Senin, Agustus 18, 2014
5
Pengadaan Tank Leopard Harus Didukung Pemerintahan Baru.
 
JAKARTA-(IDB) : Kepala Puskom Publik Kementerian Pertahanan Brigjen Sisriadi kembali menegaskan, pengadaan MBT Leopard sudah melalui kajian yang tepat. Bahkan, kata dia, prosesnya sudah dibahas sejak belasan tahun lalu.

Tujuan TNI AD memiliki tank kelas berat juga karena negara tetangga telah memilikinya, meski dengan pabrikan berbeda. Namun, keinginan matra AD baru terwujud pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) karena anggaran tersedia.

Karena itu, Sisriadi menepis berbagai penilaian yang menyatakan pembelian MBT Leopard tidak tepat. Karena proses politik sudah selesai, dirinya berani mengklarifikasi masalah tersebut agar tidak ada informasi simpang siur di masyarakat.

"Jadi, Leopard tidak merusak jalan. Pernyataan saya ini jangan dikonfrontasi dengan presiden baru, yang mungkin ada pembisik. Pembelian tank kelas berat ini sudah dikaji Batalyon Kavaleri TNI AD sejak pangkat saya masih Letkol," kata Sisriadi dalam acara halalbihalal bersama wartawan di Jakarta, Minggu (17/8).

Menurutnya, karena sudah teken kontrak maka pemerintah baru harus menghormati keputusan Kemenhan. Pasalnya, pembelian yang sudah melalui tahap kerja sama dengan pemerintah Jerman tidak bisa seenaknya dibatalkan begitu saja, dengan alasan tidak cocok versi pemerintahan baru.

"Ini sudah kontrak, ada hukum, salah satu melanggar itu ada konsekuensinya. Pengadaan MBT ini sudah melalui simulasi, semuanya logis. Kalau ada wacana mau mengkaji, dari aspek apa? Kalau dinilai berat? Leopard ini ada roda rantai untuk meratakan beban tanah," ujar mantan kepala Dinas Penerangan AD itu.

Bagian Perencanaan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Said Didu membenarkan jalan di Indonesia tidak akan rusak ketika dilintasi MBT Leopard.

Diakui, pernyataan Jokowi terkait Leopard kurang tepat. Pasalnya, ia sudah mengkaji sendiri dan menaikinya bahwa tank buatan Jerman tersebut memiliki daya beban ke tanah lebih ringan lantaran ditopang roda rantai yang lebar.

"Tidak merusak, saya sudah mencobanya. Saya yang memutuskan membeli di (pabrik) Rheinmetall. Ini perlu dibuka karena pilpres telah selesai. Singapura saja negara kecil punya Leopard, apa yang dikatakan presiden kurang paham," kata mantan sekretaris BUMN tersebut.

Nilai proyek pengadaan MBT Leopard sebesar US$ 280. Setelah melalui proses diplomasi dan perundingan, akhirnya pihak Rheinmetall menyetujui untuk membuatkan MBT Leopard 2A4 RI sebanyak 124 unit.

Sebanyak dua unit MBT Leopard dan dua unit tank Marder telah diserahkan pada 22 September 2013. Sebanyak 26 unit MBT 2A4 plus 26 unit tank Marder rencananya datang pada pekan pertama September mendatang. Sisanya, akan datang bergelombang pada 2015 dan 2016. 

Kontrak Pembelian Tank Leopard Sudah DisepakatiKementerian Pertahanan mengatakan, secara hukum kontrak pembelian main battle tank (MBT) Leopard sudah disepakati antara kedua belah pihak. Dia pun mempertanyakan pihak-pihak yang ingin mengkaji kembali kontrak pembelian tank yang didatangkan dari Jerman tersebut.

"Kalau ada yang mau mengkaji ulang, maka berarti mencoba melanggar (kontrak). Kalau mau mengkaji memang dari aspek apa?" kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhan, Brigjen TNI Sisriadi di Jakarta, Sabtu (17/8/2014).

Dia mengatakan, proses pengadaan alat sistem utama persenjataan (alutsista) dilakukan melalui pendekatan bottom up dan top down. Pendekatan bottom up, kata Sisriadi, pihaknya melibatkan pengguna (user) yang paling bawah yang akan menggunakan tank berat.

"Dalam konteks Leopard adalah komando persenjataan kavaleri. Mereka yang lahir dan besar bersama tank," kata dia.

Sisriadi mengatakan, pentingnya memiliki tank berat sebenarnya menjadi isu yang sudah lama. Dia mengaku saat dirinya masih berpangkat letkol pada 2004, isu mengenai tersebut sudah beredar.

"Tapi saat itu belum bicara merek lho ya, sekarang kan mereknya sudah ada yaitu Leopard. Tapi memang Indonesia butuh MBT," ucap dia.

Sementara itu, Sisriadi mengatakan pendekatan top down sebelum memutuskan membeli tank Leopard juga sudah dipenuhi. Hal-hal tersebut termasuk anggaran dan aspek politik yang dibahas dengan lembaga terkait.

"Jadi kalau ada yang bilang ambles itu ya sudah dibahas para letnan-letnan itu. Leopard yang kita beli itu kan dipasang roda rantai untuk meratakan beban pada tanah," terang dia.

"Setelah saya hitung, tekanan gandar mobil Avanza itu besarnya 67 newton/cm per segi, Leopard cuma 0,7 newton/cm per segi. Jadi Avanza bahkan lebih merusak (jalan) daripada Leopard," kata Sisriadi. 

Indonesia Pusat Perbaikan Tank Leopard Pengadaan lebih dari 100 tank tempur utama (main battle tank/MBT) Leopard dari Jerman membawa angin segar bagi industri pertahanan Tanah Air, khususnya PT Pindad. Gara-gara Indonesia memborong tank canggih tersebut, PT Pindad akan menjadi pusat perawatan Leopard untuk kawasan Asia Pasifik.

Kepala Divisi Perencanaan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Said Didu membeberkan, tank tempur utama Leopard yang dibeli Indonesia memiliki spesifikasi khusus yang telah disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia. Jumlah yang akan dibeli mencapai lebih dari 100 unit.

Banyaknya jumlah yang akan dibeli ini membuat Indonesia memiliki nilai tawar tinggi terkait dengan upaya kerja sama yang lebih luas dengan Jerman. “Disepakati nanti perbaikan Leopard untuk wilayah Asia Pasifik itu dilakukan di PT Pindad, karena kita membeli besar,” terang, Said di Jakarta, Minggu (17/8/2014).

Keputusan ini membatalkan rencana Jerman yang bakal membuka pusat perbaikan Leopard wilayah Asia Pasifik di Singapura. Seperti diketahui, Negara itu sudah lebih dulu dibandingkan Indonesia dalam mengoperasikan Leopard. “Mereka harus bicara empat jam untuk mengubah keputusan menutup di Singapura,” sebutnya.

Model kerja sama dalam pengadaan Leopard ini dinilai menguntungkan dibandingkan dengan pemerintah membuat sendiri MBT. Sebab, hingga saat ini PT Pindad belum memiliki kemampuan memadai untuk memproduksi tank kelas berat.




Sumber : Beritasatu

5 komentar:

  1. "Jadi, Leopard tidak merusak jalan. Pernyataan saya ini jangan dikonfrontasi dengan presiden baru, yang mungkin ada pembisik. Pembelian tank kelas berat ini sudah dikaji Batalyon Kavaleri TNI AD sejak pangkat saya masih Letkol," kata Sisriadi dalam acara halalbihalal bersama wartawan di Jakarta, Minggu (17/8).

    BalasHapus
  2. Dalam peperangan biasanya sebelum darat dikuasai belum dikatakan menang dan perang terakhir adalah perang darat.kecuali di Nuklir. Lihat waktu Amerika menginfasi Irak yang menentukan menang dalam peperangan adalah perang darat. Pengadaan tank Leopard sudah tepat, apalagi kondisi real saat ini dimana negara sebelah selalu bikin ulah dan menurut berita mereka sudah memparkir tank MBT di perbatasan, Untuk itu apa sudah bagus dan sudah dikaji harus dipertahankan dan ditingkatkan bukan dikaji ulang apalagi dihentikan.

    BalasHapus
  3. Pernyataan Brigjen Sisriadi sudah benar secara Ilmu Fisika, khususnya Ilmu Pesawat (istilah "Pesawat" yang dimaksud di sini adalah Ilmu Gaya). Beban berat dari mobil Toyata Kijang per satuan luas (cm2 atau m2) itu memang lebih besar dari beban berat per satuan luas yang dimiliki oleh tank Leopard (dan tank yang lain, tentunya), karena beban beratnya didistribusikan secara merata sepanjang roda yang berjumlah 14 dan rantainya.
    Sebagai pengagum Jokowi, saya sangat menyayangkan pernyataan Jokowi dalam acara debat capres di televisi nasional y l. yang tidak didasarkan pada science. Terus terang Jokowi dalam hal ini berbicara "NGAWUR". Bagaimana pun dengan dalih apa pun dia salah. Jangan sampai Jokowi itu menelan mentah bisika dari orang orangnya yang seakan-akan bisa dipercaya padahal memberikan masukan data yang menjegal dia. Semoga tidak terulang lagi, sebab Dia sebagai calon Presiden akan menghadapi pakar ahli Fisika di negeri tercinta ini termasuk pelajar dan mahasiswa yang ahli dalam bidangnya (fisika).

    BalasHapus
  4. Saya juga setuju...perbanyak MBT buat TNI...(LEOPARD) walau pun tank leopard tudak cocok bagi indonesia dana akan merusak jalan indonesia..
    Nah kalau terjadi perang yang sesungguhnya apa kita masih berfikiran kalau kita takut jalan kita rusak.. tentunya tidak bukan.. banyak negara lain yang sama kondisi alamnya seperti indonesia. Bahkan singapura yang negara yang tak lebih besar dari kota surabayaa ajha memiliki bnyak tank yang sejenis dngan tank leopard.. meski saya mendukung jokowi.. dalan dalan hal ini jokowi salah.. dan mudah2an jokowi tidak mengikuti orang2 yang tak tau apa2 tentang hal ini. Atau terkesan ngawur... INGAT NKRI HARGA MATI.. MUSUH TIDAK DATANG DARI JAUH MELAINKAN NEGARA SERUMPUN KITA..

    BalasHapus
  5. Saya Pendukung Jokowo JK dari Sul Sel dan pengagum Militer. Sy sgt tdk setuju dan kecewa dgn pernyataan Pak Jokowo wkt debat. Tp sy menganggap itu hanya bisikan dr tim sukses yg ingin menarik hati rakyat yg buta ttg militer. Semoga sj Pak Jokowi lbh membuka pintu kepada para Jenderal2 dan Akademisi dlm pengambilan keputusan Militer. Bravo TNI !!

    *Ayam Jantan dari Timur

    BalasHapus