Selasa, September 02, 2014
0
MOSCOW-(IDB) : India semakin khawatir dengan lambatnya kemajuan dari proyek Fifth Generation Fighter Aircraft (FGFA). FGFA adalah proyek bersama India dan Rusia untuk membangun pesawat tempur generasi kelima untuk Angkatan Udara India (IAF).


Salah satu yang menjadi kegundahan India adalah sikap Rusia yang tidak menjelaskan penyebab terbakarnya prototipe pesawat tempur siluman T-50 saat uji coba bulan Juni lalu dan juga terhadap beberapa keraguan teknis lainya yang juga tidak dijelaskan Rusia kepada India. Bahkan, Kementerian Pertahanan India memandang skeptis laporan Rusia yang menyatakan bahwa desain final T-50 sudah di tangan.



Dilaporkan, India sangat jengkel dengan kenyataan bahwa meskipun kedua negara ini setara dalam proyek FGFA dalam urusan keuangan, India enggan berbagi rincian teknis pesawat tempur siluman T-50, yang mana proyek FGFA akan berdasarkan desain pesawat ini. Soal pendanaan, bisa dikatakan bahwa pendanaan proyek FGFA juga menjadi sebagian dana pengembangan untuk proyek PAK FA (proyek untuk membangun T-50).



Versi T-50 untuk India, yang disebut sebagai Prospective Multi-Role Fighter (PMF), hampir sama persis dengan T-50, hanya terdapat sedikit variasi. Bahkan disebutkan juga bahwa uang India merupakan kunci keberlanjutan proyek PAK FA Rusia. Rusia dilaporkan telah membangun enam prototipe T-50, dan pada awal tahun lalu Rusia melakukan uji coba penerbangan untuk evaluasi teknis. Namun uji coba berakhir dengan terbakarnya T-50.



Yang cukup mengejutkan dan menambah kejengkelan India adalah dari tim India yang hadir pada saat uji coba, mereka tidak diperbolehkan berada di dekat T-50. India sangat ingin tahu penyebab terbakarnya T-50 tersebut, namun Rusia tidak pernah menjelaskan. India telah membayar USD 295 juta untuk desain awal PMF, yang mana desainnya telah diselesaikan tahun lalu, dan cukup logis jika pejabat India merasa khawatir dengan program FGFA yang terkesan merangkak pasca diselesaikannya desain awal. Dan satu hal, India juga dilaporkan belum puas dengan desain awal PMF dan juga mempertanyakan masalah pemeliharaan, mesin, fitur siluman, sistem  senjata, keamanan dan keandalan. India menilai tidak akan ada kemajuan jika masalah-masalah ini belum dituntaskan.



Apa yang ada di benak India tetap tidak terjawab bahkan setelah kedua pihak berdialog di bulan ini. Hanya sebuah jawaban yang sangat umum mucul dari Rusia: "Jangan emosional. Setiap dorongan lebih lanjut mengenai masalah ini hanya akan melahirkan pembicaraan lagi untuk menaikkan biaya proyek," menurut sumber media India. Maksudnya seperti ini, misalnya, pada tahun lalu Angkatan Udara India telah menyatakan ketidakpuasannya dengan mesin T-50, yang mana masih berdasarkan mesin Su-30. Akhirnya Rusia bisa menjanjikan mesin baru namun India harus menambah biaya proyek.



Hingga saat ini, belum ada satupun ahli penerbangan atau pilot India yang mengenal dengan baik T-50. Menurut India, Rusia tidak mengizinkan pilot India menerbangkan T-50, alasannya pilot negara asing dilarang terbang di wilayah udara mereka. Tapi India menyangkal aturan pembatasan tersebut, mengingat sebelumnya pilot India sudah menerbangkan Sukhoi dan MiG di wilayah Rusia. India menilai posisi mereka dalam proyek FGFA sangat tidak menguntungkan, selain hanya sebagai mitra keuangan.



Kewajiban yang harus dijalankan India dalam usaha patungan ini adalah membayar 13 persen dari proyeksi biaya proyek yang senilai USD 10,5 miliar (disepakati pada 2011), tapi pada kenyataannya India sudah membayar hingga 50 persen dari dana itu, hal ini dilaporkan laman India Today. Memang India tidak hanya berkontribusi dalam proyek hanya untuk pendanaan, BUMN pertahanan India Hindustan Aeronautics Limited (HAL) juga berkontribusi pada pekerjaan pembangunan meskipun hanya sebatas ban, instrumen navigasi dasar VOR-DME, pendingin radar, laser designation pod dan head-up display.



Awalnya India menginginkan sekitar 30-40 PAK FA dua kursi pilot agar juga bisa digunakan sebagai pesawat pelatihan. Namun karena PAK FA adalah pesawat berkursi tunggal, Rusia meminta dana tambahan sebesar USD 8 miliar untuk mengembangkan varian kursi ganda. Niat ini kabarnya dibatalkan India, dan India lebih memilih pelatihan dengan simulator.
 

Setelah penandatanganan kontrak desain akhir, setidaknya akan memakan waktu 94 bulan untuk menyelesaikan program pembangunan. Artinya Angkatan Udara India kemungkinan baru akan memiliki pesawat tempur generasi kelima pada dekade depan.
Sumber : Artileri

0 komentar:

Poskan Komentar