Sabtu, Januari 26, 2013
19
BATAM-(IDB) : Kementerian Pertahanan berencana untuk menyerahkan sisa kontrak kebutuhan kapal cepat rudal 40 kepada PT. Palindo Marine, Batam. Sebelumnya perusahaan ini sukses memproduksi KRI Clurit 641, KRI Kujang 642 dan KRI Beladau 643.
Palindo masih punya 'hutang' satu unit KCR 40 lainnya yang ditargetkan rampung akhir tahun ini. Jika selesai, TNI AL akan memiliki empat unit kapal dari 16 unit KCR 40 yang ditargetkan hingga tahun 2019 mendatang.
"Dari kajian TNI AL, kami cenderung untuk menyerahkan kontrak produksi KCR 40 kepada Palindo," ujar Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Mayor Jenderal Ediwan Prabowo kepada Tempo, Jumat, 25 Januari 2013 usai menerima protocol of delivery KRI Beladau 643 dari Palindo.

Palindo Marine sendiri baru menandatangani kontrak untuk produksi empat unit kapal cepat rudal dari 16 kapal yang ditargetkan dalam target minimum pengadaan alat utama sistem persenjataan. "Pertimbangan untuk meneruskan kontrak dengan Palindo antara lain masalah perawatan kapal," ujar dia.


Direktur Utama Palindo Marine Harmanto mengaku siap untuk meneruskan kontrak produksi KCR 40. "Kami tidak masalah jika target pengadaan kapal dipercepat," kata Harmanto.
Pembuatan KCR 40, ujar dia, membutuhkan waktu 12 bulan untuk setiap unit. "Tapi tidak masalah karena kami bisa kerjakan secara paralel." Ahak--panggilan akrab Harmanto, mengaku mampu membangun lima kapal cepat rudal sekaligus.

Namun Kementerian Pertahanan mengakui masalah pendanaan masih menghambat percepatan produksi KCR 40. Tiga unit kapal yang sudah diproduksi, seluruhnya menggunakan skema pinjaman dalam negeri. Bank Mandiri selaku bank milik pemerintah ikut membiayai pembuatan kapal senilai Rp 75 miliar per unit.

Kapal cepat rudal sepanjang 44 meter ini terbuat dari high tensile steel pada bagian lambung dan aluminium alloy di bagian atas. KCR 40 dapat melaju hingga 30 knot, atau kurang lebih 60 kilometer per jam. 




Sumber : Tempo

19 komentar:

  1. lha KCR dari PAL mana ????
    kok 1 aja belum jadi...

    BalasHapus
  2. Jangan KCR terus dong yang di buat, Fregat atau destroyer gtu.........................

    BalasHapus
  3. KCR juga keren gan
    bisa nge track di laut trus tembak rudal jangkauan ratusan KM
    ini bkl bikin repot para kapal musuh

    BalasHapus
  4. Kapal Perang kok di ajak track2-an macam grass track ajah, hi...hi...hi...
    yah jelas rudalnya gahar dan huebaaattt lah, belum nanti ditambah rudal 3,4 dan 5 digit buatan orang2 pinter Indonesia, pasti kapal perang Malingshit keok belum kalau dipasangi dan dikejar torpedonya, waah ... kecirit, cirit tuch kapal perang Malingshit, ya nggak? Hi....hi....hi..... belon tau dia. Hi....Hik....hik

    BalasHapus
  5. Siaap, Gan kalau cuma kelas gituan seh, encer.... hi....hi....hi.....ntar dibuatin dech destroyer, frigatte, corvette dan kapal kecil-kecil lainnya pesenannya situ, tapi ngemeng - ngemen sudah tarok uang muka belon??

    BalasHapus
  6. gak pa2 buat KCR aja yg banyak asal terwujud daripada buat Proyek PKR tapi cuma wacana doank....
    KCR kalo di kasi senjata kayak USS John Paul Jones di Film Battleship pasti semua bilang Woooww......

    BalasHapus
  7. Buat kapal selam juga donk biar tetangga seblah gak main-main lg sama kita...

    BalasHapus
  8. banyak omong semua nich, mirip bakul obat dipasar

    BalasHapus
  9. Sabar2 masbro,PT PAL itu masih dlm pemulihan jadi ya masih butuh proses,tahun 2011 aja doi masih defisit Rp 1T++,tahun 2012 dengan dukungan semua pihak doi dikasih injeksi dana,tahun ini doi baru bisa proyeksi aja supaya dapat profit,jadi wajar klo wamenhan komplain,beda ama PINDAD ato PT DI,yg udah mulai sehat karena udah ngehasilin profit,klo PKR kontraknya udahkan pertengahan 2012 total keseluruhan proyeknya 49 bulan + beberapa masalah yg lom kelar,salah satunya PT PAL sedang mempersiapkan infrastrukturnya buat ngedukung pembuatan PKR..Klo belajar dari nol buat kapal selam ya butuh tahunan masbro apalagi kelas kilo,makanya dibuat loncatan tekhnologi yg ringan dolo kayak CBG dari korsel walau nambah $300jt buat TOT dan infrastrukturnya..yaa semua butuh proses..jadi alutsista yg belum mampu dibuat dan dipenuhi didalam negeri karena tergolong Hightech, ya beli untuk sementara sambil dipelajari,kecuali mau main instant,tinggal naikin aja anggaran militer ampe 3% aja dari GDP,terus tinggal beli keluar dan tetap bergantung sama pihak luar soal alutsista bereskan..^^

    BalasHapus
  10. Ngomongin kapal selam .....ada yg tau infonya masalah kapal selam kilo Milik TNI......sbenarnya TNI punya apa gk itu kapal selam.....?????? masalahnya aku baca di Wikipedia , dstu nama indonesia termasuk sebagai pengguna......tlong infonya gan....X aja ada yang bapak nya jendral dsni, jd tau bocorannya.

    BalasHapus
  11. Indon gaduh nak macam orang mabok..... Ha...ha...

    BalasHapus
  12. Klo wa saranin nih ya masbro,klo wiki itu jgn terlalu dijadiin acuan,soalnya harus teliti memilah mana yang benar atau yang salah,soalnya bukannya Wiki bisa diedit? coba masbro wa saranin cari infonya minimal kayak dari SIPRI,IHS Jane's dll..klo masalah KS Kilo wa juga nggak ngerti soal gosip RI punya lebih dari 3 KS walaupun di media asing ada yg nyebut udah kontrak tapi masih ada kemungkinankan dibatalin,soalnya setau wa KS kita cuma 3, 2 yang Ops ama yg 1 lagi ada di Monkasel..dan seandainya mungkin disini ada anak jenderal wa juga nggak yakin dia tau,soalnyakan yang jenderal itukan bapaknya,apalagi klo dia berani buka2 dokumen negara punya bapaknya,ntar ketahuan disangka melakukan spionase,berabe ampe ke bapaknya juga masbro..^^

    BalasHapus
  13. KCR juga ga pa2, apalg buat yg byk dgn snjata yg maut jangkauan'a smbil brtahap utk mmbuat KRI yg lbh besar. Yg pntg anggaran jgn d gerogoti koruptor.

    BalasHapus
  14. jangan lupa buat nambah heli anti kapal selam ya????? kedatangan mama ely kemaren kok denger2 nawarin harrier juga plus rudal sea sparrow, lo cuma rudal starstreak ama suku cadang hawk kok kayaknya gak mungkin...pokoknya ati ati aja tawaran british ada udang dibalik rempeyek....

    BalasHapus
  15. ini wa juga lagi denger lagu slank yg judulnya "seperti para koruptor" lagunya sih enak,slank gitu loh,tapi ngederinnya rasanya gimana gituu masbro..awkwkwkw..

    BalasHapus
  16. PT PAL kondisi skrg sedang acak kadut. Pertama mismanagement yang kedua adlh juru masaknya alias spesialis2 technologinya sudah mawut. Palindo itu sebagian besar SDM ex PT PAL, termasuk beberapa org ada di DSME Korean Ginseng. Dulu, waktu masih Konatal membuat dry dock di Ujung yg sekarang sudah diakuisisi PT PAL, kegiatan replatting, perbaikan senjata terutama meriam, dan kemudian perbaikan kapal selam klas "Whiskey" jarang yang dikerjakan pihak swasta. Hampir seluruh kapal-kapal perang ALRI waktu itu sudah mampu diperbaiki di Konatal.
    Mengapa? Karena dedikasi dan motivasi SDM-nya yg kebanyakan adalah anggota ALRI sendiri plus ex anak-anak muda hasil gemblengan STM-C AL, Morokrembangan mencucurkan keringat dan pikirannya seutuhnya pada pekerjaan, tidak ada semisal memassukan perusahaan luar milik pegawai KONATAL untuk jadi sub kontraktor kemudian peralatan dan fasilitas KONATAL disewakan kepada sub kontraktor tapi duitnya masuk kantong sendiri.Nggak tahu saya kalau hal tersebut di tubuh PT PAL sekarang, semoga tidak, ya.Jadi PT PAL untuk kembali sehat masih jauh, walau sdh ada usaha recovery diantaranya pengiriman SDM ke DSME dan Dammen untuk belajar. Namun wa berharap kualitas penyerapan ilmunya ya sedapat mungkin sekelas dg senior2-nya yg kabur. Bayangkan dalam satu dekade ratusan SDM PT PAL hengkang. Negara kita rugi besar sebenarnya, disatu sisi sebagian kecil SDM kita berT-T duitnya.
    Jadi untuk kedepan, restrukturisasi dan manajemen baru harus segera dilaksanakan dengan audit yg benar, kalau tidak, sayang sekali investasi yg sedemikian besar mubazir. Dari sebagian kapal yg diproduksi FPB 57, 28 lisensi dari Lursen dan disempurnakan oleh SDM kita, sebenarnya PT PAL sudah mampu membuat kapal perang kelas Corvette atau mungkin Frigatte ini terlihat dari contoh Kapal Perang yg akan dibuat.
    Dulu pada tahun 1987, sudah ada proyek kapal cepat dengan rudal "Exocet" MM 38 wah bagus sekali kapalnya, yg merancang BP. Laksma Wulang Widodo beliau seorang Specialis rancang bangun kapal perang lulusan Jerman mungkin KRI "Clurit" klass itu juga hasil rancang bangun beliau. . Waktu itu sudah pada tahap finishing untuk dilaksanakan pengelasan lunas kapal, namun kalau nggak jadi kita nggak tahu apa penyebabnya, namun mungkin akibat campur tangan asing yang tidak ingin Indonesia maju di industri alat perang, mungkin, lho.
    Hal ini juga terbukti, begitu kita dapat State Credit dari Oom Putni 1(satu) Milyar dollars, kita mengajukan permintaan Kapal Selam "KILO" dan di approval oleh Ruskie, ternyata juga nggak datang-datang kapalnya yang datang malah BMP-3F dan senjata yang nilai strategisnya dibawah Kapal Selam kelas "Kilo". Ya sudahlah kita serahkan pada orang-orang pinter sekarang mau dijadikan dan bagaimana PT PAL itu yang akan datang. Yang penting jangan tipu anak cucu kita dengan cerita yang diputar balik.
    Maju Indonesiaku

    BalasHapus
  17. kalo ane sih pengennya Indonesia perbanyak torpedo. baik radar yg aktif atau yg pasif. Toh Indonesia udh bisa bikin sendiri terpedo licensi jerman, denger2 udh bisa bikin sendiri murni. kalo bisa semua kapal dengan panjang 60 meter ke atas wajib menggendong terpedo minimal 4 unit. Ditambah ama pesawat2 patroli CN-235. Soalnya gan mengingat negara sekeliling kita lagi jor2an beli KS.

    BalasHapus
  18. Yaa bagus d perbanyak kcr-nya
    Lagian kita perlu banget kcr g cuma kapal" perang besar
    Soalnya kan laut timur ama laut barat kedalamannya beda
    Ada yang dangkal ada yang dalam
    Kalo semua pake kapal besar trus ad penyusup d laut dangkal atau kejahatan d lautan misalnya perompakan hayo gimana

    BalasHapus
  19. > ersato Torpedo SUT buatan PT DI itu benar Licensi dari Jerman , namun seluruh bahan masih dari Jerman kita disini hanya menjahit. Kita belum membuat Torpedo sendiri, yang sudah ada Torpedo campuran soto sop kambing.

    BalasHapus