Pages

Sabtu, September 08, 2012

Kebanjiran Pesanan Senjata, Dahlan Setujui Suntikan Modal Untuk PT Pindad

JAKARTA-(IDB) : Menteri BUMN Dahlan Iskan memastikan telah menyetujui suntikan penyertaan modal negara (PMN) ke PT Pindad.

Pasalnya, BUMN senjata itu butuh suntikan modal karena membanjirnya pesanan dari luar negeri sehingga mesin produksinya harus bekerja 24 jam dan tujuh hari dalam sepekan. Meski begitu, kata dia, PMN itu harus diajukan dulu ke DPR.

“Kemarin saya ke Pindad rapat satu hari di sana memang betul peminat dari luar banyak. Tapi sekarang itu begini, di Pindad itu mesin-mesinnya sudah bekerja 24 jam 7 hari seminggu. Itu penuh sekali, manajemen Pindad meminta karena ini kaitannya dengan pertahanan akan diberikan PMN untuk investasi mesin-mesin pertahanan,” papar Dahlan di kantornya, Jakarta, Jumat (7/9/2012).

Menurut dia, dengan penambahan mesin baru, sekaligus mendorong industri persenjataan Indonesia menjadi lebih kuat.

“Sayang kalau minat dari luar negeri begitu besar, tapi kita tidak bisa melayani karena keterbatasan pabrik,” cetus Dahlan.

Saat ini, kata dia, banyak mesin perusahaan itu yang sudah uzur. Menurut dia, butuh Rp 150 miliar untuk meremajakan mesin-mesin PT Pindad itu. 


Sumber : SP

Mega Proyek PT Dirgantara Indonesia

Memproduksi helikopter hingga komponen pesawat Airbus. Triliunan Rupiah.
 

JAKARTA-(IDB) : Lama mati suri, Dirgantara Indonesia bikin kejutan. Perusahaan itu mendapat proyek triliunan rupiah. Itu proyek terbesar semenjak perusahaan itu berdiri tahun 1976. Diharapkan dengan proyek raksasa itu, mesin perusahaan ini kembali menderu.

Soal proyek besar itu disampaikan Menteri Badan Usaha Negara (BUMN) Dahlan Iskan kepada para wartawan Jumat 7 September 2012. Setelah lunglai bertahun-tahun, Dahlan menyebut perusahaan itu kini dalam masa rawat jalan, setelah sebelumnya rawat nginap.

Perusahaan itu sedang mengerjakan kontrak pekerjaan senilai di atas Rp7 triliun. Semua proyek itu harus tuntas dalam tiga tahun. Ada banyak jenis proyeknya. Dari membuat helikopter, pesawat CN-212 hingga pembuatan komponen Airbus.

Tentu saja petinggi perusahaan itu gembira dengan kepercayaan itu. "Mereka melaporkan bahwa belum pernah dalam sejarah PT Dirgantara Indonesia mendapatkan pekerjaan sebanyak sekarang ini, termasuk sejak waktu masih bernama IPTN," kata Dahlan Iskan.

Perusahaan itu memang dulunya bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Nyaris bangkrut ketika krisis ekonomi menggulung Indonesia tahun 1998. Awal tahun 2000 perusahaan ini direstukturisasi dan berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia.

Dahlan menganjurkan agar perusahaan itu sebaiknya fokus menuntaskan semua pesanan yang sudah ada, sebelum merencanakan pengembangan perusahaan lebih lanjut. Sebagai pasien rawat jalan, kata Dahlan, Dirgantara Indonesia jangan disuruh lari marathon dulu. Nanti bangkrut di tengah jalan. “Biarlah senam dulu kemudian jogging dulu baru kelak di suruh lari," katanya.

Kelak ketika sudah sembuh total, dia bisa diajak berlari kencang. Dahlan menyarankan agar perusahaan itu membangun CN-295. Persiapan je arah sana sedang dilakukan. 

Saat ini terdapat 25-50 engineer perusahaan itu berada di Spanyol untuk mendalami teknologi CN-295. Pemerintah memang berencana membeli 9 pesawat CN-295 dari PT DI untuk operasional TNI senilai US$325 juta.

Dalam Negeri dan Luar Negeri

Tiga tahun belakangan perusahaan ini memang sedang kebanjiran proyek dan kerjasama. Dari dalam negeri dan juga luar negeri. Dua tahun lalu, misalnya, mendapat komitmen kontrak pengadaan helikopter. Jenis Bell-412 EP sejumlah 10 unit.

Nilai kontrak ini cukup besar. US$115 juta atau sekitar Rp1,14 triliun. Enam dari helikopter itu adalah pesanan Tentara Nasional Indonesia dan empat lain pesanan Badan SAR Nasional. Perusahaan ini, kata Vice President Marketing & Sales Aircraft Integration PTDI Arie Wibowo saat itu, juga sedang melakukan pendekatan dengan TNI Angkatan Laut. Pendekatan juga dilakukan dengan banyak kalangan.

Ongkos produksi untuk pembuatan satu unit helikopter, kata Arie saat itu, mencapai 60-70 persen dari nilai kontrak. Untuk diketahui bahwa satu unit helikopter diperkirakan bernilai sekitar US$11,5 juta, sebab kontrak 10 helikopter itu senilai US$115 juta.

Darimana dananya? Untuk pembiayaan, kata Arie saat itu, bersumber dari kredit ekspor yang bersumber dari APBN sebesar 15 persen dan sisanya sebesar 85 persen dari pinjaman. Sejumlah bank yang dibidik saat itu adalah Bank Exim Amerika dan institusi pembiayaan di Eropa. Juga dari bank di dalam negeri.

Perusahaan ini sesungguhnya dalam keadaan siap produksi. Peralatan cukup lengkap dengan tenaga ahli yang mumpuni. Perusahaan ini bahkan sanggup memproduksi helikopter jenis Bell-412 EP sedikitnya  4-6 unit per tahun. Helikopter sebanyak itu bisa diproduksi 18 setelah kontrak pengadaan ditandatangani.

Perusahaan ini  juga telah memperoleh kontrak pengadaan pesawat CN-235 sebanyak tiga unit dari TNI AL dan empat unit dari Korea Selatan. Total kontrak pembelian pesawat tersebut mencapai US$ 100 juta. "Tahun 2010, mulai deliver," katanya. Selain Korea Selatan, negara yang juga berminat memesan pesawat CN-235 adalah Spanyol.

CN-235 merupakan pesawat angkut turboprop bermesin dua, yang masuk kategori kelas menengah. Pesawat turboprop merupakan pesawat terbang dengan turbin gas yang terhubung ke baling-baling, untuk menggerakkan pesawat. Memiliki nama sandi Tetuko (nama lain Gatotkaca), CN-235 merupakan pesawat hasil kerja sama IPTN dulu dengan CASA dari Spanyol.

Selain itu, PT Merpati Nusantra Airlines juga berencana memborong 20 pesawat N-212 buatan PT Dirgantara Indonesia seharga US$7 juta atau Rp66,03 miliar per unit. Pesawat N-212 merupakan produk CASA yang lisensinya telah dibeli PT DI untuk diproduksi di Indonesia.

Untuk mendukung bisnisnya, PT DI di awal tahun mendapat dana pinjaman sebesar Rp1 triliun untuk pembuatan pesawat pesanan Kementerian Pertahanan. Pinjaman tersebut untuk menalangi operasional agar pekerjaan dari Kemenhan tetap berjalan. "Supaya dapat kerja. Toh dana itu nantinya akan dapat penggantian dari APBN kalau sudah turun," ujar Dahlan.

Apalagi anggaran Kementerian Pertahanan mendapatkan kucuran dana paling tinggi diantara semua Kementerian/Lembaga. Dalam RAPBN 2012 disebutkan anggaran Kemenhan sebesar Rp72,93 triliun atau naik 5,95 persen dibanding anggaran tahun lalu.

Negara seperti Kazakhstan juga tertarik bekerjasam memproduksi bersama pesawat N-219. Menko Perekonomian Hatta Rajasa pernah menyatakan PT DI bersama perusahaan dari Kazakhstan bekerjasama memproduksi pesawat N-219.

Pesawat N-219 sendiri tengah dikembangkan PT DI untuk melayani penerbangan di wilayah Papua. Spesifikasi N-219 cocok dengan karakteristik landasan di Papua.

Direktur Aerostruktur PTDI, Andi Alisjahbana, menjelaskan N-219 akan dikembangkan khusus untuk membuka wilayah-wilayah remote di Indonesia bagian timur. Papua saat ini memiliki 310 bandara, di mana 285 bandara atau 91 persen di antaranya hanya memiliki panjang landasan di bawah 800 meter. Untuk itu dibutuhkan pesawat-pesawat berukuran kecil. Pesawat-pesawat sejenis Boeing 737 tak bisa masuk karena butuh landasan 2.000 meter.

N-219, lanjutnya, dapat memenuhi syarat landasan tersebut. N-219 yang didesain mengangkut 17 penumpang ini sedang dalam tahap pengembangan. Pada 2014 diharapkan 15 pesawat prototype N-219 sudah dapat diluncurkan. Untuk membangun satu pesawat prototype ini membutuhkan US$4 juta.



Sumber : Vivanews

Pangarmatim : Setiap Negara Mutlak Dibutuhkan Kesiapan UnsurUR PERTAHANAN

SURABAYA-(IDB) : Bagi setiap negara mutlak dibutuhkan kesiapan unsur-unsur pertahanan sebagai salah satu syarat untuk menjaga kepentingan nasionalnya serta menjamin eksistensi negara tersebut dalam relasi dengan negara lainnya. Dalam hubungan inilah peran TNI AL khususnya Koarmatim menjadi sangat penting. Hal ini terkait dengan upaya menjaga dan memelihara kepentingan negara di perairan yurisdiksi nasional.
Hal tersebut ditegaskan Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H., M.Hum. yang dibacakan Kepala Staf Koarmatim (Kasarmatim) Laksamana Pertama TNI Darwanto, S.H., M.A.P. pada saat menutup Latihan Gladi Mako Waskita Dharma Pasis Dikreg Sesko TNI TA. 2012 di Gedung Pusat Latihan Kapal Perang (Puslat Kaprang) Kolatarmatim Ujung Surabaya, Jumat (7/9/2012).
Dikatakan Pangarmatim, maka jajaran Koarmatim senantiasa dituntut selalu dalam kondisi siap siaga dan mampu untuk menentukan langkah-langkah antisipatif dan pro aktif terhadap berbagai kemungkinan yang terburuk dari dinamika yang berkembang, serta merumuskan rencana tindakan kontijensi dalam menghadapinya. “Dengan demikian, maka Koarmatim setiap saat akan mampu mencegah dan menanggulangi berbagai ancaman tersebut,” tegas Pangarmatim.
Berkenaan dengan hal tersebut, lanjut Pangarmatim, apa yang telah dilaksanakan dan dihasilkan dalam Latihan Gladi Mako Waskita Dharma TA. 2012 ini, merupakan cerminan dari hasil pemahaman para Pasis terhadap berbagai kemungkinan terburuk dari kondisi nyata yang akan dihadapi jajaran Koarmatim, serta merumuskan rencana tindakan kontijensi sebagai solusi untuk mengatasinya.
Sementara itu dalam sambutan Komandan Sesko TNI Marsekal Madya TNI I.B. Putu Dunia yang dibacakan oleh Komandan Korsis Sesko TNI Laksamana Pertama TNI I. Nyoman Nesta, diantaranya mengatakan, dengan selesainya Gladi Mako di Koarmatim ini maka Perwira Siswa telah memiliki kemampuan dan keterampilan dalam menyusun Rentinkon dan Renops Kotamaops TNI yang merupakan pencapaian sasaran latihan Gladi Mako ini. Kemampuan dan keterampilan tersebut, akan sangat bermanfaat bagi para Pasis nanti dalam penugasan setelah menyelesaikan pendidikan di Sesko TNI.
Gladi Mako yang berlangsung selama 5 hari, dibuka Senin (3/9) tersebut, diikuti sebanyak 27 Pasis Sesko TNI. Sebenarnya jumlah keseluruhan Pasis Sesko TNI yang mengikuti Gladi Mako sebanyak 93 orang. Dari jumlah tersebut dibagi dalam empat kelompok, 27 orang di Koarmatim, 30 orang di Kodam V/Brawijaya, 18 orang di Kodam VII/ Wirabuana dan 18 orang di Koopsau II. 


Sumber : TNI AL