Pages

Sabtu, Juli 28, 2012

Tim VBSS Koarmatim Siap Amankan Perbatasan Laut

SURABAYA-(IDB) : Tim Visit Boarding Search and Seizure (VBSS) Koarmatim siap mengamankan wilayah perbatasan laut, saat gelar latihan disekitar Dermaga Koarmatim, Ujung Surabaya, Jum’at (27/07). Sebanyak empat tim pasukan VBSS bersenjata dilengkapi dengan sarana kendaraan air cepat Rigid Hull Inflatable Boat (RHIB) dikerahkan dalam Latihan Pratugas Satuan Tugas (Satgas) Operasi Perbatasan Laut Tahun 2012.

Tim VBSS tersebut dibekali dan diuji kemampuannya dalam menangaai berbagai permasalahan tindak pelanggaran di wilayah perbatasan laut seperti pembajakan, perompakan, penyelundupan manusia (ilegal entri), ilegal logging, ilegal fishing, pelanggaran batas wilayah maritim dan aksi terorisme di laut. Masing-masing tim beranggotakan 6 personel dan seorang perwira yang menjabat sebagai Komandan Tim.

Untuk mengasah kemampuan naluri tempur agar tetap terjaga dan meningkat, personel yang terlibat dalam VBSS ini melaksanakan latihan pemeriksaan kapal (bording) dengan didampingi pelatih dari Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Koarmatim. Empat tim boarding yang disiapkan oleh Koarmatim terdiri dari satu tim VBSS KRI Untung Suropati-372, KRI Abdul Halim Perdana Kusuma-355, KRI Frans Kaisiepo-368 dan KRI Arun-903.

Pasukan penjaga perbatasan laut ini juga dibekali dengan pengetahuan tentang hukum laut internasional, hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam menjalankan tugasnya. Selain itu pelatih juga menerapkan prosedur operasional yang sangat ketat dalam menangani berbagai masalah atau gangguan yang menimpa prajurit seperti prosedur keselamatan diri (safety), pengaman personel dan material serta prosedur penanganan terhadap tawanan maupun musuh.

Latihan Pratugas Satgas Pengamanan Laut tahun 2012 ini, dilaksanakan untuk menyikapi masalah yurisdiksi wilayah maritim yang masih sangat problematik, sebagai akibat dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam penentuan batas wilayah maritim. Masalah tersebut akhirnya menjadi salah satu potensi konflik karena adanya perbedaan persepsi dasar hukum yang digunakan sebagai dasar penentuan titik – titik batas wilayah negara.

TNI AL sebagai komponen utama pertahanan negara di laut merupakan penindak dan pencegah awal terhadap segala bentuk ancaman lewat laut terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah perairan yurisdiksi nasional. Kesiapsiagaan satuan-satuan operasional TNI AL merupakan suatu tuntutan dan kewajiban dalam menjawab berbagai permasalahan yang timbul di bidang maritim, baik yang bersifat ancaman militer negara lain maupun terhadap ganggunan penegakan hukum di laut yurisdiksi nasional. 


Sumber : Koarmatim

Indonesia China Begin Missile Talks

JAKARTA-(IDB) : China and Indonesia have started talks on the ambitious local production of C-705 anti-ship missiles
as part of Indonesia’s efforts to achieve independence in weapons production.

The defense cooperation reflects strengthening ties between both countries amid heightening tension in the South China Sea involving China and a number of Indonesia’s ASEAN neighbors.

Defense Ministry chief spokesman Brig. Gen. Hartind Asrin said that the initial talks were conducted during the first China-Indonesia defense industry cooperation meeting held in Jakarta on Wednesday.

The ministry’s defense potential director general Pos M. Hutabarat hosted the Chinese delegation which was led by Liu Yunfeng, a deputy director general at the Chinese State Administration for Science, Technology and Industry for National Defense (SASTIND).

“The meeting discussed various efforts to improve cooperation between the defense industries of both countries,” Hartind said on Thursday. “We’ve already prepared an area for the [missile] production site that faces the open sea for trials.”

Hartind said the C-705 had a range of 120 kilometers.

He said that the Indonesian Navy had successfully test-fired the C-705 missiles in the Sunda Strait.

“China has also offered to donate weapons systems that Indonesia might need,” he added.

A source said that Indonesia was expected to reply to Phase 1 of the missile proposal at the end of August and Phase 2 one month later. A contract is expected to be signed in 2013.

Phase 1 is on semi-knocked down production while Phase 2 is on completely-knocked down production.

A proposal for a Phase 3 on research and development is already on the table although the focus is currently on the first two phases.

Aside from the missile production, a number of Indonesian Army Special Force Command (Kopassus) members recently conducted the second “Sharp Knife” joint exercise with Chinese Special Forces operatives earlier this month in Jinan, Shandong, China.

China has also offered to train 10 pilots from the Indonesian Air Force to train using a Sukhoi simulator in China.

Commenting on the defense cooperation, defense expert Andi
Widjajanto said the industrial cooperation was solely to gain access to more advanced technology.

“However, it will take a long time for us to be independent in the defense industry, perhaps after 2024. This is the reason Indonesia builds partnerships with many countries that possess modern military technologies,” he said. “This is also why we require partner countries to transfer their technologies to us in any agreement we sign with them.”

Andi added that there were two goals in terms of the partnership: to access advanced rocket technology, and to collaborate in upholding maritime security, which began when President Susilo Bambang Yudhoyono signed an agreement in March during a state visit to Beijing.

“I don’t believe it has anything to do with conflicts in the South China Sea,” he stressed.

Meanwhile, chairman of the House of Representatives’ Commission I on defense issues, Mahfudz Shiddiq, said such global partnerships in the defense industry were designed to develop Indonesia’s own industry.

“We have allocated Rp 150 trillion [US$15.8 billion] to modernize our weapons-defense system from 2010 to 2014. It would be wasteful paying such a huge amount to foreign defense industries without any attempt to improve our own,” he said.

“Therefore, we require partner countries to transfer their military technologies in the hope that they will gradually improve our own technologies.”

He added that the partnership with China was due to its advanced military technologies in fields such as rocketry. “This is not political, even though others might link the partnership to political issues, for example the South China Sea disputes,” Machfudz said.

Indonesia already cooperates on weapons production with several other countries including South Korea to build jet fighters and submarines, the Netherlands to build frigates and Spain to build medium transport aircraft.


Source : JakartaPost

Super Tucano 314 TNI AU Selesai Uji Coba, Akhir Agustus 4 Unit Tiba Di Tanah Air

BRAZIL-(IDB) : Bertempat di fasilitas produksi Embraer di Gaveao Peixoto Sao Paulo Brazil, baru-baru ini telah dilaksanakan pemeriksaan pesawat Super Tucano TNI-AU nomor seri produksi 179 dan 180 oleh tim dari Kementerian Pertahanan RI/TNI-AU.

Tim pemeriksa yang dipimpin oleh Letkol Lek Alit Erbawa dengan anggota Letkol Tek Sianturi, Mayor Pnb James Yanes Singal dan Mayor Tek Yani Prasetyo melakukan pemeriksaan pesawat meliputi dokumen, pencocokan komponen pesawat, interior pesawat, pengecatan dan uji terbang.


Adapun uji terbang dilaksanakan baru-baru ini oleh test pilot Embraer, William, yang duduk di kursi depan disertai oleh Komandan Skadron Udara 21, Mayor Pnb James Yanes Singal yang duduk di kursi belakang.

Dalam uji terbang yang setiap sortinya memakan waktu sekitar dua jam, test pilot Embraer melakukan pemeriksaan terhadap berbagai sistem pesawat yang diamati oleh Mayor Pnb James.

Pemeriksaan di darat dimulai dari melihat kondisi fisik pesawat, pemeriksaan instrumen pesawat sebelum dan sesudah mesin dinyalakan dan pemeriksaan kendali pesawat selama taxy. Dalam uji terbang yang dilaksanakan hingga ketinggian 25.000 kaki, diperiksa beberapa sistem pesawat meliputi sistem bahan bakar, tekanan udara, auto pilot, mesin, navigasi, komunikasi, penembakan (simulasi) dan landing gear.


Selain itu diperiksa pula handling pesawat selama dilakukan berbagai maneuver.


Setelah bekerja selama tiga hari, tim pemeriksa menyatakan bahwa pesawat nomor seri produksi 179 dan 180 dalam kondisi baik. Dengan demikian, saat ini empat pesawat Super Tucano TNI-AU telah siap untuk diterbangkan ke Indonesia yang direncanakan akan dilakukan pada pertengahan bulan Agustus.


Super Tucano TT-3101, 3102, 3103 dan 3104 dengan cocor merah desain dari Almarhum Marsda TNI (Purn) F. Djoko Poerwoko akan segera memperkuat Skadron Udara 21 pada akhir bulan Agustus 2012.
   

Pesanan Batch 2 Indonesia, 8 Unit A-29 Super Tucano

TNI AU dan Embraer menandatangani kontrak pembelian 8 pesawat tempur ringan A-29 Super Tucano di Pameran Dirgantara Farnborough, Inggris (10/7).


Kontrak ini termasuk satu unit simulator untuk pelatihan para pilot TNI AU.


Pesawat diharapkan akan diterima TNI AU pada 2014. TNI AU telah memesan 8 unit A-29 Super Tucano pada November 2010 dan empat unit batch pertama akan tiba di Indonesia pada Agustus 2012.


Sumber : TNI AU