Pages

Sabtu, Januari 11, 2014

Latma Manyar Indopura XIII/2014 Digelar

RIAU-(IDB) : Latihan bersama antara TNI AU dengan Republic Singapore Air Force (RSAF) dengan sandi Manyar Indopura XIII/2014 mulai digelar di Lanud Roesmin Nurjadin belum lama ini Telah datang juga dua pesawat helikopter Colibry dan satu pesawat Cinook yang mendarat di Lanud Rsn,kemarin.

Pada latihan ini TNI AU akan melibatkan satu helikopter Colibry dari Skadron Udara 7 Lanud Surya Dharma, Kalijati dan satu pesawat helikopter Super Puma dari Skadron Udara 6 Lanud Atang Sanjaya. RSAF sendiri akan melibatkan dua pesawat helikopter Colibri dari Skadron 124, Sembawang Air Force Base. 

Latihan Manyar Indopura merupakan latihan Search and Rescue yang akan berlangsung hingga tanggal 17 Januari 2014 mendatang. Dalam beberapa hari kedepan kedua Angkatan Udara akan melaksanakan latihan SAR pertempuran baik latihan dalam upaya pencarian korban dalam pertempuran maupun upaya penyelamatannya sehingga dapat dievakuasi ke tempat yang aman untuk mendapatkan pertolongan medis. 

Pada pelaksanaannya selain melibatkan helikopter colibry dalam upaya evakuasi udara dan Escort udara latihan ini juga melibatkan pasukan Batalyon 462 Paskhas dan personel Rumkit Lanud Rsn.

Selain bertujuan meningkatkan kemampuan prajurit kedua angkatan udara dalam hal pelaksanaan SAR pertempuran, latihan Manyar Indopura juga bertujuan meningkatkan hubungan baik antar kedua negara khususnya hubungan TNI AU dengan Republic Singapore Air Force.



Sumber : TNI AU

Review Pengadaan Kapal Selam Kilo

Kapal Selam Kilo buatan Rusia
Kapal Selam Kilo buatan Rusia
JAKARTA-(IDB) : Indonesia pernah menjadi Negara yang memiliki kekuatan angkatan laut terbesar kedua di Asia. Kekuatannya berintikan Kapal Penjelajah kelas Sverdlov, KRI Irian, yang berbobot 16.640 ton dan berawak 1.270 orang termasuk 60 perwira memiliki 12 meriam raksasa kaliber 6 inci.

Indonesia juga pernah memiliki 12 Kapal Selam (KS) kelas Whiskey, Kapal Tempur kelas Fregat. Sedangkan di udara hadir pembom torpedo Il-28T, heli Mi-4 Anti KS, serta AS 4 Gannet. Namun sayangnya, kondisi Alut Sista saat ini jauh dari kebutuhan untuk menjaga dan mempertahankan Negara.

Kekuatan TNI AL khususnya, kapal perang sebagai inti kekuatan laut saat ini memang menunjukkan jumlah yang cukup besar. Namun, menjadi pertanyaan apakah sudah memenuhi postur pertahanan Negara yang dibutuhkan?

Kapal Republik Indonesia (KRI) berjumlah 132 kapal, KRI, dengan kekuatan utama berupa kekuatan pemukul (Striking Force) terdiri dari 40 KRI yang memiliki persenjataan strategis. Utamanya dua KS jenis Cakra, sejumlah Fregat dan Korvet.

Kapal pemukul TNI AL secara jumlah masih kurang memadai. Apalagi, pada umumnya merupakan kapal hasil refit dan rearm atau diganti mesin penggerak dan persenjataannya, kecuali 4 Korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach) yang dibeli dalam keadaan baru. Ada juga beberapa Kapal Cepat Roket maupun Kapal Cepat Torpedo produksi dalam negeri yang kecil, dengan kelaikan laut terbatas.

Membangun Kembali Kekuatan TNI-AL
 
Pembangunan kekuatan pertahanan Negara perlu terus dilakukan untuk menghadapi hakikat ancaman dengan memperhatikan perkembangan lingkungan strategis, kondisi geografis serta tugas pokok. Pada akhirnya mengarah pada penggelaran dan pengerahan kekuatan untuk efek penangkalan serta pada saat diperlukan untuk memenangkan pertempuran dalam mempertahankan keutuhan serta menjaga keamanan Negara RI.

Salah satu isu yang mengemuka saat ini adalah tentang pembelian KS untuk memperkuat kemampuan tempur laut TNI. Pilihan terhadap penambahan KS cukup masuk akal. Ini mengingat kemampuannya sebagai senjata strategis yang memiliki daya tangkal yang memang sangat dibutuhkan di tengah sikap arogan Negara-negara sekitar kita saat ini.

KS merupakan alutsista yang memiliki kerahasiaan tinggi, khususnya terhadap misi yang dijalankan, komposisi, disposisi, serta dalam aspektaktis, kesulitan lawan dalam menentukan posisi tepat KS untuk melakukan tindakan peperangan anti KS.

Ada beberapa tugas yang dapat dikerjakan oleh KS. Antara lain: pengendalian laut, anti KS dan kapalatas air, pengintaian, pendaratan pasukan khusus di pantai lawan, Search and Rescue, intelligence, surveillance, and reconnaissance, dukungan terhadap gugus tempur laut, peperangan ranjau, angkutan barang dan orang yang sangat berharga serta serangan terhadap sasaran di pantai lawan dengan menggunakan peluru kendali.

Beberapa pilihan silih berganti muncul kepermukaan. Beberapa diantaranya adalah jenis Scorpen buatan Prancis, Kilo buatan Rusia, U-209/ 1400 buatan Jerman dan Changbogodari Korea Selatan. Bahkan, tiga KS jenis Changbogodari Korea Selatan akan tiba mulai tahun 2014 atau 2015.

Menjadi pertanyaan, apa jenis dan berapa jumlah KS yang masih kita butuhkan untuk menambah kekuatan yang telah ada saat ini?

Dilihat dari kondisi hidrografi, Indonesia bagian barat berupa perairan dangkal, sedangkan wilayah timur merupakan perairan dalam. Dengan demikian, KS yang dibutuhkan adalah jenis sedang, yang mampu beroperasi di perairan pantai. Di saat sama, juga mampu beroperasi di laut dalam pada wilayah yang cukup jauh dari pangkalan, sekitar 200 mil sampai Zona Ekonomi Eksklusif.

Terdapat 51 negara di dunia yang memiliki KS. Di Asia Tenggara sendiri ada Singapura (Challenger dan Archer), Malaysia (Scorpen), dan untuk kawasan Asia lainnya ada RRC, Jepang, India (Foxtrot, U-209, Kilo, Scorpen, Akula, dan sedang mengembangkan Arihant yang merupakan KS berpeluru kendali dengan tenaga pendorong nuklir).

Kini, ada juga tawaran hibah dari Rusia, yakni dua buah KS jenis Kilo, yang merupakan KS disel listrik. Rencananya, angkatan laut Federasi Rusia akan menggantikan KS kelas Kilo dengan KS Kelas Lada, namun proyek ini ditunda karena ditemukan banyak kelemahan. Menurut buku “Jane’s Fighting Ships 2011-2012”, sebanyak 18 KS Kelas Kilo masuk dalam jajaran kekuatan angkatan laut Federasi Rusia, mulai tahun 1981 sampai 1994.

Artinya, KS kelas Kilo yang paling baru pun sudah dipakai selama sekitar 20 tahun. Dan, kita tidak pernah tahu bagaimana kondisinya saat ini mengingat KS sangat dirahasiakan keadaan dan keberadaannya.

Masih menurut publikasi tersebut, desain badan kapal kelas Kilo walaupun sudah lebih baik dibandingkan kelas Tango yang sudah tidak dipakai lagi oleh Rusia sejak tahun 2010, namun masih ketinggalan (fairly basic) dibandingkan dengan KS desain Barat. Selain itu, diingatkan juga dalam publikasi di atas mengenai baterai kelas Kilo yang telah menjadi sumber masalah dalam operasi di perairan hangat seperti di Negara-negara Asia. Ekspor terbanyak KS kelas Kilo adalah ke India yaitu, sebanyak 10 buah.

Senjata Yang Diawaki
 
Sistem senjata angkatan laut memiliki keunikan, yaitu bukan manusia yang dipersenjatai, melainkan senjata yang diawaki. Dengan demikian, pendidikan awak kapal baik untuk operator maupun mekanik selalu panjang, bertahap, berjenjang dan berlanjut untuk memperkuat kemampuan individu dan terutama mengasah kerjasama tim. Pendidikan calon awak kapal selam lebih lama dibandingkan kapal atas air mengingat faktor kesulitan pengoperasian dan pemeliharaannya.

Di sisi lain, sudah sejak tahun 1970 TNI AL tidak lagi menggunakan KS kelas Whiskey dari Rusia. Dan, sejak tahun 1981 mulai menggunakan KS kelas U 209/ 1300 buatan Jerman. Sistem pendidikan awak KS merupakan faktor utama dalam kesiagaan sistem senjata, dan sudah sejak tahun 1980-an didesain untuk mengawaki KS Negara Barat.

Hibah dua buah KS kelas Kilo rasanya tidak akan menjadikannya sebagai tulang punggung kekuatan kapal selam TNI AL sehingga pendidikan awaknya pun akan mengalami kesulitan. Belum lagi kendala bahasa bagi para awak kapal yang lebih terbiasa dengan bahasa Inggris.

Kemampuan awak kapal merupakan ukuran kesiapan atau readiness, selain tentunya kesiapan teknis. Ditambah dengan kemampuan taktik dan kemampuan alat deteksi dan tingkat modernisasi persenjataan akan merupakan ukuran efektifitas, bahkan efisiensi kekuatan laut. Dengan demikian, selain masalah pelatihan, kesiapan teknis KS Kilo nantinya akan menjadi pertanyaan besar mengingat usia kapal yang rata-rata sudah di atas 20 tahun.

Kita perlu memperhitungkan kesediaan suku cadang yang diperkirakan akan langka dalam hitungan beberapa tahun serta bengkel dan teknis pemeliharaan kapal yang tentunya membutuhkan peralatan dan keahlian tersendiri serta kemungkinan modernisasi mesin pendorong, alat deteksi dan persenjataan, yang walaupun masih memungkinkan secara teknologi diperkirakan akan lebih mahal daripada membeli baru.

Dengan pemikiran di atas, kiranya pemerintah perlu mempertimbangkan kembali pengadaan KS kelas Kilo, yang walaupun merupakan hibah tentunya untuk perbaikan dan modernisasi sensor dan persenjataannya akan menggunakan APBN.

Mungkin program U-209/ 1400 buatan Jerman atau Changbogo Class dari Korea Selatan lebih feasible dalam jangka panjang, terutama bila mesin penggerak dan pendorongnya dikembangkan untuk menggunakan air-independent propulsion(AIP) serta dengan mengupayakan adanya transfer teknologi dalam pemberdayaan indutri kapal nasional.

Dengan pengadaan 12 KS yang relatif sejenis, maka masalah logistik akan menjadi lebih mudah dan murah, serta menjadi kekuatan penangkal yang diperhitungkan.

Rosihan Arsyad * Penulis adalah Laksamana Muda TNI (Purn), Gubernur Sumsel 1998-2013, President United in Diversity Forum, anggota Institute for Maritime Studies danAdvisory Board Member Conservation International Indonesia.




Sumber : JKGR

Helikopter Bell TNI AD Mendarat Darurat Di Purwakarta

PURWAKARTA-(IDB) : Satu pesawat helikopter jenis Bell milik TNI AD mendarat darurat di Kampung Talaga, Desa Pasirmunjul, Kecamatan Sukatani, Purwakarta, Jumat (10/1/2014).

Diduga mendaratnya heli tempur miliki TNI tersebut karena mengalami kerusakan saat akan melakukan penerbangan dari Bandung menuju Jakarta.


Informasi yang diperoleh "PRLM", mendaratnya pesawat helikopter jenis Bell dengan nomor HX 4131 menjadi tontonan warga. Mereka ingin dari dekat melihat pesawat helikopter tempur yang turun secara mendadak di daerahnya.


Sebenarnya, pesawat helikopter milik TNI terbang berbarengan sebanyak 6 pesawat heli dari Bandung menuju Jakarta.


Entah mengalami kerusakan atau sebab lain, satu helikopter yang ditumpangi enam orang itu turun secara mendadak di sebuah lapangan di Rt 10 Rw 03 Kampung Talaga, Desa Pasirmunjul, Kecamatan Sukatani, Purwakarta pada pukul 16.00 WIB.


Namun turunnya pesawat heli tersebut diikuti satu pesawa heli lainnya guna membantu temannya yang mengalami kerusakan mesin. Sedangkan empat pesawat heli lainnya melanjutkan perjalanannya ke Jakarta.



Sumber : PikiranRakyat

Vietnam Consider Purchasing T-90 Tanks From Russia

HANOI-(IDB) : Vietnam Ministry of Defense is considering the possibility to upgrade T-72 tanks out there and buy a new rise of the Russian T-90, according to Voice of Russia 10.1 days.

Storage tanks of Vietnam has long been in need of improvement and now consists mainly of type T-72 and T-55 Soviet production, electronic portal i-Mash.ru said.

Vietnam Ministry of Defense is considering the possibility of upgrading the T-72 tank and buy a new tank T-90. Military experts studied the T-90 tank during military exercises in India.

Russian tanks meet the requirements of the military in Vietnam. However, it would have a hard time to unify the entire tank storage. To reduce the cost of maintenance, the tank unit must be re-armed with new combat vehicles, accompanied by the complexity of organization and logistics.

The T-90 is the upgraded version of the T-72. The T-90 weighs 47.5 tons, range 550-700 km. Vehicles equipped with 1 125 mm guns, one 12.7 mm machine guns, one 7.62 mm machine guns, more bullets smoke launchers. Be explosion-proof armored vehicles, thermal imaging systems, laser sight, electronic jamming system against anti-tank missiles.

From 2011 the Russian army stops ordering the T-90, waiting for a more modern type of T-99 (from 2020).




Sumber : Baomoi

TNI AU Semakin Percaya Diri Kawal Dirgantara NKRI

JAKARTA-(IDB) : TNI Angkatan Udara semakin percaya diri menjaga Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), terutama wilayah udara (Dirgantara) seiring dengan pemenuhan Minimum Essential Force (MEF) TNI AU yang hingga kini sudah mencapai 28,7 persen.

“Sampai saat ini MEF TNI AU sudah mencapai 28,7 persen dari renstra kita pengadaan 102 pesawat berbagai jenis. Dan harapan kita tahun 2024 mendatang MEF TNI AU sudah mencapai 100 persen,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahyanto pada acara kunjungan Silaturrahmi ke Kantor Harian Umum Pelita, di Jalan Minangkabau, Manggarai, Jakarta Selatan, Kamis (9/1/2014). Turut hadir Kasubdispenum Dispenau,Kasubdispenpas, Kasubdisjarah, dan sejumlah pejabat teras Dispenau.


Lebih lanjut Kadispenau menyampaikan TNI AU akan terus meningkatkan kekuatan pertahanan udara nasional guna meningkatkan kewibaan bangsa Indonesia di mata Internasional dalam hal kedirgantaraan. “Negara akan berwibawa jika pertahanan udaranya kuat. Untuk itu TNI AU akan terus berupaya meningkatkan kekuatan, baik itu Alutsista maupun sumber daya (personel),” kata Kadispenau.

Kadispenau juga mengatakan, dengan hadirnya alutsista baru TNI AU, baik itu pesawat tempur, radar, maupun rudal, maka kedepannya tidak ada lagi penerbangan gelap yang melintas di wilayah udara Indonesia. “Saat ini radar-radar TNI AU bekerja 24 jam guna memantau ancaman yang datang, termasuk penerbangan gelap. Dan kita juga telah memiliki Skadron Sukhoi di Makassar yang siap memukul,” tegas Kadispenau.

Alhasil, kata Kadispenau, kehadiran pesawat tempur Sukhoi di Makassar telah mengurangi kegiatan penerbangan gelap di wilayah Kalimantan.

Pada bagian lain, Kadispenau menyampaikan harapan TNI AU menjadi kekuatan yang dapat disegani dan sekaligus merebut hati rakyat. Hal itu dilakukan selain menunjukkan kepada rakyat Indonesia mengenai kekuatan TNI AU, juga dengan cara menggali potensi sejarah kedirgantaraan yang pernah terjadi di Indonesia.

“Dalam konteks ini kita berharap kerjasama dengan media untuk menyampaikan pesan kedirgantataan kepada masyarakat, sehingga masyarakat, khususnya generasi muda yang merupakan generasi penerus dapat berperan aktif turut serta membangun kekuatan dirgantara,” jelasnya.

Salah satu contoh, kata Kadispenau, lintas sejarah kekuatan udara Perang Dunia ke-II sangat penting untuk digali, karena kekuatan udara pada perang dunia ke-II adalah terbesar di indonesia. Seperti di wilayah Morotai maupun di Papua serta wilayah lainnya. "Perang udara antara tentara Jepang melawan angkatan udara Sekutu memang bukan perang kita, tetapi sejarah berada di wilayah kita yang merupakan inspirasi untuk menggali sejarah," ungkap Kadispenau.

Belum lagi sejarah bagaimana Presiden Soekarno yang merelakan menjual mobilnya untuk demi melanjutkan pembangunan monumen dirgantara. Selain itu juga kisah seorang prajurit TNI AU berpangkat Kopral yang bertugas memantau radar, dan ternyata berhasil menangkap pesawat mata-mata Amerika. Hal ini selanjutnya dijadikan alat diplomasi Presiden Soekarno kepada Amerika untuk menekan Belanda hengkang dari Tanah Air.

“Kisah-kisah seperti ini kami kira perlu disampaikan kepada masyarakat sehingga masyarakat mengetahui kisah-kisah ada ada dibalik TNI AU,” ujar Kadispenau.




Sumber : PelitaOnline

Tiga Pesawat CN-295 Perkuat Skadron Udara 2 Halim

JAKARTA-(IDB) : Tiga pesawat angkut sedang CN-295 buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) kembali memperkuat TNI Angkatan Udara setelah selesai dalam pembuatannya dan diserahkan ke Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma, Kamis(9/1) di Hanggar Skadron Udara 2.


Pesawat baru tail number A-2903, A-2904 dan A-2905 tersebut merupakan rangkaian pesanan pemerintah dari total 9 pesawat CN 295 pada PT DI untuk menggantikan Pesawat Fokker 27. Dua pesanan pertama Pesawat CN 295 telah diserahkan ke Skadron Udara 2 sejak Oktober 2012 lalu.


Dalam sambutannya Komandan Skadron Udara 2 Letkol Pnb Destianto Nugroho Utomo menyampaikan kedatangan tiga pesawat baru CN 295 tersebut akan didayagunakan sebaik-baiknya untuk pelaksaan tugas-tugas Skadron Udara 2 dalam hal angkutan personel dan logistik, penerjunan pasukan dan logistik, evakuasi medis udara, patroli udara terbatas, maupun misi kemanusiaan lainnya. Untuk itu, Komandan Skadron Udara 2 berharaf kepada segenap crew dan personel Skadron Udara 2 agar dapat mengoperasionalkan dan merawat dengan baik.


Kedatangan ketiga pesawat tersebut sudah diawaki oleh crew Skadron Udara 2 didampingi para teknisi dari PT DI.




Sumber : TNI AU

AS Akan Modernisasi Senjata Nuklir

WASHINGTON-(IDB) : Amerika Serikat (AS) berniat memodernisasi senjata nuklirnya. Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel, menilai modernisasi penting untuk menjaga keamanan AS.

“Modernisasi senjata nuklir untuk memastikan AS selalu aman dari ancaman,” ujar Hagel, seperti dikutip Reuters, Kamis (9/1/2014).

“Program ini memang membutuhkan banyak biaya dan sumber daya. Pemerintah AS berkomitmen untuk melakukan investasi,” lanjutnya.

Program modernisasi membutuhkan dana sebesar USD1 triliun atau setara dengan Rp12.193 triliun (Rp12.193 per USD). Prosesnya diperkirakan akan berlangsung hingga 30 tahun.
 
Langkah Pemerintah AS didukung oleh ahli nuklir di negaranya. Mereka merasa AS kini terancam perkembangan militer Rusia dan China.

“Saya tidak mau Rusia berpikir senjata nuklirnya yang lebih superior dari kita. China juga semakin agresif di kawasan Asia Pasifik. dengan kondisi itu, kita tidak bisa menurunkan kemampuan senjata nuklir kita,” ujar pengamat nuklir AS, Clark Murdock.




Sumber : Okezone

Indonesian Firm Wins Bidding For Supply Of 2 Navy Vessels

MANILA-(IDB) : An Indonesian company has won the bidding for the supply of two new vessels for the Navy.
 
Sources told The STAR a notice of award for the P4-billion acquisition of two strategic sealift vessels was issued to PT PAL Indonesia (Persero) late last month.


This was confirmed yesterday by Defense Undersecretary Fernando Manalo, who oversees the military’s upgrade efforts.


“Yes, I think there is a NOA (notice of award) already,” Manalo said when asked whether PT PAL had won the bidding for the project.


PT PAL offered to supply the two ships for $86,980,000 or about P3.864 billion, well within the approved budget of P4 billion.


The strategic sealift vessels can be used for civil-military operations and for transporting large number of soldiers, logistics and supplies. Each of the vessels can also accommodate three helicopters.


Nine companies bought bid documents for the project but only two of them submitted offers.


The other bidder, Daewoo International, was declared by the Bids and Awards Committee as ineligible due to its failure to meet certain technical requirements.


The other companies that had expressed interest in the project but had not submitted bids were Propmech Corp., Larsen & Toubro, Stone of David Tactical Equipment, STX Offshore Shipbuilding Co., Keppel Philippines Marine Inc., PT Citra Shipyard, and a joint venture between Astartez Defense and Rescue Solution Co. and Coastal Industries Pse. Ltd.


PT PAL underwent post-qualification process in the last quarter of 2013 before it was declared the winner. The post-qualification phase sought to verify the financial and technical documents submitted by the bidder.


The strategic sealift vessels acquisition project is one of the big-ticket items in the military’s upgrade program.




Source : ABS