Jumat, April 20, 2012
0
BEIJING-(IDB) : Indonesia dan China sebagai negara bersahabat dapat meningkatkan perannya untuk memperkuat dan memelihara perdamaian dunia.

Duta Besar RI untuk China dan Mongolia Imron Cotan mengatakan itu di Beijing, Kamis, saat menerima seorang mantan fotografer Kantor Berita Xinhua Qian Sijie, yang terlibat dalam peliputan Konferensi Asia Afrika di Bandung 57 tahun silam.

Ia mengatakan peran Indonesia dan China dalam mempelopori Konferensi Asia Afrika pada 1955 merupakan bentuk nyata komitmen kedua negara untuk menciptakan perdamaian tidak saja di kawasan Asia Afrika tetapi juga dunia.

Penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika pada 1955 menjadi inspirasi dan semangat bagi sejumlah negara di Asia dan Afrika dan belahan dunia lain untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan.

"Itu membuktikan bahwa Indonesia dan China dapat menjadi pelopor atau menjadi semangat bagi semua negara untuk menciptakan dan memelihara perdamaian dunia," kata Imron menegaskan.

Bagi Indonesia, keberhasilan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika merupakan salah satu bentuk pembangunan karakter bangsa yang tidak terlupakan, karena semangat memerdekakan diri dari penjajahan atau imperialisme tidak akan mati.

Sementara itu, Qing Sijie yang menjadi bagian dari delegasi China pada Konferensi Asia Afrika mengatakan sambutan masyarakat Indonesia yang hangat pada pimpinan delegasi China Perdana Menteri Zhou Enlai menunjukkan hubungan yang erat antara Indonesia dan China.

"Sambutan masyarakat Indonesia terhadap Perdana Menteri Zhou Enlai, pada Konferensi Asia Afrika begitu hangat dan tulus, menunjukkan betapa kuat hubungan masyarakat kedua negara," kata pria berusia 84 tahun itu.

Pada 18 April Pemerintah Daerah Bandung memperingati 32 tahun museum Asia Afrika dan 57 tahun Konferensi Asia Afrika dengan menggelar acara khusus selama sepekan.

Acara dimulai dengan peristiwa langka, berupa pengibaran 106 bendera negara Asia Afrika di sekitar Gedung Merdeka Bandung.

Mulai 18-24 April 2012, setiap hari akan berlangsung pameran batik dari Asia dan Afrika di gedung bekas Perpustakaan Daerah Jawa Barat yang terletak di belakang Museum Konferensi Asia Afrika.

Pameran kerajinan tangan khas Jawa Barat rencananya digelar di tempat itu sejak pukul 8 pagi.

Di ruang audiovisual museum, setiap hari pada 18-20 April akan memutar film, seperti Anak Naga Beranak Naga dan November 1828. Diskusi film menghadirkan Ariani Darmawan dan Remy Sylado, mulai pukul 18.30 WIB.

Pada Sabtu (21/4) dan Minggu(22/4), Asian-African Friendship Festival dipusatkan di Jalan Cikapundung Timur yang berada di samping kanan Gedung Merdeka. Selain diisi aneka makanan, festival itu bakal diramaikan permainan rampak kendang, alat musik bambu, serta penampilan kelompok kesenian mahasiswa asing di Bandung.

Tur ke belasan lokasi bersejarah di Bandung dimulai Sabtu pukul 6 pagi. Kemudian ada Cosplay Show berupa pakaian lintas budaya menjelang petang. Malamnya, panitia merangkai pertunjukan wayang orang, wayang golek, dan wayang kulit, di Gedung Merdeka.

Selain itu diadakan pula perbincangan dengan saksi sejarah Konferensi Asia Afrika akan digelar Senin (23/4).

Beberapa tokoh yang diundang antara lain Joop Ave dan Jackson Leung, serta diakhiri dengan peluncuran buku biografi mantan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo berjudul Tonggak-tonggak di Perjalananku, serta audiobook Roeslan Abdulgani berjudul Bandung Connection. Seluruh rangkaian acara itu bisa diikuti secara gratis.

Sumber : Antara

0 komentar:

Posting Komentar