Kamis, Maret 13, 2014
11
ARTILERI-(IDB) : Wilayah Indonesia mengangkangi salah satu wilayah titik kritis kapal selam yang paling penting di dunia. Sebagian besar perdagangan dunia harus melewati Selat Malaka dan perairan dangkal di pesisir sekitar kepulauan Indonesia. 

Hal ini menjadi alasan betapa pentingnya bagi Indonesia untuk menempatkan armada kapal selam di wilayah ini, tapi Indonesia hanya memiliki 2 kapal selam dari Kelas Cakra (U209) selain armada permukaan lainnya seperti frigat, korvet dan kapal serang cepat.
 

Galangan kapal Daewoo Korea Selatan, yang cukup memiliki pengalaman dalam membangun kapal selam Tipe U209, telah dikontrak untuk mengupgrade kapal selam Kelas Cakra dan pekerjaan sudah selesai. Meskipun sudah diupgrade, tekanan lambung Kelas Cakra tetap saja memiliki batas terkait keamanannya mengingat kapal selam ini sudah cukup berumur.
 

Sejak tahun 2007, Indonesia sudah serius untuk menambah armada kapal selam dari 3 sampai 6 unit. Galangan-galangan kapal yang berharap memperoleh kontrak pembangunan kapal selam dari Indonesia antara lain dari Perancis, Jerman, Rusia, Korea Selatan, dan bahkan Turki. Namun tampaknya prioritas anggaran kala itu masih untuk sektor lain, sehingga pembelian kapal masih tertunda. 

Seiring membaiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia dan sektor pertahanan menjadi prioritas utama anggaran, akhirnya pembelian pun jadi. Dan Korea Selatan lah yang beruntung memperoleh kontrak pembangunan 3 kapal selam dari Indonesia.

MEF Dan Tawaran Kapal Selam

Kekuatan Pokok Minimum (MEF) Indonesia sampai tahun 2024 adalah minimal memiliki 10 kapal selam. Pada saat itu, 2 kapal selam Kelas Cakra (KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402) sudah memasuki masa-masa kritis, artinya untuk memenuhi MEF, tentu tidak cukup untuk penambahan 8 kapal selam saja. Pada 2011 lalu, Indonesia membeli 3 kapal selam dari Korea Selatan (kontrak yang disebutkan sebelumnya) dengan disertai transfer teknologi.
 

Secara umum, Indonesia bisa saja membeli kapal dalam selam diesel-listrik dalam jumlah yang diinginkan dari 5 galangan kapal yang dikait-kaitkan selama ini. Namun ada pertanyaan teknis, apakah Indonesia menginginkan sistem Air-Independent Propulsion (AIP) dilengkapkan pada kapal selam yang memungkinkan bagi kapal selam untuk beroperasi di bawah air tanpa muncul selama 3 minggu?. AIP juga menjadikan kapal selam diesel listrik lebih sulit dideteksi, tapi konsekuensinya adalah biaya yang lebih dan akan memprovokasi negara-negara tetangga. 

 Berbeda dengan kapal selam konvensional yang sering menunjukkan benderanya di permukaan, tentu lebih terlihat bersahabat. Tapi kita tentu menginginkan kemampuan TNI AL yang optimal, tetangga tidak perlu risau dengan kekuatan apa yang kita miliki, toh kita bukan bangsa Bar Bar. Dan tampaknya kapal selam ketiga (kontrak dengan Korsel) yang akan dibangun oleh PT PAL ditargetkan akan dilengkapi dengan AIP.
 

Berbicara soal kapal selam U209 yang merupakan produk Korea lisensi dari Thyssen/Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW) Jerman, produk terbaru HDW adalah U214 yang sudah dilengkapi dengan sistem AIP. Kapal selam ini lebih canggih dari U209 dan tentunya juga lebih mahal. Beberapa varian dan desain khusus dari kapal selam tipe ini telah diorder oleh Italia (U212A), Yunani, Korea Selatan, Turki dan Jerman Sendiri.
 

Indonesia sudah mengoperasikan Tipe U209, dan salah satu pilihan awal Indonesia adalah untuk membeli lebih banyak U209 dengan sistem internal yang sepenuhnya modern. Dari segi biaya dan teknis, sebenarnya pilihan ini masih cukup tepat untuk Indonesia saat ini.
 

Kapal selam dari Thyssen/Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW) diproduksi oleh Jerman, Korea Selatan dan Turki. Turki tampaknya mencoba mendekati negara-negara Islam untuk mendapatkan pekerjaan bagi galangan kapalnya. Namun disisi lain Korea Selatan sudah memiliki hubungan yang baik dengan armada kapal selam Indonesia, ditambah lagi dengan klausul transfer teknologi, akhirnya Korea Selatan memenangkan kontrak awal pembangunan 3 kapal selam, namun Turki tentu tetap berminat dan siap menerima kontrak bila ada lagi pesanan dari Indonesia.
 

Ada pula galangan kapal DCNS Perancis yang menawarkan 3 hasil karyanya. Yang paling menonjol adalah kapal selam Kelas Scorpene yang telah dibeli oleh Malaysia dan India (India merakit sendiri namun pembangunannya molor). Scorpene bisa dibeli dengan atau tanpa sistem AIP, seperti pendahulunya Agosta 90B yang sedang dibangun untuk Pakistan dalam dua konfigurasi. Hingga saat ini, Scorpene yang diorder adalah varian CM-2000 standar (konvensional/non AIP).
 

Salah satu pilihan unik lainnya dari DCNS adalah kapal selam Kelas Andrasta. Kapal selam kecil dengan bobot benaman 855 ton lebih ditujukan untuk dioperasikan di pesisir atau lingkungan perairan dangkal seperti Indonesia. Kapal selam kecil ini banyak menggunakan teknologi Scorpene, namun daya jelajahnya lebih pendek dan 6 tabung torpedonya hanya bisa dimuat di dock. Kapal selam kecil ini dibuat sebagai ganti bagi yang menginginkan kapal selam silent namun dengan biaya yang rendah. Tapi tampaknya Indonesia tidak tertarik dengan tawaran DCNS.
 

Vietnam, wilayah lautnya mirip Indonesia dan memiliki anggaran pertahanan yang minim, lebih memilih untuk membeli kapal selam Kelas Kilo dari Rusia dan dari pemberitaan yang beredar tampaknya Indonesia juga semakin dekat akan memiliki kapal selam dari Rusia.
 

Secara "diam-diam," Rusia sudah menancapkan kakinya di Indonesia. Rusia sudah mulai menyuplai alutsista ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Utamanya adalah pembelian jet tempur Sukhoi dan kendaraan lapis baja, tidak hanya itu, TNI AL juga sudah diperkuat dengan rudal supersonik jarak jauh P-800/SS-N-26 (Yakhont) yang daya hancur dan keakuratannya mengkhawatirkan musuh.
 

Indonesia tentu mengapresiasi tawaran kapal selam dari Rusia, ditambah lagi "sikap" Rusia yang tidak mengintervensi peralatan-peralatan tempur buatan mereka akan digunakan untuk apa oleh operatornya. Kapas selam Kelas Kilo atau (mungkin Kelas Lada) buatan Rusia merupakan pilihan teknis yang baik untuk lingkungan Indonesia. Negara-negara terdekat yang telah mengoperasikan kapal selam ini (Kelas Kilo) adalah India, China dan Vietnam.
 

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah ekonomi Indonesia akan terus tumbuh, dan sektor pertahanan terus menjadi prioritas untuk menunjang pencapaian MEF ini? Kita semua berharap, semoga saja.




Sumber : Artileri

11 komentar:

  1. "akan memprovokasi negara-negara tetangga."

    Kenapa kita harus mikirin negara tetangga? Negara tetangga sesama ASEAN nggak mikirin Indonesia. Sudah ada negara ASEAN yang punya KS yang jauh lebih banyak daripada luas lautnya, dan KS mereka paling canggih dan menggunakan AIP.

    Kita memenuhi MEF untuk mempertahankan negara atau untuk melayani "perasaan" negara tetangga nih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menyimak berita ks selalu bikin Pusing , mulai dari kunjungan team teknik untuk meninjau KS kilo clss, pembangunan dermaga khusus kapal selam, sampai TOT dengan Korea, Ujung ujngnya semua nanti akan batal. waaah betul betul awak hiu kencana , ..... ? bikin gak bisa tidur, Semua pejabat Tiap pers relis jumlah KS jawabanya kompak ada 2 Type C dan N, Nomor Lambung 401 and 402........... sabar sabar, tabah sampai akhir juga berlaku bagi penyimak berita

      Hapus
  2. embohhh wis ra urusss! Wedus kabeh!

    BalasHapus
  3. cuma ngasih pejabat TNI jalan jalan ke Brother Rusky aja...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kunjungan yg nggak efektif dan efisien...masuk kerugian negara nggak ini ya???!!..ujung2nya cuma dapet "KS KILO buatan jerman"????!!

      Hapus
  4. Indonesia jangan terpaku pada CBG korea aja.Ks kita yang pernah coba di perbaiki disana kabarnya jadi rawan berkarat ,jadi kwalitas pengerjaan korea masih harus di pertanyakan mutunya.Kita kan masih ada state kredit yangf belum dipakai dari ruski gunakan aja untuk beli baru .3 lada class udah cukup.

    BalasHapus
  5. Hmmm lgi lgi soap kapal selam Dari 2007 gembar gembor kilo class nyatnya...pnuh miateri apakh TNi pnya ks lbh Dari cakra nanggala/mungkin jg coma pnya is tua cakra Dan nanggala hnya ptnggiii tni all yg tau

    BalasHapus
  6. MADESU : masa depan suram (˘̶̀• ̯•˘̶́)

    BalasHapus
  7. Halah kita bisanya cuma ribet dan berkoar2 mulu. Disaat negara lain sudah punya KS canggih kita masih saja ribet untuk beli yang mana? dan mana? bingung muter2 jalan ditempat dan akhirnya malah pusing sendiri, gak jadi. Mbok ya dewasa. Kenapa hanya publikasi doang yang tak arah juntrungnya. Kalo menurut aku, kita beli U 214 atau U 212 dari jerman terus kita diam untuk kita rahasiakan. Kenapa gak gitu aja. kita optimis aja kita punya dana kok. Itu dana buat AD stop dulu. Kita konsen untuk beli KS U212/U214 ataupun kelas killo, LAda dll. tinggal kemauan aja. bukan malah mondar-mandir gak tau juntrungnya akhirnya pusing sendiri. Hayo optimislah.

    BalasHapus
  8. tidak setuju karena TNI beli barang rongsokan, kalo beli yang baru dan canggih spt kapal selam kilo buatan rusia

    BalasHapus