Minggu, April 14, 2013
19
linud kostradJKGR-(IDB) : Jumlah pasukan TNI akan terus disusutkan secara bertahap. Jika saat ini jumlahnya sekitar 470.000 personil, maka pada tahun 2029  diproyeksikan tinggal 300.000 personil.

Di era perang modern, jumlah pasukan bukan segala-galanya, walau asumsi ini masih menjadi perdebatan.  Jika mengacu kepada strategi Uni Soviet pada Perang Dunia II,  pernyataan Stalin bahwa Quantity is Quality terbukti sukses di lapangan saat menghadapi invasi Jerman. Namun teknologi militer terus berkembang dan  muncul juga pemikiran jumlah pasukan bukan hal terpenting, melainkan persenjataan dan kesiapan tentara itu sendiri.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan sendiri menilai, kesiapan alat utama sistem senjata yang dimiliki oleh TNI masih sekitar 50 persen. Jumlah dan kualitas alutsistanya masih minim, baik dari segi umur maupun teknologi.

Konsekuensinya 50 persen dari jumlah prajurit tidak siap tempur dalam kondisi optimal karena tidak didukung alutsista yang memadai. Lebih parah lagi, anggaran belanja TNI yang diberikan pemerintah justru lebih banyak untuk belanja pegawai (gaji, tunjangan, pensiun, dll), bukan untuk belanja modal atau pembelian alutsista. Belanja pegawai lebih tinggi daripada belanja modal menyebabkan tidak ada  investasi di human investment melainkan human consumption.

Dengan disusutkannya jumlah pasukan, diharapkan kurva anggaran belanja TNI tidak gemuk untuk anggaran belanja pegawai, melainkan bisa berimbang dengan modernisasi alutsista. Sebagian anggaran bisa dialihkan untuk pendidikan, pelatihan dan terutama kesejahteraan prajurit yang lebih baik.

Mengapa penyusutan hingga tahun 2029 ?. Penyusutan dilakukan bertahap dengan memperkecil rasio jumlah perekrutan prajurit dibandingkan jumlah yang pensiun. Jika kita cermati prosentase perekrutan saat ini, lebih kecil dari prosentase yang pensiun per tahun.

Intai Amfibi
Seiring dengan penyusutan jumlah anggota TNI, Dephan mendorong kenaikan anggaran belanja TNI. Jika anggaran pertahanan bisa ditingkatkan menjadi 2 persen dari PDB, maka selama 15-20 tahun, kesiapan alutsista yang dimiliki oleh TNI bisa mencapai 70 hingga 90 persen. 

Berdasarkan data SIPRI 2010, anggaran belanja militer Indonesia 0,9 persen dari Produk Domestik Brutto (PDB) 2009. Sementara menurut Wapres Boediono (Nov 2012), belanja militer Indonesia lebih kecil lagi yakni 0,7 dari PDB.

Untuk menutupi gap “Quantity is Quality” maka TNI akan mendorong dipercepatnya RUU Komponen Cadangan. Anggota komponen cadangan akan dibentuk melalui proses pelatihan dasar kemiliteran dengan standar pelatihan yang out put-nya memiliki kemampuan dasar untuk bertempur, mental yang tangguh dan jiwa juang yang tinggi.

Komponen Cadangan ini hanya aktif untuk menghadapi ancaman militer khususnya ancaman militer perang berdasarkan strategi pertahanan, melalui mobilisasi dan demobolisasi yang ditetapkan oleh Presiden.

Negara tetangga Singapura dan Malaysia  telah membentuk Komponen Cadangan. Sementara di Jerman, ide Komponen cadangan muncul tahun 2003 sebagai dasar restrukturisasi militer Jerman (Bundeswehr). Komponen Cadangan didisain sesuai kebutuhan misi militer, baik struktur, personel, pelatihan dan perlengkapan dengan motto “organize and train as you fight”.

Pada tahun 2007 militer Jerman dirampingkan dari 495,000 personel menjadi 252,500 termasuk Wamil. Komponen Cadangan aktif berjumlah 2,350 personel dari sekitar 80,000, seiring upaya pengefektifan dan pengurangan anggaran.

kopassus tni
Geopolitik

Modernisasi di tubuh TNI dibutuhkan karena perubahan geopolitik kawasan yang terus memanas: Konflik Korea Utara- Selatan, Konflik Malaysia dengan Kesultanan Sulu di Sabah, Konflik Laut China Selatan akibat semakin agresifnya China, penempatan pasukan AS di Darwin Australia.

Pasukan TNI harus modern dan ready for battle, untuk meningkatkan daya tempur dan daya gertak terhadap pasukan asing. Sukses tidaknya modernisasi TNI akan terbaca dari strategi pertahanan dan doktrin pertahanan yang dianut. Apakah alurnya terlihat mengalir atau masih tersendat.






Sumber : JKGR

19 komentar:

  1. Ancaman dari luar dan dalam semakin nyata ko malah diperkecil jumlah tentaranya.?? atau jumlah 300ribuan tapi punya kemampuan khusus setara kopassus,paskhas dan pasukan katak??..klo seperti ini sih saya dukung.

    BalasHapus
  2. Pertimbangan dari mereka yg mempunyai pemikiran bahwa TNI kita ini sudah seperti tentara negara maju, jadi nggak usah terlalu banyak perso nil merupakan pemikiran yang belum saatnya dilaksanakan di TNI.
    Walau seandainya program MEF sudah tercapai 100% belum akan kelihatan TNI kita akan seperti tentara negara maju, karena MEF kan masih bersifat minimum, jadi di banding luas wilayah negara dan yg secara geopolitik merupakan wilayah yg sangat strategis di dunia ini, TNI justru harus di tambah personilnya.
    Tinggal bagaimana hal tersebut di kritisi sehingga jangan sampai terjadi Alutsistanya lemah, personil tentaranya kurang. Bahaya itu.
    Yg senang Kontras, Imparsial kalau tentara kita berkurang.

    BalasHapus
  3. KORUPSINYA YANG HARUS DISUSUTKAN... 500.000 tentara jika korupsi minim pasti sanggup dibiayai.. Luas Negara kita seluas Eropa Barat, SDA kita nomor 4 terkaya di dunia (data UN), kenapa kita ga fokus pada meyelesaikan masalah utama, KORUPSI & MISS MANAGEMENT NEGARA..

    BalasHapus
  4. Betull.. 300.000 tentara kalo korupsinya ga ilang ttp aj "letoy".. gimana ga ilang, kurikulum sekarang sangat miskin kandungan penanaman "moralitas".. ironis.. ironis.. Rakyat, Aparat dan Pemimpin dengan moralitas rendah ga akan bisa membuat sebuah bangsa menjadi besar.. ga usah dibahas lagi, banyak negara /bangsa yang bisa dijadikan contoh.. contoh yg dekat Australia, menterinya mundur gara-gara ketahuan beli bir /minuman pake uang negara.. nah kita?? malah mau nyoba ngotak-ngatik tentaranya.. ckckck

    BalasHapus
  5. Justru makin kasihan pada prajurit di lapangan, ga pada nyadar kali ya, untuk ngamanin perbatasan saja tentaranta sampe kudu "impor" dari Pulo Jawa... haduuhh, agenda apalagi ini.. itu Anggaran Militer sebenarnya 'dimakan' siapa ?? prajurit ato elit-nya.. kalo ga merasa ada kebocoran, ya tinggal dinaikin aj. Contoh anggaran pendidikan, guru dah ga demo lagi karena nyampe 20%, tapi apa yg dirasakan orang tua siswa kebanyakan, sekolah tetep aja MAHALL.. apa memang pada bodo y atau pada buta y pada masalah korupsi ini ?? yg sakit paru-paru yang diobati jantung.. T E R L A L U !!

    BalasHapus
  6. Kalu saya tidak setuju dengan pengurangan personel TNI tsb,,yang saya setuju adalah perubahan alokasi jumlah personel dlm struktur personel TNI,,secara totalitas tetap sama,,tetapi ada yg digeser (diganti) misal Batalyon reguler Kodam & personel Koramil jumlahnya dikurangi (digeser) diganti dengan alokasi penambahan prajurit Kostrad Divisi III Papua, Pasmar III Sorong, tambahan batalyon Marinir di Kepri & Sumatra, jg termasuk utk penyediaan personel bagi New Air Force Base, New Squadron. penambahan KRI trmsk Kapal selam,,dengan jumlah personel tetap dan anggaran yg terus bertambah maka anggaran untuk Alutsista & Kesejahteraan Prajurit makin memadai,,sehingga TNI makin kuat, makin profesional & kembali menjadi Macan Asia

    BalasHapus
  7. kaya prajurit kita dah banyak aja pake disusutkan segala..???..bilang aja anggaranya kurang krna petinggi anggota dewan minta jatah mulu... apa mau dibubarkan ma mahasiswa dan rakyat lagi tuh...??? udah kurang sabar gimana lagi nih rakyat..liat situasi negara carut marut

    BalasHapus
  8. Anggota DPR aja yg di karungi ehh di kurangi,. Ga penting banget banyak2 juga,. Wakil rakyat tapi tak pernah sehati dengan suara rakyat. Bisa nya cuma jalan2 kuker, Korupsi, main cewe, tidur waktu rapat, bolos kerja.. Itu yg bener2 menjijikan ga ada untung2nya sama skali,. Artis az gampang banget jd Anggota DPR skalian aza Bencong jadiin anggota DPR,.
    Negara lain akan makin melunjak Lihat Tentara indonesia di kurangi,. Haddeeeeuhh... Indo-indo...!!

    BalasHapus
  9. Banci jd anggota DPR,, assiiik eike bo mau daftar,. Eike jamin negara indo maju,. Eike dah bosen mangkal trus,. Klo ada yg tidur waktu rapat kan bisa eike sedoooott... Hmmmp.. Cucok :)

    BalasHapus
  10. g stuju klo jmlah personil TNI di kurangi,klo bisa d tmbh sbnxk"nya n UU WAMIL sgera d sahkan n d realisasi.rakyat siap tuk jga rumah kita INDONESIA mskipun tdk d gji.kami rakyat pedesaan pun sanggup n pnya kemauan tuk jga NKRI apabila d btuhkan........slam satu jiwa INDONESIA

    BalasHapus
  11. Klo bener2 TNI di kurangi,.
    Saya pribadi mau bilang,. Bego nya ga ketulungan..!!
    Pejabat yg pada korupsi ko jadi prajurit TNI yg kena imbas,. Dana untuk ngeGaji & mensejahterakan prajurit TNI tuh banyak sebenernya, cuma ya itu kebanyakan di korup,. Cape Hati dengar kata KORUPSI di indenesia tuh,. Kita rakyat kecil Sangat Sangat tidak setuju jika anggota /prajurit TNI di kurangi,, Di negara lain mah pada wajib militer termasuk korsel negara maju la ini kita udah ga ada wajib militer,,Alutsista masih lemah ehh prajurit malah mau di kurangi,. Sedih dengernya juga miris :( ,.. Pengangguran malah tambah banyak,. Preman tmbah bnyak kriminal dll..

    BalasHapus
  12. tentara disusutkan tapi cadangannya dibesarkan, sami mawon pakde...

    BalasHapus
  13. Prajurit disusutkan???
    Emang alutsista kita udah gahar banget gitu???
    Apa,.. Pesawat grobb??? Sukoi ketengan?? F16 hibah as, Leopard juga belum dateng.
    Saya lebih dukung anggota dewan itu aja disusutkan

    BalasHapus
  14. trend pengurangan pasukan kan berlaku untuk negara yg terkena krisis, macam inggris & bbrp negara eropa, amrik juga mengurangi anggaran militernya kl gak salah. Indo gak ada cerita krisis gak perlu pengurangan personil. trend ini juga gak berlaku bagi China yg ekonominya OK.

    BalasHapus
  15. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  16. gak sependapat dengan pengurangan personil negara indonesia sangat luas... yg bagus itu personil di tambah trus alat2 militer mutakhirnya juga di tambah baru seimbang... jgn andalan nya alasan gak ada anggaran mulu sih dari jaman dulu juga alasan nya itu2 terus gak malu apa ...

    BalasHapus
  17. liat foto tentara gotong SPR bikin merinding
    haha

    saya setuju untuk dirampingkan jumlah TNI tapi dipergemuk jumlah kepolisian

    pada perang modern nanti akan terjadi jumlah korban yg semakin kecil tapi kerusakan yg semakin besar
    kerusakan ini diakibatkan dari alutsista yg ditembakan juga besar

    jika TNI dirampingkan dan alutsista di permodernkan (kecuali TNI AL karna butuh armada banyak dan tentara banyak) serta perajurit skill tinggi juga diperbanyak dengan total sekitar 50rb
    ini akan seimbang karna skill dari kopassus dll setara dengan 5 prajurit biasa

    BalasHapus
  18. tentara dikurangin. PNS sama DPR yg harus dikurangin. Biar uang negara kaga digares terus

    BalasHapus
  19. sebaiknya jangan dikurangi!!!!!!!!!!!!

    krna ancaman dari luar bisa berbentuk apa saja, kapan pun dan dimana saja khususnya di seluruh wilayah NKRI, personil TNI idealnya 0,5 s/d 1 % penduduk Indonesia.

    klo dikurangi saya tdk setuju, bagaimanapun jg saya tdk setuju jika jumlah personil TNI dikurangi.

    BalasHapus