Jumat, September 05, 2014
0
JAKARTA-(IDB) : Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengatakan pesawat Kepresidenan tak akan dijual oleh pemerintahan berikutnya di bawah Joko Widodo. “Tidak (akan dijual),” cuit Megawati dalam akun Twitternya, @MegawatiSSP, pada Kamis malam, 4 September 2014.

Perwakilan penghubung atau liaison officer (LO) Partai Banteng, Sudyatmiko, membenarkan bahwa akun tersebut adalah milik Megawati.


Sudyatmiko mengatakan dalam perjalanan dinasnya nanti, Jokowi bakal memperhitungkan tingkat efisiensi dengan memakai pesawat komersial atau Kepresidenan. “Presiden akan memilih yang efisien,” kata dia. Menurut dia, pesawat Kepresidenan juga bisa mengatasi masalah, misalnya bila tujuan yang hendak dikunjungi Presiden tak ada jalur penerbangannya.


Penasihat Pusat Kajian Trisakti, yang juga Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR dari PDI Perjuangan T.B.Hasanuddin, mengatakan ide menjual pesawat Kepresidenan adalah pemikiran ngawur. “Dikarenakan logika politis dan keamanan tidak menjadi pertimbangan,” kata Hasanuddin.


Hasanuddin mengungkapkan empat alasan bahwa solusi efisiensi dengan menjual pesawat Kepresidenan tak logis.

  1. Menjual pesawat bekas berbeda harganya dengan pesawat baru dan tidak sebanding dengan harga pembeliannya.
  2. Pesawat Kepresidenan ini dilengkapi segala perangkat teknologi yang berbeda dengan lainnya, yang khusus diterapkan bagi perlindungan dan keamanan presiden sebagai simbol negara.
  3. Secara politis, pembelian pesawat Kepresidenan sudah disetujui oleh parlemen dan panitia anggaran, termasuk PDIP, dan tidak ada yang walk out waktu membahas pembelian tersebut.
  4. Alasan awal membeli pesawat ialah untuk penghematan sebab selama ini biaya carter pesawat cukup besar karena sudah termasuk komponen keuntungan perusahaan penyewaan carter.
Sebelumnya, Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait mengatakan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla harus melakukan efisiensi besar-besaran untuk menyelamatkan ekonomi. Salah satunya adalah menjual pesawat Kepresidenan yang belum lama dibeli oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Enggak bisa pemimpin menyuruh orang sederhana, tapi tidak memberikan contoh,” katanya. 



Sumber : Tempo

0 komentar:

Poskan Komentar