Kamis, Februari 16, 2012
0
CHANGI-(IDB) : Berada di Pameran Kedirgantaraan Singapore Airshow 2012 pengunjung sejenak bisa melupakan hal-hal serius, seperti perekonomian dunia yang tidak cerah. Jajaran pesawat sipil dan militer di pelataran, atau derum mesin jet di udara Changi, seperti memberi optimisme tersendiri bagi industrialis kedirgantaraan, yang produknya terentang mulai dari komponen, radar, rudal, hingga produk akhir berupa pesawat terbang sipil dan militer generasi mutakhir.

Sekarang Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memang melihat kondisi kurang menguntungkan, di mana penerbangan sipil hanya akan menghasilkan margin keuntungan 0,6 persen tahun ini (yang berarti hanya sekitar 3,5 miliar dollar AS dari pendapatan industri yang besarnya 600 miliar dollar AS). Itu pun—seperti dicatat Tony Tyler (Business Times, 13/2)—masih tergantung pada bagaimana Eropa bisa menyelesaikan krisis utangnya.

Namun, dalam situasi itu, penerbangan sipil masih menyaksikan dinamika yang luar biasa di Asia Pasifik. Iklan Lion Air dan Boeing yang mengangkat kontrak pembelian 230 jet Boeing 737 (201 Boeing 737 Max dan 29 737-900ER) setidaknya bisa menyiratkan hal itu.

Jadi, sementara di Eropa sejumlah maskapai penerbangan— sebagaimana negara bersangkutan—dilanda kesulitan, di kawasan Asia Pasifik ada suasana cerah. Tahun 2010, sepertiga penumpang pesawat bepergian ke, dari, atau di lingkungan Asia Pasifik. Itu seimbang dengan ukuran pasar Amerika Utara dan Eropa.

Tyler menambahkan, pada tahun 2015 pusat gravitasi industri penerbangan akan berpindah ke timur. Pada tahun itu, rute Asia Pasifik akan mencapai 37 persen, melewati Amerika Utara dan Eropa yang 29 persen.

Pesawat militer
Di awal pembukaan Singapore Airshow 2012, salah satu topik hangat adalah keputusan India membeli 126 jet tempur Rafale buatan Dassault Perancis untuk memenuhi kebutuhannya akan MMRCA (Medium Multi-Role Combat Aircraft). Pembelian senilai hampir 11 miliar dollar AS ini di satu sisi akan memanjangkan napas industri kedirgantaraan Perancis di atas, namun masih menyisakan kekecewaan bagi para pesaing yang dikalahkannya, khususnya Eurofighter Typhoon. Sebelumnya, Rafale telah melempar jet Gripen, F-16IN Fighting Falcon, F/A-18IN Super Hornet, dan juga MiG-35 keluar dari persaingan.

Pengadaan alutsista udara oleh India ini hanya menambah deretan pembelian yang telah diumumkan sejumlah negara Asia Pasifik. Misalnya saja Jepang yang beberapa pekan lalu mengumumkan pembelian F-35 Lightning II untuk memperkuat Angkatan Bela Diri Udaranya.

Sebelumnya, sejumlah negara Asia Pasifik lain, seperti Thailand, telah membeli jet Gripen JAS-39 buatan Swedia, Indonesia dan Malaysia telah menambah pesanan jet Sukhoinya. Sementara itu, Filipina yang selama ini ketinggalan dalam akuisisi alutsista udara, kini tengah memfinalisasi rencana pembelian jet latih lanjut yang bisa berfungsi sebagai pesawat serang ringan. Persaingan mengerucut ke dua tipe, yakni M-346 buatan Alenia Aermacchi dan T-50 buatan Korea Aerospace Industries.

Masih tentang Filipina, setelah mendengar Indonesia mendapat 24 unit F-16 secara gratis, Presiden Benigno S Aquino III kini juga bermaksud mendapatkan perlakuan sama dari AS. (Aviation Week & Space Technology, 6/2)

Selebihnya, sejumlah negara juga mengupayakan pengembangan kemampuan rekayasa dalam negeri, baik sendiri maupun melalui kerja sama. China dengan rancangan jet tempur siluman (stealth, tidak kasat radar) Chengdu J-20 adalah salah satu contohnya. Sementara itu, Indonesia dan Korea juga tengah mengembangkan jet tempur KFX.

Oleh dinamisme untuk menguasai teknologi kedirgantaraan militer, ataupun didorong oleh kebutuhan yang dilatarbelakangi kerisauan keamanan, program pengadaan pesawat tempur tampak nyata di lingkungan Asia Pasifik.

Dalam situasi seperti ini, ketika di Barat para pembuat dihadapkan pada keterbatasan anggaran, yang berbuntut pada pengurangan pesanan, dan pabrik pun mengalami kelebihan kapasitas, pengamat Barat mengkhawatirkan penjualan pesawat berteknologi canggih ke negara mana pun. Ini dikhawatirkan akan membuat teknologi sensitif akan mudah jatuh kepada siapa pun. (Tim Mahon, The Wall Street Journal, 15/2).

Bisa saja kemungkinan ini terjadi karena kekuatan pembeli lebih besar di era yang disebut buyer’s market, seperti disinggung oleh pengamat militer Andi Widjayanto dalam Seminar 50 Tahun Kohanudnas di Jakarta, 6 Februari lalu. Tetapi, harga alutsista yang semakin mahal dan regulasi yang tegas ditegakkan membuat buyer’s market bukan fenomena luas. Keinginan Jepang membeli jet tempur F-22 Raptor yang tidak terwujud adalah salah satu buktinya.

Tetapi di luar itu, program modernisasi kekuatan udara—sebagai matra yang sejak Perang Teluk 1991 semakin diakui kehebatannya—seperti tak terbendung. Asia Pasifik, baik karena kinerja ekonominya yang relatif unggul, dan pada sisi lain dihadapkan pada tantangan keamanan yang dipandang cukup riil, tampak memimpin dalam derap akuisisi alutsista udara. Singapore Airshow yang berlangsung 14-19 Februari 2012 nyaring menyiarkan gaung ini.

Sumber : Kompas

0 komentar:

Posting Komentar