Senin, Februari 03, 2014
22
ANALISIS-(IDB) : Gelar kekuatan angkatan laut Indonesia kembali diperlihatkan dengan menggelar gugus tempur laut bersandi operasi Benteng Hiu 14, mulai bulan Februari 2014 di perbatasan laut Indonesia Malaysia di Kalimantan Utara.   
Perairan yang menjadi salah satu hotspot NKRI ini memang harus terus dikawal ketat agar gangguan dan provokasi dari negeri jiran bisa dieliminasi sekaligus menunjukkan kekuatan harkat diri untuk tidak bermain api di kawasan kaya sumber daya mineral itu, Ambalat.  
 Gelar Benteng Hiu dipimpin oleh KRI jenis fregat Oswald Siahaan yang membawa rudal maut Yakhont. Anak buahnya terdiri dari KRI korvet anti kapal selam Lambung Mangkurat, kapal cepat rudal KRI Badik, kapal buru ranjau KRI Pulau Raas dan kapal patroli cepat KRI Badau dan KRI Salawaku. Kapal berjenis KAL, UAV dan kapal nelayan juga ikut bergabung sebagai satuan intelijen.

Sebenarnya ada dua gelar kekuatan di dua hotspot berbeda yang saat ini digelar. Yang satu lagi di kawasan laut Timor dan laut Arafuru. Di laut seberang Darwin itu TNI AL menggelar kekuatan armada laut untuk memastikan tidak ada keculasan negeri selatan untuk mencerobohi perairan teritori Indonesia.  Di luar dua gelar gugus tempur laut itu sebenarnya ada belasan KRI yang berpatroli di Natuna, selat Malaka, selat Singapura, selatan Jawa dan selat Sunda.  Itu adalah bagian dari tugas harian TNI AL untuk menjaga nilai negara kepulauan. Kemudian dalam sebulan ke depan Mabes TNI AL juga harus mempersiapkan 12-15 KRI untuk latihan gabungan angkatan laut bersama 16 negara lain di Natuna dan laut Cina Selatan.

KRI Oswald Siahaan dengan rudal Yakhont
Itu semua bisa dilakukan karena angkatan laut Indonesia memiliki armada kapal perang yang memadai untuk melakukan penjagaan dan patroli.  Ada sekitar 160 KRI berbagai jenis yang dioperasikan.  TNI AL tahun ini akan mendapatkan belasan kapal perang baru, diantaranya 3 kapal perang light fregat Bung Tomo Class yang dibeli dari Inggris. Kapal ini sebenarnya pesanan dari Brunai tetapi tidak jadi diambil.   
Jadi dibilang beli bekas juga tidak karena kapalnya masih baru, kapal baru tapi harganya harga kapal bekas.  Disamping 3 kapal tadi, ada juga pesanan 3 kapal perang jenis KCR (kapal cepat rudal) 60 m buatan PT PAL yang selesai seluruhnya tahun ini.  Kemudian penyerahan 3 KCR 40 m, 2 kapal perang jenis BCM (Bantu Cair Minyak) dan 3 kapal perang jenis LST (Landing Ship Tank) buatan galangan kapal swasta dalam negeri.

Peningkatan kuantitas dan kualitas KRI memang diperlukan, apalagi kekuatan armada RI akan disesuaikan dengan pembentukan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan yang dikenal dengan istilah Kogabwilhan. Sebagai negara kepulauan tentu pagar terluar Indonesia didominasi oleh perairan dan sangat wajar pula bila pagar laut ini diperkuat.  Ini juga bagian dari perubahan strategi “masuk dulu baru digebuk” menjadi “berani masuk digebuk”. Untuk angkatan laut, agar bisa masuk kategori “berani masuk digebuk” dicapai dengan penambahan kuantitas dan kualitas armada KRI dan persenjataannya.

Menyikapi kondisi kawasan yang dinamis dan menjurus pada kondisi tak terduga sebagaimana provokasi Australia di laut Selatan dan ambisi penguasaan laut Cina Selatan oleh negeri semilyar ummat, maka perkuatan daya gebuk angkatan laut Indonesia mutlak harus dipenuhi. Oleh karena itu sangat diperlukan kepemilikan kapal perang permukaan laut berkualifikasi fregat dan destroyer dan kapal selam berkualifikasi srigala.  Sejalan dengan itu sebaran pangkalan utama untuk menampung dan menjaga alutsista kapal perang diperlukan.  Menjaga kapal perang di pangkalan dari sabotase bawah laut dan serangan udara merupakan keharusan.  Jangan sampai punya banyak pangkalan tetapi telanjang tanpa perlindungan.
Jet tempur Sukhoi memayungi Jakarta
Pemikir strategis di Kemhan, Mabes dan TNI AL tentu sudah punya rancang bangun kekuatan armada angkatan laut lima sampai sepuluh tahun ke depan.  Sebagai negara kepulauan maka sudah seyogyanya angkatan laut dan angkatan udara diperkuat karena merupakan pagar pengaman garis depan. 
Perkuatan angkatan laut dan udara seharusnya merupakan prioritas karena kekuatan matra ini adalah indikator untuk menunjukkan nilai dan martabat teritori sebuah negara kepulauan.  Adalah wajar jika dalam lima tahun ke depan kita sudah harus memiliki tambahan armada laut dengan 2-3 destroyer dan 5-6 fregat serta 6-8  kapal selam srigala. 

Tambahan kekuatan angkatan laut ini juga seirama dengan tambahan skuadron tempur angkatan udara, misalnya dengan penambahan 2 skuadron Sukhoi Family.  Apalagi jika diperkuat dengan pesawat peringatan dini.  Ini secara kebutuhan dasar bukan hal yang muluk karena payung perlindungan untuk negara besar ini memang harus begitu.  Tujuannya tentu bukan untuk mengajak perang tetapi untuk menjaga nilai dan martabat teritori.  Bahwa ke depan ini memang akan terjadi sesuatu yang tak terduga berupa ancaman serius bagi kedaulatan NKRI.  Maka mulai sekarang memang harus berbenah secara lebih intens, lebih fokus dan lebih revolusioner alias lebih cepat lebih baik.

Perkuatan alutsista di MEF II diharapkan akan memberikan angin kesegaran bagi pengawal republik. Sekaligus mengurangi bahkan meniadakan omongan pelecehaan orang luar utamanya tetangga selatan yang selalu menganggap armada kapal perang Indonesia kalah kelas.  Sekarang memang masih kalah kelas tetapi kita meyakini dalam lima tahun ke depan sudah mendekati kesetaraan.  Tetangga selatan memang karakternya begitu.  Tetapi jika kita tetap teguh dalam program perkuatan alutsista utamanya dengan kesediaan membeli sejumlah destroyer, fregat, kapal selam srigala dan jet tempur mutakhir maka secara perlahan omongan pelecehan itu akan berkurang. 

Tetapi jangan lupa karakter orang atau negara yang suka melecehkan itu sebenarnya untuk menutupi kekurangan yang ada pada dirinya. Misalnya kekhawatiran eksistensinya terhadap ancaman dari utara. Tong kosong nyaring bunyinya kata peribahasa.  Dalam bahasa preman orang yang berkarakter suka melecehkan dan anggap enteng seperti ini perlu sekali waktu digebuk dengan bogem mentah supaya cangkemnya mingkem. Pengawal republik paham dengan hukum ini tapi tak perlu berlaku seperti preman itu. Permintaannya hanya satu: perkuat dulu dengan sejumlah alutsista gahar berteknologi, kemudian perhatikan apa yang akan terjadi, niscaya mereka akan tahu diri.
Sumber : Analisis

22 komentar:

  1. ada saat dan waktu tepat dimaan Nusantara menunjukan jatidiri sebenarnya,,
    Jakarta= Jayakarta
    Indonesia= Nusantara
    Nusantara Nusantara Nusantara
    Nusantara pememimpin Dunia

    BalasHapus
  2. Setuju dgn Latihan gabungan sekaligus unjuk kekuatan di perbatasan, walau bukan sebuah provokasi tp memperlihatkan eksistensi Militer kita di perbatasan.

    *Ayam Jantan dari Timur

    BalasHapus
  3. Dengan membuka peluang pihak luar terutama dari China dan Russia untuk ikut membangun berbagai bentuk infrastruktur dengan pola P3 (Public Private Partnership) di garis pantai Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dan dengan konsep BOO (Build Operate & Owner) dipastikan kita akan menghemat banyak anggaran pertahanan.
    Mengapa Russia dan China, karena kedua negara tersebut yang menguasai dan mempunyai uang.
    Dan dengan adanya infrastruktur yg di bangun mereka apabila ada yg mengganggu atau ngresehin pasti mereka akan bertindak untuk melinduninginya.
    G beda dengan penempatan pasukan Marinir di Darwin untuk menjaga Freeport di Papua.
    Secara ekonomi, Indonesia sangat di untungkan dalam rangka percepatan pembangunan infrasstruk tur di wilayah ketiga pulau besar tadi.
    Toh bagaimanapun infrastruktur yg sudah di bangun nggak bakalan di boyong ke negara mereka.
    Gimana?

    BalasHapus
  4. Lengkapi fasilitas dan perangkat untuk membantu pesawat Sukhoi itu dapat mendarat dan tinggal landas dengan baik siang dan malam hari, di setiap pangkalan di luar pangkalan udara Hassanudin.
    Kasihan pilotnya harus mengandalkan visual dan untuk terbang malam?

    BalasHapus
  5. Menurut saya, kapan kita mempunyai sistim C4I SR?
    G usah muluk - muluk punya destroyer dsbnya, kalau sistim C4ISR g di punyai.
    Boleh saya di bogem mentah kalau tulisan saya tidak logis.

    BalasHapus
  6. Diam dan senyap tapi trs perkuat alutsista,kita negara besar maka bersikaplah sebagai bangsa yg besar dan berkelas...Indonesia jaya

    BalasHapus
  7. Gimana mau diam dan senyap untuk pengadaan alutsista.
    Belinya saja pake anggaran negara bukan dari saku baju perorangan kayak mau beli martabak.
    Barangnya pasti buatan luar negeri karena Indonesia belum mapu ngebuat, kecuali oncom nah itu baru asli produk Indonesia.
    Pasti menggunakan perantara alias broker alias rekanan, karena jarang produsen mau memakai sistim G to G atau FMS kecuali AS karena pelit ngasih komisi.
    Dengan make rekanan atau agen atau broker, komisinya dapat di bagi rata yg jelas pimpinan pasti dapat besar, belum ada cerita pimpinan dapat komisi kecil, nanti dunia terbalik.
    Kecuali kalau beli oncom g perlu make makelar.
    So, gimana mau diam dan senyap, Bro??? Aya - aya wae
    Yang jelas soal komisi baru pada diem, senyap dan bungkem asal g ada yg jadi pecundang terus ngobral info A1 kaya ente. He....he.....he............diam dan senyap????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh ente type apatis dan pesimis juragan....kita harusnya apresiasi lah hasil karya pindad,di,pal dll...klo soal oncom mah kuring oge ngarti ema juragan suka jual,seyap teh jiga vietnam ujug2 tos aya kilo class kitu juragan gejlig...hahay hideung..

      Hapus
    2. MEMEK SUNDA MANTAP.ENAK. KESET.DULU AKU PNYA CEWEK SUNDA DRI CICALENGKA.ADUH MANTAP. SUNDA MEMEKNYA BEST

      Hapus
    3. wah iki wong gemblung edan tenan otake kakehan bokep..sing apik jejeli tai cangkeme....wk wk wk

      Hapus
  8. Maaf analisanya kurang bermutu karena g ada dasar pemikiran sebagai seorang analis bener.
    Tapi gpp yg penting sdh berani belajar nulis Analisa,.........dan jangan kayak ngajak boksen ach.!!! Masak pake ngancem segala......ntar kalau di tantang bener di ring tinju kumaha,Juragan?????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...balas dunk boz dengan artikel anda. kelihatanya menulis itu gampang banget...wkwkwkwkwk ,,,eta kumaha Juragan oncom...kkkkk!!!!!

      Hapus
    2. Ach ente ilu2x an oge.!!!
      Salam tina Juragan Oncom, he....he....he.....

      Hapus
  9. jayalah TNI...jayalah NKRI :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jayalah Juragan Oncom, yg setroooongggg!!!!!

      Hapus
  10. Oncom Juga bahan bakunya masih import

    BalasHapus
  11. Gelar saja itu alat utama senjata yg kata orang malaysia barang bekas tiada guna. Di pulau sumatera 30 unit F-16 C/D Block 32 dan 9 C-130 H; di selat malaka 15 F2000 class corvette, di pulau kalimantan 150 Leopard 2A4/Revolution dan 50 Marder 1A3. Jadi ingin lihat bisa apa malaysia skrng dgn pesawat tempur kuno, kapal perang ompong, kapal selam bobrok dan tiada punya uang?.
    6 Meko 100 ompong lawan 3 taring F2000 dan 2 Scorpene bobrok lawan 2 U-209 tua serta 18 Sukhoi 30 MKM kuno lawan 30 F-16 C/D usang.

    BalasHapus
  12. Memperkuat militer arah dan tujuan haruslah jelas... kemarin TNI sdh nantang perang Ausy... skaligus penjajakan sbrp kuat militer Benua Ausy...
    mengapa ada penjajakan?
    ....
    Benua australia lumayan juga! (:(:(:

    BalasHapus
  13. Komentar ano 22.35 & ano 22.38 g mutu blaaassss, apa maksudnya???? Heh.!!!!
    Salam dari Juragan Oncom, he.....he.....he.......

    BalasHapus
  14. Bagus di belli sekarang alutsista beryali macan tutul : kruser 3 buah destroyer 10 buah , fregat tiap tahun di produksi dalam jangka 20 tahun ke depan ada penambahan kri baru .

    BalasHapus