah Gaza.

Obama juga menyatakan menyambut baik upaya perbicangan gencatan senjata yang dilakukan oleh Palestina dan Israel di Kairo. Gencatan senjata dianggap bisa sebagai langkah awal untuk mewujudkan perdamaian di anatara Palestina dan Israel.


Dunia Harus Desak Israel Cabut Blokade Gaza  

Perdana Menteri Palestina, Rami Hamdallah menyerukan dunia internasional untuk melakukan intervensi kepada Israel agar mencabut blokade di Gaza. Hal tersebut disampaikan Hamdallah di hadapan delegasi Italia yang mengunjungi Palestina kemarin.

Melansir Waffa, Kamis (7/8/2014), Hamdallah menerima dua delegasi Italia di kantornya untuk membahas mengenai situasi di Gaza. Dua delegasi tersebut adalah Fabrizio Chiquito, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Parlemen Italia, dan Konsulat Italia David Sicilia.

Di hadapan kedua perwakilan Italia tersebut, Hamdallah menjelaskan kondisi di Gaza yang menurutnya sudah seperti penjara terbuka. “Gaza adalah penjara terbuka bagi warganya, mereka sudah 8 tahun hidup di sana,” ucap Hamdallah.

“Israel melakukan blokade di Gaza bukan hanya di darat, mereka menutup Gaza dari seluruh penjara, baik dari udara, maupun dari laut. Hal ini harus segera diakhiri karena melanggar norma-norma internasional dan kemanusiaan,” Hamdallah menambahkan.

Salah satu delegasi Italia, Fabrizio Chiquito menegaskan, negaranya siap untuk sepenuhnya bekerja sama dengan semua pihak guna mengakhiri blokade di Gaza. “Italia adalah salah satu negara pelopor dalam mendukung rehabilitasi Gaza,” ucap Chiquito.

Sebelumnya, desakan untuk mengakhiri blokade di Gaza juga diutarakan oleh Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Menurut Obama, sudah cukup bagi warga Palestina di Gaza kehilangan akses kepada dunia.



Sumber : Republika

0 komentar:

Poskan Komentar