Pages

Rabu, Maret 19, 2014

Merebut (Kembali) Hegemony Militer Dari Singapura


flagj

JKGR-(IDB) : Asia-Pasifik termasuk Asia Tenggara adalah wilayah yang paling pesat mengalami perkembangan modernisasi militer, termasuk juga Indonesia. Singapura, sebagai negara kecil dikelilingi tetangga-tetangga yang lebih besar di kawaan Asia tenggara mempunyai perasaan kerentanan yang kemudian mendorong pemerintah Singapura menjadi negara dengan anggaran terbesar di kawasan Asia Tenggara.


Namun kondisi tersebut mungkin tidak lama lagi akan berubah. Program modernisasi TNI di Indonesia dengan program Minimum Essential Force yang akan merubah postur dan doktrin TNI mengancam posisi Singapura sebagai negara dengan militer terkuat dan tercanggih di Asia Tenggara.


Pada tahun 2012, Singapura dan Indonesia secara kolektif mencapai hampir 57% dari total anggaran pertahanan negara-negara ASEAN. Anggaran pertahanan lima besar negara ASEAN (Singapura, Indonesia, Thailand, Malaysia, Philipina) diperkirakan mencapai $61.6 milyar USD pada tahun 2020 dari $29.3 milyar pada tahun 2012, atau tumbuh dengan CAGR sebesar 9,8% selama periode proyeksi tersebut. 

Sebagian besar belanja ini diperkirakan akan didorong oleh peningkatan belanja Indonesia yang meningkat sebesar 17% CAGR selama periode tersebut. Pada tahun 2020, diprediksi Indonesia akan memberikan kontribusi hampir 40% atau sekitar $24.6 milyar USD dari anggaran pertahanan ASEAN diikuti oleh Singapura dengan 23% ($14 milyar USD) dan dan Thailand 17% ($10 milyar USD).

defence asean
Belanja pertahanan 5 besar ASEAN 2012-2020
Singapura terus menjaga peningkatan anggaran pertahanan yang stabil. Anggaran pertahanan Singapura 2014 diumumkan senilai $12.56 miliar SGD ($9.93 miliar USD), naik 3,2 % dari anggaran pengeluaran pada 2013. Ketika kenaikan anggaran belanja pertahanan Indonesia banyak yang digunakan untuk pengembalian postur yang lama diabaikan, anggaran Singapura telah lama ada pada kondisi mengejar kualitas dan deterrence. Selain itu alokasi R&D yang besar menyebabkan industri strategis Singapura menjadi pemimpin industri pertahanan di Asia Tenggara, sementara di sisi lain Indonesia baru saja akan memulai kembali mengemangkan industri strategis setelah terbengkalai pasca krisis moneter 1997.


Alokasi Singapura tersebut sekitar 22% dari pengeluaran total pemerintah tahunan dan sekitar 3,3 % dari PDB. Pendekatan jangka panjang negara untuk anggaran pertahanan diarahkan mempertahankan level kemampuan tinggi Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) dan mengejar SAF sebagai generasi lanjut angkatan bersenjata yang modern.


Persentase anggaran pertahanan dari PDB Singapura (3.3%), lebih tinggi dari rata-rata global yang ada di kisaran 2% PDB, namun angka tersebut masih jauh di bawah batas maskimal anggaran pertahanan Singapura yang punya batas hingga 6% PDB. Namun potensi besar Indonesia bahkan di saat sekarang yang hanya menganggarkan 1% PDB telah mampu mendekati anggaran 3.3% PDB Singapura. Pada akhirnya, walaupun Singapura menganggarkan batas maksimal anggaran pertahanan-pun tetap saja pada suatu saat akan terlewati dan tidak akan bisa bersaing dengan tetang-tetangganya yang lebih besar.


Menteri Pertahanan Ng Eng Hen berbicara depan Parlemen alasan peningkatan anggaran yang stabil adalah upaya Singapura dalam pembangunan kemampuan pertahanannya sehingga mencapai kemampuan pencegahan strategis, dan juga untuk menghindari kondisi tidak siap menghadapi potensi resiko ancaman yang tidak diperkirakan dan bisa terjadi kapan saja. Dia memberi gambaran bagaimana bentuk Angkatan Bersenjata Singapura hingga tahun 2030.

Gambaran Kekuatan Militer SAF saat ini - 2030
Proyeksi kekuatan militer SAF saat ini hingga 2030
Saat ini Singapura sedang dalam upaya pengadaan pesawat Multi-Role Tanker Transport (MRTT), berpotensi menjadi pengguna pertama kapal selam produksi dari prototype, mengakuisisi pesawat generasi lima pada tahun 2020, upgrade kendaraan lapis baja Bionix dan meluncurkan kendaraan driverless untuk membantu melindungi kedaulatan Singapura. Sementara itu Singapura sebelumnya sudah menerima F-15SG dan sedang dalam proses upgrade armada F-16 mereka.

Jumlah dan generasi pesawat tempur negara 5 besar ASEAN sejak tahun 1990-an
Jumlah dan generasi pesawat tempur negara 5 besar ASEAN sejak tahun 1990-an

Angkatan Darat Singapura juga berencana merekrut sebanyak 1.100 prajurit karier. Menteri Pertahanan Ng Eng Hen mengatakan bahwa memiliki tentara karir profesional yang lebih berpengalaman dalam unit pelatihan akan membuat pelatihan peserta wamil lebih efektif dan efisien.


Pertumbuhan ekonomi memungkinkan Singapura terus mempertahankan “Keunggulan kuantitatif dan kualitatif SAF” terhadap kekuatan militer tetangganya, namun, fundamental pertumbuhan ekonomi dan proporsional ukuran dan sumber daya Singapura berbanding Indonesia pada akhirnya akan menuju pada situasi dan kondisi ketika kemampuan SAF tidak akan lagi mampu memberikan efek gentar bagi TNI. Dan mengingat sejarah masa lalu, memang wajar jika mereka merasa terancam.

Sg militari procuremen by decade
Budget/Alokasi Belanja Militer SAF Berdasarkan Dekade


belanja milter menurut decade
Budget/Alokasi Belanja Militer TNI Berdasarkan Dekade

Demi mengatasi keterbatasan potensi mereka tersebut, Singapura melirik opsi bentuk perlindungan dari luar seperti hubungan pertahanan bilateral dan juga multilateral. Seperti misalnya dengan Amerika Serikat, Australia, Jepang dan lima negara anggota FPDA.


Untuk Indonesia menggantikan Singapura sebagai militer dengan anggaran terbesar hanya tinggal menunggu waktu, sama sekali bukan tantangan berat tapi adalah proses wajar akibat berbedaan potensi ke dua negara. Dan juga harus diingat Singapura dengan maksimal memanfaatkan potensi-potensi yang ada dengan indeks daya saing tinggi, sementara Indonesia terkesan masih mengabaikan berbagai potensi ekonomi dan geografis di dalam negeri. 

Jika Indonesia mampu memberdayakan potensi yang ada pada level yang sama seperti Singapura, maka sebagai benchmark bukan mustahil akan melirik negara yang lebih seimbang dari segi postur dan potensi seperti Brasil, India atau bahkan China.

Bagi Indonesia, Singapura hanyalah satu bagian kecil dari kekuatan asing yang lebih besar. Indonesia tidak bisa melihat hanya pada satu arah sebagai sumber ancaman dan harus juga mengandalkan kecerdikan diplomasi dalam menangkal berbagai bentuk ancaman tersebut, baik militer, politik maupun ekonomi. Di masa multipolar seperti saat ini, untuk kembali menjadi kekuatan regional yang diperhitungkan Indonesia juga harus mewaspadai potensi ancaman diluar ruang lingkup Asia Tenggara. 




Sumber : JKGR

KASAU : 8 Pesawat F16 Hibah Datang Oktober 2014

PEKANBARU-(IDB) : Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI IB Putu Dunia mengatakan pesawat tempur F-16 hibah dari pemerintah Amerika Serikat dijadwalkan tiba pada Oktober 2014. "Direncanakan F-16 sudah datang sebelum 5 Oktober peringatan Hari TNI," kata Marsekal TNI IB Putu Dunia kepada Antara saat meninjau persiapan fasiltias di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Rabu (19/3).

Ia mengatakan, jet tempur tersebut akan tiba secara bertahap ke Indonesia. "Untuk tahap awal, ada delapan pesawat yang akan datang," ujarnya.

Dalam kunjungannya, IB Putu Dunia meninjau persiapan fasilitas untuk F-16 yang akan ditempatkan di Lanud Pekanbaru. Kasau dalam kunjungan tersebut didampingi oleh Panglima Komando Operasi I TNI AU Marsekal Muda TNI M Syaugi dan Komandan Lanud Roesmin Nurjadi Kolonel Pnb Andyawan.

"Kita memantau langsung pembangunan skuadron 16, dan sejauh ini sangat memuaskan. Semua peralatan lengkap, dan kedepan kita berharap, Skuadron F-16 ini sebagai pilar terdepan kita untuk mengamankan kawasan kedaulatan NKRI," ujarnya.

Menurut dia, direncanakan akan ada 16 pesawat tempur F-16 di Lanud Pekanbaru. Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Kolonel Pnb Andyawan mengatakan fasilitas untuk skuadron F-16 berdiri di lahan seluas sekitar 7 hektare. Fasilitas tersebut meliputi hanggar, hanggar perawatan, arena parkir pesawat terbang dan naungannya, gudang amunisi, asrama dan rumah tinggal pilot dan awak darat, perkantoran, dan lain-lain.

Ia mengatakan Mabes TNI memilih Pekanbaru sebagai lokasi jet tempur itu karena dinilai sebagai daerah strategis di Sumatra, untuk pengamanan wilayah barat Indonesia terutama di Selat Malaka. Sebab, selama ini pesawat-pesawat tempur Angkatan Udara Singapura hanya memerlukan waktu kurang dari satu menit untuk bisa berpapasan dengan garis batas wilayah kedaulatan Indonesia di Selat Philips dan Selat Singapura.

TNI AU mendatangkan F-16 Fighting Falcon blok 25 bekas Perang Irak, yang direncanakan akan ditingkatkan kapasitasnya (upgrade) ke blok 52+. Meskipun hibah dari Amerika Serikat, pemerintah tetap mengeluarkan biaya upgrade dengan biaya total sekitar 400 juta dolar AS memakai skema pembayaran foreign military sales.

Jika berjalan lancar, maka akan ada dua skuadron udara di Lanud Pekanbaru, yang kini sudah memiliki Skuadron Udara 12 berintikan Hawk 109 dan Hawk 209 buatan British Aerospace.




Sumber : Republika

Dukung Latma Multilateral Komodo KRI Makassar 590 Angkut Personel Dan Ranpur

JAKARTA-(IDB) : Dalam rangka mensukseskan pelaksanaan Latma Multilateral Komodo 2014, KRI Makassar-590 salah satu unsur kapal perang TNI AL yang terlibat dalam latihan bersama 16 negara dari Asean dan Asean plus  di perairan Batam, Kepulauan Natuna dan Anambas, melaksanakan embarkasi personel dan kendaraan tempur (Ranpur) di dermaga Kolinlamil Jakarta Utara, Selasa (18/3/2014).

Dalam latihan yang akan digelar di perairan Indonesia ini bertindak selaku Direktur Latihan Multilateral Komodo 2014 adalah Laksamana Pertama (Laksma) TNI Dr. Amarulla Octavian, S.T., M.Sc., D.E.S.D.,  yang sehari hari menjabat Komandan Gugus Tempur Laut Komando  Armada RI Kawasan Barat (Danguspurlaarmabar).

KRI Makassar-590 kapal jenis Landing Platform Dock (LPD) ini mengangkut personel dan Ranpur yang akan mendukung kegiatan Latma Multilateral Komodo 2014 antara lain personel dari Kopaska TNI AL, Tim Kesehatan, Tim pendukung dan Zeni TNI AD. Sedangkan Ranpur antara lain lima Tank LVT, empat Tank BVP dari Marinir, 12 Sea Rider Kopaska TNI AL, dua Truck, dua Mobil dan tiga Motor Patroli Kawal (Patwal) serta Mobil Decon Nubika TNI AD.

Selanjutnya Sea Rider akan diturunkan di Batam, pulau-pulau di Kepulauan Anambas dan Natuna yang akan digunakan oleh personel Kopaska TNI AL guna melaksanakan pengamanan dan SAR laut selama pelaksanaan Latma Multilateral Komodo 2014. Sementara itu, untuk Ranpur jenis Tank akan diturunkan di Batam dan digunakan untuk memeriahkan acara kirab kota pada acara puncak Latma Multilateral Komodo 2014 di Batam.

Selama kegiatan Latma Multilateral Komodo 2014 berlangsung di Batam, seluruh KRI dan kapal perang negara peserta akan merapat dan lego jangkar di perairan Batu Ampar Batam. Dan selama kegiatan tersebut, unsur pengamanan dengan menggunakan KRI jenis partoli cepat KAL dan Sea Rider melaksanakan patroli laut dalam rangka mendukung keberhasilan selama tahap kegiatan Latma Multilateral Komodo 2014 yang digelar di Batam yang direncanakan pembukaannya pada tanggal 29 April 2014 dan dilanjutkan dengan berbagai kegiatan festival maritim.

Sementara itu, menurut Komandan Satuan Tugas Latihan (Dansatgaslat) Kolonel Laut (P) Nur Singgih Prihartono menyampaikan bahwa unsur-unsur TNI AL sejumlah kurang lebih 16 KRI secara bertahap diberangkatkan dari pangkalan Jakarta dan Surabaya. Selama kegiatan lintas laut Jakarta Batam akan dilaksanakan berbagai serial latihan komunikasi dan manuver KRI dalam rangka mendukung kesiapan unsur TNI AL.

Untuk menunjang messing personel yang tergabung dalam Latma Multilateral Komodo 2014, sejumlah kurang lebih 1.500 personel terdiri dari pasukan marinir, pasukan katak TNI AL dan personel Pomal serta personel staf pendukung lainnya on boad di KRI Tanjung Nusanive-973 yang akan diberangkatkan dari Jakarta menuju Batam.

Sedangkan dua KRI yaitu KRI dr. Soeharso-990 dan KRI Teluk Banten-516 dengan mengangkut para dokter dan para medis diberangkatkan dari pangkalan Jakarta menuju langsung daerah sasaran kegiatan pelayanan kesehatan di pulau-pulau Anambas dan Natuna yang akan melibatkan personel dari negara peserta.



Sumber : Koarmabar

Combat Boat Dan Sea rider perkuat Lanal Sabang

SABANG-(IDB) : Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Sabang Kolonel Laut (P) Imam Musani, menerima Alutsista terbaru buatan dalam negeri yang berjenis Alpung PATKAMLA Combat Boat type X-8 Catamaran dan satu unit Sea Raider, di didermaga Lanal Sabang, Selasa (18/3).

Dalam sambutanya, Danlanal Sabang mengatakan bahwa dengan tambahan dua Alutsista ini akan meningkatkan kemampuan operasi pengamanan dan penegakan hukum dilaut perairan Aceh, terlebih lagi situasi keamanan di Propinsi Aceh yang mulai memanas menjelang dilaksanakannya Pemilu 2014. Kedatangan Combat Boats dan Sea Reider ini di Lanal Sabang akan menambah kekuatan Alutsista yang sudah ada di Lanal Sabang sebagai sarana untuk melaksanakan patroli dilaut di perairan Aceh.

 

Lebih lanjut Danlanal Sabang menyampaikan bahwa,untuk Combat Boat Type X-8 Catamaran ini merupakan Alutsista terbaru buatan dalam negeri yang dikerjakan di galangan kapal di Banyuwangi yang berkerjasama dengan TNI AL. Combat Boats ini memiliki spesifikasi dua buah lunas dengan dua mesin Marine Diesel VGT 400 PK bertenaga 220 HP buatan Swedia serta dilengkapi dengan alat navigasi dan komunikasi modern.




Sumber : Koarmabar

Sukhoi TNI AU Laksanakan Terbang Malam

MAKASSAR-(IDB) : Para penerbang tempur Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin selama empat hari mulai Tgl 17 s.d 20 Maret 2014 terus menempa diri dengan melaksanakan latihan Night Flight (terbang malam ) di wilayah udara sekitar Lanud Sultan Hasanuddin, dalam rangka menjaga kesiapan operasi.


Latihan terbang malam dimaksudkan untuk meningkatkan keahlian dan kemampuan, profesiensi guna meraih profesionalisme sebagai seorang penerbang tempur TNI Angkatan Udara, sebelum melaksanakan terbang malam, diawali dengan briefing penerbangan di Ruang Shelter Skadron Udara 11 Wing 5.


Dalam kegiatan Latihan terbang malam, Skadron Udara 11 yang merupakan home base pesawat tempur Sukhoi SU- 30 MK2 dan SU-27 SKM, yang dilaksanakan secara terjadwal tersebut selain melibatkan para teknisi dan crew dari Skadron Udara 11, juga unsur personel pendukung penerbangan seperti petugas PLLU, Meteorologi, Crashteam serta petugas pendukung lainnya dari Dinas Operasi, Dinas Logistik serta Dinas Personel, dan Kesehatan yang merupakan aplikasi dari pelaksanaan program kerja Lanud Sultan Hasanuddin.





Sumber : TNI AU

Menhan : Indonesia Masih Bekukan Kerja Sama Australia

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro menegaskan Indonesia masih membekukan tiga kerja sama dengan Australia yaitu tukar menukar informasi intelijen, patroli bersama, dan latihan bersama.

"Memang dalam JIDD (Jakarta International Defense Dialogue) ada pertemuan dengan Menteri Pertahanan Australia, namun tunggu dulu apa yang dibahas karena saya tidak tahu apa yang akan dibicarakan nanti," kata Purnomo dalam konferensi pers di sela acara JIDD di Jakarta, Rabu.

Dia mengatakan keputusan mengenai kebijakan tersebut tidak bisa diambil sendiri oleh Kementerian Pertahanan, karena menyangkut kementerian/lembaga lain yang terkait seperti Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Purnomo mengatakan Indonesia memang memiliki masalah dengan Australia, namun hal itu bukan berarti tidak ada hubungan yang terjalin antara dua negara tersebut.

"Indonesia ingin menggagas Indo-Pasifik dan itu konsep Indonesia yang didukung Australia," ujarnya.

Hubungan kedua negara sempat tegang setelah Indonesia membekukan tiga kerja sama dengan Australia karena negara tersebut diduga menyadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pejabat pemerintah Indonesia.

Menteri Pertahanan Australia David Johnston datang dalam "Jakarta International Defence Dialogue" yang mengusung isu kerja sama maritim termasuk mendiskusikan perdagangan manusia.

Menhan RI dan Australia dijadwalkan bertemu di sela forum JIDD pada Rabu pukul 16.00 WIB.

JIDD 2014 mengundang 51 delegasi negara-negara dan 47 sudah mengonfirmasi akan datang.

Pejabat dan delegasi luar negeri yang akan hadir yaitu lima Menteri Pertahanan Australia, Bangladesh, Belanda, Papua Nugini, dan Republik Timor Leste. Selain itu, ada empat panglima angkatan bersenjata Australia, Papua Nugini, Sri Langka, Timor Leste, dan 44 delegasi.

JIDD ke-4 akan diadakan "Asia Pacific Security and Defence Expo" (APSDEX) 2014 yaitu pameran industri pertahanan dan keamanan yang diikuti industri dalam negeri. Tema APSDEX adalah "Driving Indonesian Industries and Partnership in Support of Regional Maritime Collaborations".

JIDD ke-4 dilaksakanan pada 19 dan 20 Maret 2014 di Jakarta Convention Center.




Sumber : Antara

Junior Exchange Visit RTAF Ke Lanud Halim Perdanakusuma

JAKARTA-(IDB) : Bertempat di ruang tamu Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Selasa, (18/3) Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Sri Pulung D., SE., MMgt., Stud., menerima delegasi Royal Thailand Air Force (RTAF) yang dipimpin Gp Capt. Terapun Bussai. Delegasi RTAF berjumlah 15 orang datang ke Indonesia sejak 17 Maret hingga 24 Maret 2014 untuk melaksanakan kunjungan ke berbagai satuan TNI AU dalam program Junior Officers Excanghe Visit Program TNI AU – RSAF.


Marsma TNI Sri Pulung D., SE., MMgt., Stud., Komandan Lanud Halim Perdanakusuma dalam percakapannya menyatakan selamat datang kepada delegasi RTAF di Indonesia. Dijelaskan bahwa Lanud Halim Perdanakusuma merupakan salah satu pangkalan udara TNI AU yang bersejarah dalam melaksanakan berbagai tugas operasi yang dilaksanakan TNI. Untuk itu, sejak tahun 2012 telah didirikan sebuah museum bernama Museum Lanud Halim Perdanakusuma yang merekam peristiwa bersejarah selama keberadaan Lanud Halim Perdanakusuma.


Sementara itu Ketua delegasi RTAF Gp Capt. Terapun Bussai, menyatakan melalui program kunjungan RTAF ke Indonesia, para Perwira Angkatan Udara Thailand dapat mengetahui secara lebih dekap kebeadaan berbagai satuan di jajaran TNI Angkatan Udara. Selain sebagai sarana studi banding juga untuk mempererat jalinan kerjasama kedua belah pihak dalam bidang pertahanan di masa kini maupun mendatang.


Selanjutnya diadakan pertukaran cinderamata antara Komandan Lanud Halim Perdanakusuma dan ketua delegasi RTAF. Rombngan sebelum melanjutkan perjalanan dengan didampingi Staf Pengamanan Mabesau menyempatkan diri untuk melihat Museum Lanud Halim Perdanakusuma dan diterima Kepala Penerangan Lanud Halim Perdanakusuma Mayor Sus Geraldus Maliti, S.Sos., untuk menjelaskan benda-benda sejarah sebagai koleksi museum tersebut.
Tampak pada gambar: Komandan Lanud Halim Perdanakusuma  Marsma TNI Sri Pulung D., SE., MMgt., Stud., menerima cinderamata dari ketua delegasi Royal Thailand Air Force (RTAF) yang dipimpin Gp Capt. Terapun Bussai. Delegasi  RTAF berjumlah 15 orang datang ke Indonesia sejak 17 Maret hingga 24 Maret 2014 melaksanakan kunjungan ke berbagai satuan TNI AU dalam program Junior Officers Excanghe Visit Program TNI AU – RSAF tahun 2014. 





Sumber : TNI AU

Kormar Dapat Kunjungan Wamenhan Korea Selatan




JAKARTA-(IDB) : Komandan Korps Marinir MayjenTNI (Mar) A. Faridz Washington menerima kunjungan Wakil Menteri Pertahanan Korea Selatan Baek Seung-joo di gedung Cakra Mako Brigif-2 Marinir Bhumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (18/03/2014).



 
Kunjungan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Korea Selatan dalam rangka untuk mempererat kerjasama militer kedua Negara. Dalam kunjungan kerjanya, Wamenhan Korea Selatan meninjau langsung Kendaraan tempur (Ranpur) tank amfibi LVT-7A1 yang memperkuat kesenjataan Korps Marinir TNI AL, hibah dari pemerintah Korea Selatan. Di kesempatan yang sama juga dilakukan tukar menukar cinderamata.



 
Selanjutnya rombongan Wamenhan Korea Selatan berkesempatan melakukan tour facility dengan menggunakan Ranpur LVT-7A1 keliling Kesatrian Marinir Cilandak. Pada akhir acara, Dankormar menyerahkan bingkai foto hasil foto bersama kepada Wamenhan Korea Selatan.



 
Hadir dalam acara kunjungan tersebut Kaspasmar-2 Kolonel Marinir Yuniar Lutfi, Asintel Dankormar Kolonel Marinir Imam Sopingi, Kadismat Kormar Kolonel Marinir Endang Taryo dan para Pejabat Teras Pasmar-2 serta Dankolak Pasmar-2. 




Sumber : Kormar

Harap-Harap Cemas Kehadiran Si Badai

Pesawat Tempur Rafale Prancis
JKGR-(IDB) : Siapa yang tidak kenal dengan Rafale? Pemerhati dunia militer, khususnya dunia aviasi militer pastilah mengenal sosok pesawat tempur andalan Armee de l’Air atau AU negeri Pakdhe Sarkozy ini.

Sosok pesawat tempur, yang dijuluki Bill Gunston “the most beautiful fighter aircraft ever” , kini sedang menjadi buah bibir di bebagai media publikasi militer, bukan karena segudang prestasi tempur, tapi karena kegagalannya memenangkan kontrak pesanan dari bebeberapa negara sepanjang 3 tahun terakhir. Sebegitu burukkah nasib si Badai ini? Tak adakah keberuntungan yang menaungi si Badai yang baru diproduksi 160 unit ini?.

Ternyata dewi fortuna berpihak pada Rafale, durian runtuh buat Dassault, Thales, dan SNECMA sebagai system vendor utama Rafale. Siapakah yang jadi dewa penolong Rafale?

Sebelum mengungkap tabir misteri pemberi napas baru program Rafale, kita bedah dulu si Badai ini.

Jin Rafa a.k.a Rafale, Selayang Pandang

Rafale, adalah pesawat tempur generasi 4+ yang menjadi andalan Armee de l’Air (AU Prancis) yang digadang-gadang sebagai ujung tombak armada untuk menggantikan Mirage 2000 dan Mirage F1 sebagai frontline fighter. Uniknya, desain pertama Rafale adalah mengacu pada “carrier based fighter” atau pesawat tempur yang berpangkalan di kapal induk yang kemudian konsep desain berkembang dan diaplikasikan untuk versi AL dan AU. Peran utama yang diemban Rafale adalah superioritas udara, interdiksi, pengintaian, dan platform strategis peluncur rudal nuklir.

Meskipun memiliki dimensi fisik relatif kecil, Rafale mampu bawa persenjataan dalam volume yang sanggup membuat mata terbelalak. 9,5 ton persenjataan pada 14 cantelan di bawah perut, pastilah suatu angka yang impresif, bukan?  14 cantelan itu bisa diisi berbagai “aksesoris” mulai dari rudal AAM MICA dan Meteor. Khusus untuk baseline F3 dan F3R, berbagai macam senjata anti permukaan baik itu itu rudal macam Exocet AM39, Hammer AASM, atau rudal jelajah gress SCALP EG, serta berbagai jenis bom pintar dapat dibawa oleh Rafale.

Itu soal tentengan, bagaimana dengan jeroan? Bicara jeroan, Rafale memiliki sederet sensor yang menjadi mata dan telinga yang diakui oleh industri adalah salah satu yang terbaik di dunia. “Mata” sang Badai, bertumpu pada radar  Thales RBE2  PESA (passive electronically scanned array)/AESA pada varian F3R. Selain radar, sistem pengindera pasif dengan sensor optik/infra merah OSF racikan Thales, yang merupakan sistem penjejak optik/infra merah pertama yang muncul di pespur Barat (sebelumnya hanya dimiliki oleh Flanker family dan MiG-29M milik Rusia).

Selain kedua sensor tersebut, Rafale memiliki suatu piranti yang tak kalah eksotis dan sudah teruji dalam medan tempur, dan berbagai ajang latihan taktis bersama negara NATO. Piranti tersebut adalah SPECTRA, bikinan Thales dan MBDA, yang berfungsi sebagai perangkat perang elektronika (pernika)/electronic warfare. Perangkat ini yang membuat Rafale satu-satunya pesawat tempur NATO yang mampu lolos dari sergapan S-300V dalam suatu simulasi latihan.

Rafale Sebagai Pendamping Su-35 First Line Fighter TNI AU
 
Saat TNI AU mulai mempublikasikan wacana pengadaan pespur sebagai pengganti F-5, sederet nama kandidat mulai bermunculan. Dan Rafale, muncul sebagai salah satu kandidat utama. Apa alasan akhirnya Rafale jadi kandidat kuat. Simak saja fakta dibawah ini:

-Red Flag exercises: Rafale C sukses membukukan skor kill total  26-3 dalam skenario CAP-WVR dan kill 20-2 dalam CAP-BVR. Rafale menjadi bagian dari blue force, melawan red force yang terdiri dari F-15, F-16, dan EF Typhoon.

-Red Flag exercises: Rafale C sukses menghindari lock on dari sistem SAM yang disimulasikan S-300V. Menjadi satu-satunya pemegang rekor “no kills by SAM” dalam sejarah Red Flag!

Dassault sudah mengendus peluang ini dan pernah mengirimkan proposal acquisition offering. Sayang, proposal pertama ini gagal, meskipun dari sisi user sendiri sudah menunjukkan minat tinggi. Kegagalan ini disebabkan karena dassault tidak bersedia memenuhi permintaan ToT kita untuk program IFX dengan skema harga dan volume pembelian yang kita mau. Bayangkan saja mereka menuntut kita untuk beli 64 Rafale B/C baseline F3 dan F3R dengan harga fantastis yang tidak mungkin kita jangkau. Sebagai informasi, item ToT mencakup engine Snecma M88, radar Thales RBE2, dan avionics system integration.

Namun, ternyata kebutuhan financing mereka untuk program baseline F3R memaksa Dassault cs kembali datang dengan menawarkan skema baru yang lebih atraktif.  Selain ada price per unit yang 22% lebih rendah dari initial offering, juga ada ToT penuh untuk spare parts, dan teknologi sensitif yang melekat pada Rafale. Mereka juga setuju untuk memberikan teknologi mesin SNECMA M-88B-4, radar RBE2 AESA, dan……seluruh perangkat perang elektronika SPECTRA, serta source code data link yang memungkinkan Rafale bisa “ngobrol” dengan armada Sukhoi kita! Selain itu mereka juga siap mendukung program pengembangan “network centric battle management system” yang sedang dirintis oleh Dephan.

Gayung bersambut, proposal terbaru tersebut sudah mendapat clearance berlapis, hingga ke tingkat decision maker tertinggi. 

Skema yang disetujui adalah sebagai berikut :
 
I. Initial Acquisition Programme (Delivery Q4 2014 – Q2 2015)
  1. 16 units of Rafale C singe seater F3 variant.
  2. 8 units of Rafale B twin seater F3 variant.
  3. Provision of latest upgrade of Damocles IRST (baseband 3.00A2).
  4. Provision of SPECTRA jamming pod (undisclosed quantity).
  5. Provision of MICA AAM (IR/active radar homing) undisclosed quantity.
  6. Provision of complete package of spare parts, logistic and technical support, and operational management support.
  7. Provision of comprehensive air and ground crew training program (both on Dassault and local sites).
        
II. Phase 2 Acquisition Programme (Delivery Q3 2015 – Q4 2016)
  1. 24 units of Rafale C single seater F3 variant.6 units of Rafale B single seater F3 variant.
  2. Provision of SPECTRA jamming pod (batch 2).
  3. Provision of MICA AAM.
  4. Provision of MBDA Meteor (undisclosed quantity).
  5. Initial transfer of technology programme.

III. Phase 3 Acquisition Programme (Delivery Q1 2017-Q4 2017)
  1. 18 units of Rafale C single seater F3R variant.
  2. Upgrade 24  units of batch 1 into F3R variant
  3. Full scheme ToT execution
  4. Provision of MBDA Meteor AAM
  5. Provision of Hammer AASM, SCALP air to ground missile (undisclosed quantity).

IV. Phase 4/Final Acquisition Programme (2018)
  1. Upgrade 30 units of batch 2 into F3R variant.
  2. Final programme delivery to user.

Selamat datang…Rafale, kami rakyat Indonesia menyambut hangat kedatanganmu. Semoga angkasa nusantara akan semakin aman dengan kehadiranmu. 




Sumber : JKGR

Menhan : Ancaman Non Militer Lebih Dominan

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, karakteristik ancaman terhadap pertahanan negara saat ini lebih dominan dan lebih banyak dari ancaman non militer. Selain itu  ancaman juga bersifat sangat kompleks, multidimensi dan ketidakpantian tinggi.

“Karakteristik ancaman itu ada empat, non militer itu dominan. Ancaman lewat jalur - jalur yang bukan militer itu sekarang itu lebih banyak.  Tetapi bukan berarti ancaman militernya dilupakan, karena perang itu bisa terjadi setiap saat, tetap kita harus selalu waspada”, jelas Menhan saat memberikan pembekalan kepada  siswa SMA TN Angkatan XXIII dalam kunjungan Karyawisata ke Kementerian Pertahanan, Selasa (18/3).


Lebih lanjut Menhan mengatakan bahwa, semakin kedepan tantangan yang akan dihadapi bangsa Indonesia akan semakin banyak, tidak hanya tantangan militer tetapi juga tantangan non militer. Hal tersebut  harus diwaspadai oleh seluruh generasi muda Indonesia selaku penerus dan pewaris bangsa.


Untuk itu, Menhan dalam pembekalannya berpesan kepada para Siswa SMA TN dan seluruh generasi muda  Indonesia harus sadar dan mempersiapkan diri  dalam menghadapi tantangan yang luar biasa kedepan itu.  “Hidup semakin lama tantangannnya kalau kita plot, antara hidup dan tantangan itu grafiknya eksponensial”, jelas Menhan.




Sumber : DMC

Potensi “Hedging Nuklir” Indonesia

JKGR-(IDB) : Jepang memiliki program nuklir sipil paling maju diantara semua negara yang tidak memiliki senjata nuklir. Menurut NBC News, Tokyo memiliki 9 ton plutonium yang ditimbun di berbagai tempat terpisah di seluruh Jepang,  dan 35 ton plutonium lainnya disimpan di berbagai negara di Eropa. 

Sementara itu, hanya sekitar 5 sampai 10 kilogram Uranium yang dibutuhkan untuk memproduksi senjata nuklir. Jepang juga memiliki tambahan 1,2 ton uranium yang diperkaya dan membangun reaktor penghasil plutonium secara cepat di Rokkasho yang mampu menghasilkan 8 ton plutonium per tahun.

Banyak para ahli meyakini bahwa Jepang, jika mau, bisa menghasilkan senjata nuklir dalam waktu 6 bulan. Beberapa pengamat meyakini bahwa Tokyo sedang mengejar strategi “hedging nuklir”, strategi asuransi penyeimbang bagi kekuatan nuklir China. Jepang sendiri tidak berupaya meredakan kekhawatiran ini. 

Bahkan, lebih sering mengindikasikan kemampuan jaminan nuklir mereka seperti yang disampaikan seorang pejabat Jepang baru-baru ini secara off the record bahwa “Jepang sudah memiliki kemampuan teknis [untuk membangun senjata nuklir] sejak tahun 1980-an.” Hal ini semakin memperkuat keyakinan akan sedang terjadinya nuclear hedging strategy oleh negara -yang resminya- tidak memiliki senjata pemusnah masal nuklir.

Memiliki “bom tersembunyi” adalah upaya Jepang menghadapi kebangitan militer China. Dengan menghidupkan kekhawatiran Beijing bahwa Jepang dapat membangun senjata nuklir, Tokyo berharap untuk menahan China untuk tidak gegabah meningkatkan ketegangan bilateral.

Indonesia

Walau merupakan negara yang termasuk negara peserta Nonproliferasi Nuklir, namun teknologi nuklir sendiri bukanlah hal asing bagi Indonesia. Negara kita telah mulai mengenal teknologi ini sejak tahun 1954 dengan pendirian Panitita Negara untuk Penyelidikan Radioaktivet. Pada Desember 1958 dibentuk Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom (LTA) yang kemudian disempurnakan menjadi Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Saat ini PT Batan Teknologi (Batantek) mampu melakukan pengembangan produk radio isotop atau kedokteran nuklir. Produk turunan teknologi nuklir ini sudah mulai diekspor ke Cina dan Jepang bahkan akan diperluas pasarnya hingga Amerika Serikat.

Wacana membangun PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di Indonesia selalu menimbulkan polemik di berbagai kalangan masyarakat. Sebagian beralasan bahwa Indonesia yang terletak di Ring of Fire sangat rentan terhadap bencana alam dan PLTN di lokasi bencana akan menimbulkan bencana tambahan seperti yang terjadi di Fukushima Jepang. Namun sebagian mengatakan bahwa tidak semua wilayah Indonesia adalah daerah rawan bencana dan banyak wilayah Indonesia yang relatif aman dari potensi bencana alam dan potensial untuk dijadikan lokasi PLTN dan mengatasi krisis energi di dalam negeri.

Hasil kajian studi lapak dan studi kelayakan pembangunan PLTN di Pulau Bangka selama tiga tahun menetapkan bahwa Pulau Bangka sangat layak menjadi daerah pembangunan PLTN. Selain itu, Peneliti Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN), Erni Rifandriyah Arief, mengatakan bahwa kekayaan alam di Pulau Bangka terutama kandungan logam tanah jarang dalam mineral ikutan timah, terutama monazite sangat banyak. Dan jika PLTN jadi dibangun maka bahan baku tidak sulit diperoleh.

Selain nilai ekonomi dari penguasaan berbagai teknologi nuklir, ada juga nilai strategis pertahanan dan politik luar negeri dari penguasaan teknologi ini terutama dalam hal pengayaan Uranium. Perbedaan weapon grade uranium dengan bahan baku untuk PLTN hanyalah dalam hal level pengayaannya. Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memperkirakan terdapat cadangan 70.000 ton Uranium di Indonesia.
 
Penguasaan teknologi pengayaan uranium (BATAN) dan teknologi roket (LAPAN) akan memberikan efek deterrence strategi hedging nuklir seperti yang saat ini dimiliki Jepang walau kita tetap merupakan negara anggota Nonproliferasi Nuklir. Kita tidak akan dikucilkan komunitas dunia, namun tetap mempunyai daya tawar besar agar tidak begitu saja ditindas merasa terancam oleh negara-negara pemilik persenjataan nuklir. 




Sumber : JKGR