Selasa, Oktober 21, 2014
4
JAKARTA-(IDB) : Tadi malam, Senin (20/10), Presiden Joko Widodo bertemu Perdana Menteri Australia Tony Abbott di Istana Merdeka, Jakarta. Itu adalah lawatan ramah tamah (courtesy call) ketiga selepas dilantik. Tamu pertama adalah Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Liong jadi yang pertama menemui. Keduanya berbincang sekitar 15 menit. Berikutnya Perdana Menteri Malaysia Dato Sri Najib Razak.

Pertemuan Jokowi dan Abbott berlangsung rileks. Keduanya tampak tertawa.


Selepas pertemuan, Presiden Jokowi mengaku mereka membicarakan beberapa isu penting. Salah satunya soal kerja sama meningkatkan investasi serta kerja sama di bidang pendidikan.


"Kalau dengan perdana menteri australia membicarakan mengenai, juga hal yang berkaitan dengan investasi, pelajar kita yang banyak di sana, punya mereka juga yang banyak di sini. Itu kira-kira," ujarnya, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (20/10).


Dalam pertemuan itu, Tony Abbot secara langsung menyampaikan undangan kepada Jokowi untuk hadir dalam pertemuan G20. "Itu yang paling penting, mengundang untuk hadir di G20," katanya.


Lewat courtesy call tadi malam, Abbott meredakan tensi dengan sang presiden anyar. Tiga hari sebelum dilantik, Jokowi menyampaikan sinyal akan lebih ketat menjaga wilayah perbatasan laut Indonesia-Australia.


Pekan lalu, Jokowi sempat diwawancara eksklusif oleh Fairfax, salah satu media Negeri Kanguru. Dalam kesempatan itu, mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengingatkan Angkatan Laut Australia agar tidak sembarangan memasuki wilayah laut Indonesia, saat mengirim balik kapal pencari suaka.


"Kami akan kirimkan pesan, bahwa tindakan (pelanggaran wilayah laut) tidak dapat dibenarkan. Kita punya hukum internasional, mari hormati hukum internasional," kata Jokowi akhir pekan lalu.


Pesan pemimpin baru Indonesia itu terhitung keras, menurut surat kabar Inggris the Guardian. Sepanjang 2013, terjadi lima kali insiden kapal AL Negeri Kanguru memasuki perairan Tanah Air. Isu kapal imigran gelap cukup sensitif terhadap hubungan Indonesia-Australia.


Hubungan Jakarta-Canberra tahun ini pun memanas, setelah Wikileaks mengungkap adanya penyadapan Ibu Negara Ani Yudhoyono oleh intelijen Australia tiga tahun lalu.


Walau Jokowi menggunakan retorika nasionalisme saat membicarakan relasi kedua negara, Abbott merasa tidak ada ancaman di dalamnya. Dia meyakini sikap Presiden RI baru ini sebagai ajakan meningkatkan kerja sama bilateral.


"Ucapan Pak Jokowi sangat memberi semangat, beliau sosok karismatik dan inspiratif. Saya kira ini peluang bagi Australia untuk memperbarui dan memperkuat hubungan dengan tetangga kita yang penting ini," kata Abbott selepas menghadiri pelantikan Jokowi di Komplek MPR/DPR.



Sumber : Merdeka

4 komentar:

  1. biar kurus tapi bernyali, daripada ngaku jendral cuman bisa curhat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yg kurus jadi punya nyali, krn sudah dikasih "peninggalan maknyus" sama si jendral. hehehe...dan pak abbot pasti sdh dengar cerita dari anak buahnya yg panik dan buru2 kabur saat kepergok di laut sm peninggalannya pak sby..
      trimakasih pak sby..

      Hapus
  2. Keberanian tanpa perhitungan itu bunuh diri. Kita harus jujur peninggalan Pak SBY terhadap peningkatan alutsista TNI. Menyebabkan Indonesia mulai disegani. Pemimpin berikutnya tinggal meneruskan.

    BalasHapus
  3. ingat kata Soekarno : "Jika asing memuji artinya bohong, jika asing menghina artinya takut!!"

    BalasHapus