Minggu, Desember 16, 2012
5
BEIRUT-(IDB) : Setelah 6 (enam) bulan sukses mengemban United Nations Security Council Resolution (UNSCR) Nomor 1701, pada tanggal 12 Desember 2012, KRI Sultan Hasanuddin-366 bertolak dari pelabuhan Beirut, Lebanon  menuju Tanah Air. Kesuksesan dan kebanggaan dirasakan oleh seluruh prajurit KRI Sultan Hasanuddin-366 karena telah berhasil melaksanakan misi perdamaian dunia setelah bergabung dengan Maritime Task Force/United Nations Interim Force In Lebanon (MTF/UNIFIL) di bawah bendera PBB sejak bulan Juni silam.

Keberangkatan KRI Sultan Hasanuddin-366 dilepas oleh Duta Besar RI Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Lebanon Bapak Dimas Samodra Rum, MTF Commander Rear Admiral Wagner Lopes de Moraes ZAMITH, Atase Pertahanan RI di Kairo Kolonel (Mar) Ipung Purwadi, Komandan Kontingen Garuda Kolonel ADM Darmawan Bhakti, Pejabat MTF, perwakilan Kontingen Garuda dari Naqoura dan Indobatt serta Staf KBRI. Sebelum pemberangkatan, para prajurit KRI Sultan Hasanuddin-366 menerima pengarahan dan ucapan selamat atas keberhasilan dalam misi perdamaian ini dari Dubes RI LBBP, di geladak Hely.

Masa penugasan KRI Sultan Hasanuddin-366 dalam MTF/UNIFIL secara resmi berakhir (Out of Change Operations) pada tanggal 9 Desember 2012 pukul 15.00 local time, hal ini ditandai dengan penurunan bendera PBB dan penghapusan tulisan UN pada lambung kapal. Banyak prestasi yang ditorehkan KRI Sultan Hasanuddin-366 selama 19 kali ontask, antara lain telah berhasil melaksanakan hailing  sebanyak  686 kontak kapal permukaan dan melaksanakan monitor military air activity sebanyak 135 kontak pesawat militer. Selain itu bertindak sebagai MIO Commander sebanyak 13 kali, sebagai Anti Air Warfare Coordinator sebanyak 21 kali dan sebagai Hello Element Control sebanyak 18 kali.

Pengakuan keberhasilan yang dicapai oleh KRI Sultan Hasanuddin-366 dalam menjalankan misi perdamaian di wilayah perairan Lebanon ini ditunjukkan dalam bentuk penghargaan yang diberikan oleh Pemerintah Lebanon melalui Lebanesse Armed Force Navy (LAF-Navy). Penghargaan itu berupa Valour Medale yang diserahkan langsung oleh Commander in Chief of LAF-Navy Colonel Joseph Gadban kepada Komandan KRI Sultan Hasanuddin-366 selaku Komandan Satgas Maritim TNI Konga XXVIII-D/UNIFIL 2012 Letkol Laut (P) Dato Rusman SN, di Markas LAF-Navy yang dihadiri para Perwira Senior LAF-Navy.

Selain menerima penghargaan dari LAF-Navy, KRI Sultan Hasanuddin-366 juga menerima penghargaan berupa Certificate of Appreciation dari PBB yang diserahkan oleh Force Commander and Head of Mission of the UNIFIL  Major General Paolo Serra yang diterima oleh Komandan KRI Sultan Hasanuddin-366 di Markas UNIFIL, Naqoura tanggal 26 Nopember lalu dan Certificate of Appreciation dari MTF Commander. Selain itu KRI Sultan Hasanuddin-366 juga mendapatkan Outstanding Performance Evaluation dari MTF Commander atas dedikasi dan kontribusinya dalam turut mewujudkan Mandat PBB 1701 dan 2604.



 

Sumber : TNI

5 komentar:

  1. Selamat dan Sukses dalam melaksanakan tugas. Waktunya untuk lepas tambat dari lebanon dan menuju tambatan di tanah air. Begitu pula hati para prajurit ingin segera tambat di pelabuhan rumah masing - masing. Bravo!!!
    Warning !!! jangan lupa para pemilik kiosk dan toko-toko disekitar perumahan prajurit yang baru pulang dari Lebanjon agar menambah stock shampoo ya.

    BalasHapus
  2. komentar anda sebenarnya memuji apa menghina bro?

    BalasHapus
  3. Gambar di artikel ini, memperlihatkan Dan KRI Hassanudin mengenakan seragam "Navy Blue" dengan 3(tiga)strip di ujung lengan yang berarti pangkatnya "Liuetenant Commander" alias "Letnan Kolonel" , namun jarang di publikasikan seragam "Navy Blue" untuk para Tamtama padahal lebih gagah dan kelihatan tampan karena mereka melengkapi seragam dengan dasi yang "nglewer" dan "Dop"nya putih bersih.
    Jaman dulu, Tamtama ALRI lebih gagah lagi dengan celana " cut bray " biru tua dan baju abu-abu yang dilipat pendek sehingga kelihatan keker lengannya, Apalagi kalau tanda kesatuannya tertempel gambar dua jangkar bersilang warna kuning didasari warna merah waah banget karena berarti mereka dari Korps Pelaut.
    Dahulu pada tahun 1960-an Tamtama dan Bintara ALRI dijuluki ( diberi nama) oleh masyarakat Surabaya sebagai "PGT" yang artinya bukan Pasukan Gerak Tjepat tapi....;
    (Pasukan Nggandol Tengki) tapi itu dulu.
    Tabik.

    BalasHapus
  4. Jelas memuji dan disertai rasa bangga dong !!!,
    Namun disertai ungkapan yang akrab di kalangan masyarakat saja yang dekat dan bersinggungan secara bathin dengan para tentara / ALRI.
    Kiranya mohon maaf kalau tersinggung atau tidak senang dengan tulisan saya.

    BalasHapus