Pages

Rabu, November 16, 2011

Alutsista Baru Semarakan HUT Marinir

SURABAYA-(IDB) : Sekitar 6.000 personel Marinir mengikuti peringatan HUT Korps Marinir ke-66 di lapangan tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (15/11). Peringatan semakin menarik saat pasukan Marinir menggunakan sejumlah peralatan tempur lama dan baru mendemonstrasikan penyerangan ke markas musuh menggunakan peluru tajam.

Sejumlah peralatan baru ikut ambil bagian dalam demo kali ini, di antaranya tank BMP-3F dan kendaraan tempur LVT-7AL dari Korea. Perayaan juga ditandai dengan perubahan nama lapangan tembak Bumi Marinir Karangpilang menjadi lapangan tembak Lettu Marinir FX Soepramono, prajurit yang gugur dalam pertempuran melawan Fretelin di Dili, Timor Timur, yang saat itu masih menjadi bagian Indonesia.

Sumber : SCTV

Iran Akan Bagi-Bagi Teknologi Nuklirnya ke Negara Tetangga

NEW YORK-(IDB) : Sumber di Dewan tertinggi Iran menyebutkan bahwa Teheran akan membagi ilmu teknologi nuklirnya dengan negara tetangganya. Turki disebut-sebut sebagai salah satu yang berminat membangung reaktor nuklir dengan asistensi Iran.

"Iran benar-benar mengembangkan teknologi nuklir yang canggih dan dan siap untuk membaginya dengan negara-negara tetangga dan mitra bilateralnya," Mohammad Javad Larijani, penasihat Dewan Tertinggi Iran.

Amerika Serikat, Uni Eropa, dan sekutu mereka mencurigai Iran membangun teknologi nuklirnya untuk kepentingan militer. melalui dewan Keamanan PBB, mereka mendesak untuk memberikan sanksi yang lebih tegas pada negara itu.

Soal Turki, ia menyatakan negara ini bertahun-tahun berniat membangun pusat listrik tenaga nuklir, namun tak satupun negara di BArat yang bersedia membantu. "Kami siap bekerja sama jika mereka menghendaki," katanya.

Menurutnya, Iran masih berkomitmen dengan perjanjian tahun 1968 soal Non-Proliferation Treaty, yang mencegah pengembangan dan persebaran persenjataan nuklir.

"Dengan negara tetangga, kita bisa membangun PLTN bersama dan berbagi listrik dari situ," katanya. "Ini juga berarti pemasukan bagi kas kami."

Sumber : Republika

Simulasi Armada Jaya XXX/11 : “Sangatta Kembali Kepangkuan Ibu Pertiwi”

SANGATTA-(IDB) : TNI Angkatan Laut yang sedang melaksanakan latihan operasi pendaratan amfibi dengan sandi “Armada Jaya XXX/11” berhasil “merebut” kembali pantai Sekerat yang telah di kuasai oleh musuh, Jum’at (11/11). 

Daerah pantai itu berada di Sangatta Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur  dan masuk dalam wilayah Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terjadi “pertempuran” sengit pada dini hari sekitar pukul 04.30 (Wita) ketika Pasukan Pendarat (Pasrat) Marinir TNI AL berusaha merebut kembali wilayah itu kepangkuan ibu pertiwi.

Panglima Komando Tugas Gabungan Amfibi (Pangkogasgabfib) Laksamana Pertama TNI Taufiqurrachman melalui siaran radio yang diakses oleh unsur kapal-kapal  Kogasgabfib memerintahkan kepada seluruh pasukan pendarat untuk merebut pantai Sekerat yang telah dikuasai musuh. Dalam taklimatnya Pangkogasgabfib mengatakan “Daratkan Pasukan Pendarat”, kemudian dalam waktu singkat pasukan pendarat yang dipimpin oleh Komandan Pasukan Pendarat (Danpasrat) Kolonel Marinir Amir Faisol keluar dari Tank Deck KRI Surabaya-591 dan KRI Teluk Ende-517 meluncur ke daerah sasaran.

Pendaratan amfibi diawali dengan beberapa ledakan penghancuran (Demolisi) terhadap benteng pertahanan lawan oleh personel Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL yang sebelumnya telah melakukan infiltrasi penyusupan ke jantung pertahanan musuh di pantai Sekerat. Kemudian disusul ledakan-ledakan berikutnya yang berasal dari Bantuan Tembakan Kapal (BTK) oleh unsur-unsur kapal perang yang berada jauh ditengah laut. 

Tembakan artileri dari meriam kapal perang membuat konsentrasi musuh menjadi terpencah kemudian pasukan pendarat Marinir dapat berhasil mencapai titik pendaratan meskipun mendapat perlawanan sengit dari pasukan lawan yang berada didarat.

Pasukan Marinir melaksanakan pendaratan lintas pantai dengan barisan terdepan 5 buah Tank jenis Pallawa Tanka (PT) 76M dan 2 buah BVP 2 untuk  melaksanakan tembakan perlindungan. Sedangkan yang lainnya menggunakan 12 unit Tank angkut personel Browne Transporter (BTR) dan  4 buah Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri (Kapa) serta 20 perahu karet. 

Begitu pasukan marinir tiba di pantai pendaratan langsung disambut dengan rentetan tembakan oleh musuh, dan terjadi pertempuran sengit untuk menguasi daerah itu. Dalam waktu singkat Pantai Sanggatta dapat dikuasai kemudian pasukan yang berada dibawah Komando Tugas Gabungan Pendarat Administrasi (Kogasbagratmin)  melakukan pendaratan administrasi menggunakan dua buah kendaraan Landing Craft Utility (LCU) dari KRI Surabaya.

Untuk menghancurkan kekuatan musuh dilaksanakan tembakan penyapuan oleh 2 unit peluncur roket RM 70 Grad dan 2 pucuk meriam Howitzer kaliber 105mm. Namum pertempuran terus berkobar dimana-mana, selanjutnya pasukan Marinir TNI AL dan kendaraan tempurnya memburu sisa-sisa musuh yang bersembunyi di Obyek Vital Nasional (Obvitnas) dermaga Kaltim Prima Coal (KPC). Seluruh kekuatan musuh dapat dihancurkan dan Sanggatta kembali kepangkuan ibu pertiwi.

Operasi pendaratan amfibi itu merupakan puncak acara Latihan Armada Jaya XXX/11 yang digelar oleh TNI AL diwilayah Kalimantan Timur dengan melibatkan seluruh komponen Sistim Persenjataan Armada Terpadu (SSAT) TNI AL. Kekuatan tersebut adalah pangkalan, Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) yang terdiri dari Kapal-kapal Kombatan, kapal selam, kapal amfibi, kapal cepat rudal, buru ranjau, kapal patroli dan kapal bantu (Salvage) juga unsur Pesawat Udara (Pesud) yang terdiri dari pesawat Cassa dan helli kopter.

Sedangkan pasukan Marinir mengerahkan satu Batalyon Tim Pendarat (BTP) marinir yang terdiri dari pasukan Infanteri, 5 unit PT 76M, 2 unit Tank BVP, 12 unit Tank BTR, 4 unit Kapa, 2 pucuk meriam Howitzer kaliber 105mm, 23 truck, 2 kendaraan taktis Tatra, 2 unit ambulan medis dan 20 perahu karet. Selain itu juga didukung kekuatan lainnya diantaranya dari adalah 2 tim Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL, Intai Para Amfibi (Taifib), Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal), kesehatan, Search And Rescue (SAR) serta pandu gelombang dari Divisi Pantai.

Latihan tempur itu disaksikan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Soeparno didampingi Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur Laksamana Muda TNI Ade Supandi, S.E. selaku Direktur Latihan Armada Jaya XXX/11. Acara itu juga dihadiri beberapa tamu kehormatan dari Atase Pertahanan (Athan) negara sahabat diantaranya Athan Amerika Serikat, Australia, Singapura, Malaysia, Belanda dan italia serta pejabat Muspida setempat.

Kegiatan latihan Armada Jaya XXX/11 diliput oleh seluruh media, baik cetak maupun elektronik yang berasal dari puasat Jakarta dan media lokal. Dalam konverensi persnya Kasal mengatakan “Latihan Armada Jaya XXX/11 merupakan puncak latihan TNI AL yang diselenggarakan setiap tahun”, tegas Kasal. 

Sumber : Koarmatim

Pertahanan Udara Butuh Alutsista Modern & Profesionalitas Personil

JAKARTA-(IDB) :  Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat, mengatakan, keberhasilan tugas pertahanan udara membutuhkan alat utama sistem senjata (Alutsista) modern serta dikelola oleh personil yang profesional.

"Pengelolaan secara profesional dalam pengoperasian dan pemeliharaan peralatan, maupun mekanisme komando dan pengendalian, harus dilaksanakan secara cepat dan tepat," kata KSAU saat memberi arahan pada upacara peresmian beroperasinya satuan radar 245 di Saumlaki, Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Maluku, Selasa.

Pada kesempatan tersebut, KSAU juga melantik Letkol Lek Supriadi sebagai Komandan Satuan Radar 245 Saumlaki.

Upacara tersebut dihadiri para pejabat di jajaran TNI AU serta Bupati Maluku Tenggara Barat beserta muspida.

KSAU menjelaskan, kesiapan operasional merupakan modal utama untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan tugas, karena itu upaya mewujudkan kesiapan operasional harus selalu menjadi prioritas utama.

Tuntutan kesiapan operasional tersebut, menurut dia, tidak hanya pada kesiapan peralatan, tapi juga kesiapan personil seperti fisik, mental, serta pemahaman tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Pada kesempatan tersebut, KSAU meminta kepada para personil yang bertugas di satuan radar 245 Saumlaki agar menjalankan tugasnya secara profesional dan selalu sigap.

"Satuan radar memiliki fungsi sangat vital pada organisasi perang guna menjaga kedaulatan negara. Radar adalah mata yang tidak boleh tidur dan sangat berbahaya jika tidak mampu menjalankan tugasnya secara maksimal," katanya.

Hal tersebut jika tidak diwaspadai dan diantisipasi secara sungguh-sungguh, kata dia, akan berpengaruh terhadap kemampuan dan tingkat kesiapsiagaan operasionalnya.

KSAU menambahkan, pembangunan satuan radar 245 Saumlaki ini merupakan wujud dari program strategis untuk mengcover situasi dan kondisi serta kerawanan wilayah udara bagian timur Indonesia terhadap pelanggaran udara.

"Karena itu dibutuhkan, personil yang memiliki disiplin, dedikasi, motivasi, serta integritas dalam mengawaki alat utama sistem senjata radar," katanya.

Sumber : Investor

Pembelian Alutsista Bekas Salah Satu Strategi Pemerintah Mencapai MEF Tahap I

JAKARTA-(IDB) : Rencana pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) bekas dari negara-negara Eropa dinilai tidak memberikan nilai tambah bagi kebangkitan industri pertahanan, bahkan rentan terhadap embargo.

Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin mengatakan, dalam konsep pengadaan alutsista untuk mencapai target minimum essential force (MEF), pengadaan dari luar negeri harus melibatkan industri pertahanan dalam negeri.Dengan demikian terjadi proses transfer of technology (ToT) yang membantu proses kemandirian industri pertahanan atau setidaknya bisa dilakukan off-set.


Namun hal itu tidak akan terjadi jika pembelian dilakukan terhadap barang bekas pakai negara lain. ”Selain itu juga rawan terhadap embargo. Kita tidak tahu perlengkapan itu seperti apa sesudahnya,misalnya untuk membeli amunisi apakah kita masih bisa beli dari produsennya?” katanya kemarin.

Pembelian alutsista bekas juga merugikan dari aspek perawatan. Sebab, perjanjian pembelian dilakukan bukan dengan produsennya langsung sehingga untuk perawatan maupun suku cadang akan lebih mahal. Dengan begitu pembelian alutsista bekas dianggap hanya akan membuang-buang anggaran. ”Tidak ada nilai tambah bagi industri pertahanan dalam negeri, jadi kita rugi,”tandasnya.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menegaskan, pemerintah mendorong agar setiap pembelian alutsista impor dilakukan dengan sistem government to government (G to G) sehingga akan didapat garansi yang lebih banyak untuk dapat memanfaatkan senjata itu dengan baik. Pemerintah juga menolak membeli jika disertai persyaratan tertentu yang bakal menyulitkan di kemudian hari, misalnya membuka peluang ancaman embargo.

Belajar dari pengalaman masa lalu,pemerintah pernah membeli alutsita yang ternyata itu tidak bisa digunakan. ”Dari belajar itu, kita sekarang tidak mau lagi melakukan pembelian,misalkan ada persyaratan-persyaratan yang menyulitkan kita. Itu clear,”ujar Purnomo. Dia menuturkan,saat ini pemerintah sedang mengkaji rencana pembelian alutsista bekas dan baru dari Eropa dan Amerika Serikat.

Hal ini membuat daftar rencana pengadaan alutsista dalam program MEF TNI mengalami perubahan. Purnomo menyebut beberapa jenis alutsista yang diincar adalah mini-battle tank dan helikopter.Namun,semua rencana pengadaan dari Eropa ini masih dalam proses pembahasan meski telah disampaikan dalam sidang kabinet.

”Bapak Presiden memberikan waktu sekitar dua minggu,” kata mantan Menteri ESDM itu. Walaupun ada perubahan rencana, hal itu tidak boleh melebihi pagu alokasi USD6,5 miliar sehingga jika memang akan ada penambahan daftar baru pembelian, hal itu harus disesuaikan dengan prioritas kebutuhan.”Jadi ada beberapa yang dikurangi, ada beberapa yang ditambahkan,”imbuhnya.

Pengamat militer dari Universitas Indonesia Andi Widjajanto sebelumnya menilai pembelian alutsista bekas merupakan strategi transisi pemerintah sebelum mencapai kemandirian industri alutsista. Menurut dia,pemerintah sudah memiliki desain ideal dalam pengadaan alutsista di masa mendatang.

Pembelian alutsista bekas saat ini merupakan pilihan yang paling rasional jika berdasarkan pada kecepatan proses.Sebab, untuk membeli alutsista baru membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.Untuk pesawat tempur, misalnya, baru dibuat 2016–2017 dan kapal perang pada 2033. ”Tidak ada pilihan kalau mau (produk) masuk pada masa (Presiden) SBY, kecuali pasar bekas,”ujarnya.

Untuk produk bekas, Andi menyebut saat ini hanya ada tiga konsorsium senjata yang teknologinya masih sesuai dengan sekarang, yakni Amerika Serikat,Eropa Barat,dan Rusia. Pemerintah harus selektif karena mayoritas negara-negara itu tidak mengikutkan klausul ToT dalam penjualan produknya sehingga hal ini tidak menguntungkan bagi upaya pembangunan kemandirian industri alutsista dalam negeri.

Sumber : Sindo