Rabu, Maret 13, 2013
30
Sukhoi Su-27
ARTILERI-(IDB) : Percaya atau tidak, Australia saat ini tengah berusaha untuk mengatasi ancaman yang bisa ditimbulkan oleh jet-jet tempur Sukhoi di Asia Tenggara. Dalam beberapa dekade terakhir, jarak yang jauh dan minimnya jangkauan pesawat-pesawat tempur angkatan udara di Asia Tenggara, memang masih memberikan rasa aman bagi Australia. Namun untuk saat ini, keamanan Australia terkikis oleh kedatangan jet-jet tempur super manuver Sukhoi 27 Flanker dan Sukhoi 30 Flanker C.

Jet-jet tempur Sukhoi ini sudah melengkapi Angkatan Udara China, Indonesia, Malaysia dan Vietnam dalam jumlah yang besar. Kedatangan Sukhoi ini telah membuka "teater baru" di Asia Pasifik. Pilot Angkatan Udara Australia, yang semula menganggap dirinya dominan karena menggunakan F-18 Hornet dan pembom F-111 Aardvark, sekarang harus "menutup muka" dari Flanker Sukhoi yang memang unggul hampir pada setiap aspek. Akuisisi Sukhoi Su-27SK dan Su-30MK buatan Rusia ini oleh negara-negara di Asia Tenggara, menyajikan sebuah kenyataan bahwa dimana F/A-18A/B/F Australia kalah dalam hampir semua parameter kinerja utama, baik oleh Su-30 maupun Su-27.

Dari perspektif analisis strategis, akusisi alutsista canggih oleh negara-negara marginal stabil seperti Indonesia atau pemain regional lainnya, harus menjadi perhatian yang serius - walaupun ini masih diluar jumlah mengesankan yang diakuisisi oleh China. Kedatangan alutsista jarak jauh seperti Sukhoi dan suite rudal canggih di kawasan Asia Tenggara memang bisa meresahkan Australia, dan menyajikan konteks strategis yang sama sekali baru.

Manuver Sukhoi ( misal: Pughacev Cobra*  ) memang legendaris, dengan jangkauannya yang lebih dari 3000 km, memberikan Flanker Sukhoi keunggulan dalam pertempuran udara. Memungkinkan untuk melakukan taktik probes and U-turns berulang (sebuah taktik Perang Dingin Rusia), yang dapat membuat lawannya bingung dan rentan dalam sebuah pertempuran udara. Memburu Sukhoi akan menjadi salah satu pekerjaan yang paling berbahaya dalam pertempuran.

Bahkan, jangkauan yang luar biasa dari Sukhoi ini dapat ditingkatkan dua kali lipat dengan air refueling (pengisian bahan bakar di udara). Bayangkan bagaimana kekuatan Sukhoi Indonesia jika suatu hari diperkuat dengan pesawat tanker, pasti sangat meresahkan Australia. Untuk saat ini, Sukhoi-sukhoi Indonesia dapat memperjauh jangkuannya dengan pengisian bahan bakar dari Sukhoi lainnya, dimana setengah armada Sukhoi akan di isi oleh setengah Sukhoi lainnya.

Ancaman Rudal

Sukhoi memiliki 12 hard point (cantelan senjata), ini lebih banyak dari pesawat tempur lain. Fitur ini membuat Sukhoi mampu untuk membawa pack senjata yang mematikan, yaitu seluruh amunisi rudal dan bom pintar. Biro-biro senjata Rusia telah mengembangkan dengan baik berbagai macam rudal udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan -termasuk rudal jelajah- yang pada beberapa kasus kemampuannya belum bisa disamai senjata-senjata NATO. Sembilan puluh empat pesawat Hornet Australia ini akan sangat rentan terhadap Sukhoi yang melampaui jarak pandang rudal.

Australia juga khawatir dengan kerentanan platform gas dan aset industri lainnya di pesisir timur negara mereka. Defence Today menjelaskan "Dari sudut panjang senjata, sebuah rudal supersonik Raduga 3M-82/Kh-41 Sunburn, MBRPA 3M-55/Kh-61 Yakhont atau rudal jelajah subsonik anti-kapal Novator 3M-54E1 Alfa sangat efektif untuk melumpuhkan atau bahkan menghancurkan salah satu fasilitas besar dalam sekali serangan. Rudal ini didesain untuk membelah kapal perang kecil dan menimbukan kerusakan parah pada kapal perang besar (lihat test Yakhont yang dilakukan TNI AL). Kecelakaan industri dan kebakaran di pabrik petrokimia dan anjungan lepas pantai sangat mudah terpicu karena hal-hal kecil, dan dapat dipastikan sebuah serangan rudal ini dapat membuat kebakaran yang tak terkendali."

Kapal Induk AS Sebagai Sasaran Empuk

Kedatangan Sukhoi di Asia Pasifik juga menambah kerentanan terhadap kapal induk bertenaga nuklir milik AS. Militer Amerika sudah bersiaga, dimana CVNs (kapal induk dan pendukungnya) sudah dalam status siaga perang melawan Sukhoi.

Di masa lampau, kapal induk bertenaga nuklir, dilindungi oleh lingkaran kapal pendukung dan pesawat AWACS, dan tentu saja pesawat tempur mereka sendiri, mampu berlayar ke wilayah konflik mana saja tanpa rasa takut. Namun, itu sejarah.

Saat ini, semua kapal induk AS yang mencoba mendekati pantai China akan ditarget oleh Sukhoi berbasis darat dan akan menembakkan rudalnya pada jarak yang aman. Pada hakikatnya, lahirnya Flanker Sukhoi telah mengakhiri era diplomasi kapal-kapal perang Amerika.
Kemampuan Pilot

Angkatan Udara Australia bukan angkatan udara besar, namun mereka menganggap dirinya terlatih, dengan pilot-pilotnya yang suka berfikir bahwa mereka mirip dengan Maverick dari Top Gun. Mereka dilatih sesuai dengan standar barat yang diyakini bahwa ini akan menjadi faktor penentu dalam perang. Namun, keterampilan pilot, seperti halnya alutsista canggih, juga dapat diimpor. Pilot India, yang saat ini termasuk dalam jajaran pilot terbaik di dunia, kini melatih Angkatan Udara Malaysia. China dan Indonesia juga suatu saat akan menemukan aces udara sendiri untuk melatih pilot mereka, atau bisa saja mereka sudah menggenggam semua kemampuan Sukhoi di tangannya. Dalam sejarahnya, pilot-pilot pesawat tempur Indonesia termasuk salah satu pilot yang terbaik di dunia, bahkan menonjol di Asia.

Sebagai realisasi dan kesadaran mereka atas Flanker Sukhoi yang mendegradasi pertahanan dan keamanan Australia, akhirnya Australia memutuskan untuk mengakusisi pesawat tempur siluman dan menaruh pesanan untuk 100 unit F-35 JSF. Apakah ini akan mempengaruhi kedigdayaan Flanker Sukhoi? Ini masih cerita lain, belum jelas juga apakah Australia mampu mengakuisisi 100 F-35 mengingat harganya yang menggila. Untuk saat ini, Sukhoi 27 dan variannya masih superior dari fighter-fighter milik Australia.
 
 
 
 
 
Sumber : Artileri

30 komentar:

  1. dengan kata lain hasil Pitch Black 2012 yang lalu, hasilnya Sukhoi kita unggul?
    Menhan bilang kita hanya "mampu mengimbangi" Kornet.

    "Pertamax lagi mahal hahahaha"

    BalasHapus
  2. RAAF, apakah dirimu benar-benar mau memborong f35 vertikal take off landing?

    BalasHapus
  3. klo untuk sekutu apa sih yg gak dikasih??
    Tapi inget pesawat f35 aes beda sama f35 ausie apalagi untuk non sekutu.. Data f35 pernah dibobol sama hacker dri c&r tapi untuk data f35 aes itu aman karena tidak tersimpan dikomputer pentagon benar atau tidak kita lihat saja perkembangannya.

    Ayo dong indo nabung mulai dari sekarang. Agar bisa mengambil bagian dari pengembang PAK DA bersama pihak tupolev sebagai pengganti Tu-160 blackjack. Sekalian belajar membuat pesawat dikelas bomber kali aja nnti bisa buat sendiri.

    Oh ia menunggu itu lebih menyebalkan dari pada membatalkan !!

    BalasHapus
  4. Tak mungkin indonesia akan mengeluarkan seluruh ferforma sukhoi di depan musuh!!! Emang kita bodoh, pura2 kalah dalam latihan itu biasa, seperti uraian di atas jangan2 indonesia sudah memiliki seluruh kemampuan sukhoi???

    BalasHapus
  5. klo SU-35 ausi triaknya gmna ya???

    dngn radar sejauh 300Km dan jangkauan 4000Km

    BalasHapus
  6. menurut info yg sy dapat F-18 E/F mampu mengatasi Su-30 dan Su 27 SKM, untuk dogfight Su-30 dan Su-27 mampu mengatasi F-18 E/F karena memiliki daya manuver tinggi (terbaik) namun untuk pertempuran jarak menengah dan jauh keunggulan dimiliki oleh F-18 E/F karena dilengkapi radar Aesa dan K4ISR yang dimiliki Australia yg baik serta peperangan elektronika yang mampu menjammer radar sukhoi sehingga tidak mampu mendeteksi arah kedatangan F-18 kecuali jarak dekat sehingga Su-30 kita hanya mampu mengatasi F-18 E/F pada jarak dekat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idem gan sama seperti info yg saya dpt,....jadi yg superior yg mana yah??atau gini gan F 18 menang jarak jauh karena bantuan penginderaan dari pesawat AWACS,sedangkan untuk perang secara mandiri sukhoi memang superior....I love sukhoi & TNI AU

      Hapus
  7. Su-30 dan Su-27 SKM kita kalah teknologi di bidang radar dan sistem C4I australia, tapi mudah-mudahan Sukhoi kita sudah dilengkapi sistem IRST, yang ngga ada di varian F-18 E/F. berhubung australia juga punya varian EA-18 Growler dan Boeing 737 wedgetail, mungkin kalo duel udara kita bisa kalah karena skadron sukhoi kita ngga ada support dari alutsista lain selain radar yang ada di darat.

    BalasHapus
  8. jadi pesawat AWACS masuk dalam target serang yg harus dijatuhkan, sehingga para fighter tidak lagi bebas menggunakan keunggulan teknologi.

    BalasHapus
  9. SU35BM untuk sekarang sudah mampu menghabisi riwayat F35 JSF, untuk masa mendatang PAKFA menjadi yang terkuattt...

    BalasHapus
  10. orang lagi mimpi di suruh nulis.. hahaha
    maaf maaf nih bukanya mau menggurui.
    Setau saya klo dari udara Ostralie tuh benar benar sudah mateng tentang peperangan electronic, ini orang baru punya sukhoi ketengan aja udaaaaahh.......??

    EA 18G ini sebagai pengganti Grumman EA-6B Prowler jadi tau dong bahayanya pesawat ini. Dari missile apapun yg mengandung infared atau laser gak akan berguna. Tanpa awacs pun jadi.. klo ada yg mau mengusik pesawat ini kehadirannya pun bakal di rasakan dengan kedap kedipnya radar bila growler dalam kondisi aktif..
    Sementara dari armament yg su punya banyak yg mengandung infared dan laser..

    tentang menang atau kalahnya dari pesawat SU-27/30 dan F-18. Tergantung user dan bahan bakarnya.
    Kalo ada yg salah mhon maaf dan silahkan di perbaiki, Terimakasih.

    BalasHapus
  11. Thanks bung boler. F18 klh d jarak dekat sj, tp sdh jd alasan aussie buat peningkatan. Kita udah ketengan dan mbulet, g ada awacs, radar dan rudal rentan d jammer, gak pingin ngimbangin tetangga baik jumlah dan kuantitas. Sdh senang asal para tetangga puji2 & pura2 takut.

    BalasHapus
  12. Indonesia itu kan sukanya besar"in hal kecil, dan nutup"in hal yang besar/penting.
    Itulah bodohnya,
    Buat apa juga sukhoi cuma 16 ekor.
    F16 Juga ga dateng", apalagi Bekas AS juga, dah jelas tar dipasangi chip biar tau data"nya.
    Payaaaah

    BalasHapus
  13. jadi inget berita dulu kala.. kalo sukhoi indonesia pernah di kunci tembak ampe alarm di pesawat nya berbunyi tanpa tau siapa yg ngelock tu pesawat ampe sekarang...

    BalasHapus
  14. hmm solusi buat masalah diatas: beli baterai S-300 PMU-3 yang bahkan EA-18 Growler susah menjamming radarnya, deterence kita bakal meningkat jauh dari pada dapet F-16 hibah dari amerika

    BalasHapus
  15. sy rasa australia tidak terlalu khawatir terhadap sukhoi kita, coba kita bayangkan jika kita menjadi australia, pertama kekuatan peperangan elektronika mereka mempunyai radar jindale yang mampu secara akurat mengawasi udara dan laut sejauh 3.000 km, bila lolos mereka masih memiliki AWACS B 737 AEW & C Wedgetail dengan radius maks 600 km dengan kualitas Radar MESA, kemudian bila lolos masih ada EA-18 Growler Next Generation Jammer (NGJ) yang memiliki spesifikasi khusus jammer dengan AESA radar AN/APG 79 dan mampu membawa rudal Amraam yang mampu capai 180 km, belum lg dibantu dengan F-18 E/F mereka yang juga memiliki radar Aesa, sy rasa Su-30 & Su 27 SKM hanya akan kerepotan menghadapi Rudal mereka dan sudah pasti mereka akan menjaga jarak untuk menghindari dogfight karena untuk dogfight Sukhoi sudah pasti lebih unggul (manuver), namun pengalaman pilot mereka termasuk lebih baik karena mereka lebih kaya pengalaman selama bergabung di Nato yakni perang dunia 2, perang irak, perag di libya, kemudian keputusan parlemen mereka akan menambah jumlah EA-18 dan F-18 E/F automatis mereka sudah mengetahui kelemahan Su kita sehingga mereka mengambil keputusan itu.....So kalo sy jd australi....sy ndak akan takut, tp ketika sy kembali jd org indo.....rasanya jd BONEK......thanks

    BalasHapus
  16. klo masalah dogfight F-37 Talon vs SU-37 Terminator lebih waow dari pada F-18 SH dan Su-27 flangker.
    produk amrik dan rusia sama sama sama punya tujuan dagang gak lebih dari itu..
    Yg ada skrg ini, bagaimana caranya indo mempromokan barang dagangannya biar bisa dikenal di dunia hi-tech dan militer..

    Tak kenal maka tak saya. menunggu 18 bulan emang menyebalkan !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dapet kode pesawat dari mana bro? Sepengetahuan saya Talon itu kode pesawat latih derivasi penempur F 5, yaitu T-38 talon....F 37 memang ada? Terus saya juga baru denger F 18 ada varian kode SH (adanya A/B/C/D/E/F sama varian G)...dan penulisan Flanker bukan Flangker...

      Hapus
  17. Sekarang cpetan neken beli s300 Sama su35-bm.
    Paling lama 2th lg bisa dateng..
    Pas barengan sama datengnya f35 ostrali.
    Kan detterennya sama tuh.
    Itupun kalo uangnya gak diembat DPR dulu.

    BalasHapus
  18. Anonim 14 Maret 2013 23.02 1. dapet kode dari film stealth. http://www.bvog.com/?post=IDp8ZCYddrazPvlrm
    2. Trus emg knapa klo super hornet di gnti dgn penyebutan SH? jg flanker menjadi flangker?

    BalasHapus
  19. Hahaha sumber kok film....cek dulu nyata nggak tu pesawat...kenapa nggak masukin duel Flanker VS X - Wing nya luke skywalker Star Wars..

    BalasHapus
  20. husst kalo flankernya di bangga banggain terus nggak nambah nambah udah...
    Kabooooooooorrrrr

    BalasHapus
  21. Well yang jelas kita itu negara yang tidak lagi berperang, pilihan paling logis ( kalo KSAU memang logis) adalah memperbanyak pesawat pendeteksi baik AWACS atau ASW, menambah jumlah pesawat transpor, sama menambah radar early warning dan baterai rudal SAM di seluruh indonesia.... S-300 sudah cukup buat detterance, dimana radar dari S-300 juga bisa berfungsi sebagai radar early warning yang cukup berguna di wilayah indonesia yang luas ini

    BalasHapus
  22. S300 DAN S400 klo bisa diakusisi yah bolehlah. tapi kelihatanya masih agak sangsi. Kecuali rudal anti satelit yg sedang di kembangkang china dan rusia.

    http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2012/03/26/2/449480/tiga-jurus-as-untuk-melawan-rudal-pembunuh-kapal-induk-df-21d-rrt.html

    http://www.boeing.com/defense-space/military/ea18g/index.html

    http://military.people.com.cn

    http://www.peopleforum.cn/redirect.php?tid=28827&goto=newpost

    BalasHapus
  23. pada pinter semua...knapa gak pada daftar jadi presiden....?????...jadi biar pada bisa membangun Indonesia kita tercinta ini...biar gak ketinggalan sama negara tetangga kita...

    BalasHapus
  24. Kita m,mang hrs nambah su27/30 n su35 terbaru

    BalasHapus
  25. semua mata hanya tertuju pada AS dan Rusia.lupakah kalian kalau di asia sendiri sudah ada negara berkembang yg berhasil mengungguli teknologi AS. Iranlah satu-satunya negara di dunia yg bisa menangkap drone AS dlm keadaan utuh.setidaknya ada dua yg diketahui publik.ScanEagle dan RQ-170 Sentinel.Nama terakhir di klaim sbg drone tercanggih AS,tp dihadapan Iran AS tdk ada apa-apanya.Iran juga sudah mengembangkan sistem rudal yg lebih canggih dari S-300 tp masih di bawah S-400.Iran juga mengembangkan drone sendiri bahkan sudah memproduksi pesawat tempur sendiri.Semua kemajuan itu mampu diraih Iran dalam kondisi di embargo selama puluhan tahun.Iran membuka pintu lebar2 bagi negara yg ingin belajar dari Iran agar bisa lepas dari jerat neokolonialismedan neoliberalisme. Pertanyaannya,kenapa pemerintah tdk membalas proposal kerjasama dari Iran???

    BalasHapus
  26. Kita sdh masuk perangkap jaring laba2 AS, shg kita menjaga pemberian F-16 agar tdk ngambek dan lucunya lagi kita di bodoh2i utk beli pasawat F-16 yg ndak jelas hasilnya sdh berkoar2 kekuatan TNI AU. Belajarlah dr sejarah NKRI nantikan tahu siapa diri kita, sebaiknya utk TNI bgmn utk selanjutnya? dan akan sadar bahwa kita hrs swasembada alutsista sendiri. Contoh, cina, india dan iran sdh berhasil.

    BalasHapus
  27. saya pernah membaca kalo iran sdh mnawarkan kerjasama dngn indonesia dalam pembuatan pesawat tempur,rudal dan kapal selam?
    bener ga sie?kl bener knp pemerintah tidak mnindaklanjutinya?
    BODOH KALI PEMERINTAH KITA YA?

    BalasHapus
  28. cape coopooottt deeee . . . . :-s

    BalasHapus