Jumat, Agustus 22, 2014
0
ISLAMABAD-(IDB) : Pakistan dan Korea Selatan menjajaki kerjasama industri pertahanan yang lebih lanjut, ujar staf Departemen Produksi Pertahanan Pakistan.

Analis mengatakan perkembangan terakhir, mungkin mencakup modernisasi dan ekspansi industri galangan kapal Pakistan, serta kemungkinan konstruksi kapal perang. Pakistan telah lama memiliki rencana untuk memperluas fasilitas galangan kapal dengan membuka lahan baru, seperti di Pelabuhan Qasim dan Gwadar.


Pakistan sebelumnya telah menandatangani kesepakatan dengan Korea Selatan untuk memproduksi amunisi 155mm dan dukungan armada pesawat latih dasar T-37 Tweet. Perusahaan pertahanan Korea Selatan memperkuat pengaruhnya dengan sering menghadiri Pameran dua tahunan International Defence And Seminar (IDE) Pakistan. Dan IDEAS2014 akan diadakan di Karachi, Desember 2014.


Brian Cloughley, penulis, analis dan pakar militer Pakistan, dan mantan atase pertahanan Australia di Islamabad mengatakan, Korea Selatan tampaknya telah memulai kontak yang lebih besar dan Pakistan akan sangat tertarik untuk meningkatkan hubungan itu.


“Saya yakin bahwa Pakistan sangat tertarik untuk bekerja sama dalam masalah pertahanan dengan Korea Selatan, yang memiliki standar yang tinggi untuk konstruksi dan produksi,” katanya.


“Hal ini mungkin masih awal, dan saya ragu akan ada gerakan besar dari Korsel, sampai delegasi mereka melihat langsung tampilan Pakistan Ordnance Factories, Heavy Industries Taxila, dan Pakistan Aeronautical Complex, di Kamra. Mereka jelas tahu persis apa yang diproduksi di sana, tetapi mereka ingin memeriksa kualitas produksi Alutsista Pakistan, secara langsung.


Korea Selatan telah memiliki beberapa alutsista yang sukses diekspor, termasuk penjualan pesawat latih T-50IQ Golden Eagle dan banyak penawaran pertahanan yang ditandatangani dengan Indonesia, termasuk kapal selam dan kendaraan lapis baja.


Korea Selatan datang untuk mendorong kerjasama industri pertahanan dengan Pakistan, bisa dibaca sebagai upaya Seoul untuk terlibat lebih banyak dengan Pakistan dan ini merupakan bagian dari strategi Korea yang lebih luas, ujar Sarah Teo, analis kebijakan luar negeri Korea Selatan dari Nanyang Technical University, Singapura.


“Tumbuhnya ekspor alutsista Korea Selatan melengkapi kebangkitannya sebagai kekuatan menengah. Persepsi Korea Selatan sebagai negara status quo, tidak mengancam dan non-asertif, membantunya untuk dilihat menarik sebagai partner kerjasama pertahanan, terutama dengan negara-negara yang tidak mau terjerat dalam dinamika kekuatan utama”, katanya.


“Industri pertahanan Korea Selatan dan teknologinya juga dianggap cukup mengesankan”.


Keinginan Korea Selatan dalam meningkatkan kerja sama industri pertahanan dengan Pakistan, membantu mempromosikan keinginan negara itu, untuk menjadi pemimpin di negara berkembang.


“Korea Selatan termotivasi oleh visinya untuk menjadi model bagi negara-negara berkembang yang ingin mengikuti alur perkembangan Korea Selatan (development trajectory) -salah satu caranya adalah membantu negara-negara tersebut mengembangkan dan meningkatkan teknologi pertahanan mereka sendiri.”


Cloughley mengakui ada juga kemungkinan rintangan kerjasama militer Korea – Pakistan, tetapi ini bisa diatasi, terutama jika industri pertahanan Pakistan bisa direstrukturisasi.


“Mungkin ada masalah kecil yang harus menjadi perhatian kedua negara, namun ini lebih bersifat politik. Jalan untuk meningkatkan hubungan Korea Selatan dan Pakistan, terbuka, dan mungkin ada manfaat besar bagi kedua negara.

Privatisasi sejumlah aspek dari industri pertahanan Pakistan bukanlah hal yang buruk, dan Korea Selatan akan menyambut itu. 




Sumber : JKGR

0 komentar:

Poskan Komentar