Pages

Kamis, Desember 08, 2011

Tambahan Hibah 6 Unit F-16 Untuk Kanibal Suku Cadang

NUSA DUA-(IDB) : Selain memberikan hibah berupa 24 pesawat bekas jenis F-16 kepada Indonesia, Amerika Serikat juga akan memberi tambahan 6 pesawat F-16 bekas lainnya yang khusus untuk dipereteli dan diambili suku cadangnya.

"Saya pastikan biaya perbaikan akan jauh lebih rendah daripada membeli pesawat yang baru," kata Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel, Kamis (8/12/2011), dalam jumpa pers sebelum pembukaan Bali Democracy Forum (DBF) di Nusa Dua, Bali. Adapun DBF sudah resmi dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pukul 10.00 WIT tadi.

Menurut Scot, pesawat yang diberikan itu bukan sampah dan kondisinya masih bagus. Scot juga menegaskan bahwa AS tidak memaksa Indonesia untuk menerima pesawat tersebut, tetapi Indonesia yang lebih dulu meminta.

Kini, pembicaraan lebih mendetail soal hibah pesawat ini masih dilakukan. Rencananya pesawat itu akan tiba di Indonesia sekitar tahun 2014. 

Sumber : Kompas

Perancis Akan Hentikan Produksi Rafale

PARIS-(IDB) ; Pemerintah Perancis memutuskan akan menghentikan produksi pesawat tempur Rafale apabila pihak pabrikan pesawat itu, Dassault Aviation, gagal menjual pesawat ini ke luar negeri. Produksi hanya akan dilanjutkan untuk menyelesaikan pesanan Angkatan Bersenjata Perancis.

"Jika Dassault tidak bisa menjual Rafale ke luar negeri, produksinya akan dihentikan," tandas Menteri Pertahanan Gerard Longuet kepada wartawan di Paris, Rabu (7/12/2011).

Menurut Longuet, produksi akan dihentikan begitu pesanan 180 pesawat dari Angkatan Bersenjata Perancis selesai dibuat pada 2018.

Pesawat bersayap delta, yang dibanggakan Perancis sebagai pesawat tempur canggih itu, belum satu pun terjual di luar negeri sejak pertama kali dioperasikan pada 1998. Saat ini, Rafale sedang bersaing dengan pesawat Eurofighter Typhoon buatan untuk memenangi kontrak pembelian 126 pesawat tempur multiperan menengah dari AU India.

Longuet mengatakan, pihaknya masih berunding alot dengan pihak Uni Emirat Arab (UEA), yang berencana membeli 60 pesawat generasi 4,5 ini. Namun, pihak UEA bulan lalu mengatakan penawaran dari Perancis ini tidak kompetitif dan memilih melirik Typhoon serta beberapa tawaran produk lain dari AS.

Bocoran kawat diplomatik rahasia AS yang dimuat WikiLeaks pada 2010 menyebutkan, Raja Hamad dari Bahrain pernah mengejek Rafale sebagai pesawat dengan "teknologi masa lalu".

Rafale juga tidak beruntung di Swiss, yang lebih memilih membeli pesawat Saab Gripen buatan Swedia untuk menggantikan armada angkatan udaranya yang sudah mulai menua.

Saat ditanya mengapa Rafale susah laku di luar negeri, Longuet mengakui, harga Rafale lebih mahal dibanding pesawat setara dari AS, karena diproduksi dengan jumlah jauh lebih sedikit daripada pesawat buatan AS. "Saat kami memesan 200 pesawat Rafale untuk program 10 tahun hingga 15 tahun, AS memproduksi 3.000 pesawat," ungkap Longuet.

Rafale dibangun oleh tiga kontaktor utama, yakni Dassault, perusahaan elektronik Thales, dan produsen mesin Snecma. Namun, secara keseluruan, proyek pengembangan Rafale yang sudah menelan biaya total 40 miliar euro (Rp 485,6 triliun) itu, melibatkan lebih dari 1.500 perusahaan Perancis.

Rafale, yang dijuluki sebagai pesawat "omnirole" (mahabisa) oleh pembuatnya, turut terlibat dalam operasi udara di Afganistan dan Libya, sehingga dilabeli "combat proven" (teruji dalam pertempuran) di laman resminya.

Pesawat ini dibuat dalam tiga varian, yakni Rafale C (berkursi tunggal, dioperasikan dari pangkalan darat), Rafale B (berkursi tandem, dioperasikan dari pangkalan darat), dan Rafale M (berkursi tunggal, dioperasikan dari kapal induk). 

Sumber : Kompas

Menhan Jelaskan Kerjasama Pertahanan Indonesia Korsel di Komisi I

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiyantoro mengatakan, saat ini Korea Selatan (Korsel) menjadi salah satu negara yang memiliki komitmen tinggi untuk melakukan kerjasama pertahanan dengan RI. Terlebih Korsel juga menyatakan kesediaannya untuk melakukan alih teknologi terhadap pembelian alat utama sistem pertahanan (alutsista).

"Kerjasama pertahan dengan Korsel ini setidaknya sudah dirintis sejak 1993 lalu," kata Purnomo dalam raker dengan Komisi I DPR, di gedung Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (7/12).

Purnomo menjelaskan, kerjasama nyata yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini antara pemerintah RI dan Korsel adalah untuk memproduksi pesawat tempur jenis KFX dan IFX. Tipe pesawat tempur ini merupakan generasi 4,5 atau lebih muda diatasnya F-16 dari AS dan Sukhoi dari Rusia yang keduanya merupakan pesawat tempur generasi keempat.

"Ini adalah salah satu langkah konkret dalam kerjasama dengan Korsel dalam pengadaan pesawat tempur bersama untuk segera diwujudkan pada masa ke depannya," jelas Purnomo.

Penjajakan kerjasama lainnya dengan Korsel adalah pengadaan kapal selam. Namun, Purnomo mengatakan, hal ini masih dalam tahap awal dan perlu pendalaman pembahasan.

Sementara itu Wakil Ketua Komisi I DPR yang memimpin rapat Tubagus Hasanuddin mengatakan, terkait rencana produksi bersama pesawat KFX dengan Korsel, sejauh ini DPR belum pernah mendapat penjelasan secara mendalam dan resmi. "Karena itu Komisi I DPR meminta masalah ini perlu dibahas secara rinci dan pendalam," ujarnya.

Hasanuddin menambahkan, Komisi I DPR juga perlu meminta penjelasan dalam pengadaan alutsita lainnya. Seperti terkait rencana pengadaan tank Leopard buatan dari Jerman yang akan dibeli dari Belanda dalam kondisi bekas. Termasuk soal pengadaan helikopter serbu Apache buatan AS yang tidak jadi karena terkait alasan tertentu. Dan kemudian helikopter serbu Apache ini akan digantikan dengan helikopter serbu super cobra kerjasama antara PT DI dan Belgia.

"Jadi Komisi I DPR berharap penjelasan tertulis dalam rapat berikutkan dengan penjelasan secara menyeluruh dan detail," pinta Hasanuddin

Sumber : Jurnamen

DPR Pertanyakan Penempatan Pasukan Amerika DI Darwin Australia

JAKARTA-(IDB) : Komisi bidang Pertahanan dan Luar Negeri Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mempertanyakan peningkatan kerjasama militer Amerika dan Australia dengan menempatkan Pasukan Militer Amerika di Darwin Australia dan non-teritori. Saat Komisi I DPR RI menerima Kunjungan Duta Besar Amerika Scoot Marciel. Selasa (6/12) di Gd. Nusantara II, DPR.   

Ketua Komisi I DPR RI Mahfud Siddiq (F-PKS) dalam pertemuan tersebut di dampingi M.Najib (F-PAN), Yorrys Rawiyai, dan Susaningtyas Nefo Handayani (F-Gerindra) mengatakan sangat mungkin kerjasamamiliter Australia dengan Amerika, walaupun merupakan hal yang terpisah dengan Indonesia khususnyadinamika di Papua.
 
Tetapi karena hal ini terjadi di waktu yang bersamaan, sehingga memunculkan tafsiran yang beragam, termasuk biasa saja itu dianggap suatu sinyal bagi siapapun dengan kepentingannya masing-masing. “Bagiunsur separatis di Papua biasa saja akan dimanipulasi informasi itu, seolah-olah ada dukungan politik. Bagibisa juga ini ditafsirkan suatu bentuk warning atau kesiagaan Amerika terhadap dinamika yang terjadi,” ungkap Mahfud Siddq. Indonesia.

Mengutip penjelasan Dubes Amerika Scoot Marciel, hal tersebut merupakan konteks kerjasama bilateral pertahanan militer antara Amerika dengan Australia yang sudah berlangsung lama, dan penempatan pasukanitu bukan di pangkalan Amerika, namun di pangkalan militer Australia. “Dalam konteks kerjasama militer laluada penempatan itu, alasannya karena kepentingan Amerika yang ingin terus dipertahankan untukpengamanan kawasan,” katanya.
 
Penempatan itu dilakukan secara bertahap, target sampai 25.000 personil yang dilakukan secara bertahapsepanjang 2012. 

Peningkatan kerjasama militer itu, tidak ada kaitannya dengan perkembangan yang ada di Indonesia. Khususnya tidak ada kaitannya dengan masalah di Papua. “Khusus terkait dengan Papua, Dubes Amerikamenjelaskan Pemerintah Aperika memandang Papua merupakan bagian dari NKRI, dan merekamenghormati kedaulatan itu dan tidak mendukung segala bentuk separatisme di Papua maupun di daerahjelasnya. lain,” 

Freeport bukan kepentingan utama Amerika di Indonesia, disampaikan Dubes Amerika itu hal yang kecil sajadan Amerika sampai saat ini tidak pernah mengirim tentaranya ke Freeport. Seluruh pengaman Freeport selama ini diserahkan sepenhnya kepada Polri dan yang dibantu TNI. 

Mengenai adanya tafsir peningkatan kerjasama militer Amerika dan Australia dengan menempatkan pasukanpada Pangkalan Militer Austalia di Darwin mengancam keamanan Indonesia, Ketua Komisi I DPR RI Mahfuq Siddiq  untuk kerjasama itu menegaskan bahwa peningkatan hubungan militer Amerika dengankalau hanya dibatasi bilateral, itu membuka tafsir-tafsir yang beragam, termasuk tafsir yang lihat iniancaman. Australia.

Untuk itu Mahfuq Siddiq mengusulkan Kerjasama harus mulai dikembangkan kerjasama Trilateral, jadidan Amerika untuk keamanan kawasan, terutama Alqi alur laut kepulauan Indonesia yang melintasi jalur timur Indonesia. Karena disitu ada kepentingan Australia dan kepentingan Indonesia. “Kalauini dibangun dan dikembangkan bisa meminimalkan atau menutup tafsir-tafsir yang beragam tadi,” tegasnya. Indonesia, Australia Trilateral.

Selain itu, Komisi I minta Pemerintah Amerika mendorong Freeport sebagai perusahaan Amerika untuk lebihbanyak memberikan kontribusi pembangunan masyarakat di sekitar Papua, dana-dana perusahaan. Karena tetap saja publik melihat, Freeport telah mengambil keuntungan yang sangat besar dari hasil bumi di Papua.

Sumber : DPR

Menhan Raker Komisi I DPR RI Bahas Anggaran Militer Tahun 2012

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama para anggota DPR RI Komisi I Bidang Pertahanan, Rabu (7/12) di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta bertemu dalam forum Rapat Kerja khusus membahas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Kemhan/TNI TA. 2012.

Pada kesempatan forum Raker itu, Menhan menjelaskan beberapa hal yang terkait didalam pembahasan APBN Kemhan/TNI TA. 2012 secara umum. Salah satunya penggunaan dana optimalisasi Kemhan/TNI TA. 2012 sebesar Rp. 455 Milyar serta pergeseran alokasi anggaran Kemhan/TNI TA. 2012 Rp. 7,6 Triliun dari Bagian Anggaran Kementerian Keuangan (BA. 999,08)  ke Bagian Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (BA 012 Kementerian Pertahanan) untuk anggaran Tunjangan Remunerasi Kinerja TNI dan PNS Kemhan sebesar Rp. 7,6 Triliun.

Selanjutnya, Menhan menyampaikan Anggaran Pinjaman Luar Negeri (PLN) dimana Kemhan/TNI untuk tahun 2010-2014 mendapatkan alokasi sebesar USD 6,5 Miliar untuk pengadaan alutsista.

Disamping APBN 2012, Menhan juga menjelaskan tentang perkiraan daya serap APBN Kemhan dan TNI untuk tahun 2011 yang otorisasinya sendiri sudah mencapai ± 95%.  Meski demikian, daya serap sesuai recording Kementerian Keuangan kurang lebih berkisar 70% - 80%. Namun Kemhan dan TNI tetap diharapkan pada akhir Desember 2011 daya serap Anggaran Kemhan/TNI dapat mencapai mendekati 100%.

Rapat kerja terbuka yang dihadiri juga oleh Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin, Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto, S.Ip., M.A., Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Marsetio, MM serta pejabat di lingkungan Kemhan dan TNI juga membahas perihal perkembangan Kerjasama Industri Pertahanan dan Pengadaan Alutsista yang dilakukan Kemhan/TNI dengan Korea Selatan.

Sumber : DMC

Patroli Gabungan Empat Negara Asean Berhasil Cegah Perompakan

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro menilai, patroli gabungan (patgab) Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand di perairan Selat Malaka menjadi tren positif karena berbuah keberhasilan.

Selama 2010 - 2011, catatan kriminal ataupun perompakan serta penyeludupan di kawasan perairan itu nol persen. "Sekarang nol persen perompakan di Selat Malaka dan ini kita diapresiasi oleh dunia internasional," ujar Menhan di Jakarta, Rabu (7/12).

Keberhasilan Patgab empat negara itu telah diapresiasi dunia internasional. Pasalnya, Patgab itu memberikan hasil siginifikan.

"Ternyata, patroli ga-bungan yang dilakukan Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand dengan bentuk patroli terkoordinasi itu benar-benar bisa menurunkan drastis penurunan perompakan," kata dia.

Untuk mengawasi lalulintas di perairan Selat Malaka, Purnomo menjelaskan, Indonesia memasang 12 radar di beberapa wilayah. Setiap pergerakan di Selat Malaka termonitor. "Singapura dan Malaysia juga punya. Dengan radar itu, kita tahu kegiatan kapal," ujar Purnomo.

Pengamat kelautan, Bramandanu menyarankan, wilayah perairan Selat Malaka sebaiknya diisi oleh peraturan ataupun jaminan keselamatan lalulintas pelayaran internasional.

"Sebab, kalau saya lihat, tata kelola Selat Malaka memang masih semrawut," ujar dia.

Selat Malaka dibatasi tiga negara pantai, seperti Indonesia, Malaysia dan Singapura. Karena itu, kata dia, perlu upaya penyatuan pandangan dan tindakan oleh ketiga negara pantai itu. Misalnya, soal keselamatan pelayaran maupun dalam menghadapi reaksi-rekasi dari luar.

Dari segi ekonomi dan strategis, kata Bramandanu, Selat Malaka merupakan salah satu jalur terpenting di dunia, sama pentingnya seperti Terusan Suez dan Terusan Panama. Selat Malaka membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta penghubungkan tiga dari negara-negara dengan penduduk terbeser, seperti India, Indonesia dan China.

"Sebanyak 1200 kapal melintasi selat malaka setiap harinya, 22 kapal super ultra large dengan mengangkut antara seperlima dan seperempat perdagangan laut dunia. Maka, tak ayal jika kawasan itu menjadi sebuah target pembajakan," jelas dia.

Posisi Strategis

Sementara itu, pengamat hubungan internasional, Ahmad Jamaan menilai, puncak perayaan ke-12 Hari Nusantara, 13 Desember 2011, mendatang di Kota Dumai, Riau yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka mempertegas posisi strategis Indonesia di jalur lintas terpadat dunia Internasional.

Apalagi perayaan hari nusantara yang disertai dengan parade militer dengan tema besar pengamanan nusantara diselingi juga dengan pameran industri pertahanan dan patroli bersama tiga negara Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

"Perayaan peringatan Hari Nusantara di Selat Malaka mempunyai arti yang strategis jika dikaitkan dengan situasi Internasional saat ini. Patroli militer di kawasan itu akan mempertegas posisi Indonesia di zona panas kawasan Laut China Selatan antara Amerika Serikat dan China," kata Ahmad.  

Sumber : Suarakarya

Korsel Akan Beli Rudal Jelajah

SEOUL-(IDB) : Korea Selatan berencana membeli rudal-rudal jelajah yang diluncurkan dari pesawat yang dapat menghancurkan target-target bernilai tinggi di Korea Utara, kata laporan-laporan dan para pejabat, Rabu.

Rencana itu menunggu persetujuan parlemen, kata juru bicara kementerian pertahanan kepada AFP dan menambahkan angkatan udara akan membeli sekitar 170 rudal itu.

Korsel ingin membeli rudal-rudal siluman udara ke darat sebagai satu penangkal terhadap provokasi Korut, kata surat kabar Korea Times.

"Rudal itu dapat diluncurkan dari Seoul dan dapat menghantam setiap target di Pyongyang," kata satu sumber pemerintah yang dikutip surat kabar itu.

Pemerintah menyisihkan dana 388 miliar won (344 juta dolar AS) untuk rudal-rudal yang dapat diluncurkan dari jet-jet, kata surat kabar itu.

Rudal JASSM ( Joint Air to-Surface Standoff Missile) dari perusahaan pertahanan AS Lockheed Martin akan bersaing dengan Taurus yang diproduksi perusahaan Jerman Taurus Systems GmbH, katanya.

Seoul mengharapkan dapat menilai dua rudal itu menyangkut prestasi mereka, harga dan transfer teknologi dan akan memilih pemenang paling lambat September tahun depan, katanya.

JASSM, yang memiliki jangkauan tembak 370km, lebih murah tetapi Kongres AS belum mengizinkan ekspor senjata-senjata itu ke Seoul, katanya.

Korsel mungkin mendorong pengembangan rudal-rudal jelajah udara ke darat jika tidak dapat membeli mereka dengan harga yang layak dan menjamin alih teknologi penting, katanya.

Korsel membangun beberapa jenis rudal untuk menghadapi ancaman rudal-rudal balistik Korut.

Korut memiliki sekitar 600 rudal Scud yang dapat menghantam target-target di Korsel, dan mungkin juga mencapai wilayah Jepang dalam beberapa kasus, kata data militer Korsel.

Ada 200 rudal Rodong-1 lainnya yang dapat mencapai Tokyo. Selain itu Korut tiga kali melakukan uji coba rudal-rudal antar benua Taepodong.

Sumber : Antara

650 Prajurit Jaga Perbatasan Indonesia-Papua Niugini

JAMBI-(IDB) : Sebanyak 650 prajurit Yonif 042/KJ asal Jambi berangkat menuju perbatasan Indonesia dan Papua Niugini, Merauke, Kamis (8/12/2011) besok.

Para prajurit akan bergerak melalui Palembang menuju Papua dan dilepas oleh Pangdam II Sriwijaya. Perjalanan tim menggunakan KRI Teluk Amboina akan memakan waktu selama 21 hari hingga mereka sampai ke Merauke.

"Selanjutnya, para prajurit akan disebar ke 24 pos pengawasan dengan jarak tempuh 350 kilometer, mulai dari Pos Kundu Merauke sampai Simpang Munting," ujar Komandan Rayon Militer 042/Gapu Kolonel Kav Hasto Yuwono.

Pasukan itu akan bertugas menjaga perbatasan negara selama enam bulan hingga satu tahun dengan dipimpin Letkol Inf Rudi Purwito.

Sumber : Kompas