Pages

Rabu, Maret 07, 2012

Pembangunan Pabrik Peluru Kendali Direstui DPR

JAKARTA-(IDB) : Kementerian Pertahanan berencana menggandeng China untuk bekerja sama mempersenjatai militer Indonesia dengan peluru kendali. Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Komisi I, Tubagus Hasanudin mengatakan DPR setuju rencana pembangunan peluru kendali ini.

"Ya kami mendukung, membuat alutsista yang memang canggih. Negara lain sudah membuat itu 10 tahun lalu, sementara kita baru saat ini," kata Tubagus Hasanuddin ketika dihubungi VIVAnews, Selasa 6 Maret 2012.

Mengapa kita perlu membuat pabrik peluru kendali? Alasannya, kata Tubagus, karena peluru kendali itu cocok dengan kondisi geografis di Indonesia.

"Pertempuran ke depan pasti akan membutuhkan itu. Musuh belum melihat tapi kita sudah bisa menembak. Itu cocok sekali dengan kondisi geografis kita," kata politisi PDI Perjuangan ini.

Menurut Tubagus, Indonesia sebelumnya telah melakukan perbaikan sistem persenjataan, yakni dengan meresmikan Kapal Cepat Rudal dengan jarak tempuh 140-150 kilometer. "Itu cukup bagus," kata mantan Sekretaris Militer era Presiden Megawati Soekarnoputri ini. Pemerintah juga berencana memperbanyak Kapal Cepat Rudal itu untuk mengokohkan pertahanan.

Pemerintah akan menggandeng China untuk bekerja sama mempersenjatai militer Indonesia dengan peluru kendali. Peluru kendali jenis C-705 memiliki jarak tembak sampai 140 kilometer.

"Sekarang sedang dibicarakan untuk membangun pabrik peluru kendali di Indonesia yaitu C-705," kata Purnomo di Kementerian Pertahanan, Selasa 6 Maret 2012.

Sumber : Vivanews

Korut Terus Tambah Rudal Antipesawat di Sekitar Pyongyang

SEOUL-(IDB) : Korea Utara disinyalir terus menambah jumlah rudal darat-ke-udara (SAM) untuk menangkis serangan udara di sekitar ibu kota Pyongyang dari tahun ke tahun. Penambahan rudal itu untuk mengantisipasi serangan gabungan Korea Selatan dan AS.

Demikian diungkapkan kantor berita resmi Korea Selatan (Korsel) Yonhap, yang mengutip seorang sumber di angkatan bersenjata Korsel, Rabu (7/3/2012).

Menurut sumber tersebut, militer Korea Utara (Korut) terus menambah rudal antipesawat dari berbagai jenis, mulai dari SA-2 yang berdaya jelajah pendek sampai SA-5 berdaya jelajah panjang.
Jumlah rudal SA-5 (S-200), yang mampu mengenai sasaran sejauh 300 kilometer, bertambah dari hanya dua unit pada tahun 2000 menjadi 40 unit pada 2010. Semua diposisikan di sekitar Pyongyang.

Rudal SA-3 (S-125), yang berjarak tembak lebih pendek dan dirancang untuk menembak pesawat yang terbang rendah, bertambah dari tujuh unit menjadi 140 unit pada periode yang sama. Sementara rudal SA-2 (S-75), rudal rancangan era 1950-an yang berjarak tembak 48 kilometer, membengkak dari 45 unit menjadi 180 unit. Di luar itu, Korut diyakini memilki sedikitnya 12.000 pucuk rudal SAM portabel.

Semua ini menjadi pertimbangan utama Korsel saat merancang serangan jauh ke dalam wilayah Korut.

"Dalam kondisi darurat, kami bisa menyerang jauh hingga ke dalam wilayah musuh hanya jika kami bisa menetralisir rudal-rudal SAM Korut ini, beserta sistem radar dan peluncur roket jarak jauh mereka. Prioritas utama kami adalah untuk membangun kemampuan tempur yang menjamin kendali wilayah udara," tutur sumber tersebut.

Pihak Kementerian Pertahanan Korsel menolak membenarkan secara resmi laporan tersebut. 

Sumber : Kompas

Kemenhan Gandeng Korsel Bangun Pesawat Tempur Dan Kapal Selam

JAKARTA-(IDB) : Dalam mewujudkan kekuatan pokok minimun atau minimun essential force dalam alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) bekerja sama dengan industri pertahanan dalam negeri. Selain itu, Kemenhan juga menggandeng industri pertahanan dari Korea Selatan (Korsel).

Menhan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, perusahaan Korsel yang diajak kerja sama adalah dalam produksi bersama untuk menghasilkan pesawat tempur maupun kapal selam. Dia merujuk pada program pengembangan pesawat tempur masa depan yang diberi kode KF-X/IF-X (Korea Fighter Experiment/Indonesia Fighter Experiment) yang akan dibuat Korean Aerospace Industry, bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia.

Belum lagi pengadaan tiga kapal selam yang dimenangkan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering Co, yang salah satunya dibuat di PT PAL. "Sebab dalam kontrak terdapat mekanisme transfer of technology. Ini yang kami kembangkan," terang Purnomo, kemarin.

KF-X/IF-X merupakan pesawat tempur generasi 4,5 yang mempunyai kemampuan diatas F-16 Blok 50 (pesawat tempur generasi 4) tetapi dibawah F-35 (pesawat tempur generasi 5). Dibandingkan F-16, KF-X/IF-X diproyeksi memiliki radius serang lebih tinggi 50 persen, sistim avionik yang lebih canggih serta kemampuan stealth (pesawat siluman).

Sumber : Republika

Agar Negara Jiran Tidak Main-Main C-705 ToT Dari China Ditempatkan Disepanjang Perbatasan

JAKARTA-(IDB) : Keamanan di daerah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga berisiko terjadi pergesekan. Karena itu, diperlukan penguatan keamanan dan penjagaan di daerah-daerah tersebut.

Untuk kepentingan kekuatan pertahanan perbatasan, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menggandeng industri pertahanan Cina. Kerja sama itu ditujukan dengan sinergi untuk membuat peluru kendali.

Pengerjaan peluru kendali itu, kata dia, dilakukan PT Pindad. Nantinya peluru kendali tersebut dipasang di sepanjang daerah perbatasan agar negara tetangga tidak main-main lagi terhadap Indonesia dan mencegah upaya  mencaplok wilayah NKRI.

"Jarak tembak peluru kendali ini 140 kilometer. Daya jangkau ini bisa jadi pengamanan perbatasan," terang Purnomo, kemarin. 

Sumber : Republika

Gugus Keamanan Laut Koarmatim Laksanakan Latihan L-3 Terpadu

SURABAYA-(IDB) : Gugus Keamanan Laut Koarmatim melaksanakan apel gelar pasukan Latihan L-3 Terpadu  dalam rangka  Latihan Siaga Keamanan Laut. Dalam sambutannya pada apel gelar pasukan di dermaga Satkamla Bitung,(3/3). Komandan Gugus Keamanan Laut Koarmatim Laksamana Pertama TNI Siwi Sukma Adji menekankan bahwa Latihan Siaga Keamanan Laut merupakan bagian dari Operasi Militer Selain Perang yang dilaksanakan oleh Guskamlaarmatim melalui operasi Alur Hiu dan Operasi Taring Hiu, dimana melibatkan unsur  KRI dan Pesud BKO Guskamlatim serta Lantamal VIII Manado beserta jajarannya sebagai salah satu unsur  pendukung.

Melalui kegiatan Latihan ini hendaknya dapat menjadi suatu momentum untuk mengukur kemampuan dan kesiapan prajurit serta alutsista yang dimiliki oleh TNI AL dalam rangka melaksanakan tugas pokok TNI Angkatan Laut.  Danguskamlatim mengajak seluruh komponen yang terlibat agar dapat lebih mendalami kemampuan masing-masing sekaligus memahami kekurangan yang ada, baik itu aspek personil, peralatan, alutsista dan yang tidak kalah pentingnya adalah prosedur setiap pelaksanaan kegiatan agar dapat dijadikan sebagai evaluasi untuk perbaikan dan pengembangan yang lebih baik.

Latihan Siaga Keamanan Laut dilaksanakan mulai tanggal 29 Februari sd 05 Maret 2012 melibatkan 3 (tiga)  KRI yaitu KRI AMY-351, KRI SRA-802, KRI TKL-813,Pesud Cassa U-625 dan Pangkalan TNI AL VIII Manado. Kegiatan latihan  dibagi  dalam dua tahap yaitu Tahap Latposko dan Tahap Manlap yang dilaksanakan pada tanggal 05 maret 2012. Adapun Materi Latihan meliputi : Hanlan, LSBA, Keluar Masuk Alur Pelabuhan, Q-Route Transit, Hanud,  Fashex, Flaghoist, Air Joinning Procedure dan VBSS (Visit, Boarding, Search and Seizure). Melalui kegiatan Latihan ini diharapkan terjadi sinergitas antara KRI, Pesud dan Lantamal VIII Manado beserta jajarannya.

Sumber : Koarmatim

Karbol AAU Terjun Dari C-130 Hercules A-1302

LANUD SULAEMAN-(iDB) : “Menjalani latihan para dasar atau dikenal dengan terjun payung tidak semudah seperti yang di bayangkan, butuh kekuatan fisik, mental dan konsentrasi”.
Demikian kata Mayor Kes. Dedy Darmawan Instruktur Para Dasar/Jumping Master Skadik 204 Lanud Sulaeman saat memberi arahannya sebelum penerjunan pertama Para Dasar bagi Karbol AAU. Selasa (6/3).
Sebelumnya Karbol AAU telah melaksanakan Ground Training selama tiga minggu di Lanud Sulaeman. Latihan ini dilaksanakan di dalam kelas dan di luar kelas maupun latihan drill kering serta praktek teknik melipat juga diberikan dalam pelatihan para dasar ini.
Sejak 15 Februari lalu karbol AAU tingkat II mendapat ketahan fisik selama satu bulan untuk memperkuat otot kaki dan melatih kelenturan pada saat praktek penerjunan.

Hari ini merupakan penerjunan pertama setelah pelajaran selama tiga minggu. Dengan mengunakan parasut jenis MC II-V, mengunakan pesawat C-130 Hercules A-1302 Skadraon Udara 32 Lanud Abdurahman saleh Malang.
Penerjunan dipandu jumping master sebanyak delapan orang dipimpin Mayor Kes. Dedy Darmawan, penerjunan dilaksanakan 2 sorti pergelombang dengan membawa 55 penerjun.
Dijadwalkan penerjunan dilaksanakan sebanyak lima kali dengan berbagai tingkat kesulitan, baik penerjunan menggunakan pintu kiri, pintu belakang, pintu kanan, mengunakan senjata dan rangsel serta diakhiri dengan terjun malam.
Wing Day atau penyematan Wing Para akan disematkan kepada para karbol dan berhak digunakan selama menjadi Anggota TNI AU.

 Sumber : TNI AU

Russia Close to Sign Su-35 Fighter Deal with China

Sukhoi SU-35
MOSCOW-(IDB) : Russia and China may soon sign a $4-bln contract on the delivery of 48 Sukhoi Su-35 Flanker-E fighter jets to the Chinese air force, Russia’s Kommersant business daily said on Tuesday.

“The sides have practically agreed on the delivery of 48 Su-35 multirole fighters, worth $4 billion, to China,” Kommersant said citing a source in the Russian defense industry.

According to the paper, the only obstacle remaining is Moscow’s demand that Beijing should guarantee the protection of copyrights on the production of Su-35s without proper licensing.

“Moscow is not only aiming to ensure its presence on the Chinese [combat aircraft] market, but also attempting to prevent the potential copycat production of Russian aircraft for subsequent sales to third parties with predatory pricing,” a Russian government source told Kommesant.

China has a poor record concerning copycat manufacturing of advanced Russian combat aircraft.
Russian experts claim that Chinese Chengdu J-10 fighter is a copy of Su-27 Flanker, Shenyang J-11 is a replica of Su-30 Flanker-C, and FC-1 is a copy of MiG-29 Fulcrum.

The Su-35, powered by two 117S engines with thrust vectoring, combines high maneuverability and the capability to effectively engage several air targets simultaneously using both guided and unguided missiles and weapon systems.

The aircraft has been touted as "4++ generation using fifth-generation technology."

Source : Defencetalk

Analisis : Lagu Hits Alutsista “Transfer Teknologi”

ANALISIS-(IDB) : Pemerintah sudah bertekad hendak menggaharkan pengawal republiknya, TNI dengan memodernisasi alutsistanya.  Seiring dengan gempita itu sepanjang dua tahun terakhir ini ”lagu” alutsista yang lebih sering terdengar di telinga adalah transfer teknologi. Lagu ini memang bagian dari kebijakan Kementerian Pertahanan agar suatu saat kelak bangsa ini dapat memenuhi sendiri kebutuhan alat-alat perangnya dengan industri hankam dalam negeri yang matang dalam memproduksi alutsista.

Maka bisa kita lihat dan saksikan saat ini spirit dan aktivitas melakukan sekolah teknologi alutsista. Ilmuwan-ilmuwan kita sudah mampu membuat alutsista berdasarkan transfer teknologi misalnya membuat kapal perang jenis KCR (Kapal Cepat Rudal), LST (Landing Ship Tank), LPD (Landing Platform Dock), Panser Anoa, Rantis, Roket R-Han, CN 235 MPA, Helikopter.  Yang sedang bersekolah transfer teknologi saat ini adalah proyek pembuatan panser canon dengan Korsel, proyek pembuatan kapal perang berkualifikasi PKR (Perusak Kawal Rudal), proyek pembuatan kapal selam dengan Korsel dan yang spektakuler adalah kerjasama pengembangan jet tempur generasi 4,5 KFX/IFX juga dengan Korsel.  Untuk kedua proyek bergengsi yang terakhir itu RI telah mengirimkan lebih dari 150 ilmuwannya ke Korsel. 

KRI Trimaran produksi Lundin akan diperkuat rudal C705
<$2Fdiv>
Lalu yang terakhir dan masih hangat dalam perbincangan adalah kerjasama produksi rudal anti kapal C705 dengan China yang dapat dikembangkan menjadi pembuatan rudal surface to surface, surface to air dan air to surface.  Ini adalah buah dari kunjungan kerja Menhan Punomo Yusgiantoro ke Beijing China atas undangan Menhan China Jendral Liang Guanglie tanggal 19 sampai dengan 21 Fepbruari 2012.  Kerjasama real ini sebenarnya yang paling ditunggu sejak adanya perjanjian DCA (Defence Cooperation Agreement) antara Indonesia dan China tahun 2007. 
 
Ini adalah langkah cerdas dan cemerlang dari kebijakan Kementerian Pertahanan RI yang ingin memodernisasi persenjataan TNI dengan anggaran sebesar US$ 15 Milyar untuk periode 2010-2014.  Tidak melulu beli murni tetapi juga mengaktifkan dan memberdayakan kegiatan industri hankam strategis Pindad, PAL, PT DI dan perusahaan industri hankam swasta nasional.  Upaya menyirami industri hankam ini dengan berbagai proyek kerjasama produksi alutsista memberikan banyak kegunaan, salah satunya tentu kebanggan nasional dengan produksi milik bangsa sendiri.

PT Pindad kebagian order membuat panser canon bersama Korsel setelah sukses menghasilkan ratusan panser Anoa yang merupakan titik awal kebangkitan industri hankam dalam negeri.  Pindad juga sedang disibukkan dengan produksi massal Roket Rhan bersama Lapan disamping memenuhi order ekspor panser Anoa ke beberapa negara.  Sementara PT PAL saat ini mendapat order membuat kapal selam kelas Changbogo bersama industri hankam Korsel, Daewoo.  Selain itu kerjasama produksi melalui transfer teknologi juga sedang berlangsung antara PAL dan Damen Schelde Belanda untuk membuat 10 kapal perang light fregat. Tak ketinggalan embahnya teknologi kedirgantaraan PT DI mendapat banyak order mulai dari buat helikopter, kerjasama buat pesawat angkut militer CN295 dengan Airbus Military dan mengembangkan jet tempur KFX/IFX bersama Korsel.

Yang menarik China juga bersedia menularkan ilmu teknologi rudalnya dengan bekerjasama memproduksi rudal anti kapal C-705 yang mampu menembus jarak tembak 100 km.  Memang dibanding dengan rudal Yakhont buatan Rusia  yang mampu menerabas jarak jangkau 300 km, C-705 jelas tak ada apa-apanya.  Tetapi untuk mendapatkan ilmu transfer teknologi itu, kita perlu “mundur selangkah” dengan mengambil ilmu konsep dasar teknologi rudal.  Setelah itu kita dapat mengembangkannya sendiri misalnya dengan menambahkan booster dan racikan propelan untuk menambah kekuatan jarak tempuh dan hulu ledaknya. Lapan Pindad sudah siap dengan materi kuliah yang berjudul ilmu propelan. Untuk diketahui hampir semua negara yang menguasai teknologi rudal sangat merahasiakan racikan teknologi propelan yang dimilikinya.

Beberapa rudal anti kapal C-705 sudah diuji coba oleh TNI AL dan sudah terpasang di sejumlah kapal cepat rudal TNI AL.  Matra laut ini punya program pembangunan 100 kapal cepat rudal murni buatan dalam negeri dalam renstranya sehingga membutuhkan banyak rudal anti kapal sebagai senjata pemukul strategisnya. Dalam kerjasama produksi rudal C-705 sangat dimungkinkan kapal perang jenis korvet Parchim Class TNI AL yang berjumlah 16 unit itu akan mendapat jatah rudal ini sebanyak 2-4 unit di setiap kapalnya.  Kapal perang TNI AL lainnya yang sedang dibangun di PT Lundin Banyuwangi yang mengusung teknologi trimaran juga akan diperkuat dengan rudal C705.  Kapal trimaran ini punya kecepatan sampai 40 knot, tahun ini diharapkan 1 unit selesai.  TNI AL memesan 4 kapal dari galangan swasta nasional ini yang memang sudah ahli dalam membuat kapal cepat.

Diniscayakan dalam kurun waktu 4 sampai dengan 8 tahun lagi kita sudah mampu memproduksi beragam alutsista teknologi tinggi made in dewe.  Untuk  kapal berjenis PKR misalnya jika semuanya berjalan lancar mestinya tahun 2014 ini sudah jadi minimal 2 kapal perang.  Namun diantara semua sekolah transfer teknologi alutsista proyek PKR ini yang paling lambat laju kurikulum semesterannya.  Ada kesan pihak Damen Schelde Belanda mengulur-ulur waktu dan setengah hati menularkan ilmunya padahal kita sudah membeli produknya berupa 4 KRI Korvet Sigma beberapa waktu yang lalu.  Sehingga ada kesan kalau negara-negara Barat itu memang pelit menularkan teknologinya.  

Ini sangat berbeda dengan negara-negara Asia seperti Korsel dan China yang dengan ikhlas mau berbagi ilmu dengan Indonesia untuk bekerjasama memproduksi bermacam alutsista yang dibutuhkan negara ini. Transfer teknologi pembuatan kapal selam diyakini bisa dihasilkan mulai tahun 2018 saat dimana sebuah kapal selam jenis Changbogo bisa diproduksi oleh PAL.  Demikian juga dengan proyek jet tempur KFX/IFX, Indonesia diharapkan dapat menguasai teknologinya mulai tahun 2020.  Untuk teknologi rudal diharapkan tahun 2014 kita sudah mampu membuat rudal berbagai jenis yang punya daya ledak dan daya jangkau menggentarkan.

Langkah cemerlang Kemenhan ini tentu kita apresiasi karena  kalau hanya sekedar beli alutsista, yang didapat cuma barangnya dan cara penggunaannya sedang teknologinya tetap milik si pembuat.  Dan kalau pola ini saja yang dianut, negeri ini tak ubahnya hanya sebuah pasar besar dimana kita hanya menjadi pembeli yang baik hati, pemakai yang baik hati tanpa pernah bisa menjadi pintar.  Pola yang dianut Kemenhan mestinya banyak ditiru oleh sektor lain misalnya sektor otomotif yang sudah menemukan titik temu ketika mobil kiat esemka menjadi begitu populer. Untuk urusan produksi sepeda motor saja mengapa harus berkiblat pada merek Jepang padahal secara de facto kita sudah mampu membuat sendiri.  Mengapa kita tidak mau memulainya sebagaimana yang telah dicontohkan Kemhan padahal teknologi otomotif sangat mudah dicerna dan diimplementasikan oleh anak bangsa ini. Mengapa ?
Sumber : Analisis

KKIP Menggelar Sidang Pleno Kelima Dan Yang Perdana DI 2012

JAKARTA-(IDB) : Memasuki awal tahun 2012, Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) menggelar Sidang Pleno Kelima KKIP dengan tujuan merefleksikan dan memproyeksikan kembali tugas-tugas yang akan dijalankan KKIP agar sejalan dengan master plan revitalisasi industri pertahanan.  Sidang Pleno Kelima KKIP dilaksanakan, Selasa (6/3) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta.
 
Adapun agenda Sidang Pleno KKIP kali ini meliputi;  penyampaian laporan kemajuan kerja KKIP tahun 2011 disampaikan oleh Tim Asistensi Kebijakan KKIP, penyampaian sasaran kerja KKIP Tahun 2012 oleh Ketua KKIP, dan Penandatanganan Kontrak  Kerjasama antara Kemhan/TNI dengan pihak produsen Alutsista dalam negeri dalam hal ini BUMNIP/BUMS.

Sidang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro selaku Ketua KKIP merangkap Anggota dan dihadiri Menteri BUMN selaku Wakil Ketua merangkap Anggota, Menteri Perindustrian, Menteri Riset dan Teknologi, Panglima TNI dan Kapolri selaku Anggota serta Wamenhan*selaku Sekretaris KKIP merangkap Anggota. Hadir pula Tim Kelompok Kerja (Pokja) KKIP, Tim Asistensi KKIP, Sekretaris Pokja KKIP serta beberapa pejabat perwakilan dari sejumlah instansi terkait dan pihak BUMNIP/BUMS.

Menhan selaku Ketua KKIP mengatakan,  Sidang Pleno Kelima KKIP kali ini merupakan sidang pertama pada tahun 2012, yang sekaligus merupakan awal tahun ke dua sejak dibentuknya KKIP dengan Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2010 tanggal 17 Juni 2010. Selama dibentuknya KKIP tersebut,  telah dihasilkan beberapa kebijakan KKIP yang berkaitan langsung dengan pemberdayaan industri pertahanan. Kebijakan KKIP tersebut antara lain : master plan revitalisasi industri pertahanan, grand strategy KKIP, kriteria industri pertahanan, kebijakan dasar pengadaan  Alutsista TNI dan Almatsus Polri untuk pemberdayaan industri pertahanan dan verifikasi kemampuan industri pertahanan dan revitalisasi manajemen BUMNIP.

Lebih lanjut Menhan mengatakan,  sesuai arahan Bapak Presiden RI dalam rangka pemenuhan Minimum Essensianl Force (MEF) dan modernisasi Alutsista TNI dan Almatsus Polri serta terealisasinya program revitalisasi industri pertahanan, telah ditetapkan master plan revitalisasi industri pertahanan dan grand strategy KKIP.   Dalam pencapaian master plan tersebut telah disusun tahapan program yang terbagi dalam empat tahap, yang masing-masing tahap berjangka lima tahun dari tahun 2010 s.d. 2029.

Pada tahap 2010-2014 telah ditetapkan empat program strategis meliputi : penetapan program revitalisasi industri pertahanan, stabilisasi dan optimalisasi industri pertahanan, penyiapan regulasi industri pertahanan dan penyiapan new future products. Keempat program strategis ini diharapkan mulai mampu memenuhi kebutuhan Alutsista TNI dan Almatsus Polri dari dalam negeri, dengan target/sasaran antara lain : memenuhi pasar dalam negeri (jangka pendek) guna tercapainya postur Alutsista TNI/Polri dalam rangka pemenuhan MEF, bersaing secara internasional dan economic growth support.

Sedangkan untuk sasaran kerja KKIP tahun 2012 ini, Menhan mengatakan pada dasarnya tetap dibagi menjadi empat kelompok penugasan sebagaimana yang telah dicanangkan pada master plan revitalisasi industri pertahanan tahun 2010 s.d 2014 dan grand strategy KKIP.  Keempat program kerja tersebut, yaitu : penyiapan regulasi  industri pertahanan, penetapan kebijakan nasional dalam rangka stabilisasi dan optimalisasi industri pertahanan, penetapan program dan menindaklanjuti penyiapan produk masa depan (new future products).

Lebih lanjut Menhan menjelaskan,  dalam sasaran kerja KKIP tahun 2012 di bidang penyiapan regulasi  industri pertahanan berupa  penyelesaian RUU Industri Pertahanan dan Keamanan. Sedangkan untuk penetapan kebijakan nasional dalam rangka stabilisasi dan optimalisasi industri pertahanan, meliputi : kebijakan peningkatan kemampuan industri  pertahanan, kebijakan penggunaan jasa konsultan guna menjamin keberhasilan program Transfer of Technology (ToT), kebijakan sinergitas & intensitas kegiatan penelitian, pengembangan dan perekayasaan alat peralatan pertahanan dan keamanan dan kebijakan penyiapan SDM terampil untuk industri pertahanan melalui jenjang pendidikan formal.

Untuk penetapan program, diantaranya melanjutkan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi kemampuan dan manajemen BUMNIP dalam rangka pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI dan Almatsus Polri, melanjutkan program penyehatan neraca keuangan BUMNIP dan merumuskan bentuk kerjasama luar negeri dalam rangka program ToT dan joint production industri pertahanan. Sedangkan yang terakhir, menindaklanjuti penyiapan produk masa depan (new future products), antara lain  meliputi  Pesawat Tempur KF-X/IF-X, Kapal Selam, Kapal PKR, Tank, Rudal, Roket dan Propellant, Kendaraan Taktis (3/4 ton, 2 ½ ton, 5 ton), Alat komunikasi radio, Senjata dan Munisi (MKK & MKB)

Kemajuan Kerja KKIP Tahun 2011

Sementara itu terkait kemajuan kerja KKIP Tahun 2011, Tim Asistensi KKIP Bidang Kebijakan dalam laporannya menyampaikan yang telah dicapai sampai dengan tahun 2011, antara lain :  

Pertama penyiapan regulasi industri pertahanan, meliputi : RUU Iindustri Pertahanan dan Regulasi/Kebijakan Fiscal. 

Kedua, penetapan kebijakan nasional dalam rangka stabilisasi dan optimalisasi industri pertahanan meliputi kriteria industri pertahanan, kebijakan dasar pengadaan  Alutsista TNI dan Almatsus Polri untuk pemberdayaan industri pertahanan dan verifikasi kemampuan industri pertahanan dan revitalisasi manajemen BUMNIP.

Ketiga,  penetapan program, meliputi : melaksanakan pemantauan & evaluasi kemampuan dan manajemen BUMNIP dalam rangka pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI dan Almatsus Polri, penyehatan Neraca Keuangan BUMNIP,  dan mengkoordinasikan kerjasama luar negeri dalam rangka program ToT & Joint Production industri pertahanan.

Keempat, penyiapan produk / industri pertahanan masa depan (new future products / defence industry) yang  meliputi : industri kendaraan tempur, industri kendaraan taktis, industri kapal perang atas air dan bawah air, industri kapal-kapal pendukung, industri pesawat militer angkut ringan dan sedang serta pesawat tempur, industri senjata ringan untuk perorangan dan  kelompok/satuan, industri senjata berat, industri roket/mlrs dan torpedo serta peluru kendali, industri peralatan Network Centric Operation System, alat komunikasi radio, sistem kendali/kontrol, komputasi dan komando untuk penembakan senjata, radar untuk pencari/deteksi dan penjejak/ikuti sasaran serta thermal optic.

Demikian Siaran Press Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan.

Sumber : DMC