Minggu, Maret 09, 2014
11
JAKARTA-(IDB) : Panglima Kohanudnas Marsda TNI Hadiyan Sumintaatmadja bersama Kadisinfolahtaau Marsma TNI Johny Kadarma, SE saat berdiskusi dengan Pangkosekhanudnas I Marsma TNI Tri Budi Satrio, Pati Staf Ahli TK II Bid Was Aspas Hubint Panglima TNI Marsma TNI Agus Sudarya, SH, S.E, M.M, M.Sc, Staf Ahli Menhan Bidang Industri dan Teknologi, Kabalitbang Kemhan, Kabaranahan Kemhan, Staf LIPI, Staf BPPT, Kasubdis Iptek Dislitbangau, Kasubdis Radar Diskomlekau, Dandepohar 50, para pejabat Kohanudnas, Kosekhanudnas I, KKIP, serta perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi elektronik tentang membangun Industri Radar Nasional dalam rangka mewujudkan sistem pertahanan udara Nasional yang handal di ruang rapat Makohanudnas Halim Perdanakusuma Jakarta, Jumat (21/2). 

Pada diskusi tersebut, Pangkohanudnas mengatakan agar kita sebagai anak bangsa memiliki komitmen untuk bisa mewujudkan pembangunan Industri Radar Dalam Negeri. Sebagai anak bangsa kita harus memiliki semangat untuk bersatu mewujudkan pembangunan ini, dengan demikian kita tidak tergantung dengan luar negeri dan kerahasiaan sistem pertahanan udara dapat terjamin.

ITT Exelis Tawarkan Radar Kepada Kohanudnas


Panglima Kohanudnas Marsda TNI Hadiyan Sumintaatmadja dan Kas Kohanudnas Marsma TNI Bonar Hutagaol saat mengikuti presentasi Radar Portable LCR-2020 Medium Range dan S-3D Long Range yang merupakan produk USA di ruang rapat Makohanudnas Halim Perdanakusuma Jakarta, Kamis (6/3). Presentasi tersebut diikuti oleh Pangkosekhanudnas I Marsma TNI Tri Budi Satrio dan para pejabat Kohanudnas dan Kosekhanudnas I.




Sumber : Kohanudnas

11 komentar:

  1. Penginnya mah kituh, mun kita sudah tertinggal puluhan tahun untuk dapat mandiri dalam masalah technology radar dimana perkembangan technologinya sudah berevolusi sedangkan kita tidak ada ilmuwan yg dapat diandalkan dalam hal ini, plus kita tidak di dukung oleh industri dasarnya.
    Bukan pesimis, tapi kenyataan yg ada demikian.
    Oleh karena itu dapat di kurangi ketergantungannya dengan pihak sumber technology Radar, dengan optimalisasi di bidang perawatan dan perbaikan.

    BalasHapus
  2. Kalau technology Radar sebaiknya kita beli saja jangan mempunyai keinginan untuk membuat sendiri, kita sudah ketinggalan sangat jauh di aspek technologynya.
    LIPI dan salah satu perusahaan nasional yg ingin membuat radar saja sampai sekarang belum ada lagi ceritanya, karena seingat saya "Source Code" Radar tersebut hasil pemberian dari salah satu perguruan tinggi di Delft, Belanda dengan catatan hanya untuk keperluan riset.
    Dan apabila akan di komersilkan hanya diijinkan untuk keperluan Radar Navigasi Sipil dilarang untuk di kembangkan bagi keperluan militer.
    Saya setuju apabila kita cukup mempersiapkan SDM serta fasilitas Harkan ( Pemeliharaan dan Perbaikan) yang untuk itu saja sudah memerlukan biaya tinggi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. belinya ke barat atau ke timur ni ano 08.36?

      Hapus
    2. Barat boleh timur juga gpp.
      Yg penting mendapatkan ToT level 3 jangan hanya level 1.

      Hapus
    3. Memang sudah tertinggal. Tp bukan berarti ndak bs di kejar. Minim menjadi yg terbaik di asia tenggara. Tp tdk menutup kemungkinan untuk berbelanja dr luar negri. Soalnya untuk belajar butuh banyak waktu.

      Hapus
  3. anggaran habis untuk diskusi dan analisis,
    lihat iran, tiba2 muncul senjata baru ,diskusinya setelah jadi senjatanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terus?? mana sekarang senjata barunya? udah berapa biji yang diproduksi? udah berapa biji yang terbukti efektif dalam peperangan? Mana pesawat stealth yang dipamerin kemaren? Mana bukti pesawatnya udah terbang? nggak ada kabarnya juga.

      Iran bikin senjata baru cuma untuk pencitraan di kalangan negara Muslim.

      Hapus
  4. IRAN BANGGA KARNA SENJATANYA BENAR" UDAH JADI N MANDIRI.


    INDON SOMBONG DENGAN SENJATA KHAYALAN DAN SENJATA RONGSOKAN

    GITU AJA SOMBONG,,,BESI TUA BIKIN TETANUS...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ogh. Emg lu bisa apa?

      Hapus
  5. sebaiknya yang masih bersifat diskusi atau planning ga usah di expose. Klau sudah berjalan boleh lah. dari rakyat jelata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Juatru di Indonesia itu harus banyak omong kalau nggak ngomong nanti di sangka nggak berbuat.
      Nah, untuk ngomong - ngomong itu di bayar negara dan ada anggarannya yg di sebut t"Simposium, Rakernis, Presentasi" dll.
      Persoalan hasil kan ada berupa makalah, kalau hasil konkrit nanti saja, yg penting ngomong - ngomong dulu sampai berbusa kalau perlu adu argu sambil gelut.
      He....he.....he..... gaya birokrat Indonesia yang masih di pelihara sampai sekarang.
      "Sedikt kerja, banyak bicara" he....he....he........ini baru Macho.!!!!

      Hapus