Selasa, Mei 13, 2014
0

Brigjen TNI (Mar) Ivan A.R. Titus, Wadan Kobangdikal yang Teguh Salurkan Hobi Berkuda. Tensi Turun dan Pusing Hilang setelah Keliling Arena

SURABAYA-(IDB) : Arena mini berkuda di Kenpark (Kenjeran Park) Minggu sore (11/5) tampak lebih ramai. Beberapa ekor kuda dikeluarkan dari ruang groom (perawatan) Emporium Horse Club, Surabaya. Salah satu kuda setinggi 170 sentimeter dituntun Seno Iskandar, pemilik kuda tersebut, mendekati arena. Tidak jauh dari arena berbentuk lingkaran berdiameter sekitar 25 meter, telah bersiap Ivan Ahmad Riski Titus.


Wakil Komandan Kobangdikal berpangkat brigadir jenderal TNI Marinir itu sudah mengenakan kostum berkuda. Lengkap dengan sepatu dan helm protektor. Sore itu perwira tinggi bintang satu tersebut menyempatkan berlatih. Latihan di arena yang dekat dengan pintu masuk Kenpark itu mulai rutin dijalani. Terutama setelah dia menjadi orang nomor dua di kawah candradimuka prajurit matra laut sejak 18 Februari 2014.


’’Ini sesi kelima beliau sejak bertugas di Surabaya hampir tiga bulan lalu,’’ ungkap Seno. Meski menjabat wakil, kesibukan Ivan tetap padat. Dia lebih banyak stand by di kesatrian Bumimoro. Terutama saat Komandan Kobangdikal Laksda TNI Widodo sering dinas luar maupun mendampingi petinggi Mabes TNI-AL yang ke Jawa Timur. Apalagi komando utamanya kemarin (12/5) genap merayakan Hari Pendidikan TNI-AL (Hardikal) ke-68.


Selama berkarir di Marinir TNI-AL, Ivan memang lebih sering bertugas di Jakarta. Alumnus AAL 83 itu sebelumnya menjabat kepala sekretaris Lembaga Sekolah Staf Komando Angkatan Laut (Seskoal) Cipulir.


’’Saya usahakan mumpung di Surabaya bisa intens berlatih,’’ tutur Ivan dengan nada kalem. Selama berdinas di Jakarta, dia berlatih minimal seminggu sekali. Bahkan, bisa dua kali pada akhir pekan Sabtu dan Minggu.


Bertebarannya lokasi berlatih berkuda di Jakarta dan sekitarnya membuat Ivan lebih mudah menyalurkan hobinya sejak belia. Prajurit kelahiran Bandung yang genap berusia 54 tahun pada 6 Desember 2013 itu juga kerap berpartisipasi dalam lomba berkuda di Arthayasa Stables, Depok dan Pulomas, Jakarta Timur. Tempat favorit berkuda di Lembang malah lebih dekat dengan tempat tinggalnya di kawasan Kota Bandung.


Sebaliknya, arena berkuda di Jawa Timur terhitung minim. Kesempatan yang langka itu dia maksimalkan untuk berkuda sampai menjelang petang pada akhir pekan. ’’Saya ingin memadukan hobi berkuda dengan berangkat kerja dan pulangnya. Karena sebagai prajurit harus mengutamakan dinas dan di sisi lain kuda butuh pemanasan, belum mungkin untuk dijadikan rutinitas,’’ jelas Ivan.


Seperti layaknya manusia yang hendak berolahraga, kuda pun membutuhkan persiapan sebelum ditunggangi. Tidak bisa langsung dipasangi sadel (pelana) dan dinaiki. Minimal butuh waktu 30–45 menit untuk melemaskan otot-otot kaki dan leher.


Setelah itu, kuda dituntun masuk arena dan dilatih pemanasan dengan tiga teknik bergerak. Yakni, walk (jalan perlahan), trot (lari kecil dengan langkah lebih diayun), dan canter (berlari).


Pengetahuan maupun teknik berkuda sejatinya dikantongi Ivan sejak lulus sekolah dasar. Anak ketujuh di antara delapan bersaudara itu tertarik setelah sering melihat sebagian warga Kota Kembang berekreasi keliling pusat kota dengan menunggang kuda setiap akhir pekan. Selain hobi bermain musik, hampir seluruh keluarga Ivan menggandrungi olahraga. Di antaranya, basket, voli, dan tenis.


’’Saya diizinkan almarhum ayah naik kuda sendiri pas kelas VI SD,’’ kenangnya. Sang ayah malah merestui dengan membelikan Ivan kuda lokal asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat, berkat kecakapan putranya berkuda.


Mulai menuntun, berancang-ancang naik, hingga memacunya dengan kecepatan tinggi. ’’Kebetulan, ayah pernah bertugas di Bukit Tinggi. Kebutuhan peralatan olahraga kakak-kakak juga sudah dipenuhi ayah,’’ lanjut Ivan.


Kegandrungan Ivan remaja berkuda terus berlanjut hingga SMA. Pola disiplin belajar yang diterapkan ayahnya membuat Ivan hanya fokus sekolah pada Senin-Sabtu. Kesempatan berlatih ketika itu hanya dia dapat pada Minggu. Yakni, mulai pukul 07.00 hingga waktu mendekati pukul 12.00. Lantaran masih kurang, Ivan sudah berada di atas punggung kuda lagi mulai pukul 14.00 sampai menjelang magrib.


Ivan remaja bersama delapan teman sebaya kemudian membentuk komunitas setelah hampir tujuh tahun berkutat dengan kuda. Kebetulan, di antara sembilan orang itu, tiga punya kuda sendiri.


’’Komunitas bernama Benteng Mega Sakti yang berasal dari nama-nama tiga kuda kami,’’ ujarnya. Dua pemilik lainnya adalah adik Avianto Soedarsono, mantan Dirut PT Pindad, dan Uke Andreas, bos Stables The Runs Bandung.


Adrenalin mereka semakin terpacu ketika banyak event lomba kategori junior. Ivan ketika berumur 15 tahun mengkhususkan pada dressage (tunggang serasi) dan jumping (lompat rintangan). Untuk kawan Ivan lainnya, ada yang turun pada nomor cross country (lintas alam) dan eventing (perpaduan dressage, jumping, dan cross country). ’’Pada lomba ketiga, saya bisa mendapat trofi juara dressage dan jumping,’’ kenangnya.


Kegandrungan berkuda saat remaja sempat terhenti ketika Ivan diterima masuk Akabri. Waktu tersedot untuk menjalani pendidikan di Bukit Tidar, Magelang, tingkat pertama dan Bumimoro, Surabaya, tingkat II-IV. Dia sesekali menyalurkan hobi berkuda akhir pekan setelah lulus AAL. Penugasan pertama perwira remajanya menjadi komandan peleton Batalyon Kendaraan Pendarat Amfibi Resimen Bantuan Tempur Korps Marinir, Jakarta.


’’Biasanya pusing-pusing saya segera hilang setelah berkuda. Ketika kepala pusing dan tidak ada kuda, saya ganti lari-lari siang,’’ selorohnya.


Kesempatan datang lagi ketika dia menjalani pendidikan dasar Korps Marinir. Masuknya Ivan pada kecabangan kavaleri turut mendekatkan dengan hobinya. Prajurit berpangkat letnan dua itu melaksanakan pendidikan di Pusat Pendidikan Kavaleri (Pusdikav) TNI-AD di Parompong, Lembang.


Di kalangan militer, berkuda identik dengan pasukan kavaleri. Itu sebagaimana kata kavaleri dari bahasa Prancis chevalier berarti kuda. Sementara itu, di lingkungan polisi, berkuda lazim digunakan jajaran Brimob maupun sabhara. Di Pusdikav Kodiklat TNI-AD, terdapat Detasemen Kavaleri Berkuda. ’’Selain belajar mengenai tank dan panser, saya nostalgia lagi dengan berkuda. Bahkan, yang paling expert,’’ ucapnya bangga.


Berbagai penugasan di daerah konflik seperti Timor Timur (sekarang Timor Leste), Nanggroe Aceh Darussalam, dan Ambon selama belasan tahun kembali menjauhkan Ivan pada kuda.


Momen mengikuti pendidikan Seskoal (1995–1996), Sesko TNI (2007), dan Lemhanas (2010) tidak dia sia-siakan. Di sela-sela menjalani pendidikan itu, Ivan menyalurkan hobi berkuda sekaligus menjadi terapi kesehatan.


Berdasar pengalaman, dia meyakini bahwa berkuda dapat membantu memperlancar peredaran darah. Dengan umur yang sudah lebih dari paro baya, Ivan merasa punya riwayat tekanan darah tinggi.


Hipertensi yang dia derita merupakan turunan dari ayah. ’’Tensi saya seringnya 130/90. Ibaratnya, menunggang dengan meminjam kaki kuda bisa menurun tensi menjadi 120/80. Badan fresh dan terhibur,’’ tegas bapak dua anak itu.


Selama berkuda, terutama jumping, tidak terhitung Ivan terjatuh dari sadel. Lecet-lecet pada siku maupun lutut bagi dia sudah biasa. Kendati tidak sampai berdarah-darah, dia selalu tertantang menaklukkan rintangan.

Yang terpenting dari itu, hubungan antara dia dan tiga kudanya terjalin. ’’Kalau chemistry sudah terbentuk, kuda biasanya menghampiri dan mengeluarkan air mata seakan-akan mohon maaf,’’ imbuhnya.




Sumber : JPNN

0 komentar:

Posting Komentar