Selasa, Desember 04, 2012
10
ARC-(IDB) : Sebagai Negara yang tertatih-tatih dan berupaya bangkit dari keterpurukan, Rusia berupaya keras memodernisasi alutsistanya. Dengan anggaran yang sangat terbatas, Rusia tidak punya banyak pilihan untuk memilih MBT next generationnya.

Pada dekade 1980-an, Uni Soviet yang sangat mempercayai armada tanknya memiliki visi penggelaran 2 kelas MBT, yang satu mampu diproduksi massal dengan cepat, berharga murah, dan bisa dijual ke Negara-negara tetangga. 

Visi ini terwujud dalam keluarga MBT T-72 yang sukses di pasaran ekspor. Disisi lain, Uni Soviet juga mencoba mematahkan dominasi NATO dan AS yang menggadang-gadang kualitas diatas kuantitas dengan memproduksi satu MBT dengan fitur dan teknologi terbaru, yang kemudian muncul sebagai T-80. 

Pendekatan kuantitas dan kualitas ini pada akhirnya terbukti tidak praktis, dan baik T-72 maupun T-80 akhirnya terbukti gagal dalam pertempuran. T-72M1 milik Garda Republik Irak dibuat babak belur oleh M1A1 Abrams dalam Perang Teluk II, sementara T-80 dihajar habis-habisan oleh pejuang Chechnya dalam dua kali perang di negeri satelit Rusia tersebut.

Pasca pecahnya Uni Soviet, Rusia ditinggalkan dengan masalah superioritas armada MBTnya. Negara-negara lawannya sudah lama mengembangkan penyempurnaan MBT mereka, tetapi Rusia bertahan dengan desain usang T-72 dan T-80. Mendanai pengembangan MBT baru seperti Black Eagle makan biaya yang terlalu besar dan Rusia tak mungkin mengadakan MBT yang terlalu canggih karena harganya pasti mahal. Langkah kompromi akhirnya ditempuh, dengan menggabungkan keunggulan teknologi T-80 dan mengintegrasikannya ke T-72. Proyek yang tadinya dinamai T-72BM ini akhirnya diberikan desainasi berbeda, seolah menandakan bahwa ini adalah MBT baru.

T-90 dikembangkan oleh tim di biro Kartsev/ Venediktov yang dikepalai oleh V. Potkin, dan dikerjakan di Uralvagonzavod (Pabrik gerbong kereta Ural) di Nizhnyi Tagil. Purwarupanya diberi kode Obiekt 188 yang diselesaikan pada 1988. 

Dari segi desain, T-90 tidak memiliki banyak perbedaan dibandingkan dengan T-72. Layout hullnya serupa, termasuk pemosisian awaknya. Sistem suspense tetap menganut model torsion bar dengan enam pasang roda pada setiap sisi, drive sprocket dibelakang, idler didepan, dan tiga track-return roller. 

Peredam kejut hidrolik dipasang di roda pertama, kedua, dan keenam sehingga tidak terlalu menyiksa krunya saat tank dibawa untuk perjalanan jauh. Krunya tetap tiga, pengemudi, penembak, dan komandan, melanjutkan tradisi penggunaan sistem autoloader dalam MBT Soviet. Kubahnya memiliki profil yang sangat rendah, dan sangat tidak nyaman untuk orang dengan tinggi badan diatas rata-rata. 

 Komandan duduk disebelah kanan, didalam modul yang berputar independen terhadap putaran kubah. Kemanapun arah kubah berputar, komandan selalu menghadap kedepan. T-90 digerakkan oleh mesin diesel V-84S yang dilengkapi pemanas untuk pengoperasian di wilayah beriklim dingin dan sensor suhu. Kemampuan menenggak berbagai jenis bahan bakar seperti bensin, kerosene standar militer, dan benzine menjadi keunggulan yang ditawarkan untuk mempermudah pasokan logistik.

Biarpun layoutnya sama, namun T-90 memperoleh sistem proteksi berupa lapisan armour reaktif Kontakt-5 yang didesain dengan sudut landai untuk mengalahkan hululedak APFSDS dan HEAT yang datang bertandang. Pada bagian kubah, 2 panel dipasang membentuk belah ketupat sehingga bentuk kubah seolah bertambah. Panel ERA tambahan juga dipasang di sisi kiri-kanan skirt untuk semakin mengamankan posisi kru, terutama pengemudi. 

Terkait dengan pengamanan pengemudi, kursinya kini dibuat menggantung ke atas, seperti halnya komandan dan penembak untuk melindungi dari gelombang kejut yang mematikan saat melindas ranjau antitank. Untuk mengemudi dalam kegelapan malam, pengemudi memperoleh optik termal TVN-5 yang bisa dipasang menggantikan periskop TNPO-168 standar.


 
Sejumlah pembenahan dilakukan pada sistem kontrol penembakan yang mengadopsi sistem kontrol penembakan otomatis model 1A45T yang merupakan penyempurnaan dari versi yang digunakan T-80, yang didukung oleh sistem bidik malam TO1-KO-1 atau TO1-PO2T, sistem observasi PNK-4S untuk komandan, dan layar televisi untuk mengamati wilayah belakang. 1A45T sendiri diotaki oleh sistem 2A43 IVDPK, stabilizer laras 2Eh42-4 Zhasmin dan converter PT-800 yang dipasangkan dengan regulator voltase dan frekuensi RChN 3/3. 

Sistem 1A45T menerima input dari beberapa sensor, seperti data balistik munisi yang disimpan dan dipasok komputer balistik 1V528, pengukur kecepatan angina DVE BS, dan sistem bidik TPN4-49-23 Buran. Apabila dananya memadai, sistem Buran dapat digantikan oleh sistem Agava-2 dengan fitur termal yang dipasang pada menara di atap. 

Untuk komandan, tersedia sistem terpadu TKN-4S Agat S day/ night sight dengan pembesaran x7,5 day dan x5,1 night yang sudah dilengkapi fitur stabilisasi, serta periskop TNP-160 di kanan-kiri sistem TKN-4S. Sementara untuk penembak daftarnya lebih lengkap lagi, seperti 1A43 day sight yang sudah terintegrasi dengan laser rangefinder IG46 Irtysh yang dilengkapi dengan sistem pemandu laser untuk rudal yang bekerja dengan sistem beam riding.

Meriam T-90 juga mengadopsi meriam dari T-80, dengan kode 2A46M4. Perbedaan antara varian M4 yang digunakan T-90 dan M1 yang dipakai T-80 diperkirakan perbedaannya ada pada kualitas baja dan akurasi yang digunakan. 

Baja yang lebih baik mampu menghasilkan ketahanan tekanan yang lebih besar, membuat 2A46M4 dapat melontarkan munisi generasi baru, termasuk munisi berinti DU (Depleted Uranium). Meriam 2A46M4 memiliki fitur meriam setara MBT Barat, komplit dengan muzzle reference system untuk mengecek keselarasan alur tembakan meriam. 

Satu keunggulan meriam ini adalah kemampuannya melontarkan rudal hululedak tandem 9M119 Refleks/ AT-11 Sniper yang dipandu oleh tuntunan laser (laser beamriding), dengan jarak efektif sampai 5.000 meter atau melebihi jarak efektif meriam, memberikan kesempatan bagi T-90 untuk membidik MBT lain sebelum lawan dapat menembak. Kendali penembakan untuk Refleks sepenuhnya ada ditangan penembak, dan tidak ada pada kompartemen komandan.

Sementara untuk urusan munisi, Rusia memanfaatkan sistem pengisi otomatis model carousel, yang letaknya ada di lantai dibawah kru penembak dan komandan. Munisi untuk meriam 125mm ini masih menggunakan mesiu dan hululedak yang terpisah, beda dengan Barat yang menggunakan sistem combustible. Hal ini yang menyebabkan munisi APFSDS Rusia jauh lebih inferior dibandingkan dengan munisi serupa yang digunakan oleh pihak Barat, karena panjang penetrator yang bisa digunakan pun relatif terbatas. Sementara untuk fungsi anti pesawat, disediakan senapan mesin berat 12,7mm NSVT yang dilengkapi PZU optical sight dan distabilisasi oleh 1ETs29 pada satu plana vertikal. Komandan yang menembakkan senapan mesin berat ini terlindung dalam kubah baja mini.

Sementara untuk sistem perlindungan, T-90 memanfaatkan sistem perlindungan granat asap 81mm, yang dapat dipasangi munisi Type 902A Aerosol Forming Grenade Launch System dengan granat 3D17 aerosol. 

Saat diluncurkan, akan tercipta semprotan partikel halus yang dapat memunculkan iluminasi laser yang diarahkan ke tubuh tank, dibaca oleh keempat sensor yang terpasang, dan memberikan peringatan agar pengemudi segera bermanuver untuk menghindar atau mungkin mengeluarkan tabir asap. 

Sistem jammer rudal antitank TShU1-7 Shtora siap sedia memancarkan sinyal infra merah acak untuk mengacaukan sirkuit penuntun rudal. 

Sementara untuk aksesori tambahan, tersedia KMT-7/KMT-8 mine roller untuk mencangkul tanah dan meledakkan ranjau, yang sudah jadi standar sejak era T-72.


SPEK T-90

Kru                              : 3
Bobot tempur                : 46,5 ton
Power/weight                : 18,06 hp/ ton
Ground pressure          : 0,983 kg/cm3
Panjang                       : 6,86m (hull)
Lebar                           : 3,37m
Tinggi                           : 2,23m
Ground clearance         : 0,492m
Lebar tapak rantai         : 580mm
Panjang tapak rantai     : 4,278m
Kecepatan maks.          : 60 km/ jam
Jarak tempuh               : 550km (jalan raya), 450km (cross-country)
Kapasitas bahan bakar  : 1200 liter + 400 liter (opsional tangki eksternal)
Tanjakan                       : 60o
Kemiringan                   : 40o
Halangan vertikal            : 0,85m
Lintas parit                    : 2,8m
Mesin             : V-84MS 4 langkah, 12 silinder diesel, mengeluarkan daya 840hp
Transmisi                      : manual, 7 gigi maju dan 1 mundur
Suspensi                       : torsion bar
Persenjataan                 : 1x125mm 2A46M4 smoothbore gun; 1x12,7mm NSVT; 1x7,62mm PKT
Elevasi meriam               : +14/-6o
Sistem kelistrikan            : 24V    




Sumber : ARC

10 komentar:

  1. Lebih canggih mana dg leopard

    BalasHapus
  2. Lebih canggih leopard

    BalasHapus
  3. Jelas lebih canggih Leopard 2...ini sih T 90 jenis tank produksi massal...kecanggihannya tanggung...mungkin sekelas PT 91 twardy nya malaysia produksi polandia

    BalasHapus
  4. Dalam PD II panzer Nazi sudah yang paling canggih saat itu, tapi kenapa Soviet masih tetep bisa menguasai pusatnya Hitler dan Nazi yaitu kota Berlin?

    Canggih belum tentu unggul.

    BalasHapus
  5. Koreksi dikit...panzer NAZI mungkin hebat dengan kaliber meriam besar, lapisan baja tebal...88 mm, tapi lemah di bagian Track nya (tank Tiger), tapi tank terbaik dalam PD 2 tetap T-34 Russia........btw tapi tanpa kualitas sama saja...contoh ribuan tank Iraq (T 55, T 62 sampai T 72) ditekuk satuan tank sekutu dan satuan udara sekutu saat perang darat di teluk 1991, yang dimotori tank Challanger dan M 1 A 1 Abrams....keduanya harus saling mengisi...

    BalasHapus
  6. Maksudnya kaliber meeriam 88 mm...koreksi

    BalasHapus
  7. kalau saya memilih tank leopard. Kenapa alasannya? Karena indonesia punya leopard dan indonesia tidak punya T 90. Itu saja.

    BalasHapus
  8. Lebih canggih leopard 2 revo, karena Russia unggul di mesin dan produksi massal (pd-2 jerman kalah di stalingrad gara-gara oli tanknya sering ngebeku dan waktu itu sudah musim dingin).

    BalasHapus