Pages

Rabu, Juni 12, 2013

Berita Foto : Perkembangan Terbaru Pindad

BANDUNG-(IDB) : PT. Pindad di Bandung Jawa Barat, tak ada rasa bosan rasanya mengunjungi Pabrik senjata yang satu ini.

Apalagi, dalam waktu dekat ini Pindad akan kebagian banyak proyek pertahanan. Sudah menjadi naluri military fanboys semacam ARC untuk mencari tahu apalagi informasi terbaru dari pabrik kebanggaan bangsa ini.
 


Selain itu, ARC juga berencana menulis buku kedua mengenai Panser Anoa. Karenanya kunjungan kali ini juga digunakan untuk menambah informasi dan foto-foto detail.




Pindad sendiri kini masih disibukkan dengan pesanan Anoa yang telah mencapai lebih dari 200 unit. Khusus Anoa, tahun ini Pindad kembali mendapat pesanan sebanyak 90 unit. Selain itu Pindad juga masih harus menyelesaikan pesanan Ranpur Komodo.

Disisi lain, Pindad juga telah menyiapkan lahan untuk produksi Tank medium bekerjasama dengan FNSS Turki. oya Pindad dalam waktu dekat akan sibuk merakit panser baru dari Korea Selatan, yaitu Tarantula. Sejak 5 juni lalu sebanyak 10 unit Tarantula telah tiba dalam bentuk terurai dan masih tertutup terpal.








Sumber : ARC

Berita Foto : Exercise Garuda Shield 2013 (1)

Berikut Foto2 Exercise Garuda Shield 2013



Sumber : Kaskus

Pengamat : RUU Komcad Harus Mencakup Semua Komponen Bangsa

JAKARTA-(IDB) : Pengamat militer dari Universitas Indonesia (UI) Andi Wijayanto mengatakan, RUU Komcad tidak perlu buru-buru disahkan. Namun harus diperbaiki terlebih dulu.
 
"Seharusnya RUU Komcad bukan dalam bentuk militerisasi rakyat. Namun RUU Komcad harus mengarah pada pemanfaatan sarana dan prasarana yang ada di Indonesia,"katanya.

Sebagai contoh, terang Andi, dari pada pemerintah membeli puluhan skuadron baru yang tidak tahu kapan akan digunakan, alangkah baiknya jika pemerintah membuat kerja sama militer dengan maskapai penerbangan di dalam negeri.

"Garuda, Merpati, Lion Air seharusnya bisa  dimobilisasi untuk keperluan militer jika negara dalam keadaan darurat," terangnya.

Selain itu, ujar Andi, para pilot maskapai komersial tersebut juga harus diberi pelatihan militer agar bisa menerbangkan pesawat dalam keadaan darurat dan perang. "Pilot-pilot Garuda harus diberi pelatihan terbang gelap, itu yang harus disiapkan untuk perang pada  abad teknologi,"ujarnya.

Perusahaan jalan tol, terang Andi, juga diwajibkan untuk menyiapkan satu ruas jalan tol yang  bisa dijadikan landasan pesawat tempur. "Jadi RUU Komcad harus difokuskan pada pemanfaatan segala sarana dan prasarana yang ada,"terangnya.

Pabrik Astra Internasional, ujar Andi, sebaiknya juga diminta untuk membuat komponen cadangan seperti tank-tank guna persiapan perang. Ini akan membuat negara siap menghadapi perang kapan saja.







Sumber : Republika

Pengamat : Penginderaan TNI AL Yang Memprihatinkan

JAKARTA-(IDB) : Sistem kelautan Indonesia memang tergantung dengan negara lain. Saat ini, sistem penginderaan TNI AL di wilayah barat dikendalikan sepenuhnya oleh Singapura. “Jadi, kalau TNI AL dalam hal ini Komando Armada Barat ingin tahu kapal apa saja yang mau lewat atau masuk ke alki barat, harus menunggu data dari Changi, Singapura,” kata pengajar intelejen S1 UI Andi Widjojanto Phd dalam Paska Sarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia Rabu (12/6).
Sedangkan, alur laut di wilayah tengah dan timur masih jadi rebutan. “Ada kemungkinan Beijing yang dapat. Jadi, nanti kapal kapal perang kita traficnya tidak dipantau dari Surabaya tapi dari Beijing,” katanya.
   
Dari sisi sumber daya alutsista, Indonesia juga sangat terbatas. Indonesia tidak mempunyai kapasitas kapal perang canggih yang bisa mengimbangi negara-negara besar. “Kita tidak bisa melakukan blokade laut di wilayah kita sendiri. Kalau AS atau China mau lewat, tidak bisa dibendung,” katanya.
   
Dia mencontohkan, dalam latihan gabungan TNI Mei lalu, seharusnya alur laut kepulauan Indonesia dinyatakan tertutup bagi negara lain karena sedang ada kapal-kapal perang yang berlatih. “Tapi, pada praktiknya tidak,” katanya.
   
Andi menambahkan, dari sisi teknologi, pertahanan laut Indonesia terancam sangat tertinggal. Dia mencontohkan, Amerika Serikat sedang merancang sebuah kapal selam stealth (siluman) yang bisa terbang tanpa terdeteksi radar. “Itu artinya, jika tiba-tiba ada kapal itu masuk ke Tanjung Priok, lalu terbang dan Monas hancur dibom, kita tak bisa apa-apa,” katanya. Teknologi lanjut Andi, akan selesai tahun 2030. “Semoga Indonesia segera berbenah dan tidak hanya ribut soal sapi atau jengkol yang harganya naik,” katanya disambut tawa sekitar 200 peserta diskusi yang hadir di Gedung Paskasarjana UI.
  


Melda Kamil, Phd  menantang pemerintah untuk berani melakukan langkah ekstrem dalam menegakkan kedaulatan di laut. “Tapi, apakah kita berani ? Misalnya dengan Cina, seperti dulu saat tahun 1965 kita berani putuskan hubungan. Di soal laut ini apa kita punya keberanian ? Saya kok tidak yakin,” kata pakar hukum laut Internasional itu.
   
Melda menjelaskan, banyak aturan-aturan hukum di laut yang merugikan kedaulatan Indonesia. Cina misalnya, menetapkan dua titik di Natuna sebagai batas wilayah mereka. Kapal-kapal berbendera asing pun dengan santai dan rileks melintas di alur laut Indonesia tanpa sanksi yang tegas.
   
“Bagaimana jika kapal itu menaruh barang berbahaya saat melintas. Kita sebenarnya sangat terancam,” kata Melda. Indonesia juga tidak bisa menerapkan suatu aturan yang berlaku internasional yang disebut hot pursuit.

Hot pursuit adalah sebuah mekanisme pengejaran oleh sebuah negara berdaulat ketika ada kapal asing yang melanggar batas tanpa izin dan melakukan pelanggaran hukum. “Aturannya membolehkan bisa sampai ke laut bebas bahkan zona ekonomi ekslusif negara lain, tapi syaratnya harus kapal perang (war ship), yang selama ini tidak kita lakukan,” katanya. 





Sumber : JPNN

Insiden Penerjun Nyasar Warnai Upacara Penutupan Latihan Bersama Malindo

MEDAN-(IDB) : Penutupan latihan gabungan bersama Malaysia Indonesia (Latgabma Malindo) yang berlangsung di Medan, Rabu (12/6) siang, diwarnai insiden setelah sejumlah penerjun payung asal negeri jiran ini nyasar saat mendarat.


Bahkan ada penerjun nyasar ke sejumlah tempat di luar Lapangan Benten yang menjadi tempat upacara penutupan.


Awalnya, atraksi tejun payung berjalan normal dan mengundang perhatian warga yang menyaksikan aksi tersebut.


Namun, prosesi penutupan malah berujung insiden karena sejumlah penerjun payung asal Malaysia mendarat jauh dari luar arena dintaranya di Kawasan Pasar Sukarami, pusat perbelanjaan Medan Mal, komplek pertokoan Gaharu dan ada yang mendarat di jalur kereta api Stasiun Besar Medan. Kejadian ini membuat pihak TNI selaku panitia penyelenggara panik.


Sejumlah petugas TNI langsung menjemput para penerjun dan wartawan tidak diperkenankan mewawancarai para penerjun.

Kapolsek Medan Area Kompol Rama S Putra saat dikonfirmasi membenarkan adanya penerjun payung yang nyasar di wilayah hukumnya. “Iya, tadi ada saya dapat kabar,”katanya.

Penyebab Penerjun Nyasar

Belasan personel TNI dan Angkatan Tentera Malaysia (ATM) mendarat jauh dari Lapangan Benteng, Medan yang menjadi lokasi pendaratan. Para penerjun umumnya terdorong ke arah timur dari pusat Kota Medan.

Penyebab melesetnya pendaratan terjun payung para personel TNI dan tentara Malaysia itu diperkirakan karena cuaca tidak mendukung. Sebab menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), penerjunan itu terjadi saat angin bertiup kencang.

"Anginnya memang bertiup kencang, arahnya dari barat," kata Mega Sirait, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Bandara Polonia Medan, Rabu (12/6).

Dia merinci, kecepatan angin di permukaan tanah ketika itu sekitar 13 knot, 11 knot di ketinggian 1.000 dan 2.000 kaki. Di ketinggian 3.000 angin bertiup dengan kecepatan 19 knot. Tiupannya semakin tinggi menjadi 25 knot pada ketinggian 4.000 kaki.

"Lalu, pada 5.000 kaki kecepatannya 33 knot atau sekitar 60 kilometer per jam. Normalnya rata-rata 15 knot," terangnya.

Mega memaparkan, kecepatan angin ini sudah dikoordinasikan dengan pelaksana penerjunan. "Tapi, acara penerjunan itu kan terjadwal, jadi tetap harus dilaksanakan," ujarnya.

Keterangan Mega soal kecepatan angin sejalan dengan pengakuan seorang penerjun yang mendarat di lapangan kompleks perumahan di Jalan Gaharu Medan. "Kecepatan angin tiga puluh knot," ucapnya sambil melipat payung.

Bintara ini bersama belasan personel TNI dan Angkatan Tentera Malaysia (ATM) diketahui mendarat jauh dari Lapangan Benteng, Medan. Para penerjun umumnya terdorong ke arah timur dari pusat Kota Medan. Dua penerjun pertama diketahui mendarat di lapangan perumahan Jalan Gaharu.

Kemudian ada yang mendarat di jalan antara Mal Palladium dan kantor Wali Kota Medan. Selain itu, 2 penerjun didapati mendarat di rel kereta api di Stasiun Besar Kereta Api. Di Jalan Pulau Pinang juga ada penerjun yang mendarat.

Empat penerjun mendarat di lokasi proyek konstruksi di Jalan Jawa. Bahkan ada yang mendarat di gedung belum jadi itu. "Mereka dibantu pekerja bangunan sebelum ambulans datang," kata Dedi Ginting, seorang saksi mata.

Sebelum menggelar upacara penutupan Ladgabma Malindo Darsasa-8AB/2013 di Lapangan Benteng, para personel menggelar latihan penanggulangan terorisme di Belawan, Lanud Soewondo dan Hotel Arya Duta, Medan.

Latihan gabungan dibuka Jumat (7/6) dan berlangsung hingga Rabu (12/6). Sebelum upacara penutupan, pasukan gabungan ini melakukan simulasi antiterorisme di Hotel Arya Duta.






Sumber : Poskota 

Dua Kapal Patroli Baru Perkuat TNI AL

JAKARTA-(IDB) : Asisten Logistik (Aslog) Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto menyerahkan dua unit kapal patroli keamanan laut jenis KAL tipe-28 yang diberi nama KAL II-I-62-Sinabang dan KAL II-4-55 Sengiap guna memperkuat jajaran TNI Angkatan Laut  kepada Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Danlantamal) IV Laksamana Pertama TNI Agus Heryana di Mabesal Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (11/6/2013).

Kedua KAL ini merupakan produksi Tesco Indo Maritim yang memiliki kecepatan maksimal 28 knots dan mempunyai  bahan kontruksi aluminium alloy AL5083-H116 pada hull dan super struktur dengan rancang bangun futuristik, sehingga dapat mengoptimalkan  kecepatan dan kelincahan manuver.

KAL II-I-62-Sinabang nantinya akan diserahkan ke Lantamal I Belawan dan dioperasikan oleh Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Simeule, sedangkan  KAL II-4-55 Sengiap akan diserahkan Lantamal IV Tanjung Pinang untuk dioperasikan oleh Pangkatan Angkatan Laut (Lanal) Ranai, Natuna, Kepulauan Riau. Saat ini, kedua kapal tersebut telah siap dalam rangka memperkuat kegiatan operasi dalam mengamankan wilayah perairan laut khususnya di wilayah kawasan yang menjadi tanggung jawab Lanal Ranai dan Lanal Simelue.

Dalam sambutannya, Aslog Kasal Laksda TNI Sru Handayanto menegaskan bahwa dengan melihat luasnya wilayah tanggung jawab dihadapkan pada ancaman aktual dan keterbatasan alokasi anggaran pertahanan matra laut terutama untuk pengadaan kapal perang kombatan yang relatif mahal, diharapkan dengan adanya keberadaan kedua KAL tersebut akan dapat meningkatkan pengamanan perairan.

“Dengan adanya penambahan beberapa KAL ini  diharapkan dapat memenuhi tuntutan tugas-tugas kekamlaan di wilayah Perairan Lanal Simeulue dan Lanal Ranai, sekaligus dapat memberikan motivasi dan spirit serta meningkatkan kinerja kedua Lanal tersebut,” ujar Aslog.

Dalam kesempatan tersebut, juga dikukuhkan jabatan sebagai Komandan dari kedua kapal tersebut yaitu Kapten Laut (P) Teguh Budi Santoso yang menjabat sebagai KAL II-I-62-Sinabang dan Lettu Laut (P) Miftohul Hadi P. yang menjabat sebagai Komandan KAL II-4-55 Sengiap. 




Sumber : TNI AL

PT. PAL Luncurkan Kapal Tunda Dan Peletakan Lunas KCR 60M Ke-3

PAL luncurkan kapal tunda k3-2 pesanan TNI AL

SURABAYA-(IDB) : PT PAL Indonesia (Persero) kembali meluncurkan kapal tunda berkekuatan 2.400 tenaga kuda (M000277), serta melakukan peletakan lunas kapal (keel laying) kapal cepat rudal 60M (W000275) pesanan TNI AL di galangan kapal PT PAL Indonesia di Surabaya, Rabu.

Kapal tunda (M000277) yang diluncurkan tersebut merupakan kapal kedua dari dua kapal sejenis, sedangkan kapal cepat rudal 60M (W000275) merupakan kapal ketiga dari tiga kapal sejenis pesanan TNI AL.

Hadir dalam kesempatan itu Dirut PT PAL Indonesia (Persero) M. Firmansyah Arifin, Aslog Kasal Laksamana Muda TNI Sru Handayanto dan Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono beserta jajarannya.

Kapal tunda kesatu (M000276) telah diluncurkan pada 11 Juni 2013 dan rencananya akan diserahkan pada medio Juli 2013, sedangkan kapal kedua (M000277) yang diluncurkan hari ini akan diserahterimakan pada medio Agustus 2013, setelah dilakukan uji coba.

Kapal Cepat Rudal 60M Ke-3

Sementara itu, peletakan lunas kapal cepat rudal 60M kesatu (W000273) telah dilakukan pada Februari 2013 dan kapal kedua (W000274) pada 18 April 2013, sedangkan kapal ketiga (W000275) dilakukan hari ini.

"Berbagai `improvement` telah dilakukan, dan berhasil dilakukan percepatan penyelesaian, di mana interval normalnya memerlukan waktu tiga bulan, dan dapat diperpendek interval menjadi dua bulan, sehingga diharapkan dapat menyelesaikan penyerahan tepat waktu," ujar Dirut PT PAL Indonesia M. Firmansyah Arifin. 

Dengan peningkatan kinerja tersebut diharapkan kapal yang kesatu bisa diserahkan pada akhir Desember 2013, kapal kedua pada medio Maret 2014, sedangkan kapal ketiga akan diserahkan pada medio Juni 2014.

PT PAL Indonesia, katanya, akan terus berkomitmen untuk berpartisipasi aktif mendukung kemandirian bangsa untuk pengadaan alutsista maupun modernisasi alutsista, sekaligus turut berperan menciptakan keamanan dan martabat bangsa, serta penghematan devisa negara.

"Besar harapan kami dalam kesempatan mendatang PT PAL Indonesia masih terus dipercaya dan dapat berpartisipasi aktif untuk memenuhi kebutuhan kapal-kapal TNI-AL maupun modernisasi alutsista jajaran TNI, khususnya TNI AL," kata Firmansyah.






Sumber : Antara

Indobatt Dan Batalyon Perancis Laksanakan Latihan Operasi Bersama

BEIRUT-(IDB) : Satgas Indobatt (Indonesian Battalyon) Kontingen Garuda (Konga) XXIII-G/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) dan FCR (Force Commander Reserve) Batalyon Perancis menggelar Latihan Operasi Bersama di sekitar AOR (Area of Responsibility) Indobatt, Lebanon Selatan. 

Kegiatan latihan bersama selama 4 hari mulai tanggal 11-14 Juni 2013, diantaranya meliputi patroli bersama, olahraga bersama serta display senjata dan kendaraan. 

Dansatgas Konga XXIII-G/UNIFIL Letkol Inf Lucky Avianto mengatakan, suatu kepercayaan dan penghargaan bagi Satgas Indobatt karena FCR telah memilih sebagai rekan dalam melakukan latihan bersama ini. 

Disamping itu, latihan ini selain untuk menciptakan hubungan baik antara kedua negara yakni Indonesia dan Perancis, sekaligus pula dapat meningkatkan kemampuan kita dalam bersama-sama mensukseskan Misi Perdamaian di Lebanon. 

“Dalam pelaksanaan latihan, perhatikan faktor keamanan dan keselamatan karena keberhasilan dalam melaksanakan latihan bersama ini, salah satunya adalah berjalan dengan lancar tanpa suatu permasalahan," kata Dansatgas Indobatt. 

Sementara itu, Kapten Lauser menilai Indobatt adalah Kontingen yang tangguh, tidak dapat dipandang sebelah mata, pasalnya Prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL ini keberadaannya setara dengan kontingen dari negara lain.





Sumber : PelitaOnline

CN-295 Uji Kemampuan Take Off Dan Landing Di Landasan Pendek

CIBEUREUM-(IDB) : Pesawat TNI AU keluaran terbaru jenis CN 295 memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat dilandasan pendek. Hal itu dibuktikan saat pesawat hasil kerjasama antara PT Dirgantara Indonesia dengan Airbus Military, Spanyol itu melakukan uji coba landasan Lanud Wiriadinata kemarin. Dari panjang landasan 1200 meter, CN 295 hanya butuh 600 meter untuk melaju dan mengangkat badan pesawat membumbung ke udara.

”Pesawat ini baru datang Bulan Oktober 2012. Sekarang diuji coba untuk masuk disemua landasan yang pendek, termasuk di Lanud Wiriadinata ini. Karena salah satu keunggulan pesawat ini (CN 295) bisa take off dilandasan pendek meskipun badannya cukup panjang,” ungkap sang pilot CN 295, Letnan Kolonel Pnb Elistar Silaen, dari Skadron Udara II Wing I Halim Perdana Kusumah, beberapa saat setelah landing di Lanud Wiriadinata, Selasa (11/6).


Pesawat mendarat sekitar pukul 8.45 setelah berangkat dari Bandara Halim Perdanakusumah sekitar pukul 7.45. Setibanya di Landasan Pacu Lanud Wiriadinata pesawat tidak langsung parkir. Melainkan langsung mengambil posisi line up, setelah sempat memutar arah. Pilot langsung melakukan uji coba terbang dengan landasan pendek, dan sempat mengelilingi langit Tasikmalaya satu putaran sebelum akhirnya landing kembali.


Menurut Elis, pesawat angkut sedang taktis generasi terbaru ini memiliki kapasitas untuk membawa 8 ton kargo atau membawa 50 sampai 70 orang personil. Hingga saat ini, dari 9 unit yang dipesat TNI AU dari perusahaan spanyol baru dua yang datang. Dalam waktu dekat pesawat dan ketiga juga akan datang. Pesawat yang menggunakan full glass cockpit itu, minggu lalu baru saja selesai melakukan misi keliling ASEAN.


Pesawat ini bisa digunakan sebagai pesawat pengangkut logistik, bisa juga untuk melakukan penerjunan personil TNI. Rencananya pesawat itu juga akan mencoba landasan pendek di Yahukimo papua dalam waktu dekat. ”Pesawat ini adalah pengembangan dari pesawat CN 235 yang dulu sudah sukses. Untuk pesawat yang ketiga dan keempat nanti Assembly nya di kita (Indonesia). Karena kan ini merupakan hasil kerjasama PT DI dengan Airbus (Airbus Military),” tuturnya.


Sementara itu, Komandan Lanud Wiriadinata, Letnan Kolonel Penerbang Indan Gilang Buldansyah yang juga masih rekan Elis menuturkan kedatangan pesawat tersebut selain dalam rangka misi uji coba di landasan pendek, juga menjadi catatan bagi Lanud Wiriadinata menguji kesiap siagaan melayani lalulintas penerbangan.


Terkait rencana dibukanya penerbangan sipil dan sekolah penerbangan, Indah mengatakan saat ini Lanud Wiriadinata tengah menunggu sertifikat bandara khusus keluar. Setelah dilakukannya verifikasi oleh direktorat bandar udara sebulan lalu. ”Hasil verifikasi itu ada sebelas temuan. Tapi itu hanya administrasi dan intinya yang harus kita lakukan adalah memundurkan marking (penandan landasan). Dan itu sudah kita lakukan, makanya sekarang markingnya mundur sedikit kebelakang kan,” singkat dia.






Sumber : JPNN

Doosan DST Telah Mengekspor Kendaraan Tempur Tarantula 6x6 ke Indonesia

Doosan DST Tarantula 6x6
SEOUL-(IDB) : Kendaraan tempur beroda pertama yang dikembangkan sendiri oleh Doosan DST Korea telah diekspor ke Indonesia.

Pada tanggal 2 Mei lalu, Doosan DST mengirimkan kendaraan lapis baja beroda jenis kendaraan bantuan tembakan kepada Tentara Indonesia (oleh Angkatan Darat Indonesia dinamakan Tarantula 6x6 - Armoured Fire Support Vehicle/AFSV).

Doosan DST telah menerima pesanan kendaraan 6x6 dari Indonesia pada tahun 2009, dengan berbasis pada kendaraan APC lapis baja Black Fox 6×6, produksi dimulai pada November 2010. Mulai awal 2012 prototipe telah menjalani serangkaian penilaian, baik untuk operasional maupun uji penembakan serta tes lapangan dan pada Mei tahun ini produksi telah diselesaikan.



Kendaraan lapis baja beroda yang diekspor ini mempunyai berat 18 ton dengan kru berjumlah 3 orang (pengemudi, penembak, dan komandan), dan dapat memenuhi persyaratan medan di Indonesia. Kecepatan di darat mencapai 100 km/jam, sedangkan di air dapat melaju dengan kecepatan 8 km/jam. Senjata utama berupa kanon 90mm dan senapan mesin 7.62mm untuk fungsi serbuan, kombinasi senjata tersebut dapat digunakan untuk melawan tank dan operasi melawan gerilyawan.

Pejabat Doosan mengatakan "Kendaraan lapis baja beroda saat ini dibutuhkan oleh negara-negara berkembang, produk ini dapat bersaing dengan produk serupa yang dibuat oleh Turki maupun Rusia, dan kompetitif dalam hal kinerja dan harga, pasar ekspor masa depan yang akan dibidik adalah dari Asia Tenggara, Timur Tengah dan Amerika Selatan," katanya.




Pada tahun 1993 Doosan DST untuk pertama kalinya bagi Korea berhasil mengekspor kendaraan lapis baja roda rantai K200A1 ke Malaysia. 



Kendaraan lapis baja beroda 6X6 yang diekspor ke Indonesia ini dikembangkan dari disain kendaraan lapis baja untuk pasar global.



Kali ini, untuk Angkatan Darat Indonesia dikirimkan 11 unit kendaraan lapis baja beroda dari total 22 pesanan, Doosan DST memproduksi 11 kendaraan lapis baja dan juga melakukan perakitan dengan kubah meriamnya. Kubah meriam 90mm dipasok oleh CMI Defense Belgia dari seri CSE-90 Cockerill Mk3.

Sisanya sebanyak 11 unit akan dikirimkan dalam bentuk semi-rakitan (Semi Knock Down) ke gudang perusahaan pertahanan PT.PINDAD Indonesia untuk dilakukan perakitan. Kendaraan lapis baja Tarantula 6x6 yang dirakit di Indonesia adalah bagian dari kontrak untuk menyediakan 22 Tarantula senilai total $ 70 juta.




Perusahaan pertahanan Indonesia yang disebutkan di atas telah dapat membuat kendaraan lapis baja APC 6x6 dengan berat  11-ton hingga 14-ton, mirip dengan VAB Prancis, dan dikenal sebagai PINDAD APS-3 Anoa. Desain kendaraan tersebut dibuat awal tahun 2006, dan dikembangkan pada tahun 2008. Kendaraan ini bermula dari APS-2 namun setalah dilakukan evaluasi maka dilakukan peningkatan terhadap struktur kendaraan dan kinerjanya sehingga banyak perubahan yang dilakukan.

Indonesia pada tahun 2011, juga melakukan perjanjian dengan FNSS perusahaan Turki yang mengembangkan kendaraan lapis baja Pars 6X6. Melalui perjanjian ini Indonesia mempunyai kesempatan untuk belajar dan melihat teknologi kendaraan lapis baja roda rantai.



PINDAD telah memasok lebih dari 200 kendaraan lapis baja APS-3 Anoa kepada Indonesia dan sekarang tengah diupayakan untuk melakukan ekspor ke Malaysia. Namun, menurut Angkatan Darat Malaysia, rencana modernisasi kendaraan lapis baja Radpanzer Condor 4 × 4 APC dan Sibmas 6 × 6 AFSV (kendaraan lapis baja yang dilengkapi dengan kanon Cockerill 90mm) akan diganti dengan kendaraan lapis baja dari DEFTECH AV-8 8×8 hasil kerjasama teknis dengan Turki.

Dari perjanjian tahun 2010, 2011,2012 disebutkan juga adanya pasokan 54 meriam artileri 105mm seri KH-178 kepada Indonesia.






Sumber : KoreaArms

Batantek Kuasai 51% Kepemilikan Pabrik Nuklir Di AS

JAKARTA-(IDB) : Permintaan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan yang meminta PT Batan Teknologi agar mengembangkan bisnisnya dengan membangun pabrik di Virginia Amerika Serikat (AS) akan terealisasi.

"Kita joint venture, sekarang sudah MoU, sudah partisipasi design juga. Target beroperasi di 2017 di Amerika. Dengan mayoritas saham 51 persen kita, 49 persen mereka," ungkap Direktur Utama Batan Teknologi Yudiutomo Imardjoko kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (11/6/2013).

Dia menjelaskan, total investasi untuk membangun pabrik pengayaan uranium sistem rendah disana mencapai USD170 juta.

"Karena kebutuhan radio isotop di sana sangat tinggi, kita ingin masuk ke pasar Amerika, pasalnya Amerika saat ini selalu mengimpor radio isotop di negara seperti Kanada, Belgia. Hampir 100 persen mengimpor. Dengan masuknya kami ke sana akan membuat pasaran lebih kompetitif," jelas Yudi.

Yudi menjelaskan, saat ini, pihaknya hanya mampu memproduksi sekitar 300 curie radio isotop per minggu yang di suplai untuk 16 rumah sakit untuk kepentingan pengobatan.

"Beda dengan Amerika yang membutuhkan 6.000 curie per minggu. Dan untuk suplai ke rumah sakit sana sampai 1.600 rumah sakit. Walaupun kapasitas produksi nanti di pabrik Virginia hanya 400 curie per minggu," jelas dia.

Untuk permasalahan pergantian nama perusahaannya, dia menjelaskan saat ini sedang dilakukan proses pergantian yang akan menjadi PT Industri Nuklir Indonesia.

"Tahun depan mungkin akan berganti, sekarang lagi diurus," jelas Yudi. 






Sumber : Okezone

Indonesia Bangun Infrastruktur Pembuatan Kapal Selam Dan Pesawat Tempur

JAKARTA-(IDB) : Sidang Kesembilan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) membahas agenda perkembangan alih teknologi kapal selam dan perkembangan program KF-X/IF-X (pesawat jet tempur).
 
Dalam agenda tersebut, dibahas pembangunan infrastruktur pembuatan kapal selam di Surabaya melalui PT PAL dan pesawat jet tempur di Bandung melalui PT DI. Dikatakan, paling lambat dalam dua hingga tahun ke depan, Indonesia diharapkan sudah memiliki infrastruktur industri pembuatan kapal selam dan pesawat jet tempur berteknologi canggih, di atas pesawat tempur sekelas Sukhoi dan F-16.

"Rencananya, infrastruktur pembuatan kapal selam akan dibuat di Surabaya melalui PT PAL. Karena itu, dibutuhkan infrastruktur untuk pembangunan kapal selam," kata Menteri Pertahanan (Menhan) sekaligus Ketua KKIP, Purnomo Yusgiantoro, sesaat setelah Sidang Kesembilan KKIP bertajuk "Membangun Sinergitas Menuju Kemandirian Industri Pertahanan", Selasa (11/6).

Dijelaskan Purnomo, dalam sidang kesembilan KKIP ini, juga dibahas mengenai dijadikannya pembangunan infrastruktur kapal selam dan jet tempur sebagai program nasional. Oleh sebab itu, agar tidak menemui hambatan, payung hukum sangat diperlukan, agar rencana pembangunan infrastruktur kapal selam dan pesawat jet tempur tetap berjalan pada lintas parlemen.

"Butuh dukungan parlemen, karena program ini pasti akan melalui lintas parlemen. Dibutuhkan payung hukum agar menjadi proyek nasional," ucap Purnomo.

Dijelaskan Menhan pula, sebagai negara kepulauan, keberadaan kapal selam dan pesawat jet tempur sangat diperlukan untuk menjaga kepulauan Indonesia hingga batas luar. Jika infrastruktur ada, pembuatan kapal selam bisa dilakukan di Indonesia.

Dikatakan lagi, untuk membangun infrastruktur pembuatan kapal selam, Indonesia akan bekerja sama secara khusus dengan Korea Selatan (Korsel). Kerja sama kedua negara akan dilakukan mulai dari kesepakatan lisensi, engineering manufacturing development, hingga prototipe.

Saat ini, menurut Purnomo, tahap yang sudah selesai dilaksanakan mencakup tahap teknologi desain. Dua tahun ke depan, ditargetkan akan mencapai tahap engineering manufacturing development dan prototipe. "Dari sisi teknis, kita juga sudah kirim 52 ahli untuk belajar teknologi design," ucap Purnomo.

Diungkapkan Purnomo lagi, pada tahun 2012, KKIP juga telah menghasilkan sejumlah produk kebijakan. Dalam hal penyusunan regulasi, di antaranya adalah disahkannya UU No.16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.

Sidang Kesembilan KKIP ini dipimpin langsung Menhan Purnomo Yusgiantoro selaku Ketua Harian KKIP, didampingi Wamenhan Sjafrie Syamsoeddin sebagai Sekretaris. Pembahasan tersebut juga dihadiri Ses Menristek, Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemperin, Deputi II Kementerian BUMN, serta Kasum TNI dan Asrena Kapolri.






Sumber : Beritasatu

Berita Foto : Brevet Komando Kehormatan Kopassus Untuk KASAD

JAKARTA-(IDB) : Pasukan Kopassus mengusung KSAD Jenderal Moeldoko (kiri) dan Danjen Kopassus Mayor Jenderal Agus Sutomo (kanan) usai upacara penyemakan brevet Komando Kehormatan Kopassus kepada Jenderal Moeldoko, di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta, Selasa 11/6.



Brevet Komando Kehormatan Kopassus merupakan tanda kehormatan dan kesetiaan prajurit TNI.







Sumber : Metrotvnews

Berita Foto : TNI AL Gelar Naval Educations Expo 2013

SURABAYA-(IDB) : Masih berkaitan dengan peringatan Hari Pendidikan TNI AL (Hardikal) yang digelar setiap 12 Mei, Kembali Komando Pengembangan dan Pendidikan TNI AL (Kobangdikal) menggelar even Naval Educations Expo 2013 (Pameran Pendidikan TNI AL 2013), yang di helat di BG Jantion Bubutan mulai 10 s.d. 16 Juni 2013 mendatang.

Pameran pendidikan TNI AL yang mengusung tema, "Penanaman Jiwa Bahari Guna Meningkatkan Karakter Bangsa", bertujuan untuk lebih mendekatkan TNI AL dengan masyarakat, khususnya Lembaga Pendidikan TNI AL sebagai tempat prajurit Mata Laut dibentuk dan dicetak yakni Kobangdikal, Akademi Angkatan Laut (AAL), dan Sekolah Staf dan Komando TNI AL (Seskoal).
Di pameran tersebut, akan menampilkan 10 stand yang berasal dari beberapa Pusat Pendidikan yang ada di Kobangdikal dan AAL. Selain berbagai peralatan dan alat peraga yang ditampilkan stand peserta pameran, Panitia juga akan menampilkan berbagai acara dan live musik seperti Cheerleader/Dancer, Band Kobangdikal, Campursari, Kolintang, dan Country.

Pengunjung pameran juga dihibur dengan berbagai atraksi demonstrasi ketangkasan dari prajurit Kobangdikal dan pasukan elit TNI AL (Taifib dan Paska) seperti, kolone senjata, bongkar pasang senjata, bela diri militer, demonstrasi Pasukan Khusus, dan atraksi lainnya yang menarik dan berhadiah door prize bagi pengunjung.
Sumber : TNI AL

Destroyer Tua Misil Modern Ala Iran

TEHRAN-(IDB) : Iran meluncurkan kapal destroyernya yang sudah berumur 50 tahun ke Teluk Persia. Namun kapal tersebut kini sudah dibongkar sedemikian rupa dan dipersenjatai dengan misil modern.

Sejak 1992 silam, Negeri Persia memang gencar mengadakan riset pengembangan militer secara mandiri. Hal itu ditunjukkan dengan kemampuan Iran dalam memproduksi jet tempur, tank, misil, dan kapal selam ringan serta torpedonya.

Tepat pada hari ini, pejabat militer Iran Laksamana Muda Abbas Zamini mengatakan, para pakar berhasil memasang misil yang sanggup menghantam target sejauh 160 kilometer di salah satu kapal destroyernya.

Kapal destroyer yang dimaksud adalah Bayandor, yang sudah menjalani proses modifikasi selama 20 bulan. Demikian, seperti diberitakan Associated Press, Selasa (11/6/2013).

Zamini menambahkan, destroyer tua itu sudah digunakan oleh Angkatan Laut Iran pada 1964 silam. Nama Bayandor diambil dari nama seorang pahlawan nasional Iran di era Perang Dunia II, Laksamana Muda Gholamali Bayandor.

Menurut sejarah, Laksamana Muda Bayandor yang merupakan Komandan Angkatan Laut Iran tewas dalam invasi Ango-Soviet ke Iran di 1941. Bayandor adalah warga kelahiran Teheran, dan merupakan keturunan Kurdistan. 







Sumber : Okezone

Mengenang CN-235 Phoenix Project Australia

ARC-(IDB) : Pada tahun 1995 sekitar Pebruari IPTN diundang untuk melakukan demo flight CN-235 Military Version, sehubungan dengan rencana Pemerintah Australia untuk mereplace 2 squadron Caribou, yang dianggap telah aging ( Saat itu sudah sekitar 26 tahun on service). Di IPTN ( PT DI ) pada saat itu tidak ada CN-235 Military Version yang available, seluruhnya telah dideliver ke UAE Airforce ( 6 pesawat?). Maka diputuskan untuk me lease back dari UAE AF, satu CN-235 Military utk digunakan sebagai demonstrator sekaligus mengikuti Airshow Down under di AVALON 1995.




Pesawat UAE Berhasil di lease dengan syarat, dua personil ( Satu teknik dan satu Pilot ) UAE AF harus on board sebagai witness. Seingat saya untuk kedua personil UAE Mayor Jamal dan Mayor PNB Mudhafar, for some reason saat itu tdk bisa didapatkan security clearance bagi mereka berdua, utk memasuki military base di Australia. Ferry flight dari Abu Dhabi, kami lakukan, dengan pilot saya sendiri dan Erwin Danuwinata Alm, menempuh route Abu Dhabi-Bommbay- Calcuta- Bangkok-Bandung. Setelah melakukan beberapa penambahan di Bandung, seperti cargo rail dan beberapa peralataan lainnya, maka hanya dua hari setelah Lebaran kamipun mulai perjalanan.



Tujuan pertama adalah Darwin Airforce base dengan technical landing Denpasar. Saya masih ingat, untuk memberikan kesan bahwa CN-235 is simple to operate maka kami berangkat dengan minimum number onboard. 2 Pilot, 1 Flight test Engineer Prihatno Alm, 1 Mekanik, 1 QA inspector total 5 person on board. Ditambah 2 UAE-AF Officer yang sangat menikmati mission ini. Karena tidak mempunyai security clearance maka seusai Landing disetiap AF Base mereka dikawal oleh Provost keluar base utk Tamasya dan jumpa kami lagi just prior to Departure. Logistic team IPTN berangkat terpisah dengan menggunakan airline, menuju Tulamarine Melbourne, stand by utk dispatch spare parts bilamana diperlukan di any point di Australia.


Presentation dan demo flight dilakukan di Darwin utk Salah satu Squadron Caribou yaitu “ Dingo Squadron”. Selama tiga hari beberapa Pilot berkesempatan untuk mencoba beberapa mission profile sesuai dengan mission yang biasa mereka lakukan. Termasuk diantaranya landing pada beberapa un-prepared runway, biasa mereka sebut BEEF TRACK, karena memang merupakan jalan berdebu biasa tdk didesign sebagai permanent Runway, hanya digunakan utk special mission.


Seluruh pilot DINGO yang menerbangkan merasa sangat puas dengan maneuverability maupun performance CN-235. Hal ini mungkin juga karena CN 235 merupakan “big jump” bagi mereka yang biasanya menerbangkan De Haviland Caribou yang Piston Engine, mendadak menerbangkan CN 235 yang Turbo Prop. Namun demikian dari hasil assessment, mereka cukup puas dengan STOL (Short Take Off Landing ) CN-235 yang ternyata bisa menyamai Caribou yang terkenal dengan STOL nya.


Meskipun ada beberapa saran/masukan perbaikan dan request dari mereka, seperti EYEBROW window, jendela diatas windshield yang akan memudahkan pilot dalam melakukan maneuver tajam seperti steep turn dan tactical mission lainnya. Kemudian juga hal seperti tangga yang embedded di pesawat utk membantu keperluan preflight. Semua coment dan input kami bawa pulang sebagai feed back bagi Engineering Dept di IPTN. Pada umumnya mereka sangat puas dengan performance serta agility CN 235 bahkan boleh dikatakan jatuh cinta.


Setelah Darwin kami beralih ke Townsville yang juga merupakan salah satu Basenya Caribou. Beberapa hari di Townsville kami lakukan kegiatan yang sama. Lebih banyak lagi dilakukan “Beeftrack” landing disekitar Townsville. Dan lebih banyak lagi pilot yang turut terbang “Mencicipi” CN 235 yang selama di Australia mendapat Operation Nickname “ PHOENIX” . Bahkan PHOENIX sempat dipamerkan dalam acara OPEN HOUSE bagi penduduk sekitar Townsville.

Next destination adalah Amberley, salah satu Airforce Base di sekitar Brisbane, kegiatan yang sama dilakukan, tetapi disini lebih banyak discussion meliputi logistic support dari field level sampai Depot level, mereka benar2 detail dalam pernyiapan Logistic / Spare support sampai 25 years planningnya. Di Amberley tdk terlalu banyak dilakukan flight, hanya beberapa flight itupun Joy flight bagi Project Staff Officer (Logistik dan teknik ).


Dari Amberley kami menuju Richmond Airforce Base, di sekitar Sidney. Di Richmond ini kami benar2 kerja keras karena Richmond base ini adalah pusatnya AMTDU ( Air Mobile Tactical Deployment Unit ) nya Australia, kalau di Indonesia mungkin setara dengan PERBEKUD. Selama hampir satu minggu RAAF melakukan assessment meliputi Vehicle loading Unloading, melalui Ramp Door. Agak menegangkan juga karena yg di loading adalah 6 wheels LAND ROVER yang cukup panjang sehingga kaca depan perlu direbahkan, untuk bisa loading ke dalam perut PHOENIX.


Selain itu dilakukan juga real Cargo Drop dari mulai yang terkecil A-22, sampai Heavy Cargo, bahkan dilakukan juga LAPES ( Low Altitude Parachute Extraction System ) dimana kami terbang hanya sekita2 satu meter AGL kemudian load direlease dengan Drog Chute dan kemudian Extraction Chute. Juga dilakukan Static jump utk Army, kemudian beberapa sorties freefall utk Special Force yang dilakukan di NAVY Base, Nowra.


Puas dengan seluruh type of mission kamipun kemudian menuju Canbera, utk dilakukan assessment oleh para Project Office Staff dari seluruh aspect operational, support bahkan financialnya. Diskusi disisi cukup alot karena mereka juga sekaligus mengumpulkan bahan untuk menyusun TECH SPEC yang akan digunakan sebagai Biding Requirement/ Tender.


Saingan pada waktu itu adalah G-27 (ex 222?) ALENIA Italy yang pada saat itu sebenarnya pabriknya sdh tdk exist, menanti uluran tangan salah satu perusahaan Amerika untuk take over, selain kelas pesawatnyapun terlalu besar utk Caribou replacement. Dari Canberra kami kemudian menuju AVALON, Melbourne untuk mengikuti Airshow selama sekitar satu Minggu.


Avalon mempunyai karakteristik Runway yang agak aneh, entah bagaimana sejarah designya dulu karena hampir selalu mengalami cross wind most of the time. Sangat membanggakan saat itu karena pada Airshow tersebut setiap kami melakukan Dynamic display, selalu di announce bahwa PHOENIX adalah salah satu calon pengganti Caribou, menambah optimisme kami untuk bisa memenangkan tender 2 Squadron PHOENIX.


Namun demikian kami sempat pula ditegur oleh Airshow Flight Director, pada saat melakukan Dynamic Airshow, Erwin Alm saat itu terbang sangat bersemangat, pada saat atraksi wing over 120 derajat, kami level off recovery dibawah 500 feet. Sehingga tegurannya cukup keras dan komentarnya “ That was very attractive, however, you guys were not in a fighter aircraft so you don’t have to go over the top” kami hanya tersipu2 mendapat teguran tsb, walaupun public sebenarnya sangat impressed.


Kamipun sempat mengalami pecah ban pada hari pertama show, mungkin kami terlalu excited pada hari pembukaan tersebut. Untuk membuat lebih impressed kami lakukan short landing sependek2nya tapi dng cross wind yang cukup besar un even landing membuat ban pecah pada saat braking. Thanks God kami punya teman2 logistic yang memang stand by dng spare di Tulamarine sehingga kondisi segera diatasi.




Di Avalon kami sempat bertemu beberapa pengambil keputusan ditingkat kementerian yang menyatakan malu kepada Indonesia yang mampu membuat pesawat semacam PHOENIX tsb. Sementara Australia belum punya produk lain selain kelas NOMAD.


Bahkan beberapa opposition leader seperti Shadow minister of Labour? , yang konon terkenal keras, berkomentar sangat positif bahwa beliau pribadi akan mensupport program PHOENIX. Dan tentu saja Airforce Chief of Staff ( Marshal Fischer? ) termasuk yang sangat tertarik dng ability CN-235 PHOENIX .


Seusai Airshow, tugas kami belum selesai karena masih ada lagi assessment teknis yang akan dilakukan oleh Australian ARDU ( Air Research and Development Unit ) di Edinburgh- Adelaide. Selama beberapa hari ARDU dengan test pilot Dutchy Holland dan Robin Wiiliams melakukan Assessment secara TEKNIS dalam aspect Performance, Handling quality, Mission system, termasuk NVG Demonstration disekitar lembah2 Adelaide. Memang pesawat UAE yang kami gunakan sdh NVG Compatible untuk Gen III. Sehingga beberapa kali kami melakukan night Mission under NVG Gen III sampai jam 1 pagi.


Setelah 4 hari di ARDU Facility, kami bertolak pulang ke Bandung melalui Alice Spring, Darwin dan Denpasar, mengakhiri PHOENIX mission kami selama lk 5 Minggu di Australia. Pada tahun 1997 kami kembali mengikuti kembali Avalon airshow, tetapi itu semua ternyata terasa useless karena IPTN menyatakan pull out dari PHOENIX program. Memang saat itu kami merasa sangat kecewa. Mengingat di Bandung pun teman2 sdh sudah mulai melakukan development program untuk meng improved CN-235 menjadi versi-330 PHOENIX.


Tapi apa mau dikata jangankan IPTN, negarapun saat itu berada dalam survival mode, dimana memang banyak perlu dikorbankan untuk dapat survive. Tetapi kami masih boleh bangga, karena selanjutnya IPTN yang kemudian dalam era pemerintahan Gus Dur berubah menjadi PT Dirgantara Indonesia. Berhasil keluar dari kemelut dengan berhasil mendeliver CN-235 -220 ke Malaysia, Korea, bahkan Pakistan Airforce yang tdk sedikit jumlahnya. Demikianlah ternyata tidak pernah ada pengorbanan yang sia2. PHOENIX Project tdk pernah terwujud tetapi project2 lain berhasil diraih termasuk 4 pesawat utk Korean Coast Guard pada th 2008 yl.


Demikianlah sekelumit perjalanan dalam usaha menduniakan CN-235







Sumber : ARC